IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.32 Siapa Namamu?


__ADS_3

Kembali, mereka tumbang oleh Ivona. Melihat hal ini, Ivona tersenyum kecil. Tatapannya terlihat meremehkan dan serius, "Bagaimana, apa kalian masih ingin bermain-main dengan ku?"


Mereka yang telah kalah mencoba untuk bangkit, tapi rasa sakit yang mendera membuat mereka tak mampu berdiri lagi, mereka masih tidak percaya jika mereka kalah dari seorang gadis kecil. Biasanya saat mereka menggoda dan mempermainkan para gadis, mereka tidak pernah gagal, bahkan tidak pernah mengalami hal seperti ini. Namun kali ini, mereka benar-benar merasakan jadi kecundang.


Tuan muda Frederick yang turut menjadi korban Ivona masih tak terima jika ia dikalahkan oleh seorang gadis. "Dasar ja lang, kau pikir kau sudah bisa mengalahkan kami, ha!" teriaknya pada Ivona. "Kau belum melihat apa yang bisa aku lakukan padamu, aku yakin kau tidak akan lagi bisa tersenyum setelahnya!" ancamnya pada Ivona.


Ivona yang mendengar ancaman Tuan Muda Frederick tidak menampakkan raut takut sedikit pun. Senyum jemawa justru terukir indah menghiasi bibirnya, seolah mengolok ancaman yang baru saja terlontar dari mulut sang Tuan Muda. Ivona membawa langkah angkuhnya berjalan ke arah mereka, sorot mata membunuh membuat Tuan muda Frederick ketakutan. Sikap mengancam yang baru saja ia tunjukkan pada Ivona hirap seketika, berganti rasa takut pada senyum dan sorot mata Ivona yang terlihat kejam.


Semakin Ivona mendekat, semakin mundur Tuan Muda itu membawa rasa takutnya. Ivona sangat menikmati ketakutan dari pria yang tadi ingin bersenang-senang dengannya. "Kenapa kau terlihat takut, bukankah tadi kau begitu ingin bersenang-senang denganku?" ucapnya dengan nada mengejek.


Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab. Ivona telah membuat mereka merasakan kengerian hanya dari sorot matanya. Gadis yang tadi mereka remehkan dan berniat untuk mereka lecehkan, kini berbalik membuat mereka ketakutan.


Saat fokus Ivona tertuju pada Tuan Muda Frederick, tiba-tiba seorang dari mereka mengeluarkan belati diam-diam, dan langsung mengarahkannya pada Ivona. Namun, reaksi Ivona lebih cepat dari yang pria itu duga. Saat Ivona membalik badannya, ia langsung menangkap lengan pria itu, seketika belati di tangan pria itu jatuh ke lantai.


Masih menguasai lengan pria yang ingin mencelakainya, Ivona kembali tersenyum senang. "Apa yang kau coba lakukan? bertindak seperti pengecut dan menyerang ku dari belakang, begitu?!"


Raut gila terpancar dari wajahnya, dengan perlahan Ivona mematahkan pergelangan tangan pria dalam cengkeramannya. Ia menikmati merdunya suara teriakan kesakitan dari pria yang menjadi korbannya.

__ADS_1


"Aargghhh." Teriakan kesakitan dari pria itu semakin membuat bibir Ivona tertarik ke atas.


"Ups ... maafkan aku, aku tidak sengaja." Ivona membuat mimik wajah menyesal.


"Apakah ini sungguh sakit?" tanya Ivona berpura-pura.


Pria itu mengangguk takut, berharap Ivona melepaskannya. "To-tolong lepaskan aku," rintihnya menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Benarkah begitu sakit?" ejek Ivona. "Bagaimana kalau begini?" Tanpa menunggu jawaban, Ivona kembali menekan pergelangan tangan pria itu, untuk kedua kalinya dan membuat orang itu kembali memekik kesakitan. Suara yang lebih memilukan dari sebelumnya.


"Le-lepaskan temanku, atau kau akan tahu akibatnya!" ancam Tuan Muda Frederick. "Aku mengenal pemilik tempat ini, kau pasti tidak akan bisa keluar hidup-hidup jika aku melaporkanmu!" hardiknya untuk menakut-nakuti Ivona, meski sebenarnya kakinya sendiri sudah lemas karena ketakutan melihat kegilaan Ivona.


"Apa kau sedang berusaha menakut-nakutiku, Tuan Muda?" tanya Ivona pada Tuan Muda Frederick. "Baiklah aku lepaskan temanmu." Ivona menghempas pria yang dari tadi di cengkeramnya.


Dua temannya langsung membantu pria yang kesakitan itu. "Dasar gadis gila!" umpat Tuan Muda Frederick pada Ivona.


Ivona tak tersinggung sama sekali dengan ucapan Tuan Muda Frederick, ia justru tertawa dengan sebutan yang diberikan Tuan Muda itu. Baginya sebutan itu sudah menjadi hal yang biasa ia dengar.

__ADS_1


Terdengar derap langkah dari arah yang berlawanan dengan Tuan Muda Frederick saat Ivona masih angkuh mengejek sikap Tuan Muda beserta teman-temannya yang seperti pecundang. Beberapa pria berseragam serba hitam, menghampiri mereka di lorong itu. "Permisi Tuan, ada pesan dari Tuan Alexander. Beliau ingin Anda menunggunya di privat room," ucap salah seorang di antara pengawal itu pada Tuan Muda Frederick.


Sebenarnya para pengawal itu sedang berbohong. Sebab kalimat yang diucapkan oleh Tuan Alexander yang sebenarnya tidaklah demikian. Tuan Alexander hanya meminta Tuan Muda Jonas Frederick untuk tidak keluar dari privat room, sebelum urusannya selesai. Namun, saat melihat Tuan Muda itu terduduk di lantai, mereka terpaksa berbohong untuk menyelamatkan Tuan Muda itu.


Tuan Muda Frederick menoleh menatap mereka. Melihat pengawal yang ia kenali, ia pun langsung meminta bantuan, "Pengawal, habisi gadis gila ini, jangan biarkan ia keluar hidup-hidup dari tempat ini!" titahnya pada para pengawal yang baru saja tiba.


Mendengar perintah Tuan Muda Frederick, para pengawal itu baru menyadari jika ada seorang gadis yang berdiri di dekat Tuan Muda itu. Mereka melihat Ivona dengan cermat, memperhatikan gadis ini dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Ivona memiliki ciri yang sama persis seperti yang diceritakan oleh Tuan Alexander, gadis yang sedang mereka cari.


Salah satu dari mereka berbisik pada yang lain, "Bukankah Tuan Alexander meminta kita mencari gadis bernama Ivona?"


"Benar, dan gadis ini persis seperti yang digambarkan oleh Tuan Alexander," jawab yang lainnya.


Mendengar mereka berbisik, dan sebelumnya menyebutkan nama Tuan Alexander, Ivona pun berucap, "Apa Tuan Alexander juga mencariku?" tanya Ivona tiba-tiba.


Saat Ivona menyebutkan nama Tuan Alexander para pengawal langsung tercengang, dan merasa jika gadis di depan mereka ini adalah orang yang mereka cari. Pengawal itu kemudian bertanya, "Siapa namamu?"


Jonas Frederick, sang Tuan Muda merasa sangat kesal karena gadis di hadapannya ini hampir saja menyakitinya. Ia bertambah kesal saat para pengawal yang ia suruh untuk menghabisi gadis ini justru malah berbincang menanyakan siapa nama gadis yang berdiri angkuh di depannya.

__ADS_1


__ADS_2