IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.153 Calon Menantu


__ADS_3

"Siapa kau?"


Pertanyaan yang membuat Ivona urung untuk berdiri.


"Siapa kau?" ulang Ivona dalam hati. Pertanyaan macam apa itu, bukannya kemarin Ren sudah memperkenalkannya. Apa dia lupa, atau memang tidak ingat sama sekali. Oh ... kemarin dia kan tidak mau berkenalan. Pria ini menolak untuk berjabat tangan, bisa jadi ia tidak ingat jika kemarin Ren memperkenalkannya.


"Maksud Anda, apa?" tanya Ivona.


Aldrich berdiri dari singgasananya. Ia berjalan menghampiri Ivona yang masih duduk di posisi yang sama. Ivona memutar kursi yang ia duduki mengikuti ke mana Aldrich berdiri. Kini mereka saling berhadapan kembali, dengan posisi Ivona yang masih duduk dan Aldrich berdiri tepat di hadapan Ivona.


Pria itu menunduk, kembali menatap Ivona dengan tatapan anehnya. Ivona masih belum tahu apa yang diinginkan pria ini.


"Sebenarnya apa maksud pertanyaan Anda tadi? Anda bertanya tentang siapa saya? Bukankah kemarin kita sudah saling berkenalan, tapi baiklah jika Anda lupa saya akan memperkenalkan diri saya kembali. Nama saya Ivona Carminda, saya adalah putri satu-satunya dari Felix Howard, pemilik dari Howard Technologi, tentunya sebelum Anda mengambil alih semuanya." Ivona menampakkan ketidaksukaannya pada kalimat terakhir yang ia ucapkan.


Bukannya senang atas jawaban Ivona, Aldrich yang berdiri dengan melipat tangan di dada justru tersenyum sinis dengan penjelasan Ivona.


"Jika hal itu masih belum membuat Anda puas dan masih ingin mengetahui lebih lanjut tentang diri saya, Anda bisa mencari info tetang saya di internet. Saya yakin semua artikel tentang diri saya masih dimuat di banyak berita di internet," imbuh Ivona, membuat Aldrich semakin memandang sinis pada gadis itu.


Hal yang tak terduga terjadi, pria itu membungkuk. Mengungkung Ivona dengan meletakkan kedua tangan yang bertumpu pada sandaran lengan. Tatapan Aldrich masih sama anehnya, membuat Ivona berusaha mundur meski tak bisa. Wanita itu hanya sanggup menyandarkan punggungnya agar tidak terlalu dekat dengan pria di depannya.


"Katakan siapa kau sebenarnya dan apa maumu," ujar Aldrich.


Tentu saja Ivona semakin tak mengerti maksud pria ini. Namun, Ivona tetap berusaha menjawab, "Nama saya Ivona, Tuan, jika Anda sudah lupa lagi. Dan menyangkut pertanyaan tentang apa yang saya inginkan, saat ini saya ingin Anda menjauh dari saya. Bukan apa-apa, saya takut akan ada kesalahpahaman jika ada yang melihat kita seperti ini."


Ivona sadar benar dengan posisinya saat ini, kalau ada yang tiba-tiba masuk bisa jadi fitnah semua ini.


"Bukan itu yang aku maksud. Kenapa kau selalu datang dalam mimpiku dan mengusik hidupku?"

__ADS_1


Antara bingung dan tak percaya, Ivona benar-benar tidak paham dengan pertanyaan Aldrich. Datang ke dalam mimpi pria ini dan mengusik hidupnya.


"Huh!" Ivona mengembuskan napas kasar. Ia memalingkan wajahnya menanggapi pertanyaan gila Aldrich Rayder.


Aldrich meraih dagu Ivona, membawa wajah cantik itu untuk menatap matanya. Hanya beberapa detik mata mereka saling beradu karena Ivona langsung menepis tangan Aldrich dengan kasar dan mendorong tubuh pria itu agar menjauh.


Ivona berdiri. "Anda sudah melewati batas, Tuan. Saya tidak tahu apa maksud pertanyaan Anda, tapi saya tidak suka dengan sikap Anda barusan!" Ia hendak melangkah pergi. Tetapi Aldrich menarik lengan Ivona dan membawanya lebih dekat dengan pria itu. Tubuh mereka sangat dekat hampir menempel.


Tak suka dengan perlakuan Aldrich, Ivona mendelik marah pada pria itu. "Lepaskan, saya!"


Aldrich tak acuh dengan permintaan Ivona. Ia juga tidak takut dengan tatapan kemarahan yang ditujukan padanya. Aldrich justru menatap Ivona dengan lebih tajam.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, jadi jangan harap bisa pergi!"


Ivona tersenyum miring. "Kau sudah gila, harusnya kau pergi ke dokter jiwa bukan datang ke kantor!" Ivona meraih tangan Aldrich yang mencengkeram lengannya dan melepaskan tangan itu secara paksa.


"Kau hanya boleh pergi setelah kau menjawab pertanyaanku!"


"Saya tidak tahu apa yang Anda tanyakan jadi bagaimana bisa saya menjawabnya. Kita tidak pernah saling kenal sebelumnya, lalu bagaimana saya bisa mengusik hidup Anda."


Jawaban Ivona membuat Aldrich berpikir secara logika. Apa yang Ivona katakan benar. Mereka tidak pernah saling kenal, tapi mimpinya tentang gadis ini juga benar. Semuanya jelas dalam ingatannya.


Ivona berusaha lepas dari rengkuhan lengan Aldrich, tapi pria itu masih kuat menahannya. "Lepaskan saya atau Anda akan menyesal!" ancaman Ivona membuat Aldrich kembali menatap tajam wajah cantik dalam rengkuhannya. Ia masih saja belum bisa menerima jawaban Ivona karena ia yakin mimpinya pun benar. Gadis ini, gadis yang bernama Ivona ini adalah gadis yang hadir dalam mimpinya. Gadis bergaun pengantin yang diselamatkan oleh pria berwajah serupa dengannya.


"Tuan Aldrich Rayder, saya peringatkan sekali lagi. Lepaskan saya!" Ivona kembali meronta untuk lepas dari pria gila ini. Namun, mendadak ia berhenti ketika mendengar suara yang baru saja masuk.


"Daddy!" teriak seorang bocah yang berlari dari luar, tapi mendadak berhenti saat melihat pria yang ia panggil Daddy sedang memeluk mesra seorang wanita.

__ADS_1


Ivona dan Aldrich yang kaget sontak menoleh. IVona terperangah melihat sosok tampan di depannya. "Evan," lirihnya yang masih dalam rengkuhan Aldrich.


Aldrich yang mendengar Ivona menyebut nama anak itu langsung menatap kembali pada Ivona. "Kau mengenalnya?"


"Siapa?" Ivona menatap Aldrich.


"Evan."


"Dia Evan?" Kali ini Ivona yang bertanya dan membuat Aldrich semakin bingung. Tadi Ivona sendiri yang menyebut nama anak itu dan sekarang ia justru balik bertanya.


Oh ... Ya Tuhan, apakah sekarang ia benar-benar gila. Aldrich menggelengkan kepalanya.


"Mom," panggil anak kecil yang berusia sekitar enam tahun itu.


Ivona, Aldrich dan wanita yang mengantar anak itu ke ruangan Aldrich serempak menatap bocah kecil itu.


"Hei, son, apa maksudmu dengan kata Mom. Apakah dia Ibumu?" Wanita yang sudah berumur itu menarik anak kecil itu.


"No, Grandma, dia bukan ibuku tapi sebentar lagi akan jadi ibuku. Lihatlah mereka Grandma." Anak itu menunjuk pada Aldrich dan Ivona yang masih saling berdekatan.


Menyadari kalimat anak itu, Ivona dan Aldrich saling mendorong untuk saling menjauh.


"Oh ... jadi karena gadis ini kau tidak pernah pulang lagi, hah?" Wanita yang dipanggil Grandma itu mendekati Ivona dan Aldrich.


"Bu ... kau salah paham. Semua tidak seperti yang kau duga. Aku bisa jelaskan semuanya." Aldrich menolak tuduhan ibunya.


"Apa lagi yang ingin kau jelaskan, aku sudah melihatnya, begitu juga dengan Evan. Kami sudah tahu tentang apa yang kau sembunyikan selama ini. Dia calon ibu untuk Evan, bukan. Dan itu berarti calon menantuku."

__ADS_1


"Apa, calon menantu?" pekik Ivona.


__ADS_2