
Nyonya Iswara tidak menyangka ternyata dia salah paham pada Ivona. Putri yang ia anggap sebagai biang masalah, ternyata justru jadi penyelamat bagi temannya. Dalam hatinya ia merasa malu telah bersikap menghakimi tanpa tahu kebenarannya terlebih dahulu.
Berbeda dengan Nyonya Iswara yang telah sadar jika perbuatan Ivona adalah demi menyelamatkan temannya, Direktur Jonathan justru tetap merasa tidak terima. Ia tetap ingin Ivona dihukum karena telah melukai putranya.
"Kalau putraku Yosua harus bertanggung jawab atas vidio yang belum jelas kebenarannya, aku juga ingin gadis gila ini bertanggung jawab atas tindakannya pada putraku. Aku tetap ingin anak ini dihukum!" tegas Jonathan dihadapan semua orang.
Thomas yang merasa kesal dengan permintaan konyol Direktur Jonathan, mulai membuka suara, "Jika kau masih menginginkan hal yang demikian, itu artinya kau tidak menghargai keluarga Iswara. Ivona berada dalam perlindungan keluarga Iswara, yang artinya, jika kau mengusiknya kami tidak akan tinggal diam!" ancam Thomas.
Seketika ancaman Thomas membuat Direktur Jonathan terdiam, ia tahu benar jika keluarga Iswara bukanlah keluarga yang bisa disinggung oleh Direktur Jonathan. Kedudukan keluarga Jonathan tidak akan bisa mengusik keluarga Iswara.
"Mari Tuan, kita selesaikan ini semua di kantor polisi," ajak petugas polisi.
Direktur Jonathan memandang geram pada Ivona dan keluarganya. Sebelum pergi, ia menghadiahkan tatapan tajam membunuh pada Ivona, yang dibalas Ivona dengan menyunggingkan senyum seraya melambaikan tangan ke arahnya. Hal ini membuat Direktur Jonathan sangat kesal, niatnya mengintimidasi gadis itu berubah menjadi ejekan yang ia terima.
"Akhirnya, kita bisa mengetahui kebenarannya," ucap Mr.Albert. "Maafkan kami Nyonya Iswara, atas ketidaknyamanan Anda hingga membuat Anda yang sibuk harus meluangkan waktu untuk datang ke mari," sambung Mr.Albert dengan raut menyesal.
"Tidak masalah Tuan Albert, bagaimanapun Ivona adalah tanggung jawab kami sebagai walinya, terima kasih sudah bersikap dengan adil pada Ivona," jawab Nyonya Iswara.
__ADS_1
"Sudah menjadi tugas kami, Nyonya," tukas Mr.Albert.
Semua orang kembali pada aktifitasnya masing-masing, kini tinggal Nyonya Iswara, Thomas, Ivona, dan Beny. Setelah tinggal mereka berempat saja, Nyonya Iswara bertanya pada Ivona, "Apakah kau berencana pulang hari ini?"
Sebelum menjawab, Ivona menatap wajah Nyonya Iswara, raut dingin yang sebelumya wanita itu tunjukkan kini melembut. Akan tetapi, ucapan Nyonya Iswara yang sebelumnya telah membekas di hati Ivona, hingga ia pun menjawab dengan malas, "tidak."
Gurat kecewa tergambar di wajah Nyonya Iswara, sikap Ivona yang apatis pastilah karena dirinya juga. "Kalau begitu, aku dan Thomas akan pulang terlebih dahulu," pamit Nyonya Iswara.
"Ayo Thomas," ajak Nyonya Iswara untuk meninggalkan ruangan kepala sekolah.
"Aku pergi dulu," pamit Thomas, yang ditanggapi dengan datar oleh Ivona.
Kemudian Ivona menyusul pergi meninggalkan ruang kepala sekolah. Beny yang masih ada di sana segera merapikan seragamnya dan keluar mengejar Ivona dari belakang. Tak disangka jika Ivona pergi ke gedung belakang sekolah. Beny terus mengikuti gadis penyelamat itu hingga ia tahu jika bukan gedung itu yang menjadi tujuan Ivona. Gadis itu justru melompati dinding pagar setinggi dua meter dan pergi dari sekolah.
Beny tak percaya, Ivona melakukannya. Seorang gadis dengan kemampuan tak terduga. Sebelumnya ia dikejutkan dengan kekuatan Ivona saat membuat Yosua bertekuk lutut, kini ia dibuat tercengang saat Ivona melompat dari dinding pagar sekolah dengan mudahnya. Tak ingin hanya jadi penonton, Beny berusaha untuk mengikuti jejak Ivona, tapi karena postur tubuhnya yang besar membuat ia kesusahan untuk bisa memanjat dinding setinggi dua meter itu. Beny terus berusaha hingga peluh menetes di dahinya, tapi usahanya tak kunjung membuahkan hasil. Menyerah, Beny akhirnya menerima kenyataan jika ia tidak akan bisa menyusul Ivona keluar dari sekolah melalu pagar pembatas ini. Beny pun memutuskan untuk kembali ke kelas saja.
Di sekolah, perbincangan tentang kasus Ivona dan Yosua masih jadi topik terhangat. Beredarnya vidio perundungan yang dilakukan Yosua dan teman-temannya menambah cerita baru bagi mereka.
__ADS_1
"Menurut kalian siapa yang bisa menyebarkan vidio kekerasan itu?" tanya seorang siswa yang sedang berkumpul.
"Aku yakin pelakunya adalah salah satu murid G-school juga," jawab yang lainnya dengan curiga.
"Apakah itu Roy, bukankah selama ini Roy dan Yosua memiliki hubungan yang tidak baik," timpal siswa lainnya lagi.
Beny yang berjalan menyusuri koridor menuju kelas G, mendengar percakapan antar siswa itu. Ia jadi memikirkan hal yang sama, siapa pelaku penyebaran vidio perundungan itu. Kalau menurutnya pastilah bukan Roy, karena anak itu tidak berada bersamanya tadi saat kejadian. Beny jadi teringat akan raut wajah Ivona tadi, ia pun mulai berpikir akankah Ivona yang melakukannya. Sebab Ivona terus saja bersikap tenang saat ayah Yosua menyudutkannya dengan segala tuduhan. Seolah gadis itu sudah tahu apa yang akan terjadi.
Ivona yang berhasil keluar dari sekolah mencari tempat teduh dan aman. Ia mulai membuka Ipad-nya, melihat pencarian teratas. Ternyata pencarian teratas dan website postingan sekolah sudah kembali normal. Vidio itu sudah berhasil di hapus, sehingga kemungkinan vidio itu ditonton oleh lebih banyak orang semakin kecil.
Ia merasa cukup lega melihatnya, tadi ia mengunggah vidio itu hanya untuk memberikan pelajaran bagi siswa seperti Yosua, agar tidak ada lagi korban perundungan seperti Beny dan yang lainnya. Teringat Beny, membuat Ivona mengingat luka memar yang ia lihat di tubuh pria gendut itu. Ia segera pergi mencari toko obat untuk membelikan obat memar bagi pria menyedihkan itu.
Merasa semua sudah kembali aman, Ivona memutuskan untuk kembali ke sekolah tepat di saat bel sekolah berbunyi tanda kelas dimulai. Secepat ia keluar meloncati pagar, secepat itu juga Ivona kembali masuk. Ia bergegas menuju kelas agar tidak terlambat mengikuti pelajaran.
Sesampainya di kelas, Ivona langsung menuju di mana meja Beny berada. Ivona meletakkan dua botol obat luka memar untuk Beny. Beny yang tadinya hanya menatap datar kedatangan Ivona, sedikit tersentak saat gadis itu menaruh botol obat di mejanya. Meski Ivona tak berkata apa pun, tapi Beny merasa senang dengan perhatian yang ditunjukkan Ivona. Hatinya menjadi berbunga-bunga, jantungnya bertalu seiring kepergian Ivona yang kembali ke tempat duduknya.
Tanpa Beny sadari ada seseorang yang menatap iri padanya. Dia adalah William, pria yang detik itu juga langsung mentasbihkan jika mulai hari ini Beny—si monster gendut—adalah ancaman bagi posisinya.
__ADS_1