
Ivona baru saja keluar dari sebuah tempat perawatan kecantikan. Tommy sengaja tidak mengajak Ivona pulang, tapi justru membawanya ke sebuah pusat perawatan kecantikan, milik salah satu teman wanitanya.
"Buat adikku menjadi pusat perhatian, dia harus menjadi yang paling cantik di antara semua yang hadir." Begitu tadi pesan Tommy pada temannya, yang merupakan pemilik dari tempat kecantikan ini.
Memang membutuhkan waktu yang cukup lama, sampai-sampai Ivona selalu berusaha untuk kabur. Ia tidak suka tubuhnya disentuh banyak orang. Bagaimana tidak, si pemilik tempat melakukan perawatan full body pada Ivona. Tentu saja semua demi memenuhi harapan Tommy, menjadikan Ivona gadis paling cantik.
Tak ada sedikit pun senyum di wajah Ivona, sedari tadi bibirnya terus mencibir. Menggerutu, mengumpat, atas apa yang Tommy lakukan padanya. Tak cukup sampai di situ, setelah selesai pun Ivona masih harus mengikuti apa yang diinginkan pemilik tempat ini. Bagaikan sebuah pajangan, Ivona dipaksa berdiri dibalik tirai, sebelum Tommy melihatnya.
"Kau tidak akan pernah menyesal membawa adikmu kemari, Sayang," ucap seorang wanita bernama Beauty. Dia lah pemilik tempat ini, teman sekaligus mantan pacar Tommy.
"Kita buktikan," jawab Tommy sembari menyesap rokok yang dijepit di jarinya.
Beauty tersenyum dengan percaya diri, pekerjaannya di dunia otak-atik wajah sudah lama ia lakoni dan belum pernah mengecewakan. "Kau harus ingat akan kesepakatan yang aku ajukan," tantangnya pada kakak dari Ivona itu.
"Sudah jangan banyak bicara!"
"Kau memang tidak berubah, selalu tidak sabaran." Bauty memberikan isyarat pada anak buahnya dengan tepukan tangan. "Buka tirainya!"
Perlahan tirai yang menutupi pandangan Tommy, bergeser ke samping, memperlihatkan Ivona yang tengah berdiri anggun dengan bibir cemberut.
Tommy ingin tertawa tapi ia tahan karena tidak ingin membuat Ivona marah. Namun, Beauty bisa menangkap hal itu. "Kenapa, ada yang salah?" tanya Beauty panik, pasalnya ia adalah pertama kali hasil kerjanya mendapatkan tawa bukan pujian seperti biasanya.
"Tidak, semua baik-baik saja." Tommy mematikan rokok di tangannya, dan kembali menatap adiknya yang belum berubah posisinya.
Wanita bernama Beauty itu mengikuti pandangan Tommy. Setelah menyaksikan dengan seksama, ia baru sadar tentang apa yang membuat Tommy ingin tertawa. Bukan make up yang ia buat, tapi raut cemberut Ivona.
Beauty langsung mendekat pada Tommy, ia memegang dasi Tommy dan mempermainkannya. "Bagaimana, aku sudah membuktikannya bukan, jadi kau harus menjadikan aku teman kencanmu. Setidaknya untuk tiga bulan ke depan," ucap Beauty dengan sensual. Bukan menjadi penghangat ranjang Tommy, tapi tujuan Beauty adalah membuat Rumor tentang hubungannya dengan pria terkenal ini. Ia pernah membuktikan, bisnisnya maju pesat ketika berita tentang hubungannya dengan Tommy terekspose publik. Sayangnya, Tommy justru memutuskannya secara sepihak tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
Kini ia ingin meraup untung yang lebih besar lagi, jika bisa membuat rumor tentang Tommy yang tidak bisa move on darinya. Dunia hiburan memang penuh dengan intrik dan politik. Siapa yang bisa memanfaatkan situasi, dia yang akan meraup untung besar.
"Aku belum membawanya ke pesta, bagaimana aku tahu jika hasil kerjamu memang memuaskan," jawab Tommy santai.
Beauty langsung mendorong tubuh Tommy. "Buktikanlah, aku pasti berhasil membuat semua mata tidak berkedip saat memandang adikmu, dan jika itu terjadi aku ingin kontrak kerja sama sebagai pacarmu selama satu tahun," ucap Bauty yakin.
Tommy hanya tertawa renyah. "Semua bisa diatur."
Tommy berdiri, dan menghampiri Ivona. "Kau siap?"
Ivona mendelik marah pada Tommy. "Menurutmu apa aku sudah siap?" Ivona justru balik bertanya.
Tommy menahan senyumnya, ia suka melihat Ivona merajuk.
"Aku bahkan belum datang ke pesta, tapi rasanya aku sudah mau kabur. Apa yang dilakukan temanmu tadi, apa dia membuatku menjadi badut?" Mata Ivona terus mendelik. Wajar jika Ivona berkata demikian, Beauty sama sekali tidak mengijinkan Ivona melihat cermin. Ia bahkan tidak tahu seperti apa penampilannya saat ini, seperti badut, kah, atau justru seperti monster.
Ivona langsung memukul dada Tommy. "Aku tidak suka kalimat berlebihan!"
"Aku bicara jujur. Kita buktikan sekarang."
Ivona mengernyit.
"Ayo kita berangkat, kita buktikan jika kata-kataku benar adanya."
"Kalau begitu, biarkan aku melihat diriku dulu, aku tidak ingin jadi bahan olok-olokan di pesta nanti."
"No ... no ... no, percayalah padaku. Kau akan memukau setiap mata yang memandang," puji Tommy.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat, aku tidak sabar lagi melihat apa reaksi semua orang." Tommy ingin menggandeng tangan Ivona tapi, gadis itu menolak dan lebih memilih berjalan sendiri ke mobil. Tommy selalu menganggap tingkah Ivona yang sering seperti anak-anak adalah hal lucu untuknya.
"Aku akan mempersiapkan surat kontraknya," seru Beauty sebelum Tommy benar-benar menghilang dari tempatnya.
Tommy, sendiri yang menyetir mobil. Ia langsung membawa Ivona ke tempat pesta ulang tahun tetua keluarga Smith. Sepanjang perjalanan senyum tak lekang dari bibir Tommy, ia tidak sabar ingin menunjukkan pada dunia tentang Ivona.
Sampai di sebuah hotel berbintang, Tommy turun lebih dulu kemudian memutar dan membuka pintu mobil untuk Ivona. Tangannya terulur untuk menyambut Ivona. Sedikit aneh harus bersikap sedekat ini dengan Tommy, tapi Ivona harus mencoba. Tidak ingin mengecewakan dan membuat malu Tommy, Ivona menyambut uluran tangan Tommy. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki sebuah ballroom yang sudah disulap dengan dekorasi mewah untuk acara ulang tahun dari salah satu keluarga terpandang di Victoria itu.
Ivona gugup, tangannya bahkan sudah sedingin es. Bagi si pemilik tubuh, ini adalah yang pertama. Ivona si pemilik tubuh belum pernah menghadiri acara seperti ini, karena sebelumnya gadis itu memang sengaja disembunyikan.
"Jangan gugup, ada aku bersamamu," bisik Tommy saat mereka hampir sampai di pintu ballroom.
"Aku tahu, ini pengalaman pertamamu, tapi percayalah kau akan lebih sering menghadiri acara seperti ini, karena itu biasakanlah."
Ivona hanya bisa melirik pada Tommy yang berusaha menenangkannya.
"Rileks saja, atur napasmu," bisik Tommy memberi saran.
Ivona langsung melakukannya, menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Tommy, menepuk punggung tangan Ivona. "Kau siap?"
Ivona mengangguk saja.
Pintu ballroom terbuka, dan Ivona berjalan bergandengan dengan Tommy, melewati para tamu undangan yang lebih dulu hadir. Mereka semua terperangah menatap Ivona, tidak ada satu orang pun yang berkedip saat mata mereka menangkap bayangan Ivona. Seolah waktu terhenti untuk menikmati kecantikan yang belum pernah mereka lihat. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Beauty.
Tidak terkecuali anggota keluarga Iswara, semua tercengang dengan kehadiran Ivona. Terutama Vaya, bukankah dulu Nyonya Iswara melarang Ivona untuk hadir, tapi sekarang Tommy justru membawanya ke pesta ini. Vaya jadi memiliki firasat buruk dengan kehadiran Ivona.
__ADS_1