
Sudah hampir satu bulan waktu berjalan. Nyatanya menaklukkan hati seorang Ivona Carminda tak semudah yang Aldrich bayangkan. Ia pikir ketampanan dan kekayaan yang ia miliki akan mampu meluluhkan gadis itu dalam semalam. Namun, faktanya sudah hampir satu bulan berlalu dan belum ada tanda-tanda dari Ivona nampak luluh.
Ivona memang semakin dekat dengan Evan dan Helena tapi tidak dengan dirinya. Gadis itu sulit sekali ditaklukkan. Meski begitu, Aldrich tetap bersikeras menggelar pesta pernikahannya. Rasanya akan seru punya tatangan menaklukkan istri yang dingin. Sebuah pemikiran aneh dari seorang Aldrich Ryder.
Dengan bantuan Helena—mamanya—Aldrich mengatur semua acara pernikahannya tepat di satu bulan waktu yang dulu Aldrich minta. Dua hari lagi acara itu akan digelar dan Ivona tak terlibat sama sekali dalam pemilihan tema atau apa pun. Ivona serahkan semuanya pada Helena. Ivona percaya calon ibu mertuanya itu punya selera yang bagus dalam mengatur pernikahan.
Acara pernikahan mereka akan digelar di sebuah gereja seperti keinginan Helena, setelah itu langsung ke hotel untuk menggelar resepsi demi mengundang kolega bisnis keluarga Ryder juga Howard. Memikirkan semua itu membuat Ivona terbangun di tengah malam, lampu temaram dalam kamar tak menghalangi pandangannya untuk melihat Aldrich yang masih lelap di atas sofa. Ivona menyibak selimutnya, dan membawa langkahnya perlahan keluar kamar.
Ia berjalan menuju bagian belakang rumah, ke kolam renang tepatnya. Tak ada yang begitu mengusik pikirannya melainkan bagaimana ia akan menjalani kehidupan yang asing bersama seorang Aldrich Ryder. Ia terus berjalan memutari kolam renang, hingga ia tergelitik untuk menyentuh dinginnya air kolam itu dengan tangannya. Tak sampai di situ, kesenangan saat menyentuh air membuat Ivona ingin bermain dengan kakinya. Ia pun duduk di tepi kolam dengan kaki menjuntai ke dalam air. Tangannya mempemainkan riak air yang terasa begitu dingin saat tengah malam.
Matanya menatap hampa ke depan, tak ada fokus yang ia tuju selain riak air yang tercipta karena gerakan kakinya. Ivona tersentak saat sebuah selimut tersampir melingkupi bahunya. Kepalanya menoleh demi melihat siapa yang sudah begitu perhatian padanya, karena sejujurnya ia merasakan dingin yang teramat dibalik baju piyamanya.
"Kau?" lirih Ivona dengan tatapan kaget melihat pria yang kini ikut duduk di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya tanpa menjawab kekagetan Ivona yang tak perlu dijawab menurutnya.
"Hanya ingin bermain-main."
"Kenapa kau kemari?"
"Menyusulmu," jawabnya enteng.
Jawaban Aldrich selalu membuat Ivona kesal. Gadis itu pun memilih menatap ke depan tak ingin mengacuhkan calon suaminya.
"Kenapa kau tidak bisa mencintaiku?" tanya Aldrich tiba-tiba. Pertanyaan yang sukses membuat Ivona menoleh.
Ivona tak ingin melewatkan kesempatan kali ini. "Lalu kenapa kau masih ingin menikahiku? Bukankah seharusnya kau melepaskan aku. Kau tahu bukan, aku punya bakat untuk menghasilkan uang, beri aku kesempatan dan aku akan melunasi semua hutangku. Aku akan mengembalikan semua uang yang sudah kau keluarkan untuk menyelamatkan perusahaan ayahku dan juga pengobatanku. Aku yakin tidak sampai sepuluh tahun aku bisa mengembalikan semua hutang-hutangku padamu berikut dengan bunganya. Kau bisa menikah dengan orang yang mencintai dan kau cintai. Itu akan sangat mudah untuk kalian menjalani pernikahan."
Aldrich dengan serius mendengarkan setiap ucapan Ivona, tapi di akhir cerita ia justru tertawa terbahak-bahak. Hal yang membuat Ivona bingung dan salah tingkah. Adakah yang salah dengan ucapannya.
"Apa aku terlihat seperti orang yang sangat membutuhkan uang?" tanya Aldrich setelah tawanya berhenti.
"Dengarkan aku baik-baik, aku tidak butuh uangmu sama sekalai. Kau pikir untuk apa aku membantu perusahaaan ayahmu, apakah demi keuntungan bisnis?" Aldrich mengangkat jari telunjukknya dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri di depan wajah Ivona.
__ADS_1
"No ... no ... no!Aku melakukannya bukan karena uang, aku melakukannya karena ... kau." Aldrich mengangguk. "Ya ... kau. Aku hanya menginginakanmu. Tidak lebih. Bahkan jika aku harus mengorbankan semua uangku untuk ditukar denganmu akan aku lakukan. Aku hanya menginginkanmu. Tidak yang lainnya," ujar Aldrich dengan sorot tajam dan serius.
"Tapi kenapa, hanya karena mimpi konyolmu?" ejek Ivona.
"Kau boleh mengangagpnya mimpi konyol tapi aku menganggapnya sebuah takdir."
"Aku ingin bekerja, aku punya kemampuan luar biasa dalam pekerjaaanku dan aku tidak mau terkurung dalam istanamu ini." Ivona mengingat bagaimana diktatornya sang calon suami juga ibu mertuanya. sudah sejak dua minggu yang lalu Ivona dilarang ke kantor, ia hanya boleh menikmati kehidupannya di rumah saja.
"Kau tidak perlu bekerja di kantor, kau cukup bekerja di rumah. Dan kau jangan takut tak punya pekerjaan di rumah karena aku akan membuatmu sibuk dengan banyak pekerjaan rumah." Aldrich menaik turunkan alisnya untuk menggoda dan mengerling manja diakhirnya.
Hal itu membuat Ivona mencibir, bibirnya mengerucut menanggapi.
"Aku serius, buktikan dulu kehebatanmu di atas ranjang baru kau boleh pamer tentang kecerdasanmu," goda Aldrich.
Sontak saja Ivona langsung mengambli air dengan tangannya dan menyiramnya ke wajah Aldrich. Aldrich yang kaget karena dinginnya air kolam langsung marah-marah.
"Hei ... kau gila, ya! Ini dingin!" teriak Aldrich.
Melihat Aldrich marah justru membuat Ivona senang. Bukan hanya sekali, Ivona malah mengulanginya lagi, ia kembali menyiram air ke wajah Aldrich. Kali ini lebih banyak dan bahkan mengenai tubuh Aldrich yang berbalut polo shirt yang ketat.
"E ... e ... apa yang kau lakukan?" teriak Ivona tak siap. Demi bertahan agar tak jatuh ia mencoba berpegangan apa saja yang ada di dekatnya. Karena yang paling dekat dengannya adalah Aldrich pria itu akhirnya harus ikut tercebur ke dalam kolam karena Ivona tak bisa menjaga keseimbangan. Jadilah mereka berdua berbasaah-basahan di tengah malam.
"Ish ... ini semua karena kau!" Ivona memukul di atas air.
"Kau yang mulai duluan," elak Aldrich.
"Aku!" Ivona menunjuk dirinya sendiri. "Kalau bukan karena otak kotormu aku tak akan berniat mencucinya," bantah Ivona.
"Kau bilang otakku kotor, katakan bagian mana dari otakku yang kotor."
"Itu, untuk apa kau bilang soal masalah ranjang denganku. Apa itu namanya kalau bukan otak kotor?"
Aldrich mendesah kasar. "Oh ... itu. Hal seperti itu kau bilang otakku kotor. Akan aku tunjukkan bagaimana otak kotor itu." Aldrich mendekati Ivona.
__ADS_1
"Hei ... apa yang akan kau lakukan?" Ivona mundur manjaga jarak dari ancaman predator.
"Akan aku tunjukkan apa itu otak kotor." Aldrich langsung akan menyergap Ivona tapi gadis itu buru-buru berenang menjauh dari pria gila itu. Alhasil mereka saling kejar-kejaran di dalam kolam. Ivona terus berenang menjauh dan Aldrich terus mengejar Ivona. Namun, kali ini ada tawa yang mengiringi mereka.
"Kau gila, lepaskan aku!" teriak Ivona saat Aldrich berhasil menangkapnya.
"Tidak, akan aku tunjukkan dulu apa itu otak kotor baru aku lepaskan."
"Kalau kau macam-macam di sini, aku akan membunuhmu sekarang juga?" ancam Ivona.
"Kurasa sebelum kau membunuhku kau pasti sudah kubuat tak beradaya dengan otak kotorku." Aldrich membawa Ivona semakin tersudut ke dinding kolam renang.
"Aldrich, kau jangan bercanda!" Ivona berusaha mendorong.
"Siapa yang bercanda, aku serius." Aldrich terus semakin dekat.
"Aldrich jangan gila!" teriak Ivona lagi.
Hal tak terduga justru Aldrich keluarkan dari celananya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Memperlihatkanmu sesuatu." Tangan Aldrich meraih sesustu di bawah sana. "Sebenatar."
Ivona takut tapi pria itu terus saja berusaha mengeluarkan sesuatu dari celananya dan berteriak, "Berhasil!" kala menemukan apa yang ia inginkan.
Ivona yang sempat takut berjaga-jaga dengan menutup matanya.
"Hei, buka matamu," suruh Aldrich.
Ivona menggeleng. "Tidak mau!"
"Lihat dulu, kau pasti belum pernah melihat sebelumnya?"
__ADS_1
"Aldrich jangan gila, aku tidak mau melihatnya."
Aldrich tertawa dan terus menggoda Ivona untuk membuka mata. Hingga pria itu berhasil membuat Ivona membuka matanya. Mata Ivona membelalak lebar melihat sesuatu yang diperlihatkan Aldrich. Mulutnya bahkan ternganga lebar saking kagetnya.