
Roy meronta, saat tangan Ivona semakin kuat mencengkeram.
"Kenapa, apa kau tidak bisa melepaskan dirimu dari gadis di bawah rata-rata ini?"
"Lepas, Ivona, atau aku yang akan membuatmu menyesal seumur hidup!" ancam Roy.
"Benarkah? kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh sampah sepertimu," ejek Ivona masih mencengkeram kuat tangan Roy.
Raut wajah Roy semakin murka saat mendengar ucapan Ivona. Gadis ini benar-benar telah berubah.
"Pecundang bodoh sepertimu, tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Dasar sampah!" Ivona menghempaskan tangan Roy dengan kasar sebelum pergi meninggalkan pria itu.
Roy memegangi tangannya yang terasa sakit, dengan wajah merah padam. Namun, tidak bisa berkata-kata untuk kembali membalas Ivona. Roy hanya bisa menampilkan sorot dingin dan merendahkan untuk menatap kepergian Ivona.
"Gadis gila, pantas saja kau tidak diterima di keluarga Iswara, sikapmu sungguh menjijikkan. Kau sangat berbeda dengan Vaya yang memiliki kemampuan dan bakat, serta tidak pernah berpura-pura seperti dirimu," gumam Roy setelah Ivona tak lagi terlihat.
"Lihat saja, aku pasti membalas atas apa yang kau lakukan hari ini," ucap batin Roy sembari menyeringai membayangkan bagaimana ia kan membalas perlakuan Ivona.
"Saat itu, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku pasti membalasmu, Ivona!"
_________________
Selama dua hari, Ivona terus menyempurnakan dokumen proyeknya selagi menunggu balasan dari institut spesialis otak itu. Ia tidak sabar untuk segera bisa membantu pengobatan kakek dengan alat yang ia rancang. Ia yakin dengan peralatan medis rancangannya, kakek akan bisa mendapatkan hasil yang baik dan maksimal dari pengobatannya. Saking sibuknya, Ivona sampai melupakan sesuatu.
Ini bahkan sudah hari Jum'at dan Ivona baru teringat jika dirinya lupa memberitahu perihal kunjungannya ke kediaman besar keluarga Iswara pada Alexander. Ivona segera mencari tempat yang sepi untuk menelepon Alexander.
Di perusahaan, Alexander baru saja menyelesaikan rapatnya. Semua orang di sana masih merasakan ketegangan saat Alexander terlihat murka karena hasil kerja pegawainya yang tidak sesuai dengan harapannya.
Alexander melempar berkas ke atas meja panjang di hadapan semua anak buahnya. "Apa itu hasil kerja kalian, apa aku membayar kalian hanya untuk membuat laporan sampah seperti itu, huh!" Begitu ucap Alexander tadi.
__ADS_1
"Rico, Keluarkan mereka yang telah membuat laporan tidak becus itu dari jabatannya, mereka tidak pantas berkerja di perusahaanku dengan sifat pemalasnya!"
Semua hanya bisa terdiam sembari menunduk, tidak ada seorang pun yang berani menatap kemarahan Alexander Alberic.
"Baik, Tuan," jawab Rico patuh.
Setelah menumpahkan semua kemarahannya, Alexander meminta semua orang untuk keluar dari ruang meeting tersebut. "Keluar kalian semua, dan perbaiki cara kerja kalian jika masih ingin bergabung di perusahaan ini!"
Masih dengan kepala yang tertunduk, satu per satu pegawainya keluar dari meeting room, tak terkecuali Rico—sang asisten. Di saat yang bersamaan ponsel Alexander berdering. Alexander melihat satu per satu anak buahnya meninggalkan dirinya sendiri di meeting room, sebelum melihat panggilan di ponselnya.
"Ivona," gumamnya. "Halo," sapa Alexander.
"Halo, ini aku Ivona," ucap Ivona menerangkan, karena ini pertama kalinya ia menghubungi Alexander.
"Ya, aku tahu."
"Aku ingin meminta ijin padamu kalau aku tidak akan pulang. Aku akan ke rumah keluargaku untuk menjenguk kakek yang baru saja keluar dari rumah sakit," jelas Ivona.
"Nanti di akhir pekan aku akan belajar di rumah."
"Terserah kau saja."
"Terima kasih," ucap Ivona dan akhirnya menutup panggilannya.
Alexander masih menatap ponsel yang ia gunakan untuk berbicara dengan Ivona tadi, memutarnya di tangan seolah bermain. Ada sesuatu yang ia pikirkan mengenai gadisnya itu. Ia yang masih berada di depan meja kerja langsung menelepon Tommy.
_______________
Di kediaman besar keluarga Iswara. Nyonya Iswara telah menunggu kedatangan kakek dengan anggun, sedangkan Vaya merasa gelisah.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Nyonya Iswara yang menyadari kegelisahan Vaya.
Vaya yang sedikit tersentak dengan pertanyaan Nyonya Iswara, langsung menatap ibunya itu. "A-aku sedikit gugup, Ma."
"Kenapa?"
"Aku takut, kakek tidak akan suka melihatku," jawab Vaya jujur mengungkapkan kekhawatirannya.
"Sudah tidak usah khawatir berlebihan seperti itu, Mama yakin kakek tidak akan bersikap buruk padamu. Bagaimana pun kau pernah jadi cucu tersayangnya, apa kau ingat?" ucap Nyonya Iswara mencoba menenangkan Vaya.
Vaya mencoba mengingat perkataan Nyonya Iswara. Benar, Vaya pernah berada di posisi itu, di mana ia begitu di sayangi dan cintai oleh seluruh anggota keluarga tanpa kecuali. Namun, semua itu kini hanya tinggal kenangan, karena Ivona telah merubah semuanya. Kasih sayang kakek, dan sekarang Thomas. Mereka telah berubah dan semua karena Ivona.
Bahkan dua tahun terakhir ini, jika Vaya mengunjungi kediaman besar, kakek tidak memberinya ijin untuk tinggal di sana hingga Vaya dengan terpaksa harus tinggal sendiri di hotel. Hal itu semakin membuat Vaya benci pada Ivona.
Vaya mengangguk, tapi perasaan gelisah akan ditolak oleh Kakek masih tak bisa hilang dari pikirannya. Ketakutan itu semakin menjadi saat bayangan Ivona terlintas di otaknya. Nyonya Iswara masih bisa melihat hal itu, kecemasan Vaya.
"Sudah, percaya saja sama Mama. Semua akan baik-baik saja." Kali ini Nyonya Iswara mengusap lengan Vaya untuk memberi efek menenangkan pada putri tersayangnya itu.
"Vaya tidak bisa, Ma. Vaya takut Ivona akan datang dan kembali merebut perhatian kakek. Mama tahu bukan apa yang akan terjadi kalau Ivona sudah berada di dekat kakek. Kakek tidak akan pernah melihat Vaya lagi." Vaya menampakkan raut murung dan ketakutannya.
"Maafkan Mama, Sayang," sesal Nyonya Iswara.
"Mama tidak bisa membuat Ivona untuk tidak datang ke rumah ini, kamu tahu bukan kalau kakek tidak akan mau melanjutkan pengobatan jika tidak bertemu dengan Ivona?"
Vaya semakin terlihat murung, wajahnya tertekuk karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Ivona ada di sini.
"Jangan sedih begitu, Sayang, nanti Mama juga sedih. Be smile my princess." Nyonya Iswara memeluk Vaya untuk tetap memberi semangat pada gadis itu.
"Vaya takut, Ma," lirih Vaya dalam dekapan Mamanya.
__ADS_1
Nyonya Iswara mengusap punggung Vaya lembut. "Oh my Princess."
Nyonya Iswara melepaskan pelukannya saat terpikir sesuatu. "Sayang, jangan sedih lagi. Mama punya sesuatu untuk membuat kakek kembali memberi perhatian padamu," ucap Nyonya Iswara dengan sorot berbinar.