
Dari semua cincin yang ditawarkan, mulai dari yang memiliki model mewah, simple tapi elegan hingga model klasik semua Julia pamerkan. Setelah melihat, mengamati, dan merasa mana yang pantas akhirnya pilihan Ivona jatuh pada cincin bermodel klasik nan simple.
Sebuah cincin berukir yang terbuat dari emas putih dan bermata ruby menjadi pilihan Ivona. "Aku ingin ini, aku ingin kau mengukir nama Alexander di sana," ujar Ivona sembari memperlihatkan cincin yang ia inginkan lalu melirik Alexander.
"Wah ... seleramu sangat bagus, Nona. Batu ruby sangat cocok sebagai cincin pernikahan karena ada filosofi di dalamnya. Batu ruby dipercaya memiliki energi spiritual yang baik untuk hubungan pernikahan. Ruby sendiri menjadi perlambang cinta dan kedamaian. Di dalamnya terselip doa dan harapan kepada kedua pasangan dalam menjalani bahtera rumah tangga dalam kedamaian dan kelanggengan. Batu ruby juga dipercaya mampu menangkal energi negatif dan menyerap energi positif pada pemakainya." Julia menjelaskan dengan senyum ramah tak lekang dari bibirnya.
Ivona menatap Alexander di sampingnya. Pria itu tersenyum manis pada gadisnya. Ivona tak menyangka jika pilihannya yang hanya berdasarkan keindahan batu itu akan memiliki makna mendalam dalam sebuah hubungan.
"Kau suka?" lirih Alexander.
Ivona mengangguk yakin.
"Tolong tuliskan kata 'ALIV' dalam cincin itu, aku ingin namaku selalu bersanding dengan namanya." Alexander menggenggam erat tangan Ivona kemudian mengecupnya.
Ivona mengernyit heran. "Aliv?"
Pria di sampingnya mengangguk. "Ya, Aliv ... Alexander dan Ivona."
Meski terdengar aneh menurut Ivona tapi ia setujui saja, karena tidak ada hal merugikan dalam hal ini.
"Kalian sangat manis," puji Julia. "Aku doakan semoga pernikahan kalian abadi, sampai kapan pun," ujar Julia tulus.
"Baiklah, aku akan siapkan cincin terbaik kalian, dan aku akan mengantarnya sendiri jika sudah selesai." Julia pamit setelah menyelesaikan transaksi dengan Alexander.
Alexander akan berdiri mengantar Julia tapi dicegah oleh penjual cincin itu. "Tidak ... tidak, kau tidak perlu mengantarku. Aku akan keluar sendiri, kau nikmati saja waktumu dengan kekasihmu," ujar Julia.
Alexander dan Ivona hanya bisa tersenyum menatap kepergian Julia. Setelah Julia menghilang dibalik pintu senyum Alexander langsung memudar, tatapannya fokus pada Ivona yang masih tersenyum.
"Kenapa, ada yang salah?"
Alexander menggeleng.
"Jangan mulai!" Ivona sudah hafal sekarang, pria itu ingin menghipnotisnya dengan sihir di manik indah pria itu.
Alexander mengulum senyum. "Kau sudah pintar rupanya." Alexander membelai lembut pipi kekasihnya, menatap ingin pada bibir yang mulai membuatnya ketagihan. Tak ingin lagi menahan Alexander mendekatkan wajahnya pada Ivona.
"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kalian masih sibuk," seru Valia yang baru saja membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Alexander kesal karena kesenangannya diganggu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menyampaikan berkas ini padamu, kau bisa mempelajarinya lebih dulu sebelum kau menyetujuinya. Aku letakkan di sini, saja." Valia segera meletakkan berkas yang dibawanya ke meja kerja Alexander kemudian bergegas keluar.
"Valia, tunggu. Kau mau makan siang denganku?" ajak Ivona.
"Makan siang?"
"Ya ... kalau kau tidak keberatan."
Alexander menatap heran pada Ivona.
"Kalau kau sibuk tidak apa, mungkin lain kali," sambung Ivona.
"Ah ... tidak, baiklah aku akan bersiap." Valia langsung keluar.
Sementara Ivona langsung mengambil tasnya, dan mengecup pipi Alexander. "Aku pergi dulu."
"Kau serius mau makan siang dengan Valia dan tidak mengajakku?"
"Sesekali aku ingin jadi wanita normal, punya teman wanita, pergi makan, belanja, dan mengobrol semua hal tentang wanita," jawab Ivona berkelakar.
"Bye ...." Ivona memberikan kecup jauh dengan tangannya sebelum meninggalkan ruangan Alexander.
"Kau mau pesan apa?" tanya Ivona setelah membuka buku menu.
Valia masih melihat-lihat.
"Aku mau Grill Shrimp with creamed spinach and mushroom, kau mau juga?" tanya Ivona lagi.
"No ... aku tidak bisa makan udang."
"Oh ...."
"Aku mau beef stew," ujar Valia.
Pelayan yang sedari tadi menunggunya langsung mencatat pesanan mereka berdua. Sebelum pergi pelayan itu menyebutkan kembali pesanan Ivona dan Valia agar tidak salah.
"Valia, apa kau masih punya orang tua?"
Pertanyaan Ivona membuat pikiran Valia terbang jauh mengingat tentang orang kandungnya yang saat ini berada di dalam penjara.
__ADS_1
"Valia," panggil Ivona. "Maaf jika pertanyaanku membuatmu tidak nyaman."
Valia berusaha tersenyum. "Ah ... tidak apa, ya aku punya orang tua tapi dia tidak merawatku sejak kecil."
Raut tanya langsung terlihat jelas di wajah Ivona.
"Sejak aku bayi aku tinggal di rumah keluarga angkatku, keluarga yang sangat menyayangiku hingga suatu hal membuat kami harus berpisah dan aku terpaksa tinggal bersama pamanku. Karena pamanku lah kita bisa bertemu, kau tahu bukan?"
Ivona mengangguk. "Waktu kita bertemu di bar, sedang apa kau di sana bukankah kau belum pernah ke sini sebelumnya?"
Valia tertawa. "Iv ... Iv, aku memang belum pernah ke sini tapi kenalan pamanku sangat banyak dan saat itu aku sedang bertemu dengan kolega pamanku."
Ivona paham. Ia tak ingin lagi banyak bicara, lagi pula pesanan mereka sudah datang.
"Iv ...," panggil Valia di sela-sela makan. "Apa kau dan Alexander sedang merencanakan hubungan yang serius?"
Ivona tertawa. "Kau benar, dia melamarku tadi malam dan hari ini dia memintaku untuk memilih cincin." Ivona tak pernah bersikap pamer seperti ini sebelumnya, tapi kali ini ia harus pamer.
Tangan Valia yang menggenggam sendok mendadak mengeratkan genggamannya. Terlihat menahan marah. Ivona menyadari hal itu tapi ia pura-pura tidak tahu, Ivona bahkan dengan sengaja memanas-manasi suasana hati Valia.
"Kau tahu Valia, sebelumnya aku belum pernah merasakan jatuh cinta seperti ini. Alexander adalah yang pertama. Dia membuatku tak bisa menolak dirinya karena perlakuannya yang sangat manis padaku. Sebelumnya, saat aku masih SMA, aku pernah menyukai seseorang tapi ternyata dia hanya memanfaatkan aku saja." Ivona terlihat menyesali kebodohannya.
"Tapi tidak masalah, karena sekarang orang itu sudah ditahan. Kau tahu apa yang dia lakukan, dia menculikku, bersama dengan kekasihnya. Sayangnya, kekasihnya justru kabur dan tidak ikut bertanggung jawab. Meski begitu aku yakin ia akan segera ditangkap. Kalaupun belum ditangkap, Alexander sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari wanita itu."
Mendadak Valia tersedak.
"Va-valia kau kenapa?"
Valia segera mengambil gelas air mineral dan meneguknya hingga tandas.
"Kau baik-baik saja?"
"I-iya ...." Valia gugup, tidak mungkin ia mengaku jika rasa gugupnya karena ketakutan akan apa yang Ivona ucapakan.
Sepulang dari makan siang, Ivona mengantar kembali Valia ke kantor sedangkan dirinya langsung pulang ke vila.
"Nona Ivona, ada tamu yang menunggu Anda," lapor Bibi Mina saat Ivona baru saja turun dari mobil. Gadis itu bahkan belum sempat masuj ke rumah.
"Tamu? siapa?" tanya Ivona heran.
__ADS_1
Bibi Mina hanya bisa menggeleng tidak tahu.