IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.94 Aku Serahkan Ivona Padamu


__ADS_3

Dalam kebingungan yang melanda, Ivona dikejutkan dengan panggilan Tommy. "Iv, kenapa kau masih berdiri di situ, ayo masuk."


"I-iya," jawab Ivona. Ivona melangkah memasuki privat room itu, matanya tak lepas dari menatap Alexander yang lebih dulu duduk di sana.


"Apa kau sudah pesan makanan?" tanya Tommy pada Alexander.


"Belum, aku menunggumu," jawab pria itu datar.


Ivona terus memperhatikan gerak-gerik Alexander. Sikap pria itu begitu tenang, tidak menampakkan sama sekali jika mereka saling kenal.


"Baiklah, sekarang pesanlah. Iv ... kau juga, pilih apa pun yang kau inginkan," suruh Tommy.


Ivona dan Alexander sama-sama membuka buku menu, sesekali ekor mata Ivona melirik pria yang berada di sisi kanannya itu. Masih sama, Alexander begitu dingin dan datar.


Tommy sudah menyebutkan lebih dulu pesanannya pada pelayan yang mengantar mereka tadi, disusul Alexander. "Iv, apa yang ingin kau pesan?" tanya Tommy.


Sedikit tersentak karena sejak tadi bukan buku menu yang menjadi perhatian Ivona tapi justru pria yang dingin dan datar yang ada di sisi kanannya. "A-aku, samakan saja dengan apa yang kau pesan," jawab Ivona spontan. Ia memang tidak tahu dan tidak melihat apa saja menu yang tertera di dalam buku yang diberikan oleh pelayan tadi. Demi mencari aman, Ivona menjawab sekenanya.


"Kau dengar?" ujar Tommy pada pelayan itu.


"Iya, Tuan." Pelayan itu mencatat pesanan Ivona kemudian pamit.


"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Tommy pada Alexander.


"Lumayan untuk menghabiskan dua batang rokok," jawab Alexander.


"Maafkan kami, sekolah adikku cukup lumayan jaraknya dari restoran ini," ujar Tommy.


Alexander baru menatap Ivona sejak tadi gadis itu datang dan duduk di dekatnya. "Dia adikmu?" tanya Alexander berpura-pura.


"Oh, ya, aku belum memperkenalkanmu. Kenalkan ini Ivona adik perempuanku." Tommy menunjuk Ivona. "Iv, ini Alexander, dia adalah temanku. pria limited edition, kau ingat?" Tommy mengerling manja pada Ivona.


"Hai, senang bisa berkenalan denganmu?" sapa Alexander.


"Hai," jawab Ivona singkat.


Melihat kedekatan dari Alexander dan Tommy, Ivona jadi menaruh curiga pada dua pria ini. Menurut pengamatan Ivona hubungan antara Tommy dan Alexander pastilah sudah terjalin sejak lama. Instingnya berkata, jika pertemuannya dengan Alexander saat itu di bar, pastilah bukan kebetulan semata. Sebab di hari itu, untuk pertama kalinya Alexander membawanya pulang ke rumah pria itu, dan semua itu pasti tak lepas dari peran Tommy.

__ADS_1


Sikap Ivona yang semakin dingin ketika masuk ke ruangan ini, membuat Tommy sedikit takut. Ia merasa Ivona pasti mencurigai tentang Alexander dan dirinya.


"Iv, adakah lagi yang ingin kau pesan selain menu yang tadi?" tanya Tommy untuk mencairkan suasana.


"Tidak," jawab Ivona lugas.


Ivona terus mengarahkan tatapannya pada Alexander, tapi pria itu justru lebih tertarik menatap Tommy.


"Bagaimana pekerjaanmu, berapa lama kau akan berada di negara ini?" tanya Alexander.


"Ah ... itu, aku belum bisa pastikan, yang bisa aku pastikan sekarang adalah membuat adikku merasa nyaman."


Alexander spontan menoleh pada Ivona, senyum tipis menghiasi bibir pria itu. "Kau dengar, kau adik yang sangat beruntung memiliki kakak seperti temanku ini," ujar Alexander.


"Apakah menjadi adik yang dianggap bodoh dan terus dibohongi adalah sebuah keberuntungan?" Nampak raut tegas di wajah Ivona.


Bukan Alexander yang panik, tapi Tommy. Ucapan Ivona menyiratkan jika gadis itu sudah tahu jika keberadaan Ivona di rumah Alexander bukan semata-mata karena Alexander ingin menolongnya, tapi ada andil Tommy di sana.


"A-apa maksudmu, Iv?" tanya Tommy takut.


"Kau sudah lama mengenal dia bukan?" Ivona menunjuk Alexander.


"Sekarang aku tinggal di rumahnya, aku yakin kau juga tahu soal itu," ujar Ivona.


"Iv, aku ...."


"Apakah kau yang menyuruh pria ini membawaku ke rumahnya?"


Tommy menunduk, tak bisa lagi mengelak.


"Jadi benar, kau membohongiku!" tegas Ivona.


"Iv, ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku hanya ingin ada yang melindungimu, dan Alexander adalah orang yang kurasa tepat untuk menjagamu," jelas Thomas sebelum Ivona semakin marah.


"Kau tahu, ini semua aku lakukan karena aku tidak bisa menjagamu dari dekat. Aku hanya ingin melindungimu, Iv."


"Melindungiku?"

__ADS_1


"Ya, melindungimu. Kau adalah adikku, tanggung jawabku. Saat Thomas mengatakan jika kau sering pergi dan tidak pulang, aku merasa cemas, aku takut kau tidur di jalanan, sementara di tempat itu tidak aman untukmu.


Alexander adalah satu-satunya orang yang bisa aku percaya untuk menjagamu. Dia adalah pria baik yang tidak akan mengkhianatiku, sebab itu aku memilihnya. Soal kenapa aku tidak memberitahumu, karena aku yakin kau akan menolak bantuanku jika tahu aku yang meminta Alexander untuk membawamu pulang," jelas Tommy panjang lebar.


"Iv, kau boleh minta apa pun yang kau mau tapi aku mohon jangan marah. Aku tidak akan bisa jika kau marah padaku. Kau adalah adik perempuanku satu-satunya, kau juga adalah harapanku. Please, maafkan aku," mohon Tommy.


Ivona menatap Tommy dan Alexander bergantian. Ia tidak menyangka jika ada persekongkolan untuk mengelabuinya. "Aku mau ke toilet," ujar Ivona, lalu berdiri meninggalkan kedua pria itu. Ivona butuh waktu mencerna tujuan baik Tommy. Ia tidak ingin merasa dipermainkan lagi.


"Bagaimana ini?" tanya Tommy pada Alexander sepeninggal Ivona.


Alexander menggedikkan kedua bahunya, seolah lepas tangan tak ingin tahu penderitaan temannya.


"Jangan begitu, kawan. Kau harus membantuku membujuk Ivona. Jangan biarkan dia marah padaku. Kau tahu betapa susahnya aku mengajak dia datang kemari," pinta Tommy.


Alexander hanya tersenyum mempermainkan temannya itu. "Bukan salahku berpura-pura tidak mengenal Ivona, lalu kenapa aku yang harus membujuknya?"


"Oh ... Alexander, kau tidak mungkin lepas tangan begitu saja, 'kan. Bagaimanapun kau tadi ikut berpura-pura tidak mengenal Ivona. Aku tidak mau tahu, kau harus membantuku membujuk Ivona. Jangan biarkan dia marah padaku, Ok!"


"Enak saja, kau yang berbohong kenapa aku yang harus menjelaskan. Aku tidak sudi!" tolak Alexander.


"Aku akan menghadiahkan padamu seorang artis cantik untuk menghangatkan ranjangmu," bujuk Tommy.


"Aku tidak tertarik sama sekali dengan artismu itu, bahkan jika kau mengirimkan bidadari untukku aku juga tetap akan menolaknya!"


Tommy menjambak rambutnya frustasi, ia baru sadar jika temannya ini bukanlah pria yang mudah disentuh oleh wanita. "Bagaimana dengan Alberic group, aku akan membantumu melobi para petinggi perusahaan di luar negeri untuk memperlebar sayap perusahaanmu."


"Aku bisa melakukannya sendiri dengan timku, aku tidak butuh bantuanmu." Alexander melipat dua tangan di depan dadanya.


"Ayolah, hanya kau harapanku satu-satunya. Kau adalah teman terbaikku. Aku yakin kau bisa membujuk Ivona." Tommy sampai menelungkupkan dua telapak tangannya di depan dada sebagai permohonan pada Alexander.


Alexander masih berpura-pura bersikap angkuh di depan Tommy.


Sementara itu Tommy terus melihat ke arah pintu, takut-takut kalau Ivona datang tiba-tiba. Melihat keangkuhan Alexander, Tommy yakin tidak akan mudah menaklukkan temannya itu. Satu-satunya jalan adalah meninggalkan pria itu bersama Ivona. Tommy yakin, Alexander adalah teman yang baik dan pengertian.


"Aku serahkan Ivona padamu, bujuk dia dengan baik," ujar Tommy sembari menepuk bahu Alexander kemudian berlalu kabur.


"Hei ... apa maksudmu?" teriak Alexander.

__ADS_1


Tommy tidak menggubris, ia takut Ivona segera kembali. Kabur adalah jalan terbaik yang ia pilih.


__ADS_2