
Beny menatap kepergian Ivona dengan Masygul, gadis pertama dalam hidupnya sudah menolaknya. Bukan Ivona yang salah, tapi dirinya. Beny merasa dirinya sangat lemah sehingga Ivona tidak ingin mendekatinya.
Ia merasa semakin rendah diri saat mengingat kata-kata Ivona yang menawarkan bantuan padanya. Seolah, sebagai seorang pria ia tidak bisa menjaga dirinya sendiri hingga harus berlindung pada kekuatan seorang wanita. Terlebih, saat ia mengingat pesan Ivona agar memikirkan kesehatannya lebih dulu, Beny semakin tidak percaya diri. Dia begitu lemah dengan segala kekurangannya.
Beny sadar benar dengan kondisi dirinya yang tak sempurna. Akan tetapi, ia juga remaja pada umumnya, yang mulai merasakan perasaan kepada lawan jenisnya. Ivona telah membuat si monster gendut itu merasakan hal yang berbeda, keberanian Ivona dalam membela dirinya semakin menguatkan tekadnya untuk berubah menjadi lebih berani dan kuat. Ia harus bisa jadi lebih kuat dari Ivona jika ingin bersama dan melindungi gadis itu.
Beny mulai tersenyum, dan menata niatnya kembali. Ia harus berusaha untuk bisa menjadi lebih kuat demi Ivona.
Dari ruang kesehatan, Ivona langsung menuju kelasnya. Ia kembali bersikap wajar layaknya siswi pada umumnya. Tidak ada lagi seringai kekejaman atau pun amarah yang meledak-ledak. Ivona mulai bisa mengontrol emosinya dengan sangat baik, ia bisa memerankan peran menjadi gadis manis yang pendiam atau pun beralih peran menjadi seorang gadis gila berjiwa psikopat dalam waktu yang berdekatan.
Ivona baru saja terduduk saat seorang siswa yang merupakan ketua kelas G mendatangi mejanya. "Bolehkah aku meminta meminta kontak WhatsApp-mu, aku akan memasukkannya ke grup kelas," ujar ketua kelas tersebut.
Ivona tidak keberatan, dan memberikannya begitu saja. Baginya, ia tidak peduli dengan isi dan obrolan grup itu, alasan Ivona memberikan kontaknya adalah agar tidak terlalu terlihat mencolok jika ia tidak peduli dengan urusan siapa pun di sekolah ini. Teringat tentang kontak, Ivona baru sadar jika ia belum sempat memasukkan kontak Alexander yang dulu diberikan oleh pria itu. Segera Ivona memasukkan kontak pria itu ke dalam ponselnya agar tak terlupa.
Rasanya, masalahnya di sekolah baru ini tak kunjung usai. Baru saja Ivona duduk untuk sedikit beristirahat, tiba-tiba datang seorang siswa lagi yang mengatakan jika dirinya dipanggil wali kelas ke ruang kepala sekolah.
Ada apa lagi ini?
Firasat Ivona mengatakan, ini pasti berkaitan dengan Kelly dan teman-temannya tadi. Jujur saja, Ivona malas jika harus memperpanjang masalah, terlebih masalah tersebut mengenai kasus kenakalan siswa. Meski begitu, Ivona tetap mendatangi ruang kepala sekolah.
"Permisi," sapa Ivona sebelum masuk ke ruang kepala sekolah.
__ADS_1
"Masuklah," sahut Mr. Albert, selaku kepala sekolah.
Ivona mulai mengeryitkan dahi, saat melihat beberapa orang yang sudah mengisi ruang tamu kepala sekolah. Ada Mr, Patrick, Yosua, dan satu lagi pria setengah baya yang belum Ivona ketahui identitasnya.
"Duduklah, Ivona," suruh Kepala sekolah.
Demi menghormati sang kepala sekolah, Ivona mengambil duduk di seberang Yosua dan pria setengah baya itu.
"Ivona, ini adalah Tuan Jonathan, beliau adalah ayah dari Yosua, dan Tuan Jonathan, ini adalah Ivona," terang Mr. Patrick.
"Jangan terlalu banyak berbasa-basi, aku tidak punya waktu untuk itu!" ujar Jonathan dengan sikap arogannya.
Mr.Patrick dan Mr.Albert dibuang tercengang dengan sikap direktur ini. Bukan hanya kepala sekolah dan wali kelas saja, Ivona pun sama kagetnya saat pria paruh baya ini berkata dengan keras di hadapan kepala sekolah dan juga gurunya. Siapa sebenarnya pria ini?
"Ivona, kami mendapatkan laporan bahwa hari ini kau telah Yosua Jonathan, apakah demikian?" tanya Mr.Patrick.
"Untuk apa kau bertanya lagi pada gadis gila ini, buktinya sudah ada, putraku terluka karena pecahan kaca yang diakibatkan olehnya!" sela Jonathan sembari menunjuk Ivona.
Sampai di sini, Ivona paham. Ternyata yang bernama direktur Jonathan ini adalah ayah dari Yosua, pria pecundang yang beraninya cuma mengadu pada orang tua. Ivona memicingkan matanya, tersenyum sini pada Yosua. Hal itu ditangkap oleh Yosua, yang semakin membuat pria itu kesal pada Ivona. Gadis ini seolah tak punya rasa takut, bahkan di depan kepala sekolah dan ayahnya saja Ivona berani meledek dirinya.
"Lihatlah ini." Yosua menyingkap celana panjangnya, dan menunjukkan luka yang terkena pecahan kaca. "Ini adalah bukti kejahatan gadis gila ini, dia telah memukulku hingga jatuh dan menimpa pecahan kaca," imbuh Yosua. Ia harus memanfaatkan situasi ini untuk membalas gadis gila ini. Ivona harus mendapatkan pelajaran atas kekurangajarannya.
__ADS_1
Kepala sekolah dan Mr.Patrick terkejut melihat luka robek di lutut Yosua, mereka berdua kompak melirik pada Ivona. Benarkah gadis ini yang melakukannya. Mereka seolah tak percaya, sebab jika dilihat dari postur Yosua yang tinggi besar akan sulit bagi gadis seperti Ivona menumbangkannya. Namun, fakta berbicara lain, Yosua bahkan berani mendatangkan ayahnya demi keadilan untuk dirinya.
"Ivona, apakah itu benar?" tanya Mr.Albert dengan bijaksana.
"Sudah aku bilang, kalian tidak perlu lagi bertanya pada gadis gila ini. Bukankah sudah ada bukti, kaki putraku terluka karena gadis gila ini!" Kembali Jonathan menyela pembicaraan Kepala Sekolah. Ivona bahkan belum membuka mulutnya, tapi Jonathan sudah tidak sabar untuk selalu menyela dan menyudutkan Ivona.
Sampai detik ini, Ivona masih diam dan bersikap sabar. Ia biarkan Jonathan memuaskan arogansinya.
"Tenanglah, Tuan Jonathan, kita harus menilai dari dua sisi untuk mendapatkan keadilan. Kita tidak boleh gegabah dalam memutuskan sesuatu yang bisa kita sesali nantinya," ujar Mr.Albert menenangkan.
"Dua sisi apa yang kalian maksud, jelas-jelas putraku adalah korban di sini, dan keadilan itu hanya untuk putraku," jawab Jonathan masih dengan nada tingginya.
Kepala sekolah menghela napas dalam, ia berpikir untuk mencari cara menenangkan direktur Jonathan yang notabene memiliki kekuasaan. Sebab ia yakin ia tak akan melepaskan Ivona begitu saja, tapi ia juga tidak bisa sembarangan menghukum Ivona tanpa bukti dan fakta yang jelas. Bagaimanapun, ia adalah seorang kepala sekolah yang harus bisa bersikap adil dan bijaksana untuk semua warga sekolah yang ia pimpin.
"Aku tidak peduli lagi dengan gadis ini, Anda harus menghukumnya!" seru Jonathan seolah memerintah.
"Tuan, Anda tidak bisa memutuskannya begitu saja. Kita juga harus mendengar cerita dari sisi Ivona," jelas Mr.Albert.
"Tidak ada lagi yang perlu di dengar. Kenyataan sudah ada di depan mata kita, bahwa putraku telah menjadi korban kebrutalan gadis gila ini. Aku minta Anda menghukumnya!" kekeuh Jonathan.
"Tapi, Tu_____"
__ADS_1
Jonathan memotong ucapan Mr.Albert, "Aku punya dua pilihan untuk gadis gila ini. Keluarkan dia dari sekolah atau berlutut di atas pecahan kaca seperti yang dia lakukan pada putraku!"
Ivona, Mr.Patrick, dan juga Mr.Albert, tidak habis pikir dengan jalan pikiran ayah Yosua. Bagaimana bisa ia meminta kepala sekolah menghukum Ivona dengan cara demikian.