IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.29 Bar Muse


__ADS_3

Tanpa menoleh sedikit pun Ivona menjawab, "Mencari kesenangan." Kemudian berlalu begitu saja.


Sikap Ivona yang tidak menunjukkan rasa hormat terhadap orang tua membuat raut wajah Tuan Iswara berubah marah. Vaya yang menyadari hal itu terlihat senang, setidaknya ia akan memiliki tambahan pendukung. Tuan Iswara pastilah akan memihaknya dari pada Ivona, anak yang tidak memiliki sopan santun.


Sementara Nyonya Iswara tak terusik sama sekali dengan kepergian Ivona, ia justru ingin melanjutkan makannya. Namun, ia melihat Thomas yang berdiri dari bangkunya, dan pergi meninggalkan ruang makan mengikuti Ivona.


Pria bertubuh tegap dengan kulit bersih dan wajah yang tampan itu pergi tanpa menghiraukan Ayah dan Ibunya. Melihat kepergian Thomas yang tanpa pamit, membuat Nyonya Iswara merasa jika putranya itu memang telah berubah seperti apa yang dikatakan oleh Vaya.


Semua hanya bisa menatap punggung Thomas yang perlahan menghilang. Tuan Iswara pun tak lagi memiliki selera setelah melihat anak-anaknya pergi begitu saja. Sebagai bentuk kekesalannya ia meletakkan kembali pisau dan garpu di tangannya dengan keras, hingga tercipta bunyi yang dihasilkan dari benturan meja dan alat makan itu.


"Tidak tahu aturan!" geramnya sebelum meninggalkan meja makan.


______________________


Bar MUSE


Suara hingar-bingar musik memenuhi ruangan yang menyuguhkan hiburan bagi para penikmat malam. Di sebuah private room, para pria sedang menikmati minumannya dengan ditemani para wanita bayaran. Mereka merangkul mesra para wanita itu dengan tidak tahu malu.


Namun, di salah satu sudut sofa, ada seorang pria yang berbeda dari pria lainnya. Alexander duduk bersandar di sofa dengan malas seorang diri. Pria dingin dan tak tersentuh itu membuat para wanita segan untuk mendekatinya, meskipun banyak dari mereka yang tertarik pada wajah rupawan Alexander. Namun demikian, mereka tidak berani menyentuh aura dingin yang terpancar di raut wajah Alexander yang datar.


"Selamat malam Tuan Alexander, selamat datang di bar kami. Suatu kehormatan bagi kami bisa melayani Anda malam ini," ucap direktur bar yang mengetahui kedatangan Alexander.

__ADS_1


"Kami memiliki minuman terbaik untuk Anda, Tuan. Kami juga menyiapkan wanita-wanita kelas atas yang siap melayani Anda dengan senang hati," sambungnya ramah, menawarkan produk yang disediakan di bar miliknya.


"Aku tidak membutuhkan semua itu," jawab Alexander yang memainkan korek api ditangannya.


Direktur itu menjadi salah tingkah sendiri, niatnya memberi pelayanan terbaik untuk orang yang berkuasa di Victoria ini justru di tolak mentah-mentah. Ia menatap sungkan pada Alexander. "Ka-kalau begitu maafkan kami, Tuan," ucapnya sebelum undur diri.


Para tamu yang sedang berada di ruangan yang sama dengan Alexander merasakan aura dingin pria itu. Membuat mereka semua tidak berani membuat keributan.


Alexander terus duduk dengan menatap hampa korek di tangannya. Malam ini ia terpaksa berada di bar ini karena Nyonya Besar sedang berada di rumahnya sepanjang hari. Ia tak ingin mendengar desakan dari Nyonya Besar tentang menjalin hubungan dengan wanita, apalagi jika harus menemui wanita-wanita pilihan Nyonya Besar. Ia tak akan pernah mau!


Tiba-tiba pintu privat room dibuka oleh seorang pria berwajah lumayan tampan. "Hei ... ayo kita keluar, di luar sana ada wanita yang sedang menari dengan menggoda," teriaknya pada semua orang di private room.


Seisi ruangan itu menatap nyalang pada pria yang baru saja berteriak. Namun, tidak ada yang berani mengatakan apa pun, takut mengganggu Tuan Muda yang berada satu ruangan dengan mereka. Pria itu tidak mengerti kenapa semua pria di ruangan itu hanya diam, seolah tidak tertarik dengan berita yang baru ia bawa.


Pria itu langsung mengatupkan mulutnya yang baru saja berteriak. Menatap keberadaan Alexander di sana membuatnya sadar telah masuk ke ruangan yang salah. Secara perlahan, pria itu mundur dan pergi pelan-pelan.


Saat semua tamu sedang menatap kepergian pria pembuat ribut, di saat yang sama Alexander mendapatkan telepon dari dari Tommy.


Rasanya malas sekali harus mengangkat panggilan temannya ini, karena Alexander yakin Tommy menghubunginya karena ingin meminta bantuan. Meski begitu, diangkatnya juga panggilan dari Tommy. "Kali ini apa yang kau butuhkan." Tanpa sapa, Alexander melontarkan kalimat menebak tujuan Tommy menghubunginya.


"Halo, bagaimana bisa kau menebak dengan tepat," jawab Tommy.

__ADS_1


"Katakan saja atau aku tutup telponnya!" ancam Alexander.


"Kau sedang ada di mana?" tanya Tommy.


"Apa itu jadi urusanmu!" ketus Alexander.


"Aku sedang tidak ingin berdebat kawan, aku ingin meminta bantuanmu," jawabTommy frustasi menghadapi sikap Alexander.


"Aku tidak pernah mengajakmu berdebat, aku bilang katakan saja keinginanmu. Aku tidak punya banyak waktu!"


"Baiklah ... baiklah," sergah Tommy panik saat Alexander akan menutup telponnya.


"Aku ingin minta tolong padamu, saat ini adikku sedang berada di Muse Bar, aku tidak bisa mengawasinya. Tolong carikan dia untukku," ujar Tommy.


Kebetulan sekali, Alexander pun berada di bar yang sama dengan adik Tommy. Itu artinya ia tak perlu bekerja keras.


"Alex, kau masih mendengarkan aku?" tanya Tommy karena tak mendapat respon dari Alexander.


"Halo, Alex," teriak Tommy di telpon.


Alexander tak menanggapi panggilan Tommy, ia justru menutup panggilan temannya. Setelah mengakhiri panggilan telpon Tommy, Alexander langsung berjalan keluar. Ia berjalan menyusuri tempat dengan lampu temaram itu, mencoba menemukan adik temannya di antara kumpulan orang yang menari.

__ADS_1


Di meja bar, Ivona sedang memesan minumannya. Ia duduk di samping meja bar sambil menonton pertunjukkan dengan malas. Bagi Ivona tak ada yang menarik dari penampilan wanita yang menari di atas panggung, tapi bagi para lelaki pencari mangsa, wanita yang tengah menggerakkan badannya dengan pakaian yang serba minim itu adalah magnet yang menarik mata mereka hingga tak berkedip.


Tanpa sengaja pandangan Ivona dan wanita yang masih berada di atas panggung itu bertemu. Wanita itu menatap Ivona seolah menunjukkan ketertarikan pada gadis SMA itu, dan dibalas Ivona dengan menyunggingkan senyum di bibirnya.


__ADS_2