IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.67 Candu Aroma Tubuh


__ADS_3

Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Alexander selalu sukses membuat Ivona menjadi lebih tenang. Emosi yang sebelumnya sempat membara, kini mereda dengan cepat berkat aroma tubuh pria itu. Apakah Ivona sudah mulai kecanduan dengan bau khas Alexander, entahlah. Satu hal yang pasti, jika Ivona sangat menyukai wangi khas Alexander.


"Menurutmu, berapa lama kita bisa tahan berpelukan seperti ini, satu jam, dua jam, atau mungkin satu hari penuh?" ucap Alexander berkelakar.


Ivona tidak peduli dengan apa pun yang Alexander katakan, saat ini ia hanya ingin memuaskan penciumannya, menghirup dengan rakus aroma tubuh pria rupawan ini. Seolah candu, bau khas pria itu, membuat syaraf-syarafnya merasa rileks dan tenang, serta membuat Ivona tak ingin segera beralih.


"Tapi kurasa, kakiku tidak akan sekuat itu untuk berdiri seharian memelukmu. Bagaimana jika kita melanjutkannya sambil tidur, mungkin akan lebih menyenangkan tidur sambil berpelukan seharian," lanjut Alexander.


Sontak, Ivona mendorong tubuh Alexander.


"Kenapa, apa kau takut tidur bersamaku?" goda Alexander.


Ivona menunjukkan raut marahnya dengan kelakar Alexander yang menurutnya tidak lucu. Alexander justru tertawa melihat mimik wajah Ivona saat sedang merajuk.


"Leluconmu itu sungguh tidak lucu," ketus Ivona.


"Benarkah, lalu bagaimana lelucon yang lucu itu. Kalau kau bisa, ajarkan padaku."


"Ish ...," geram Ivona.


Alexander kembali tertawa melihat kekesalan Ivona. Semakin Alexander tertawa, semakin Ivona mendelik tajam.


"Sudah kubilang, 'kan, kau sangat lucu dengan mata besarmu itu, aku menyukainya," ujar Alexander, yang membuat Ivona mendadak diserang hujan salju. Tubuhnya membeku seketika dengan ucapan pria itu.


Ivona pun tak mengelak saat tiba-tiba Alexander mengelus bagian bawah dagunya dengan lembut, layaknya mengelus kucing peliharaan yang penurut. Dengan terus menatap gadis itu, tangan Alexander tak lepas dari dagu Ivona, hingga Ivona tersadar dan menghempaskan tangan Alexander.


"Singkirkan tanganmu dariku!" sentak Ivona.


Alexander terkesiap dengan sikap Ivona.


"Kau pikir aku ini kucing peliharaanmu?" ketus Ivona.

__ADS_1


Alexander tertawa. "Kalau kau mau, aku bisa menjadikanmu kucing kecilku," gurau Alexander.


"Apa kau sedang merendahkanku?"


"Mana mungkin aku berani merendahkan, Nona muda keluarga Iswara. Aku belum mau mati." Alexander membuat gerakan di depan lehernya seolah menggorok.


Ivona akan pergi saja, candaan pria ini lama-lama membuatnya kesal.


"Tetaplah seperti itu," seru Alexander, dan langkah Ivona langsung berhenti. Ia menoleh kembali pada pria yang beberapa saat lalu membuatnya tak ingin berpaling.


"Tetaplah menjadi Ivona yang kuat di depan siapa pun. Jangan pernah tunjukkan kelemahanmu pada orang lain selain aku," sambung Alexander.


Ivona yang tadinya ingin marah, jadi tersenyum karena support pria ini. Alexander kembali mendekat pada Ivona. Ia memegang kedua bahu gadis itu. "Berjanjilah kau akan melakukannya," ujar Alexander.


Ivona mengangguk, lalu Alexander kembali memeluknya. Kali ini, Ivona membalas dengan melingkarkan tangannya di pinggang Alexander. Saat mereka terhanyut dalam perasaan masing-masing, terdengar suara teriakan Kakek Iswara yang cukup keras.


"Kalian semua ingin melihatku mati, ya!"


"Tapi ...?"


"Percayalah padaku."


Ivona sebenarnya ingin sekali melihat keadaan Kakek, tapi ia juga belum siap jika harus kembali dihadapkan pada situasi seperti sebelumnya. Saat semua orang bersama-sama menyerangnya.


"Percayalah, tunggu aku di mobil. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat," ujar Alexander meyakinkan.


Melihat keseriusan Alexander, Ivona pun percaya. Akhirnya ia menurut apa kata Alexander untuk menunggu pria itu di dalam mobil dan membiarkannya menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di dalam. Alexander sempat mengusap pucuk kepala Ivona saat gadis itu berjalan melewatinya menuju mobil milik Alexander.


Di dalam mansion keluarga Iswara, tepatnya di ruang tamu, Kakek Iswara terlihat dingin dan mulai marah-marah pada Tuan dan Nyonya Iswara.


"Di mana Ivona, di mana cucuku?" teriak Kakek setelah sebelumnya bertanya dan tidak mendapatkan jawaban yang jelas dari anak dan menantunya.

__ADS_1


"Kenapa kalian tidak menyusulnya dan membawanya kembali, hah!"


"Dia putri kandung kalian, darah daging kalian, kenapa kalian tidak pernah bisa melihat hal itu!" sentak Kakek.


Tuan dan Nyonya Iswara hanya bisa terdiam, tidak ingin membantah orang tua itu.


"Selalu Vaya, Vaya, dan Vaya yang kalian pentingkan!"


"Apa kalian lebih memilih anak pungut ini dibandingkan anak kandung kalian sendiri?" tanya Kakek dengan nada tinggi.


"Ayah, berhenti menyebut Vaya anak pungut. Dia bukan anak pungut, dia putri kami. Putri yang kami rawat sejak bayi," ucap Nyonya Iswara dengan nada tak kalah tinggi. Ia tidak terima dengan sebutan yang diberikan ayah mertuanya untuk Vaya.


"Oh ... kau sudah berani meninggikan suaramu di depanku hanya demi anak ini!" Kakek menunjuk Vaya.


"Ya, aku akan melakukan apa pun untuk membela putriku, Vaya. Dia putriku Ayah, aku yang merawatnya sejak bayi, aku menyayanginya sejak ia masih dalam buaian, bukan hanya aku, kita semua pernah menyayangi Vaya, termasuk Ayah. Apa Ayah, lupa?"


"Vaya pernah menjadi putri kesayangan keluarga ini kalau Ayah ingat, dan Ivona tiba-tiba datang lalu membuat semua berubah. Tapi tidak dengan cinta dan kasih sayangku pada Vaya, itu tidak akan pernah berubah dan tidak akan pernah ada yang bisa merubahnya," sambung Nyonya Iswara.


Kakek dan Thomas tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja Nyonya Iswara katakan. Sebuta itu kah cinta Nyonya Iswara terhadap Vaya, yang memilih untuk menutup mata pada kehadiran Ivona yang memiliki darah yang sama dengan dirinya.


"Ivona memang putriku, Ayah, tapi aku tidak pernah melihatnya sejak kecil, aku tidak pernah bersamanya. Dia seperti orang lain bagiku, kalau saja aku bisa memilih takdir, aku hanya ingin Vaya yang menjadi putriku." Nyonya Iswara menitihkan air matanya. Sangat sakit mengungkapkan kejujuran dalam hatinya.


Dia mungkin terlihat kejam sebagai seorang ibu bagi Ivona, tapi ia tidak bisa memungkiri perasaan sayangnya terhadap Vaya. Waktu tujuh belas tahun bersama dan menganggap Vaya sebagai putri kandungnya tak bisa ia elakkan begitu saja, hanya karena kehadiran Ivona yang merupakan anak kandungnya. Ia pun mengalami pergolakan batin yang sangat hebat saat tahu kalau Vaya bukanlah putri yang ia lahirkan, tapi ia tidak bisa kalau harus menyisihkan Vaya tanpa sebab, karena emosi yang terbentuk di antara keduanya selama tujuh belas tahun ternyata lebih kuat dari kenyataan yang ada.


"Kau bilang, apa?" lirih Kakek yang sudah menahan emosinya.


"Aku lebih memilih Vaya," tegas Nyonya Iswara.


Perasaan Kakek Iswara bagai dihantam godam yang meremukkannya. Tidak hanya pilih kasih, tapi menantunya ini ternyata lebih memilih Vaya dibandingkan Ivona. Ia semakin khawatir akan masa depan Ivona setelah ia meninggal, jika anak dan menantunya masih belum bisa menerima kehadiran Ivona.


"Apa?" teriak Kakek Iswara dengan emosi yang memuncak. Orang tua itu hampir pingsan karena menghadapi anak dan menantunya yang keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2