IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.133 Pria Botak


__ADS_3

Valia kembali ke apartemennya setelah semalam ia mabuk dan dibawa pergi oleh orang asing. Orang yang membuatnya tercengang ketika ia bangun tidur.


"Dasar tidak waras, bisa-bisanya dia menganggapku putrinya!" desis Valia di kamar apartemennya.


Valia mengingat kejadian tadi pagi saat ia terbangun dari mabuknya.


"K-kau?" pekik Valia kaget pagi tadi.


"Ya, ini aku, Sayang," jawab seorang wanita yang kemudian semakin mendekati Valia.


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak perlu berpura-pura lagi, Sayang, Mama tahu itu kau."


Valia semakin tidak percaya dengan apa yang Nyonya ini katakan. "Anda jangan gila, Nyonya. Aku adalah Valia, Valia Leandre, bukan putrimu!" sentak Valia.


"Aku tidak peduli siapa pun namamu, tapi bagiku kau masih tetap saja putriku."


"Nyonya, Anda jangan berlebihan. Aku bukan putrimu!" Valia berangsur mundur, karena Nyonya Iswara mulai naik ke atas ranjang untuk memeluknya.


"Nyonya, lepaskan!" sentak Valia. Ia terus meronta agar terlepas dari pelukan Nyonya Iswara.


Tak hanya itu, Nyonya Iswara pun mulai menarik-narik wajah Valia sembari berteriak, "Lepaskan topengmu, Sayang. Kau tidak perlu bersembunyi dibalik topeng ini lagi."


"Nyonya, Anda jangan gila. Aku bukan putrimu, aku adalah Valia!" Valia mendorong Nyonya Iswara dengan kasar hingga wanita paruh baya itu terjengkang ke lantai.


Valia menatap iba pada Nyonya Iswara yang tiba-tiba menangis.


"Nyo-nyonya, maafkan aku. Aku tidak bermaksud kasar padamu, aku hanya melindungi diriku. Ka-karena kau sudah keterlaluan. Kau menyakitiku, Nyonya."


Nyonya Iswara menatap sendu pada Valia yang juga tengah menatapnya. "Kenapa Kau tidak mengakui saja kalau kau adalah Vaya, putriku. Aku akan menerimamu kembali, Sayang, tapi jangan buat Mama gila karena kehilanganmu."


Vali hanya bisa memperhatikan Nyonya Iswara yang terus saja menangis dan memaksanya mengaku saat itu. Tidak tahan dengan raungan Nyonya Iswara yang terus berteriak tentang putrinya, Valia segera kabur dari tempat di mana Nyonya Iswara membawanya tadi malam.


Emosi Valia memuncak di kamar apartemennya.


"Aaargghhh!" pekiknya melempar tas di tangannya hingga mengenai kaca. Valia memijat pelipisnya karena efek dari alkohol semalam masih terasa dan membuatnya pusing, ditambah lagi sikap Nyonya Iswara yang semakin membuatnya tidak nyaman. Jujur ia merasa bersalah karena sudah kasar pada wanita itu, tapi mau bagaimana lagi. Wanita itu harus tahu jika dirinya adalah Valia dan bukan Vaya.


Valia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, masih dengan memijit pelipisnya untuk mengurangi pening di kepalanya. Baru juga matanya terpejam beberapa saat, suara bel membuatnya terpaksa bangun.


"Iya," sahut Vaya dari kamar, entah orang di luar sana mendengar atau tidak. Dengan malas Valia bangkit menuju pintu. Ia melihat dulu dari lubang pengintip siapa yang datang, tapi tak bisa tahu siapa yang bertamu karena orang ini membelakangi pintu.


Valia membuka pintunya. "Maaf, ada perlu apa, ya?"


Pria yang berdiri di depan pintu itu pun berbalik dan membuat Valia terperangah. "Do-dokter?"


"Ikut, aku!"


"I-iya, dok." Tanpa bertanya dan tanpa bantahan Valia segera mengikuti keinginan tamunya itu.


____________________


Di sebuah restoran yang telah dipesan khusus, Ivona dan orang tuanya tengah menunggu seseorang yang tak Ivona ketahui. Tuan Iswara dan Nyonya Iswara tak menjelaskan apa pun pada Ivona, orang tuanya itu hanya mengajaknya untuk makan malam dan bertemu dengan seseorang.


Ivona sudah bertanya sebelumnya tapi kedua orang tuanya justru membuatnya menebak-nebak.

__ADS_1


"Bersiaplah untuk malam ini, Iv," ujar Tuan Iswara sore tadi.


"Bersiap ke mana?"


"Kami akan mengajakmu makan malam, kami akan memperkenalkanmu pada seseorang."


"Seseorang?" Ivona mengernyit. "Siapa?"


"Nanti kau juga akan tahu, kau harus persiapkan dirimu dengan baik."


"Maksudnya ____" Ivona belum selesai bertanya tapi Tuan Iswara sudah pergi lebih dulu.


Meski begitu, Ivona tetap menghargai ajakan Tuan dan Nyonya Iswara. Hingga ia bisa berada saat ini di sebuah privat room restoran mewah.


"Sebenarnya siapa yang kita tunggu?" Ivona menatap Tuan dan Nyonya Iswara bergantian.


"Kau tidak usah banyak tanya, nanti kau juga akan tahu," jawab Nyonya Iswara sinis.


Ivona mencebik. Dari pada banyak bertanya ia pun akhirnya memilih diam. Ia mengeluarkan ponsel dan memasang earphone di telinganya. Hingga orang yang sejak tadi ditunggu sudah datang Ivona sampai tidak memperhatikan.


"Selamat malam, Tuan Walker." Tuan dan Nyonya Iswara berdiri menyambut kedatangan orang yang mengundang mereka.


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Iswara." Tuan Greyson menatap sepasang suami istri itu, lalu beralih pada Ivona. "Selamat malam, Nona Ivona."


Ivona sendiri tak membalas karena ia tidak sadar dengan kedatangan Tuan Gelreyson. Gadis itu masih saja asik dengan ponselnya dan juga lagu yang ia dengarkan melalui earphone-nya.


"Iv ... Ivona," panggil Tuan Iswara. Tidak ada tanggapan dari Ivona karena gadis itu masih asik sendiri. Tuan Iswara sedikit menggeser tubuhnya dan menyenggol lengan Ivona yang tengah memegang ponsel. "Ivona," lirihnya memanggil sang putri.


"Ya." Ivona mendongak melihat Tuan Iswara.


Tuan Iswara melirik ke arah Tuan Greyson, melalui matanya Tuan Iswara ingin memberitahu Ivona akan kedatangan Tuan Greyson. Ivona mengikuti arah mata Tuan Iswara dan menemukan orang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Namun, Ivona tidak asing dengan pria botak yang berdiri di samping pria itu.


Ivona masih saja terduduk menatap Tuan Greyson.


"Iv ...." Tuan Iswara memberikan kode agar Ivona berdiri menyambut Tuan greyson.


"Ha-halo," jawab Ivona.


Tuan Greyson mengulurkan tangannya, meski ragu, Ivona menyambut tangan pria itu juga. Ivona tersentak saat sang ahli komputasi mencium punggung tangan Ivona. Sontak Ivona menarik tangannya, dan itu membuat kesan tidak sopan menurut Tuan dan Nyonya Iswara.


"Maafkan dia, Tuan. Ivona masih terlalu muda, dan belum tahu bagaimana cara bersikap dengan orang terhormat seperti Anda."


Tuan Greyson tertawa. "Tidak apa."


Mereka pun akhirnya duduk setelah Tuan Greyson mempersilakan.


Ivona menatap aneh pada Tuan Greyson, juga pria botak yang terus saja berdiri lengket di dekat pria tua itu.


"Iv, perkenalkan, dia adalah Tuan Walker. Beliau adalah ahli komputasi di negara kita," ujar Tuan Iswara.


Tuan Greyson tersenyum pada Ivona, tapi tidak dengan Ivona. Ivona justru menatap sinis pada pria tua di depannya.


"Oh, jadi ini yang namanya Greyson Walker," batin Ivona. "Kalau begitu, apakah pria botak ini adalah pengawal dari Greyson?" batin Ivona menerka-nerka.


Ivona terus saja memperhatikan pria botak yang bediri di belakang Tuan Greyson.

__ADS_1


"Iv, Tuan Greyson ingin mengangkatmu menjadi muridnya. Beliau berjanji akan menjadikanmu ahli komputasi seperti dirinya, untuk itulah kami mempertemukanmu dengan beliau," ujar Tuan Iswara lagi.


"Aku ingin kau menyetujui hal ini, Iv, karena ini akan sangat baik untuk masa depanmu. Aku sudah setuju jika kau akan menjadi murid dari Tuan Walker. Bagaimana menurutmu, Iv?"


Ivona tidak memperhatikan sama sekali apa yang dikatakan oleh Tuan Iswara. Ia masih saja terpaku pada pria botak di depannya. Kalau pria botak ini adalah pengawal dari Greyson Walker, lalau ada hubungan apa Valia dengan pria botak ini. Ataukah, ada hubungannya juga Valia dengan si ahli komputasi ini. Semua tanya itu kini memenuhi otak Ivona. Ia mereka-reka tentang adanya suatu kaitan antara Valia dengan pria tua ini.


"Iv ... Ivona," panggil Tuan Iswara lagi.


"Ivona!" Kali ini dengan sedikit berseru.


"Ya ... kenapa?"


"Apa kau mendengarkan aku?"


Dengan polosnya Ivona menggeleng dan hal itu membuat Tuan Iswara mendengkus kesal.


"Baiklah, aku sudah putuskan jika mulai hari ini kau akan menjadi murid Tuan Walker."


"Apa?" pekik Ivona.


"Kau boleh membawanya, Tuan." Tuan Iswara langsung memalingkan wajahnya.


"Apa maksudmu, Ayah?" teriak Ivona.


Tuan Iswara bungkam begitu pun dengan sang istri.


"Bawa dia," titah Tuan Greyson pada pria botak bertubuh kekar.


Dengan sigap pria botak langsung maju untuk membawa Ivona. Ivona menolak, karena itu ia melawan. Pertarungan pun tak terelakkan karena si pria botak juga tak mau berbelas kasih. Pria besar itu membalas setiap serangan Ivona.


Tuan dan Nyonya Iswara sangat kaget melihat kemampuan bela diri Ivona. Dalam hati mereka bertanya tentang dari mana Ivona mempelajari semuanya.


Nyonya Iswara berteriak keras saat Ivona melempar sebuah botol wine pada pria botak namun dengan gesit si pria botak menghindar, hingga botol itu terlempar ke dinding tepat di samping Nyonya Iswara berdiri. Ibu dari Ivona itu bergetar kakinya melihat pertarungan putrinya dengan pengawal berwajah bengis itu.


Mendengar keributan di dalam, anak buah dari Tuan Greyson yang menunggu di luar langsung masuk dan membantu si pria botak. Kini Ivona harus menghadapi pertarungan empat lawan satu di sebuah ruangan yang sempit.


Meski harus melawan empat pria, tidak sedikit pun Ivona menampakkan wajah takutnya. "Kalian semua berengsek, aku akan membalas kalian satu per satu!" teriak Ivona, kemudian kembali melancarkan serangan.


Saat Ivona menghadapi empat orang di depannya, satu orang lagi muncul dari arah belakang Ivona dan dengan sigap menyuntikkan sesuatu ke leher Ivona.


Ivona yang kaget sontak menoleh dan langsung memukul pria itu. Seketika pria itu jatuh, tapi belum sempat menghunus suntikan di leher Ivona.


Merasakan sesuatu masih menempel di lehernya, Ivona segera mencabut benda itu. Ia melihat suntikan yang isinya sudah kosong. "Sialan!" umpatnya saat tahu pria tadi sudah berhasil menyuntikkan sesuatu ke tubuh Ivona.


Ivona tak peduli, Ia masih berusaha melawan.


"Aku harus kabur," pikir Ivona.


Saat gadis itu akan keluar pintu, si pria botak langsung memukul tengkuk Ivona dan seketika membuat Ivona tak sadarkan diri. Pukulannya memang tidak terlalu keras, tapi karena efek biusnya sudah bekerja yang menyebabkan Ivona akhirnya tumbang.


Pria botak dibantu temannya segera membawa Ivona pergi dari privat room itu. Sementara Tuan dan Nyonya Iswara masih syok sekaligus ketakutan dengan apa yang baru saja ia saksikan. Putrinya dibawa pergi oleh anak buah Greyson dengan cara yang tidak manusiawi.


"Kalian jangan khawatir, aku akan segera mentransfer uang ke rekening kalian," ujar Tuan Greyson sebelum meninggalkan ruangan itu.


Tuan dan Nyonya Iswara tidak bisa berbuat apa pun selain mengangguk menanggapi. Tuan Greyson melenggang begitu saja di depan mata kedua orang tua Ivona itu.

__ADS_1


Tak lama berselang, seseorang datang ke privat room yang sudah seperti kapal pecah itu. Semua berantakan.


"Di mana Ivona?" sentaknya pada Tuan dan Nyonya Iswara yang masih terduduk di lantai saling berpelukan karena takut.


__ADS_2