
Jeany dengan paksa dan kasar menyeret Ivona yang akan pergi ke toilet. Gadis itu membawa Ivona ke rooftop utama gedung G-school. Dalam benaknya berkelebat bayangan tentang kekerasan yang ia alami tadi malam dari ibunya sendiri.
"Ampun ... Bu, jangan pukul lagi, aku akan berusaha lagi. Aku janji, aku tidak akan lagi mengecewakan Ibu. Aku akan jadi anak yang patuh, Bu," mohon Jeany malam tadi saat sang Ibu terus saja memukulinya.
Rasa perih dan sakit masih terasa di tubuh Jeany. Memar kebiruan itu juga masih tercetak jelas di tubuhnya, saat tadi pagi ia melihatnya dalam cermin. Sebisa mungkin Jeany menahan air mata yang akan menetes mengingat betapa sang ibu selalu kejam memperlakukan dirinya. Sejak ia masih kecil, ia selalu dituntut untuk jadi anak yang pintar. Ia harus selalu jadi juara kelas, jika tidak, ibunya akan siap memukulinya karena dianggap anak bandel dan bodoh.
Sampai saat ini, Jeany tidak mengetahui apa yang menyebabkan ibunya terobsesi untuk memiliki anak dengan kepintaran di atas rata-rata. Wanita yang melahirkan Jeany itu hanya selalu menuntut Jeany untuk belajar, belajar, dan belajar. Tidak ada kata bermain dalam kamus hidup Jeany, hal yang membuat Jeany menjadi anak yang lebih suka mengisolasi diri. Tuntutan nilai tinggi menjadi beban tersendiri bagi Jeany, hingga anak itu mengabdikan lebih dari tiga belas tahun hidupnya hanya untuk belajar.
Ivona terus mengikuti langkah Jeany, ia biarkan saja Jeany memperlakukannya demikian. Bukan karena Ivona lemah tapi karena Ivona ingin tahu apa yang diinginkan Jeany. Sampai di rooftop, Jeany melempar Ivona meski tak berhasil membuat Ivona terjatuh. Ivona masih diam, ia menunggu apa yang akan Jeany lakukan selanjutnya.
"Kenapa kau lama sekali, Sayang. Kau membuatku kepanasan di sini," ujar seorang pria yang sudah menunggu Jeany dan Ivona di atas gedung. Pria itu berjalan mendekati Jeany, merangkul gadis itu, kemudian mencium pipi Jeany di depan Ivona.
Ivona memalingkan muka, ia malas jika harus melihat roman picisan ala anak SMA.
"Kurasa ada yang tidak menyukai kebersamaan kita, Sayang," ujar Kevin saat melihat Ivona yang membuang muka.
Ivona tersenyum miring. "Apa kau membawaku ke mari hanya ingin pamer kelakuan tidak bermoral kalian?"
Jeany dan Kevin tertawa. "Tidak bermoral?" Kevin semakin tertawa. Pria itu melepaskan tangan yang sedari tadi bergelayut merangkul Jeany. Ia akan berjalan mendekati Ivona, tapi dicegah oleh Jeany.
Jeany berdiri di depan Kevin. "Kau tahu kenapa aku membawamu ke sini?" Jeany menatap marah pada Ivona. "Karena aku sudah muak denganmu! Aku ingin kau menghilang dari jalanku!" ujar Jeany.
Ivona semakin malas mendengar ucapan bertele-tele Jeany. Tanpa peduli pada sepasang kekasih itu Ivona mulai beranjak pergi. Saat hampir melewati Jeany, gadis itu kembali menarik Ivona dan medorong tubuh Ivona sampai ke dinding pagar rooftop. Punggung Ivona membentur dinding pagar. Dari tempatnya berdiri sekarang Ivona bisa melihat betapa tingginya posisinya saat ini ketika pandangannya turun ke bawah.
"Aku tidak ingin kau ada lagi di G-school," lirih Jeany. Gadis itu berniat mendorong Ivona, tapi kalah cepat.
__ADS_1
Ivona berhasil membalik keadaan, tangan Jeany yang sebelumnya mencengkeram lengan Ivona berhasil Ivona raih dan Ivona tekuk ke belakang tubuh gadis itu.
"Awww!" pekik Jeany saat Ivona semakin menekan tangannya ke belakang.
Kevin yang akan maju untuk menolong Jeany, tidak berani beranjak selangkah pun saat Ivona mengancam, "Kalau kau ingin aku melempar kekasihmu ini, majulah!"
"Kevin, tolong aku!"
Meski ingin menolong tapi ia takut juga jika Ivona benar-benar melempar Jeany, akhirnya Kevin hanya bisa pasrah melihat Ivona menawan kekasihnya.
Ivona menertawakan sikap Jeany. "Aku tidak mengerti dengan kebodohan dalam otakmu! Apa yang kau inginkan dariku, hah!" sentak Ivona.
"Aku benci padamu, aku benci melihatmu, aku benci ada kau di sekolah ini!" teriak Jeany.
Jeany tak menjawab, tapi dari sorot matanya sudah terjawab jelas jika itu alasan Jeany berbuat nekat seperti saat ini.
Ivona tertawa meledek. "Harusnya kau introspeksi dirimu sendiri, kenapa kau bisa tergantikan. Aku tidak akan mungkin menggeser posisimu, jika kau memang masih layak berada di sana!" jelas Ivona.
"Dan kau lihat kenyataannya, bukan? kau tidak lagi pantas ada di posisi itu. Apa kau tidak ingat jika nilaimu turun, prestasimu dalam bidang fisika juga merosot drastis!" Ivona mengingatkan Jeany tentang nilai-nilai gadis itu belakangan ini. Sebelumnya Ivona sudah mencari tahu tentang Jeany, sejak tindakan Jeany yang berniat meracuni dirinya di kompetisi kemarin.
"Itu artinya kau tidak layak lagi di posisi sebagai wakil dari G-school. Harusnya kau sadar diri tentang itu."
Jeany tak berani menjawab.
"Aku sarankan, tinggalkan pria berengsek ini dan kembalilah menjadi Jeany yang dulu!"
__ADS_1
"Tahu apa kau, sialan!" sentak Jeany.
"Kau terlalu banyak bicara!" Tiba-tiba Kevin maju dan langsung mengarahkan tinjunya pada Ivona. Dengan sigap, Ivona memutar tubuh Jeany dan menjadikannya tameng. Satu pukulan telak menghantam wajah Jeany. Ivona langsung melepaskan tubuh gadis itu, yang seketika terjatuh.
"Sayang, kau tidak apa-apa, 'kan?" Kevin panik melihat darah keluar dari bibir kekasihnya. "Ma-maafkan aku. Sayang, aku tidak tahu kalau gadis gila itu akan menjadikanmu tameng."
Jeany tidak bersuara, bibirnya terlalu sakit untuk membuka.
"Kau lihat bukan, pria ini tidak pantas bersamamu. Sebaiknya kau tinggalkan dia dan kembalilah menjadi Jeany yang berprestasi," ujar Ivona.
"Diam kau, sialan!" bentak Kevin.
"Tidak, Sayang, jangan dengarkan dia. Kau bahagia bersamaku bukan?" Kevin meraih tubuh Jeany, mengguncangnya agar gadis itu menjawab. "Bersamaku kau tidak perlu pusing soal belajar, bersamaku kita bisa bersenang-senang. Kau sendiri yang bilang jika aku telah merubah hidupmu. Aku telah membuat hidupmu berwarna, aku juga yang mendukungmu untuk tidak terobsesi menjadi juara kelas. Kita hanya perlu bahagia dan bersenang-senang, kau ingat itu 'kan, Sayang?" Kevin terus bicara agar Jeany tak meninggalkannya seperti saran Ivona.
"Kalau kau masih saja percaya pada pria bodoh ini, kurasa kau memang pantas disebut bodoh dan tidak pantas mengikuti kompetisi apa pun sebagai wakil G-school. Pikirkan apa yang aku katakan, kalau kau masih menginginkan masa depanmu, tinggalkan kekasih toxicmu ini!" Ivona melangkah pergi, meninggalkan Jeany dengan sang kekasih.
Ivona berjalan turun dari rooftop sendirian, di tengah perjalanan ia bertemu dengan William.
"Apa yang kau lakukan di atas sana, Iv?" William menatap curiga pada Ivona.
"Bukan urusanmu!" Hanya itu yang keluar dari mulut Ivona.
William mencekal tangan Ivona untuk menghentikan Ivona. "Iv, bisakah kita bicara berdua sebentar?"
Kini Ivona yang menaruh curiga pada William. Memangnya pria ini mau membicarakan apa dengannya.
__ADS_1