IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab. 158 Kau Membuatku Gila


__ADS_3

Dari dalam kamarnya, Evan mengintip apa yang dilakukan Aldrich pada Ivona. Ia merasa bersalah pada Ivona sekaligus pada Daddy-nya.


Bersalah pada Daddy-nya karena tadi ia melepaskan Ivona tanpa seijin dari Aldrich dan merasa bersalah pada Ivona karena tadi ia yang mengatakan pada Aldrich jika ia yang melepaskan ikatan Ivona.


Tadi, ketika Evan kembali dari dapur untuk meminta pelayan menyiapkan makan malam untuk Ivona, ia berpapasan dengan Daddy-nya itu.


"Mau ke mana?" tanya Aldrich tadi.


"Ke kamar Daddy," jawab Evan takut.


"Untuk apa?"Aldrich terus menatap Evan dengan tatapan dingin yang berarti intimidasi pada anak itu.


"Ma-maafkan aku." Evan menunduk.


"Kenapa?"


"Aku ...." Evan terlihat sangat takut untuk berbicara, ia bahkan terus menunduk dan tak berani menatap mata sang ayah.


"Kau ...." sambung Aldrich.


"Maafkan aku Daddy, aku sudah melepaskan ikatan Mommy," ujar Evan dengan bibir bergetar.


Aldrich tersenyum miring jika saja Evan bisa melihatnya. "Kenapa kau lakukan itu?" tanyanya pura-pura.


"Aku kasihan melihat Mommy yang terikat, Mommy bilang ia kesakitan dengan tali di tangannya," ujar bocah kecil itu jujur.


"Lalu kau dari mana?"


"Mommy ingin makan jadi aku meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam untuk Mommy." Evan terus menunduk takut.


"Ada apa ini Al?" tanya Helena yang baru saja keluar dari kamarnya dan mendapati cucu seolah sedang di sidang.


"Bawa anak ini ke kamarnya, Bu. Jangan biarkan ia keluar sampai aku mengurus gadis itu."


Melihat keseriusan Aldrich, Helena tak ingin berdebat. Ia langsung membawa Evan untuk kembali ke kamarnya. "Come on, Boy!"


Helena menepuk pundak Evan, dan menyadarkan anak itu dari kejadian tadi sebelum Aldrich membawa paksa Ivona kembali ke kamarnya.


"Kau tidak perlu khawatir, Sayang. Daddy-mu tidak akan menyakiti Mommy. Percaya dengan Grandma." Helena menyakinkan Evan.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Believe me!"


Evan akhirnya mengangguk.


"Ayo, masuk. Kau harus belajar bukan?"


Evan menutup pintunya kembali.


Sementara itu Aldrich terus menggendong Ivona paksa walaupun gadis itu tak henti-hentinya meronta. "Lepaskan aku, Berengsek!"


"Sebenarnya apa yang kau mau dariku, dasar pria gila!" Ivona terus memukul punggung Aldrich sembari terus mengumpat pria itu.


Hal tersebut tak mengusik Aldrich sama sekali apa lagi berniat menurunkan Ivona sesuai permintaan gadis itu. Tidak akan!


Sampai di kamarnya sendiri, Aldrich membuka pintu kamarnya dengan mendorong menggunakan kakinya. Ia melempar Ivona dengan kasar ke atas ranjang. Belum sempat Ivona bangkit untuk kembali kabur, Aldrich sudah lebih dulu naik dan menduduki kaki Ivona hingga gadis itu tak bisa bergerak lagi.


Aldrich menangkap kedua tangan Ivona yang berusaha menyerangnya dan membawanya ke atas kepalanya. Menjadikan Ivona tak berdaya seketika.


"Kau jangan macam-macam!" seru Ivona yang sudah tak mampu lagi bergerak.


"Aku akan membunuhmu kalau kau berani melecehkan aku!"


"Diamlah!" sentak Aldrich, seketika itu juga Ivona membungkam mulutnya dengan rapat.


Aldrich menatap mata Ivona tajam. Ia berusaha mengatur napasnya untuk lebih tenang.


"Dengarkan aku baik-baik, karena aku tak akan lagi mengulanginya!" ucap Aldrich melembut.


"Keputusanku tidak bisa kau ubah, aku akan tetap menikahimu, jadi jangan coba melawanku. Kau tidak perlu membuang tenagamu untuk kabur karena hal itu akan sia-sia!"


"Aku bisa melakukan hal yang lebih gila dari ini kalau kau tetap saja membangkang!"


Ivona menatap marah pada Aldrich, tapi ia tak bisa berbuat apa pun. Ia sama lelahnya dengan pria itu, napasnya juga tersengal karena kehabisan tenaga.


"Kau pahami apa yang aku katakan!" Aldrich turun dari tubuh Ivona dan kembali meninggalkan Ivona sendiri di kamarnya yang terkunci.


Tak lama setelah Aldrich pergi seorang pelayan diantar oleh seorang bodyguard bersenjata mengantarkan makanan untuk Ivona.


"Nona, ini makan malam Anda," ujar pelayan wanita yang masih terlihat muda itu.


Ivona hanya melirik sekilas saat pelayan itu meletakkan nampan makanannya di atas meja dan membawa kembali makanan sebelumnya yang belum sempat ia sentuh. Ivona juga memperhatikan pria bersenjata yang mengawal pelayan itu.

__ADS_1


Sial!


Pria gila itu benar-benar memperlakukan aku sebagai tawanan!


Setelah pelayan dan bodyguard itu pergi, Ivona bangkit dan berjalan ke arah pintu menuju balkon. Terkunci. Ia melihat ke arah jendela. Sama saja. Tak ada akses untuknya kabur. Ia tak berhenti berusaha, mencoba mencari celah yang ada di kamar itu, tapi tak sedikit pun ia temukan jalan kabur.


Mungkin Ivona harus menyerah sekarang. Ia yang merasa lelah menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang berukuran king size itu. Ia berteriak menatap langit-langit kamar. Sayang sekali tak ada yang bisa mendengar teriakannya.


Ivona mencoba menenangkan dirinya, menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia coba untuk memejamkan mata hingga aroma makanan dalam nampan menggoda perutnya yang lapar. Ivona terbangun, ia menatap makanan itu, tapi enggan untuk mengambil. Ia memilih untuk kembali tidur dan menahan lapar. Ia tidak mau makan sampai pria itu melepaskannya. Itu tekadnya.


Malam semakin larut, langit pun semakin menggelap. Detik jam terus berputar membawa jarumnya ke angka 2 dini hari. Semua penghuni mansion mewah itu sudah terlelap termasuk Ivona.


Hanya Aldrich yang terjaga karena mimpi yang sama kembali menyiksanya. Mimpi tentang gadis bergaun pengantin bernama Ivona dan diselamatkan oleh pria berwajah serupa dengannya. Aldrich yang tidur di sofa ruang kerjanya terduduk. Ia menyugar rambutnya yang berantakan, dan mengusap keringat di dahinya.


Ia keluar menuju kamarnya di lantai atas. Di sana ada gadis yang sama seperti dalam mimpinya. Ia melihat Ivona sedang tertidur lelap. Ia terus menatap wajah itu.


"Sama persis," desisnya.


Entah apa yang membuat hatinya terdorong untuk duduk dan menyentuh wajah Ivona. Tangan Aldrich bergerak lembut mengusap wajah gadis yang tertidur di atas ranjangnya sembari terus menatapnya tanpa kedip.


"Apa yang kau lakukan?" Tangan Aldrich berhenti mengusap saat sang pemilik wajah menyadari apa yang ia lakukan dan menahan tangannya.


Ivona akan memukul Aldrich tapi urung saat pria itu berkata, "Aku tidak akan macam-macam denganmu. Ayo kita bicara baik-baik."


Ivona melihat mata sayu Aldrich, terlihat pria itu sedang malas beradu fisik. Akhirnya Ivona putuskan untuk berbicara. Rasanya memang ia belum pernah berbicara dengan tuntas dengan pria ini. Ia pun melepaskan tangan pria itu sebagai tanda persetujuan.


"Tidak usah bangun, tetaplah seperti ini," ujar Aldrich menahan Ivona yang ingin bangun.


Ivona tak mengerti maksud Aldrich, tapi pria itu langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di samping Ivona. Tentu saja Ivona langsung siaga.


"Kau tidak perlu takut, seperti yang aku bilang aku tidak akan macam-macam dengan mu. Aku ingin bicara padamu."


Aldrich memiringkan tubuhnya agar lebih leluasa berbicara, sedangkan Ivona langsung menggeser tubuhnya untuk menjaga jarak. Hal itu membuat Aldrich menahan senyum.


"Katakan kenapa kau tidak ingin menikah dengan ku? Apa karena kau memiliki kekasih?" ujar Aldrich setelah beberapa saat hanya terdiam.


Ivona yang tadinya tak ingin menatap Aldrich kini mau tak mau harus menoleh pada pria itu. "Kau sendiri kenapa ingin menikahiku? kita baru saja bertemu bahkan baru dua kali bertemu dan tiba-tiba kau mengajakku menikah, bukankan itu gila?"


"Kau benar, aku memang gila. Kau membuat aku gila."


"Apa?" Ivona menatap kaget.

__ADS_1


__ADS_2