
Mobil terus melaju hingga Ivona memberi arahan untuk berhenti. "Gerbang warna hitam," ujar Ivona agar Tuan Iswara menghentikan mobilnya.
"Terima kasih," ucap Ivona datar ketika turun dari mobil Tuan Iswara.
Tuan Iswara hanya diam, tidak menjawab satu kata pun atas ucapan Ivona. Kendati demikian, Ivona tetap bersikap sopan. Ivona menunggu mobil orang tuanya itu menghilang dari pandangan, barulah ia memasuki vila Alexander.
Ivona mengambil langkah dengan berlari, ia tidak sabar untuk mengambil laptop miliknya. Saat ini vila begitu sepi, entah kemana semua orang penghuni vila ini.
Alexander yang saat itu menolong Kakek Iswara dan mengantarkan ke Royal Hospital juga langsung pamit. Ia tidak menunggu lama di sana karena merasa itu bukan lagi urusannya melainkan urusan pribadi keluarga Iswara.
Ivona segera masuk ke kamar milik Alexander, karena di sana lah terakhir kali ia menyimpan laptop miliknya. Setelah mengambil benda yang ia inginkan, ivona membawanya ke sofa. Ia segera membuka laptopnya, melihat hasil kerja Marcus yang tadi dilaporkan.
Ivona tersenyum puas melihat apa yang ia inginkan telah dikerjakan dengan baik oleh Marcus, pria itu memang selalu bisa diandalkan. Kerja yang rapi dan memuaskan.
Sebentar lagi ia akan melihat hasil dari rencananya. "See Vaya, now it's your turn!"
Ivona masih sibuk dengan laptopnya, sampai-sampai ia tidak menyadari jika Alexander yang baru keluar dari kamar mandi sudah berdiri di dekatnya sekarang.
"Kapan kau datang?"
Ivona mendongak dan mendapati Alexander yang setengah telanjang tengah menatapnya. Sedikit kaget melihat tubuh kekar itu tak berbalut apa pun di bagian atas, tapi Ivona tetap berusaha tenang. Ia tidak boleh menunjukkan sikap yang berlebihan karena itu pasti akan membuatnya terkesan aneh, pasalnya ini sudah kesekian kali Ivona melihat pemandangan seperti ini. Sebab itu ia memilih untuk bersikap biasa saja, meski kenyataannya ia merasa malu sendiri setiap kali melihat penampakan Alexander yang shirtless.
"Se-sejak kapan kau berdiri di situ?" Ivona bahkan belum menjawab pertanyaan Alexander tapi ia justru balik melempar tanya. Semua pasti karena perut kotak-kotak Alexander yang membuat Ivona gagal fokus.
Alexander memutar bola matanya malas. "Kau belum menjawab pertanyaanku."
"A-apa?" tanya Ivona seperti orang bodoh.
Alexander mendesah kasar. "Aku tadi bertanya kapan kau datang?"
"Oh ... itu, ya." Ivona tersenyum malu, kemudian nampak berpikir sejenak. "Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu."
__ADS_1
Alexander mengangguk paham. "Bagaimana kabar kakekmu?" tanya Alexander sembari berjalan menuju walk in closet.
Mata Ivona tak lepas dari pria itu, mengikuti sampai pria itu menghilang di ruangan yang menyimpan berbagai macam koleksi pakaian Alexander. "Baru hari ini operasi, kami semua masih menunggu kabar baik. Semoga proses pemulihannya bisa lebih cepat dari perkiraan dokter," jawab Ivona sedikit berseru.
Untuk sesaat, suasana menjadi hening. Mungkin Alexander sedang sibuk di dalam sana memilih baju. Sementara Ivona menata buku dan juga barang-barang yang ingin ia bawa ke rumah keluarga Iswara.
Sementara waktu ini, Ivona memutuskan untuk tinggal di rumah keluarga Iswara karena ia ingin merawat kakeknya setelah pulang dari rumah sakit nanti. Namun, tidak menutup kemungkinan jika sesekali ia akan bertandang ke vila Alexander ini.
"Kau mau ke mana?" tanya Alexander yang melihat Ivona memasukkan Laptop ke dalam tasnya.
Ivona mengarahkan pandangannya pada Alexander yang baru saja keluar dari walk in closet. Pria ini selalu tampil memesona dalam balutan pakaian apa pun. Bahkan saat setengah telanjang, Alexander tetap bisa membuat mata kaum hawa termanjakan.
"Aku akan tinggal di rumah keluargaku." Ivona menarik resleting tasnya, lalu berdiri.
"Kau tidak berencana menetap di sana, bukan?"
"Memangnya kenapa?" Ivona sedikit bingung dengan pertanyaan Alexander.
"Apa maksudmu?" Ivona mengernyit.
"Aku tidak rela jika keluargamu memperlakukanmu tidak adil, aku hanya tidak ingin melihatmu menangis lagi."
Ivona tertawa, mendengar jawaban Alexander yang entah serius atau tidak. "Apa sekarang kau yang mulai jatuh cinta padaku?" seloroh Ivona.
Alexander terdiam. Ia justru menatap mata Ivona dengan lekat. Kalau sudah begini pasti Ivona yang menyerah duluan. Gadis itu selalu tidak akan bisa menang jika harus beradu pandang dengan Alexander.
Demi menjaga kesehatan jantung dan jiwanya, Ivona dengan cepat memutar tubuhnya. Semua ia lakukan untuk memutus benang tak kasat mata yang telah dikaitkan oleh Alexander kepadanya.
"Aku harus segera pergi," elak Ivona. Ia baru saja akan melangkah, saat Alexander menariknya dalam dekapan pria itu.
"Kau tidak ingin mendengar jawabanku?" bisik Alexander dengan lembut.
__ADS_1
"Mendengar apa, jawaban apa?" Ivona berpura-pura bodoh. Sungguh ia tidak ingin lagi membahas kalimat konyol yang tadi terlontar dari bibirnya.
"Jawaban apakah aku telah jatuh cinta padamu."
Ivona gugup harus bersikap bagaimana. Candaannya justru menjadi boomerang untuknya. Ivona kembali tertawa, semua ia lakukan untuk menutupi rasa malu dan gugupnya. "Kenapa kau jadi seserius itu, apa kau tidak pernah bercanda?"
"Aku tidak suka bercanda jika itu soal hati."
Astaga ... apa-apaan ini. Kenapa harus di saat seperti ini pembicaraan soal hati ini dimulai. Jangan sekarang, Ivona masih punya banyak urusan untuk membalas Vaya. Ia masih harus memberi pelajaran untuk Vaya agar gadis itu sadar dengan posisinya.
"Hei!" Alexander meniup mata Ivona yang menutup tiba-tiba saat ia teringat akan banyaknya masalah yang menimpa dirinya.
"Kau masih ingin dengar, atau kau sudah tahu jawabannya?"
Ivona meringis. "Lain kali saja kita bicarakan lagi soal lelucon ini. Aku harus segera pulang." Ivona berusaha lepas dari Alexander, tapi pria itu masih belum ingin melepaskannya.
"Aku tidak punya waktu lain kali untuk membicarakannya. Aku ingin kau mendengarnya sekarang."
"Lain kali saja, aku harus segera pergi," tolak Ivona.
"Tidak bisa." Alexander masih menahan Ivona dalam pelukannya.
"Ish ...." Ivona mendelik tajam. "Ya sudah, katakan sekarang!" sentak Ivona kasar. Bersikap galak adalah jalan Ivona untuk menutupi segala rasa yang bergelut dalam hatinya.
Alexander tidak langsung menjawab, pria itu justru tertawa lebar saat melihat Ivona marah. Ini lah bagian yang paling Alexander suka, melihat Ivona merajuk. menggoda adik dari temannya ini adalah suatu hiburan tersendiri baginya. Apa lagi setelah tiga hari ia tidak melihat Ivona.
Alexander terus tertawa, sedangkan Ivona memasang wajah bersungut-sungut.
"Apa yang kalian lakukan?" Suara seseorang dari ambang pintu membuat Ivona dan Alexander menoleh bersamaan.
"Apa kalian tinggal sekamar?"
__ADS_1
Pertanyaan kedua langsung membuat Ivona dan Alexander saling tatap, kemudian saling mendorong saat menyadari posisi mereka yang begitu dekat. Mereka kembali menatap wanita yang masih berdiri sangar di ambang pintu kamar Alexander.