IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.157 Menurutlah


__ADS_3

"Hai, Mom," sapa Evan yang baru saja masuk ke kamar di mana Ivona dikurung. Bocah itu langsung naik ke atas ranjang dan mengecup pipi Ivona.


Hari sudah menjelang malam, kala Evan menghampiri Ivona di kamar. Bocah itu menatap sedih pada Ivona yang terikat tangan dan kakinya.


"Kenapa Mommy diikat seperti ini, apa Daddy yang melakukannya? Mommy juga belum makan?" Evan melihat ke atas nakas di samping tempat tidur. Nampan berisi makanan yang belum Ivona sentuh.


Ivona sudah melewatkan dua kali jam makan. Sarapan dan makan siang. Ia tidak ingin makan dengan tangan dan kaki terikat. Padahal ada pelayan yang siap menyuapinya jika ia mau tapi Ivona memilih untuk menolak.


Ivona melihat ketulusan di mata bocah laki-laki itu. Ia pun menatap Evan penuh harap. "Evan, kau mau membantuku?"


Evan yang masih kecil terlihat bingung.


"Tolong lepaskan ikatanku."


Evan melirik tali yang mengikat tangan Ivona. Ia ragu apakah harus menuruti permintaan Ivona atau tidak.


Melihat keraguan di mata Evan, Ivona berusaha meyakinkan. "Kau menyayangiku, bukan?"


Tentu Evan mengangguk.


"Kalau begitu, ayo bantu aku keluar dari sini." Ivona berusaha membujuk anak itu.


"Tapi, Daddy ...."


"Tidak akan ada masalah dengan Daddy-mu. Bantu aku dan aku akan sangat berterima kasih padamu. Tali ini menyakitiku, Evan." Ivona berpura-pura sedih, dan memperlihatkan jika ia kesakitan dengan tali yang mengikatnya.


Anak polos itu—Evan, langsung turun dari ranjang dan berusaha mencari sesuatu. Ia menemukan gunting di walk in closet milik Aldrich. Melihat Evan datang membawa gunting, wajah Ivona berseri. Ada harapan untuknya kabur dari tempat ini.

__ADS_1


"Bawa kemari," suruh Ivona.


Dengan sigap Evan menggunting tali itu. Satu ikatan terlepas. Tangan kanan Ivona kini terbebas. Ia mengambil alih gunting di tangan Evan dan memotong tali yang mengikat tangan kirinya. Berhasil. Ivona bangun dan melepaskan kakinya yang terikat.


Ia sangat girang, setelah terbebas dari jerat tali yang dipasang oleh Aldrich Ryder. Ivona segera turun dari ranjang, ia hendak kabur. Namun, mendadak ia ingat pada Evan yang masih terduduk di atas ranjang. Ia kembali menghampiri bocah itu.


"Ma-maafkan aku, Evan. Aku tidak bermaksud melupakanmu. Aku hanya terlalu senang karena sudah terbebas. Terima kasih untuk bantuanmu." Ivona memeluk Evan, lalu mengecup pipi bocah itu sama seperti apa yang Evan tadi lakukan padanya.


"Apa kau akan pergi?" tanya Evan polos.


Ivona menarik napas panjang. Ia berusaha mencari kata yang tepat agar tak melukai hati anak yang sudah membantunya karena sayang itu.


"Pergi?" Ivona tersenyum berusaha menutupi kebohongan jika dirinya memang ingin pergi. "Tentu saja tidak, aku akan bersamamu di sini, tapi sekarang aku merasakan lapar. Maukah kau membantuku lagi, tolong katakan pada pelayan agar membuatkan aku makan malam. Kau lihat, makanan di sana sudah dingin, pasti sudah tidak enak." Ivona menunjuk nampan di atas nakas.


"Baiklah, aku akan bilang pada pelayan. Mommy tunggu di sini, ya." Evan sangat bahagia melihat Ivona yang mengangguk. Tanpa curiga bocah itu keluar kamar dan meninggalkan Ivona begitu saja.


Ia terus saja berjalan mengandalkan instingnya. Akhirnya ia melihat tangga dan ingin menjangkaunya.


Suara tepuk tangan membuat Ivona berhenti dan menoleh. "Bagus, pintar sekali kau berakting. Kau bahkan memanfaatkan ketulusan seorang anak kecil dan menipunya."


Ivona terperangah melihat Aldrich sudah berdiri bersandar dinding, seolah telah menunggunya dari tadi. Kalau harus meladeni pria ini pasti akan membuang waktu, dan Ivona tak ingin berlama-lama di sini. Ia harus segera pergi sebab itu ia tak peduli dengan Aldrich dan memilih untuk berlari kabur.


"Hei ... kau mau ke mana!" seru Aldrich.


Ivona terus berlari dan Aldrich tak terima itu. Pria itu mengejar Ivona dan berhasil menangkapnya. Ivona yang tak ingin lagi tertangkap mencoba melawan. Gadis itu memberikan perlawanan pada Aldrich dengan memukul pria itu lebih dulu dan tepat mengenai rahang Aldrich hingga bibir pria itu berdarah.


"Kau!" geram Aldrich merasakan perih di bibirnya.

__ADS_1


Ivona tak ingin memberikan kesempatan Aldrich menyerang balik karena itu ia terus melancarkan serangan. Namun kali ini Aldrich bisa menghindar. Pria itu juga menangkis setiap pukulan yang Ivona berikan tapi tidak mampu memberikan serangan.


Merasa Aldrich sudah kewalahan, Ivona langsung memukul Aldrich dengan telak hingga pria itu terdorong mundur dan terhuyung. Tak menyia-nyiakan kesempatan Ivona kembali mengambil langkah dengan berlari menuruni anak tangga. Rupanya Aldrich tak semudah itu dikalahkan. Pria yang ingin menikahinya itu tak tinggal diam, ia langsung berlari mengejar Ivona setelah keseimbangannya kembali. Aksi kejar-kejaran di atas tangga pun terjadi.


"Hei ... berhenti, kau!"


Ivona tak peduli, ia terus mencoba lari. Langkah Aldrich yang lebih lebar dengan mudah bisa kembali menangkap Ivona, dan Ivona kembali menyerang Aldrich. Sekarang Aldrich lebih siap hingga ia bisa mengatasi serangan Ivona dengan mudah tanpa menyakiti gadis itu. Pukulan terakhir Ivona mampu ia tahan dengan mengunci pergerakan lengan Ivona dan membalik keadaan dengan membekuk tangan Ivona ke belakang.


Kini Ivona tak mampu lagi bergerak. "Lepaskan!" Ivona menyentak tangan Aldrich yang menguncinya tapi tak berhasil.


"Kau ingin lari?" tanya Aldrich yang berdiri tepat dibelakang Ivona, masih mengunci lengan Ivona ke belakang.


"Sebenarnya apa maumu, hah!" teriak Ivona yang tak bisa melihat wajah Aldrich.


Aldrich sedikit menurunkan kepalanya agar sejajar dengan telinga Ivona. "Kau ingin tahu mau ku?" lirihnya tepat di telinga Ivona. Membuat embusan napas pria itu terasa menggelikan ketika menyapu daun telinganya hingga Ivona menarik sedikit kepalanya dengan reflek.


Aldrich menyadari pergerakan kecil Ivona tersebut dan tersenyum tipis. "Aku ingin kau menurut," bisiknya lagi.


"Jangan mimpi!" seru Ivona bersamaan dengan gadis itu menginjak keras kaki Aldrich. Membuat kuncian Aldrich melemah dan Ivona bisa kembali lari dari pria itu.


Belum juga sampai ke pintu, Aldrich sudah kembali menangkap Ivona. Kali ini ia langsung membawa Ivona bagai karung beras. Ia panggul di pundaknya.


"Lepaskan aku, dasar berengsek!" umpat Ivona.


Ivona meronta dengan memukul-mukul punggung Aldrich tapi tak membuat pria itu kesakitan. Aldrich terus berjalan membawa Ivona kembali menaiki tangga.


"Turunkan aku!" seru Ivona lagi tapi tak membuat Aldrich urung. Ia menulikan telinganya dan terus membawa calon pengantinnya itu kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2