
"Apa kau kecewa?" goda Aldrich.
"Apa?"
"Apa kau kecewa setelah melihatnya?"
"Ti-tidak ... memangnya kenapa harus kecewa?"
"Ah ... serius? Padahal aku berharap kau kecewa karena menginginkan yang lainnya?" Aldrich kembali mengerling menggoda dan langsung dipukul oleh Ivona di dadanya.
"A-apa itu?" tanya Ivona penasaran. Sebenarnya tidak penasaran sekali sebab dilihat dari bungkusnya saja Ivona sudah bisa menebak jika apa yang Aldrich pegang sekarang adalah sebuah perhiasaan. Semua ia tanyakan untuk mengurangi rasa canggung karena otak kotor Aldrich sebelumnya.
"Bukalah." Aldrich memberikan kotak perhiasan itu. Benda yang sejak tadi ingin Aldrich tunjukkan pada Ivona. Dengan cepat Ivona meraihnya dan membukanya.
Ivona semakin tak percaya melihat isinya. Sepasang cincin pernikahan yang begitu mewah dan elegan. Cincin bermata ruby itu yang membuat Ivona terpesona. Bukan hanya itu, desain dari cincin ini sama persis dengan cincin pernikahan Alexander dan Ivona di dalam novel. Persis, tak berbeda sedikit pun. Yang membuat Ivona lebih tercengang adalah ketika Ivona mengambil cincin itu dan melihat nama yang terukir di sana.
"ALIV?" gumam Ivona, yang diangguki oleh Aldrich. Ivona menatap Aldrich penuh tanya.
"Aliv, Aldrich dan Ivona. Aku tidak mau nama kita terpisah dalam cincin yang mengikat kita. Aku ingin Aldrich dan Ivona selalu bersanding, di mana pun dan sampai kapan pun," ujar Aldrich memberi penjelasan tanpa diminta.
Oh ... Tuhan, kata-kata Aldrich benar-benar membuatnya meleleh. Kalau saja status mereka sepasang kekasih yang sedang kasmaran pasti Ivona langsung menghambur ke pelukan Aldrich saat ini juga.
Ivona terus terpaku menatap cincin pernikahannya yang tak wajar. Bagaimana bisa cincin ini sama persis seperti yang ada di dalam novel.
"Kau ____" Ivona menatap lekat Aldrich, tangannya menyentuh rahang pria itu, tapi Ivona tak berani melanjutkan kata tentang apa yang ia pikirkan.
"Aldrich ... aku adalah Aldrich Ryder. Calon suamimu," jawab Aldrich tegas.
Ivona nampak kecewa, tapi sedetik kemudian ia tersenyum. "Benar, kau memang Aldrich. Aldrich Ryder," gumam Ivona. Ia pun menurunkan tangannya.
"Apa kau berharap kalau aku adalah Alexander?"
Ivona yang sudah menunduk menatap cincin dalam kotak yang ia pegang terpaksa kembali mendongak. "Kau tahu tentang Alexander?" Ivona nampak serius.
Aldrich mengangguk, dan hal itu membuat Ivona semakin ingin tahu.
__ADS_1
"Pria yang ada dalam kehidupanmu sebelumnya, bukan?"
Ivona terus memasang telinganya lebar. Ingin tahu apa saja yang Aldrich ketahui tentang Alexander.
"Pria yang hampir menikahimu, tapi gagal karena suatu insiden."
"Kau bahkan tahu hal itu?"
Aldrich kembali mengangguk. "Apa dia cinta pertamamu?"
Ivona bingung bagaimana harus menjawabnya.
"Pria yang memiliki wajah yang sama denganku itu, adalah pria bernama Alexander."
Ivona mengangguk lagi. Tiba-tiba satu sentilan mendarat di dahi Ivona dengan keras dan membuat Ivona mengaduh hebat.
"Awwww!" Ivona mengusap dahinya yang terasa panas.
"Bodoh!" ujar Aldrich setelah menyentil dahi Ivona dengan kuat. "Semua yang aku tanyakan adalah mimpiku tentang sosok mirip dirimu dan diriku. Bukankah aku pernah bercerita?"
"Tapi aku lebih keren dari Alexander bukan?" ujar Aldrich tak henti-hentinya menggoda Ivona.
"Gila!" Ivona akan naik ke atas tapi Aldrich menahannya.
"Kau mau ke mana?"
"Tidur!" jawab Ivona asal.
"Kembalikan dulu cincinnya, aku akan memberikan padamu besok di altar pernikahan."
Dengan menahan kesal atas semua sikap Aldrich, Ivona memberikan cincin itu dengan kasar ke tangan Aldrich dan berusaha naik ke atas kolam. Karena tidak berada pada tangga pijakan Ivona menjadi sedikit kesulitan. Tanpa diminta Aldrich membantunya dengan memegang bokong Ivona agar bisa naik. Namun, Ivona jadi salah paham karena hal itu. Bukannya naik Ivona malah kembali masuk ke dalam kolam dan memukul Aldrich.
"Dasar ca bul!" umpatnya pada pria yang berniat menolongnya itu.
"Apa? kau menuduhku ca bul?"
__ADS_1
"Ya, kau pria ca bul yang berusaha memanfaatkan kesempatan!" tuduh Ivona.
"Huh ...." Aldrich mendesah kasar. "Apa aku punya tampang ca bul, hah!"
"Tidak perlu tampang ca bul, tapi kelakuanmu sudah menunjukkan semuanya. Apa namanya kalau bukan ca bul. Kau memegang bokongku tanpa ijin, kau pria rendah berotak kotor!" tuduh Ivona tanpa henti.
Ia terus saja mengomel dan menuduh Aldrich adalah pria dengan kelainan sek sual dan tuduhan-tuduhan lain yang tak berdasar. Tak terima dengan apa yang Ivona tuduhkan, Aldrich berusaha menghentikan semua tuduhan dari mulut Ivona. Tak ada cara lain selain membungkam bibir yang terus saja berbicara itu dengan bibirnya. Tentu saja Ivona berhenti seketika.
Aldrich yang tadinya hanya ingin bermain-main dengan Ivona nampaknya harus mengaku kalah dengan keadaan. Bibir Ivona yang terasa lembut membuatnya terhanyut. Dinginnya air kolam kini tak terasa, karena hasrat dalam dirinya mendadak membara membakar semua rasa yang ada.
Begitupun dengan Ivona. Ia terdiam kala Aldrich mulai membawanya larut dalam permainan. Meningkatkan suhu tubuhnya dan mengalahkan dinginnya air kolam. Pun dengan logika yang mendadak hilang tak bersisa. Mereka berdua benar-benar lupa tentang perselisihan sebelumnya, atau bahkan tak memikirkan perasaan di antara keduanya. Manisnya rasa yang mereka cecap membuat mereka seolah terbang jauh ke batas dunia, dan mentasbihkan sebuah rasa baru sebagai candu di antara keduanya.
Tangan Ivona dengan suka rela bergelayut manja melingkari leher sang calon suami. Sedangkan satu tangan Aldrich menekan tengkuk Ivona untuk membawa mereka semakin jauh melayang. Hingga semua mendadak terpelanting ke dunia, ketika sebuah suara menyadarkan mereka dan menariknya pada kenyataan.
"Aldriiiiichhhhh!" teriak Helena.
Spontan Ivona mendorong tubuh Aldrich dan dengan cepat berusaha naik ke atas kolam. Ia berlari dan berhenti sejenak untuk memberi salam pada ibu mertuanya dengan membungkukkan sedikit badannya yang basah kuyup. Kemudian kembali lagi berlari menuju kamarnya.
Malu. Ya ... Ivona malu terlihat oleh Helena sedang bersama Aldrich di dalam kolam renang dengan keadaan yang tak pantas dilihat.
Aldrich sendiri naik ke atas kolam dengan santainya. Ia memasukkan kembali kotak cincin di tangannya ke dalam saku celananya.
"Apa yang kau lakukan, apa ku sedang mempercepat malam pengantinmu, hah?" todong Helena.
"Seharusnya, dan seharusnya juga Ibu sudah mendapatkan cucu seperti yang Ibu inginkan, tapi Ibu datang dan mengacaukan semuanya. Apa Ibu tahu betapa susahnya aku mendapatakan ciuman tadi?"
"Apa ma____"
"Ah ... sudahlah, Ibu tak akan mengerti!" potong Aldrich cepat kemudian pergi.
"Aldrich!" sergah Helena. "Ibu janji tak akan mengganggumu lagi," ujarnya saat Aldrich menoleh.
Aldrich kembali berjalan dan mengabaikan ibunya.
Di tempatnya berdiri, Helena nampak kecewa. Harusnya ia tak datang saat mendengar putra dan menantunya sedang tertawa di dalam kolam renang. Harusnya juga ia tak menganggu keromantisan mereka. Bukankah ia sangat menginginkan cucu dari Aldrich. Sekarang ia harus lebih bersabar untuk mendapatkannya.
__ADS_1