IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Baba.86 Oase


__ADS_3

William masih terpaku pada Ivona, seolah menunggu reaksi gadis itu. Namun, Ivona sendiri terlihat tak acuh, ia tidak peduli kabar apa pun tentang Vaya, bahkan jika ada yang mengatakan Vaya akan loncat ke dalam sumur sekalipun, Ivona memilih untuk tidak peduli.


"Will, kita tidak bisa membuang waktu lagi!" Siswi itu langsung manarik William keluar dari kelas dan berlari menuju toilet wanita.


Ivona hanya bisa menatap kepergian William begitu saja, ia pun menarik napas dalam dan menutup buku catatan yang tadi dipinjam oleh William. Memasukkannya ke dalam tas dan kembali menggeser bangkunya.


"Di sana, Vaya ada di dalam sana!" Siswi itu berteriak menunjuk salah satu bilik toilet.


William cukup terkejut saat melihat bukan hanya ada dirinya dan siswi yang memanggilnya, di sana, di depan bilik toilet itu sudah berkerumun beberapa siswi lain. Ada yang sedang berteriak membujuk Vaya.


"Vaya, keluarlah, apa yang kau lakukan di dalam?" teriak seorang siswi.


"Vaya, ayolah. Jangan seperti ini. Semua masalah pasti bisa diselesaikan."


"Vaya, jangan sakiti dirimu sendiri dengan hal-hal bodoh. Masih banyak yang menyayangimu."


Mereka semua berteriak seolah Vaya adalah gadis depresi yang penuh dengan masalah.


"Minggir ... minggir!" Siswi yang tadi menarik William kini menyibak kerumunan, untuk memberikan akses pada William.


"Dia di dalam," kata siswi itu pada William.


Semua yang ada dalam ruangan itu menatap William yang baru saja tiba.


"William, kau harus segera menyelamatkannya. Aku takut terjadi sesuatu dengan Vaya, sedari tadi ia menangis, tapi sekarang sudah tidak terdengar lagi tangis Vaya," lapor seorang siswi yang menjadi saksi masuknya Vaya ke dalam bilik toilet dan mengunci diri di sana.


"Benar William, cepatlah tolong Vaya," seru yang lainnya.


"Diamlah, bagaimana William akan menyelamatkan Vaya jika kalian terus mengoceh!" sentak siswi yang menarik William.


"Ayo William, bujuk Vaya keluar," ujar siswi yang tadi membawanya.


William mengetuk pintu toilet. "Vaya, ini aku William, keluarlah," bujuk William.


Tidak ada sahutan.

__ADS_1


"Jangan membuat teman-temanmu khawatir, ayo keluarlah," bujuknya lagi.


Masih hening, tak ada sedikit pun suara dari dalam bilik yang ditempati Vaya. William menatap pada siswi yang tadi menariknya, seperti meminta masukan.


"Dobrak saja," usul siswi itu, yang seolah tahu maksud William.


William langsung mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu toilet. Percobaan pertama gagal, lalu William mencobanya kembali. Barulah pada dorongan yang ketiga pintu toilet itu terbuka. Semua yang menyaksikan kejadian pendobrakan itu, seketika kaget melihat Vaya yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


"Vaya!" teriak William saat pertama kali melihat Vaya. Dengan cekatan, William menggendong Vaya keluar dari bilik itu. Setengah berlari, William membawa Vaya menuju ruang kesehatan. Ia takut terjadi sesuatu dengan gadis itu.


"Dokter, tolong Vaya, dokter!" teriak William saat baru masuk ke ruang kesehatan. Kondisi Vaya yang tidak sadarkan diri membuat William menjadi panik.


Dokter Sandra, yang sedang bertugas hari itu ikut berlari menyusul William yang membawa Vaya ke ruang perawatan. William membaringkan Vaya di ranjang perawatan dengan hati-hati.


"Keluarlah, aku akan memeriksanya!" suruh dokter Sandra.


Wiliam menutup tirai ruang pemeriksaan agar dokter Sandra leluasa memeriksa Vaya, kemudian keluar dari ruangan itu. Di luar ruang kesehatan seorang siswi yang tadi memanggil Willian dan beberapa siswi yang lain juga Smith sudah menunggunya.


"Bagaimana kondisi Vaya?" tanya siswi yang tadi meminta William untuk mendobrak pintu toilet.


"Aku tidak tahu, dokter masih memeriksanya," jawab William lirih.


"Aku yakin, ini semua pasti berhubungan dengan Ivona," ujar Smith.


William langsung menatap tajam Smith.


"Kenapa, bukankah benar, jika hubungan Vaya dan Ivona tidak baik. Pasti penyebab Vaya melakukan semua itu karena Ivona," imbuh Smith.


William hanya menanggapi ucapan Smith dengan senyum dingin, ia tak ingin memperpanjang urusannya dengan pria itu, sebab itu William memilih pergi meninggalkan ruang kesehatan.


"Hei, kau mau ke mana?" seru Smith, saat William pergi tanpa pamit.


William memilih pergi dan berniat tidak kembali ke kelas sepanjang hari.


Sementara itu, berita tentang Vaya yang menangis sampai pingsan di toilet dan digendong oleh William ke ruang kesehatan sudah tersebar di sekolah. Sikap heroik William, yang mendobrak pintu dan berlari membawa Vaya ke ruang kesehatan, seolah menegaskan perasaan pria itu kepada Vaya. Semua berita itu menjadi pembicaraan hangat di kalangan siswa G-school.

__ADS_1


Smith yang masih berada di ruang kesehatan menjadi emosi ketika melihat sikap William, ia merasa paranoid pada pria yang telah menyelamatkan Vaya itu. Apakah sikap William juga dipengaruhi oleh Ivona?


Kalau benar demikian ia harus membuat perhitungan dengan gadis itu. Setelah membuat Vaya merasa tertekan, sekarang Ivona membuat sikap William berubah. Smith baru saja akan melangkah pergi dari ruang kesehatan, ketika dokter Sandra memanggilnya. "Apa kalian teman Vaya?"


"Iya, dokter," jawab Smith yang mengurungkan langkahnya untuk pergi.


"Vaya, sudah sadar jika kalian ingin menemuinya," ujar dokter Sandra.


Smith, dan juga siswi itu terlihat senang mendengar berita dari dokter Sandra. Mereka pun memutuskan untuk masuk dan menemui Vaya.


"Vaya, bagaimana keadaanmu, apakah sudah lebih baik?" Smith yang lebih dulu bertanya.


Vaya belum menjawab pertanyaan Smith, tapi tangisnya lebih dulu keluar.


"Hei, kenapa kau menangis?" Smith yang duduk di sisi ranjang Vaya bertanya dengan lembut pada Vaya.


Vaya justru semakin menangis.


"Oh ... ayolah, Vaya ceritakan saja apa yang terjadi denganmu," pinta Smith.


Masih dengan tangisnya yang mencari simpati, Vaya berkata, "Aku diusir oleh keluarga Iswara."


Smith terkejut dengan pengakuan Vaya. "Apa itu benar?"


Vaya mengangguk dalam tangis.


"Tapi, untunglah Nyonya Iswara buru-buru menyelamatkan aku. Kalau tidak, aku tidak tahu di mana aku akan tinggal, dan apa yang harus aku lakukan?" Vaya masih saja mencari perhatian dari Smith.


Tadinya, Smith bingung bagaimana ia akan menenangkan Vaya, tapi sesaat kemudian ia ingat tentang sesuatu. "Kau tidak usah bersedih lagi, aku ada kabar baik untukmu, yang pasti akan membuatmu bahagia," ujar Smith.


Seketika Vaya berhenti menangis, layaknya anak kecil yang langsung diam saat diberikan permen. "Kabar apa?" Vaya menghapus air matanya.


"Kakakmu, Tommy, dia akan pulang dari luar negeri hari ini."


"Benarkah?" pekik Vaya, langsung terlihat sangat senang.

__ADS_1


Smith mengangguk-anggukkan kepalanya untuk meyakinkan Vaya. Perasaan Vaya kali ini begitu senang, mendengar kabar kepulangan Tommy bagaikan menemukan oase di tengah gurun pasir. Melegakan. Semoga saja, semua bukanlah fatamorgana semata.


__ADS_2