IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.54 Kantung Mata


__ADS_3

"Apa yang kau inginkan Thomas?" Terdengar nada paranoid dari suara Nyonya Iswara.


"Apa yang aku inginkan, tentu saja aku ingin mengakhiri kesalahpahaman ini. Aku ingin semua orang tahu siapa adik yang aku sayangi," jawab Thomas seolah menantang Nyonya Iswara.


"Thomas!" seru Nyonya Iswara di seberang telepon.


"Hentikan semuanya sekarang sebelum kau menyesali semuanya!" titahnya sekali lagi.


"Apa yang akan aku sesali?" tanya Thomas sarkas. "Bukankah Ibu yang seharusnya menyesal, karena tidak mengakui putri kandung ibu sendiri. Apa Ibu lupa siapa putri kandung Ibu yang sebenarnya?" sambung Thomas.


"Apa yang kau bicarakan? Aku melakukan semua ini demi kebaikan kita bersama," terang Nyonya Iswara.


"Kebaikan siapa yang Ibu maksud kalau bukan putri angkat Ibu itu." Raut Thomas semakin kesal saat mengatakannya, karena teringat Vaya yang sudah menggantikan posisi Ivona.


"Thomas, jangan coba-coba mengajak Ibumu ini berdebat, turuti apa yang aku katakan. Kalau kau ingin semuanya baik-baik saja!" tuntut Nyonya Iswara.


"Kenapa, apa Ibu takut?" tanya Thomas pura-pura tidak tahu.


"Bukan aku yang takut, tapi kau. Apa kau tidak tahu betapa kejamnya jari para netizen saat menyerang pribadi seseorang. Perkataan dari jari-jari mereka bahkan jauh lebih tajam dari belati, yang akan mengoyak bukan hanya jiwa tapi juga raga Ivona. Apa kau siap untuk melihat itu semua?"


Thomas mencoba menangkap arti dari kalimat panjang Nyonya Iswara.


"Apa kau sudah memikirkan jika orang-orang mengetahui bahwa Ivona adalah adikmu, dan baru kau ungkap sekarang. Bukankah hal ini justru akan mempermalukanmu?" Nyonya Iswara berusaha mempengaruhi cara berpikir Thomas yang sempat menentangnya.

__ADS_1


"Apa lagi dengan sikap Ivona yang selalu membuat masalah, berbanding terbalik dengan Vaya yang berbakat. Siapkah kau menerima perbedaan di antara keduanya di mata semua orang?"


Raut wajah Thomas menjadi muram, memikirkan apa yang Nyonya Iswara katakan membuatnya khawatir tentang Ivona. Bagaimana jika orang-orang akan membandingkan Ivona dengan Vaya.


"Turuti aku Thomas, dan semua akan baik-baik saja!" Suara Nyonya Iswara melembut agar bisa masuk ke hati putranya.


Saat ini Thomas belum bisa berpikir jauh, tapi perkataan Nyonya Iswara benar-benar membuatnya gusar. Ia memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraannya dengan Nyonya Iswara, dan langsung menutup sambungan teleponnya.


Setelah memikirkan dampak unggahannya pada Ivona, pada akhirnya Thomas memutuskan untuk menghapus foto yang ia unggah tersebut, dan kemudian mengunfollow Vaya. Tindakan spontan Thomas ternyata menimbulkan masalah baru. Hal ini menjadi pembicaraan para fans. Kolom komentar Thomas kembali diserbu para fans Vaya.


Thomas yang melihat komentar para fans ini mulai memblock akun fans-fans Vaya. Ia tidak ingin memperpanjang semua dengan menjelaskan satu per satu.


_________________


G-School


Matt, nama teman yang sedari tadi mengamati William sejak pria itu datang, langsung menggoda William dengan pertanyaannya, "Hai, man ... apa kau tidak tidur semalaman?"


William yang sudah duduk di bangkunya menoleh pada Matt.


"Kau pasti telah berkencan dengan seorang gadis dan melewatkan malam panjang dengannya, benar, 'kan?" tuduh Matt masih menggoda.


"Kau ini bicara, apa?" tanya William dingin.

__ADS_1


"Oh ... ayolah kau tidak perlu malu. Kantung hitam di matamu tidak bisa berbohong, kawan."


"Bagaimana rasanya, apakah benar-benar hebat?" goda Matt lagi, meski tak ditanggapi oleh William.


"Siapa dia, siapa nama gadis itu, yang telah melewatkan malam bersamamu?" Matt terus saja bicara, seolah tidak bisa membaca raut kesal William.


"Jangan ragu untuk bicara, aku bisa menjaga rahasia," sambung Matt.


"Apa yang kau tuduhkan itu tidak terjadi sama sekali!" jawab William pada akhirnya.


"Apa, mana mungkin. Kau pasti berbohong, kau menutupi sesuatu, bukan?"


"Matt, diamlah karena aku sedang tidak ingin menghajar orang saat ini!" tukas William.


"Jangan marah begitu, aku hanya ingin tahu siapa gadis yang telah kau ajak kencan. Itu saja."


William memutar bola matanya malas, Mattew adalah teman paling keras kepala yang selalu ingin tahu urusan orang.


"Katakan Will, siapa dia yang telah membuat dirimu terjaga semalaman. Aku yakin dia gadis yang hebat, hingga mampu membuatmu tak berdaya." Matt terus mencecar pertanyaan yang sama pada William.


Mendengar ucapan Matt yang sudah keterlaluan, membuat William harus menahan diri untuk tidak memaki teman sekelasnya itu. "Diamlah, Matt," sentak William yang langsung berdiri, dan membuat seisi kelas beralih fokus padanya.


Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya hingga William bersikap kasar pada Matt dengan membentaknya. Matt sendiri langsung diam seketika setelah melihat kemarahan yang terpancar di wajah William. Nyalinya yang ia pakai untuk menggoda William tadi hirap seketika. Wajah William saat ini merah padam, seolah bisa membakar dirinya jika terus saja bicara.

__ADS_1


William tidak peduli pada semua mata yang kini tengah menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Ia kembali duduk di bangkunya dengan tatapan yang tertuju pada Ivona. Gadis di sampingnya ini terlihat tenang dan tak terpengaruh dengan tindakan spontanitasnya tadi. Ivona terus menunduk menekuri buku di depannya.


Melihat kenyataan itu, membuat William menatap Ivona dengan dingin.


__ADS_2