IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.34 Menemukanmu


__ADS_3

Sekujur tubuh Jonas gemetaran, saat ia mendongak dan matanya bersirobok dengan Alexander. Ia tidak bisa membayangkan jika Alexander benar-benar menghukumnya atas kesalahan bodoh yang ia buat. Sekarang saja sudah terlihat jelas aura kejam dan tak berbelas kasih dari pria itu saat mematikan rokok di pundak Jonas dengan sengaja.


Melihat ketakutan Jonas, Alexander jadi berpikir tentang hal lain. Ivona. Yah ... gadis itu membuat ia memikirkan hal lain jika ia benar-benar mengambil langkah untuk menghukum Jonas. Ia tidak ingin Ivona takut kepadanya karena melihat cara kejamnya menghukum Jonas. Setelah menimbang, akhirnya Alexander melepaskan Jonas.


"Pergilah, jika aku masih melihatmu melakukan hal yang sama pada orang lain, jangan salahkan aku jika menghukum mu dan juga keluargamu yang tidak bisa mendidik mu!"


Mata Jonas kini berbinar setelah mendengar pengampunan dari Alexander. "Te-terima kasih, Tuan," ucap Jonas saat para pengawal Alexander menyeretnya keluar dari private room.


Di ruang privat yang lain, tempat Ivona menunggu sudah tersusun rapi buah-buahan dan susu. Semua disiapkan oleh pelayan atas perintah dari Alexander. Ivona menatap nyalang ke seluruh ruangan pribadi itu, matanya memindai setiap sudut ruang mewah yang disediakan untuknya. Ivona tahu bahwa pria yang memintanya menunggu memang memiliki kekayaan yang tak diragukan, tapi apakah perlu menyiapkan ruang pribadi untuk dirinya yang bukan siapa-siapa.


Toh, ia hanya sekedar menunggu karena ia tak punya urusan dengan Tuan Muda kaya itu.


Memikirkan tempat menunggunya saat ini, Ivona jadi teringat saat Alexander membawanya ke kamar hotel yang mewah. Saat itu dengan gampangnya Alexander berucap 'president suite room', dan kamar itu langsung tersedia untuknya bermalam. Teringat kamar hotel, membuat Ivona teringat juga tentang hutangnya pada Alexander. Uang yang dulu Alexander tinggalkan untuknya ia anggap sebagai hutang dan belum sempat ia kembalikan.


Sekarang karena sudah bertemu lagi, Ivona berencana mengembalikan hutang tersebut dan pergi dari tempat ini. Kalau harus menunggu Alexander pastilah lama dan belum tentu pria itu mau menerima uangnya kembali, karena dalam pesannya Alexander tak menganggapnya sebagai hutang. Namun bagi Ivona ia tak suka merepotkan orang apa lagi jika harus berhutang budi.


Akhirnya, Ivona putuskan untuk meninggalkan pesan saja pada pengawal yang berjaga di depan private room. Ivona belum sempat berbicara, saat pengawal itu mendapatinya akan pergi, dan ia berkata, "Maaf Nona, Anda tidak diijinkan meninggalkan ruangan ini tanpa perintah dari Tuan Alexander," sergah pengawal itu sebelum Ivona keluar.


"Aku sudah tidak ada urusan lagi di tempat ini, jadi aku akan pergi, aku juga ingin menitipkan sesuatu untuk Tuan Alexander," jawab Ivona.


"Mohon maafkan saya, saya hanya melaksanakan tugas dari Tuan Alexander untuk menjaga Anda. Silakan Anda kembali ke dalam dan menunggu Tuan Alexander kembali." Pengawal itu tetap tidak mengijinkan Ivona pergi.


Ivona tidak bisa melakukan apa pun selain kembali masuk dan menunggu Alexander kembali. Ivona pun mengambil gelas susu yang ada di depannya lalu meneguk setengah dari isinya. Di saat yang sama, Ivona melihat Alexander datang. Ia pun langsung mengusap bibirnya yang basah karena susu, dan berdiri menyambut kehadiran pria itu.


Alexander tersenyum tipis melihat cara Ivona mengusap bibirnya dengan dengan kasar. Pria itu mendekat agar bisa melihat lebih jelas bibir merah muda milik Ivona. Tatapan Alexander dengan jelas tertuju pada bibi ranum gadis itu, yang membuat Ivona merasa tidak nyaman.


"Apa ada yang aneh?" tanya Ivona penasaran, apa yang membuat Alexander tersenyum tipis sembari menatap lekat bibirnya.

__ADS_1


Tangan kekar Alexander terulur, menyentuh sudut bibir Ivona. Jari pria itu dengan lembut menyusuri bibir gadis di depannya. Entah apa yang terjadi, Ivona bergeming. Seolah tersihir dengan sorot mata pria serupa dewa itu, ia tak melawan saat tiba-tiba Alexander mendekatkan wajahnya. Jantung Ivona berdetak lebih cepat dari aturan yang seharusnya. Pikirannya hampa, tak lagi bisa membayangkan tentang apa yang akan Alexander lakukan. Ivona terdiam tanpa suara.


Namun, semua tak terjadi. Hal yang biasa dilakukan oleh pria dan wanita dalam satu ruang pribadi, karena akhirnya Alexander kembali mengangkat wajahnya dan tertawa.


Hal itu membuat Ivona tersadar akan sikapnya yang memalukan, bahkan mungkin sekarang ini pipinya tengah memerah seperti tomat. "Dasar murahan," rutuknya dalam hati. Bisa-bisanya ia dipermainkan oleh Alexander, si pria tua ini.


Demi menutupi rasa malunya, Ivona langsung membicarakan mengenai mengembalikan utang, "A-aku menunggumu karena aku ingin membayar hutangku," ucap Ivona cepat.


"Aku tidak suka berhutang pada orang asing, jadi hari ini aku akan ____"


Namun, belum selesai Ivona berucap tentang hutang yang ia miliki, Alexander sudah lebih dulu menarik tangannya dan membawanya keluar.


Ivona yang tersentak semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan. "Hei ... kita mau ke mana?" tanya Ivona sembari menyamakan langkahnya dengan langkah lebar Alexander.


"Ikuti saja," jawab pria itu lugas.


"Ke mana kita akan pergi?" tanya Ivona saat Alexander sudah duduk di sebelahnya.


"Aku akan membawamu pulang ke rumahku," jawab Alexander jujur.


"Apa?" pekik Ivona.


"Aku hanya ingin membawamu ke tempat yang aman," ucap Alexander selanjutnya.


Sejujurnya Ivona tak mengerti maksud Alexander yang berkata ingin membawanya ke tempat yang aman, tapi setelah memikirkan lagi Ivona bersedia ikut dengan Alexander. Selain karena merasa Alexander bukanlah pria yang suka aneh-aneh, ia juga sedang tidak ingin kembali ke rumah dan menghadapi keluarganya.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu, dan kali ini aku akan membayar sewa rumah padamu," ucap Ivona.

__ADS_1


Alexander tak menjawab ucapan Ivona soal sewa rumah, ia hanya membalas ucapan gadis itu dengan lengkungan di bibirnya.


Malam itu gerimis tengah turun, saat Alexander membawa mobilnya melaju meninggalkan Muse Bar. Pria itu melirik Ivona yang duduk dengan manis di samping kemudi, ia melihat mata Ivona yang memerah seperti kurang tidur.


Di kehidupan nyatanya Ivona sering insomnia. Dokter mengatakan kapasitas yang diterima otaknya terlalu besar, dan hal itu mungkin bisa melukai pusat otaknya. Jika terus seperti ini, dia tidak akan berusia panjang. Namun, bagi Ivona bisa hidup sampai berusia 40 hingga 50 tahun juga sudah cukup.


Karena macet, Alexander menyuruh Ivona untuk tidur sebentar. "Tidurlah dulu, nanti akan aku bangunkan jika sudah sampai."


Ivona menoleh sekejap pada Alexander yang terlihat perhatian, tapi tak berani berucap apa pun. Belum juga memejamkan mata, ia mendengar Alexander memanggilnya, "Nana," panggil Alexander.


Ivona yang merasa asing dengan panggilan itu kembali menoleh.


Alexander menepuk pundaknya. "Tidurlah di sini."


Ivona membelalakkan matanya tak percaya, ia terus menatap Alexander penuh tanya.


"Kau boleh menjadikannya bantal," lanjut Alexander menjawab pertanyaan Ivona yang tak terucap.


Karena Ivona tak bereaksi, Alexander sendiri yang membawa tubuh Ivona mendekat. Ia meletakkan kepala gadis itu di pundaknya, seperti apa yang sebelumnya ia katakan. Awalnya Ivona ingin menolak tapi Alexander menahannya.


Kini Ivona hanya bisa pasrah, ia turuti apa yang Alexander inginkan. Setidaknya berpura-pura tidur juga tidak masalah untuk menyenangkan Alexander dengan niat baiknya. Semakin lama, semakin Ivona merasa tidak bisa jika tidak memejamkan mata, sebab aroma maskulin yang menguar dari tubuh Alexander tanpa sadar justru membuatnya tertidur.


Alexander melihat Ivona yang terlelap di sampingnya sebelum ia mengirimkan pesan pada seseorang.


[Aku sudah menemukannya, dan akan membawanya pulang.]


Setelah itu Alexander langsung meletakkan ponselnya secara sembarangan.

__ADS_1


__ADS_2