IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.142 Kedatangan Nyonya Alberic


__ADS_3

Wanita yang terlihat angkuh itu berjalan menghampiri keluarga Iswara yang tengah merayakan kebersamaan mereka dengan saling berpelukan. Tatapan sinis tertuju pada keluarga Ivona.


"Apa kalian keluarga dari gadis ini?" Nyonya Alberic berdiri angkuh menatap mereka.


"Siapa dia, Iv?" tanya Thomas.


Ivona tak menjawab tapi ia justru maju satu langkah. "Ma-maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud lancang dengan mengundang keluarga saya."


"Jadi benar mereka keluargamu?" Nyonya Alberic memindai satu persatu keluarga Iswara. Mulai dari Tuan dan Nyonya Iswara juga Thomas.


Tatapannya terlihat tidak suka pada keluarga itu, tapi tatapan itu tidak tertuju pada Ivona.


"Ya, Nyonya, mereka adalah keluarga saya."


Tuan dan Nyonya Iswara, juga Thomas masih bertanya-tanya tentang siapa wanita ini hingga Ivona begitu segan padanya.


"Kapan kalian akan menikah?" Mendadak pertanyaan Nyonya Alberic itu berubah topik.


"Apa?" Suara Ivona memekik, tapi langsung ia tutup mulutnya sendiri. "Maaf," lirihnya.


Tuan dan Nyonya Iswara juga Thomas langsung menatap penuh tanya pada Ivona.


"Apa maksudnya, Iv? kau bisa jelaskan pada kami," tanya Thomas mewakili orang tuanya.


"Ma-maafkan saya, Nyonya, saya tidak paham maksud Anda."


Nyonya Alberic tersenyum miring. "Kenapa kau masih berpura-pura setelah kalian memesan cincin pernikahan. Apa kau dan Alexander tidak menganggapku hidup, hingga memutuskan sesuatu sebesar ini sendirian. Lagi pula, aku belum melihat kelayakanmu sebagai menantu. Bagaimana bisa Alexander memutuskan untuk menikahimu."


Tuan dan Nyonya Iswara terperangah mendengar apa yang wanita asing itu katakan. Begitu juga dengan Thomas. Ivona dan Alexander, menikah?


"Kami tidak seberani itu Nyonya, jika pernikahan itu terjadi tentu saja semua dengan ijin Anda." Ivona memang menerima lamaran Alexander, tapi ia juga tidak ingin mengabaikan wanita yang telah melahirkan pria itu. Semua rencana pernikahan ini mendadak, tapi Ivona juga punya rencana untuk meminta ijin pada Nyonya Alberic.


"Iv, apa yang kau katakan. Apakah kau dan Alexander akan menikah?" Thomas memegang bahu Ivona.


Ivona menoleh pada kakak ketiganya itu. "Kami memang berencana menikah, tapi belum pasti kapan akan dilaksanakan," jawab Ivona pelan tapi masih bisa terdengar oleh orang di sekitarnya.


"Kenapa kau tidak membicarakannya dengan kami, Ivona?" Tuan Iswara ikut menimpali.


Ivona bingung bagaimana harus menjelaskannya, karena lamaran Alexander memang mendadak. Ia saja kaget ketika pria itu tiba-tiba mengundangnya ke kantor untuk memilih cincin pernikahan.


"Maafkan aku jika aku menyela." Nyonya Iswara menyamakan posisi berdirinya dengan Ivona. "Sebelumnya perkenalkan, saya adalah Ibu dari Ivona. Jika benar Tuan Muda Alexander akan menikahi Ivona, kita bisa membicarakan semuanya baik-baik."


Nyonya Alberic menatap rendah wanita yang sedang berbicara padanya. Ibu dari Alexander itu tahu semua cerita tentang wanita ini. Dia memang hanya berdiam di rumah, karena sejak mendiang suaminya Tuan Alberic meninggal, wanita itu lebih memilih menarik diri dari pergaulan sosialita yang dulu pernah diikutinya. Terlebih sejak Alexander menggantikan semua peran Daddy-nya di segala urusan perusahaan dan tanggung jawab dalam keluarga, Nyonya Alberic semakin jarang muncul dalam kehidupan sosial. Tetapi dengan uang, ia bisa tahu banyak hal di luar sana.


Nyonya Aleberic tidak suka dengan Nyonya Iswara karena dari berita yang ia dapat, wanita itu adalah ibu kandung yang tak pernah berpihak pada putri kandungnya sendiri. Wanita itu juga rela menjual putrinya pada pria tua demi uang. Membayangkan ibu seperti itu saja membuat Nyonya Alberic sangat kesal.

__ADS_1


"Memangnya apa yang perlu dibicarakan, aku akan memilih gadis yang layak untuk menjadi pendamping putraku."


Nyonya dan Tuan Iswara menyadari sikap tidak suka yang ditunjukkan dengan kentara oleh ibu dari Alexander itu. Tetapi, melawan orang seperti Nyonya Alberic akan sangat sia-sia. Posisi dan kekayaan mereka tidak setara, hal itu justru akan membuat mereka malu.


Nyonya Iswara merangkul Ivona. "Jika begitu, aku akan mendidik Ivona agar menjadi layak untuk mendampingi Tuan Alexander."


Ivona menoleh, ia menatap heran pada ibunya. Sifat dan sikap yabg sangat berbeda yang ditunjukkan Nyonya Iswara.


"Bagaimana aku yakin kau akan mendidiknya, sementara menyayanginya saja kau tidak bisa," ujar Nyonya Alberic sarkastik.


Tuan Iswara dan Thomas tersentak saat ucapan ibu dari Alexander itu begitu menohok perasaan mereka.


"Aku akan membuktikannya, Nyonya, dalam satu bulan aku akan membuat kau memilih Ivona tanpa ragu," ujar Nyonya Iswara meyakinkan.


"Ibu?" lirih Ivona.


Nyonya Iswara yang merangkul Ivona menepuk lengan putrinya itu, meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.


"Jika saat itu tiba, aku dan keluargaku akan menunggu kunjungan Anda ke rumah kami."


Mendengar ucapan Nyonya Iswara yang seperti tantangan untuknya Nyonya Alberic tersenyum miring. "Kau menantangku?"


"Tidak Nyonya, saya hanya ingin Anda mengakui jika putri saya memang layak untuk putra Anda. Dan jika waktu itu terjadi saya ingin keluarga Anda datang secara resmi untuk melamar Ivona."


"Mom!" potong Alexander cepat. "Apa yang mommy lakukan di sini?" Alexander datang bersama dengan Valia.


"Alexander, kau baru pulang?" Nyonya Alberic bersikap seolah tidak ada apa pun yang sebelumnya membuat dia emosi.


"Apa yang Mommy lakukan di sini?" ulang Alexander.


Wanita itu bejalan beberapa langkah untuk mendekatkan diri dengan putranya. "Seharusnya Mommy yang bertanya, apa kau lupa kalau Mommy masih hidup?"


Alexander mengernyit.


"Kenapa kau memutuskan untuk menikah tanpa memberitahuku, sampai-sampai Julia meneleponku. Kau tahu betapa malunya aku saat Julia mengatakan jika kau memesan cincin pernikahan sementara akau sebagai ibumu tidak tahu apa pun. Kau membuatku kesal Alexander. Aku tidak mau tahu, tunda pernikahanmu sampai aku tahu gadis seperti apa yang akan menjadi pendampingmu!" Setelah mengungkapkan kekesalannya pada Alexander, Nyonya Alberic langsung keluar dari ruang tamu milik putranya itu.


"Mom!" teriak Alexander yang menyusul ibunya.


Dalam ruangan itu tinggal keluarga Iswara dan Valia. Rekan bisnis Alexander itu tanpa sengaja menatap Nyonya Iswara yang tengah merangkul Ivona. Valia juga sempat mendengar pembelaan Nyonya Iswara untuk Ivona di depan Nyonya Alberic.


Rasa cemburu seketika menyeruak dalam batinnya. Gadis ini lagi! Kenapa Ivona mendapatkan banyak perhatian dari orang-orang di sekitarnya, sementara dirinya menjalani segala sesuatu sendiri. Ia semakin tidak suka melihat Ivona.


"Valia!" Ivona menyadari sesuatu yang aneh pada diri Valia saat menatapnya. "Ada perlu apa kau kemari?"


"Eh ... iya, kenapa?"

__ADS_1


"Apa kau ada pekerjaan dengan Alexander?"


"Tidak, aku hanya mampir untuk mengambil dokumen, kata Alexander ia melupakannya di meja kerjanya."


Alexander masuk setelah mengikuti ibunya. Ia menatap Valia yang masih di sana. "Iv, bolehkan aku meminta bantuan. Tolong ambilkan dokumen dalam map warna hijau di atas meja kerjaku."


"Baiklah." Ivona melepaskan tangan Nyonya Iswara yang sedari tadi merangkulnya.


"Maafkan ucapan ibuku jika telah menyinggung kalian," ujar Alexander pada keluarga Iswara setelah Ivona pergi.


"Alexander, apa kah tadi itu benar. Kau dan adikku akan menikah?"


"Ya tentu saja benar, aku memang berencana menikahi Ivona. Aku juga berencana untuk mengunjungi keluarga kalian, tapi malah jadi salah paham begini."


"Ini." Ivona menyerahkan dokumen itu pada Alexander dan langsung diberikan pada Valia.


"Baiklah kalau begitu akau pergi dulu," pamit Valia. Dengan langkah berat ia meninggalkan ruang tamu Alexander. Sejujurnya ia masih ingin berada di sana dan mendengar apa yang saja yang mereka bicarakan.


"Alexander, jika kau memang serius dengan Ivona maka ijinkan Ivona ikut dengan kami pulang, seperti janjiku pada ibumu aku akan mendidik Ivona agar layak untukmu. Aku tidan akan mengecewakanmu."


"Maksud, Anda."


"Satu bulan saja, biarkan Ivona tinggal bersama kami dan aku akan membuat ibumu terkesan dengan Ivona."


Alexander menatap Ivona. Jujur ia khawatir jika keluarga Ivona yang serakah ini akan mencelakai Ivona lagi.


"Kami janji akan menjaga Ivona dengan baik." Tuan Iswara turut meyakinkan.


"Aku akan baik-baik saja, aku janji," ujar Ivona.


Mendengar janji Ivona, Alexander pun mengangguk setuju. Sebelum keluarga Ivona itu membawa kekasihnya Alexander memeluk Ivona di depan semua keluarga Iswara.


"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku. Jangan biarkan mereka menyakitimu," bisiknya pada Ivona.


"Kau jangan khawatir, aku akan menjaga diriku."


Alexander mengecup kepala Ivona, melepas gadis itu pulang ke rumah keluarganya.


Di teras depan Ivona dan keluarganya masih bertemu dengan Valia. Wanita itu menatap aneh pada Nyonya Iswara. Nyonya Iswara yang menyadari tatapan Valia itu langsung menghindar.


"Ayo, Iv." Nyonya Iswara merangkul Ivona lagi dan membawanya ke mobil.


Valia sangat kecewa melihat sikap Nyonya Iswara.


.

__ADS_1


__ADS_2