IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.102 Takut Jatuh Cinta


__ADS_3

Mata Roy membelalak, kakinya gemetar hebat saat ia menyadari jika pria rupawan yang dulu ia lihat di toko buku, kini berdiri tepat dihadapannya.


"Aku tidak suka ada yang berani menyentuh gadisku!" ujar Alexander, sembari menghempaskan tangan Roy yang tertahan olehnya.


Roy semakin syok mendengar ucapan pria yang ia ketahui adalah Alexander Alberic. Ia menelan ludahnya kasar, tak kuasa menatap sorot tajam yang ditunjukkan Alexander. Aura dingin pria bak pembunuh itu langsung membuat Roy ciut nyali. Apakah ia sedang sial hari ini, karena harus berurusan dengan seorang Alexander?


"A-aku ...."


"Kuharap ini hari pertama dan terakhir, aku melihatmu bersikap arogan pada gadisku, karena aku bukan pria pengampun jika itu menyangkut wanitaku!" potong Alexander. Matanya masih menatap tajam Roy. "Camkan, itu baik-baik!" Tanpa pamit, Alexander membawa Ivona pergi dari hadapan Roy.


Si pria sampah itu tak bisa berkutik, selain hanya bisa memandang punggung Ivona dan kekasihnya yang menjauh. Ia sudah melihat sendiri, pengakuan Alexander akan Ivona. Kini ia bisa percaya jika Ivona memang benar-benar memiliki hubungan spesial dengan pria yang berpengaruh di Victoria itu.


Ia pun menjadi sadar diri dan diam-diam mengakui bahwa dari segi mana pun ia tidak bisa bersaing dengan seorang Alexander Alberic.


"Roy, kau kenapa?" tanya seorang kerabat yang tiba-tiba muncul.


Roy langsung memegang lengan kerabatnya, mencari penopang agar tubuhnya tidak luruh ke lantai. Kakinya sudah sangat lemas hingga tak mampu lagi menyokong badannya.


"Kau baik-baik saja, Roy?"


"Ba-bawa aku pergi dari sini," pinta Roy dengan terbata.


Melihat raut syok dan tubuh lemah Roy, tanpa banyak bicara lagi, kerabat itu membawa Roy keluar dari ballroom tersebut.


Sementara itu, Alexander terus membawa Ivona menjauh dari si pria sampah. Ivona hanya bisa pasrah dan menurut ke mana pun Alexander membawanya. Rupanya, Alexander membawa Ivona ke bar.


"Satu mocktail," pesan Alexander pada bartender, setelah mendudukkan Ivona di sebuah bangku yang tersedia di depan meja bar. Ia sendiri menyusul duduk, tepat di samping Ivona.


Ivona tidak berani menatap pria di sampingnya ini. Niatnya untuk menenangkan diri sudah gagal, karena takdir tak membiarkan mereka berpisah. Lihat saja, baru satu hari Ivona berusaha menghindar, tapi keadaan membuat mereka kembali bertemu dengan caranya.


"Minumlah!" Alexander mengulurkan segelas mocktail yang tadi ia pesan. Pria itu sengaja memilih minuman yang tidak mengandung alkohol untuk Ivona.

__ADS_1


"Terima kasih." Ivona menerima gelas mocktail itu dan langsung menyesapnya. Tentu saja dengan tujuan menghindari tatapan Alexander.


Namun, ia salah, karena Alexander terus menatap dalam Ivona tanpa bicara. Membuat


Ivona yang sedang minum jadi salah tingkah sendiri karena sorot mata Alexander tak beralih darinya barang sekejap.


Sembari menyesap minumannya, Ivona sedikit mencuri pandang. masih saja sama, Alexander masih memaku pandangannya pada wajah cantik Ivona. Tak tahan dengan sorot mata mematikan itu, Ivona segera menenggak habis minumannya dan langsung menaruh gelasnya di meja bar.


"Aku pergi dulu," pamitnya begitu saja, sengaja ingin menghindar.


Baru juga akan melangkah, tangan Alexander sudah terulur untuk menahannya. Tanpa pikir panjang, Alexander langsung menarik Ivona untuk kembali duduk. Ivona yang sedikit bingung dan gugup hanya bisa menatap penuh tanya pada Alexander yang masih setia memegang tangannya.


Pria itu masih tidak bicara, tatapannya kini semakin lekat terarah pada manik mata Ivona. Hal yang membuat Ivona seolah ingin menghilang saja. Pria ini membuat Ivona tak berdaya jika harus beradu pandang.


"Biarkan aku pergi." Sedikit meronta agar tangan Alexander melepaskannya.


"Kenapa harus menghindar?" Alexander terus menatap Ivona meski gadis itu langsung menunduk.


Ivona terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Hingga satu tangan Alexander yang lain terulur dan memegang dagunya, memaksa Ivona untuk mendongak hingga mata mereka bersirobok. Hanya satu detik mata mereka bertemu, dan Ivona sudah langsung mengalihkan pandangannya.


Ivona menggeleng.


"Bohong."


Tidak suka dengan sebutan Alexander barusan, Ivona menjawab, "A-aku hanya tidak ingin merepotkanmu terus menerus. Lagi pula Tommy sudah kembali, ia yang akan menjagaku disini."


Alexander tertawa. "Apa kau pikir bisa dengan mudah lepas dariku?"


Ivona langsung menatap Alexander. "Apa maksudmu?"


"Kau yakin itu alasanmu? Apa benar hanya karena tidak ingin merepotkanku?"

__ADS_1


"Te-tentu saja, kau pikir aku punya alasan lain?"


"Hmmm." Alexander mengangguk. "Kau takut jatuh cinta padaku."


Ivona ternganga, mendengar Alexander mengungkapkan alasan tentang dirinya yang sedang berusaha menghindari pria itu. Sangat akurat. Kenapa bisa tepat begitu. Apakah perasaannya begitu mudah terbaca. Kalau benar demikian, matilah Ivona. Ia tidak akan punya muka lagi untuk menghadapi Alexander.


"Ka-kau jangan melantur, mana mungkin aku jatuh cinta padamu. Kau terlalu tua untukku," elak Ivona.


Tidak marah hanya karena dibilang tua, Alexander justru tertawa. "Kalau begitu, jangan keluar dari rumahku tanpa seijinku!" pinta Alexander.


"Mana bisa begitu, aku punya hak untuk menentukan hidupku sendiri dan itu tidak butuh ijin darimu."


"Aku hanya khawatir keluargamu tidak akan mau menerimamu."


"Itu urusanku." Ivona memberanikan diri menyentak tangan Alexander, lalu pergi dengan bibir mencibir.


Tingkah Ivona yang menggemaskan selalu sukses membuat Alexander tersenyum bahagia. "Dan akan jadi urusanku jika itu menyangkut tentangmu," lirih Alexander.


Vaya yang memperhatikan kedekatan antara Ivona dan Alexander sedari tadi merasa cemburu. Hari ini, banyak sekali hal yang direbut Ivona darinya. Niatnya untuk segera menghancurkan gadis itu semakin kuat. Ia ingin melihat Ivona hancur, sekalipun itu harus menghancurkan keluarga Iswara. Mereka semua harus diberi pelajaran agar tidak lagi bermain-main dengannya.


"Tunggulah sebentar lagi Ivona, kau akan lihat apa yang bisa aku lakukan untuk menghancurkanmu dan keluargamu!" gumam Vaya sembari terus memperhatikan Alexander yang masih duduk di meja bar.


Ponsel yang berdering membuat Vaya harus memutus pandangannya pada Alexander. Seseorang yang sebelumnya ia telepon kini menghubunginya. "Halo," sapa Vaya.


"Tunggu sebentar, aku akan keluar," ujar Vaya yang ingin mencari tempat yang aman untuk berbicara.


Terlalu semangat karena telepon dari seseorang ini, Ivona sampai menabrak orang lain. "Maaf," ujarnya sekilas dan langsung pergi.


Wanita paruh baya yang ditabrak Vaya, sedikit kesal karena Vaya telah mengganggunya memperhatikan pria tampan yang duduk sendirian di bar. Dalam hatinya, wanita itu sedang menimbang apakah ia harus mendekati pria itu atau kah tidak. Jujur saja sudah lama ia tidak melihat pria tampan itu dan ingin pergi untuk sekadar menyapa.


"Mom." Langkahnya terhenti ketika sebuah panggilan menghampiri telinganya.

__ADS_1


"Hai, Son," balasnya menyambut anak kecil yang berlari mengarah kepadanya.


Anak itu memeluknya. "Aku tadi melihat Kakak," ujar anak itu. Wanita itu hanya tersenyum mengusap rambut putranya.


__ADS_2