
Alexander memacu mobilnya untuk menyelamatkan anak gendut yang tadi ia suruh untuk mengantarkan pesan untuk Ivona. Entah Ivona sudah membaca pesannya atau belum, tapi sekarang ia sedang menatap tidak suka pada Ivona yang terlihat mencemaskan anak gendut itu. Alexander menoleh pada Benny yang tergeletak di kursi belakang, lalu melihat Ivona di sampingnya. Ia menghela napas panjang, untuk menetralkan pikirannya.
"Apa kau bisa mengemudi lebih cepat lagi?" pinta Ivona.
Meski tidak suka dengan permintaan Ivona yang menyiratkan kecemasan, Alexander tak punya pilihan selain menjawab, "Baiklah."
Pria itu menambah kecepatan mobilnya untuk bisa segera sampai ke rumah sakit seperti keinginan Ivona. Alexander segera meminta petugas rumah sakit untuk menurunkan Benny dari mobilnya. Ivona terus saja mengikuti Benny yang dibawa ke unit kegawatdaruratan.
"Bisakah kau bersikap biasa saja," ujar Alexander di depan UGD.
Dahi Ivona berkerut. "Kenapa?"
Alexander mendengkus. "Aku tidak suka melihatnya!"
Mata Ivona semakin membuka lebar.
"Bersikaplah biasa saja, tidak perlu berlebihan seolah anak gendut itu akan mati."
"Kau ini bicara apa?" Ivona benar-benar tidak paham maksud Alexander.
"Aku tidak su ____"
"Dokter, bagaimana keadaan Benny?" Alexander belum sempat menyelesaikan ucapannya tapi Ivona memotongnya dengan pertanyaan pada dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Kau, siapa?" tanya dokter itu.
"Saya temannya dokter."
"Temanmu mengalami keracunan obat pencuci perut, dosis yang berlebihan membuatnya merasakan sakit yang luar biasa dan tubuhnya lemas karena banyak cairan yang terbuang. Tapi setelah penanganan yang tepat, sekarang kondisinya sudah lebih baik," ujar dokter itu.
"Boleh kami masuk?"
"Tentu."
"Ayo!" Ivona mengajak Alexander untuk melihat Benny, meski malas pria itu ikut masuk juga.
"Iv ...," panggil Benny dengan suara yang lemah.
"Maafkan aku, aku tidak tahu jika minuman itu mengandung obat pencuci perut," ujar Ivona.
"Ini bukan salahmu, Iv. Ini kecerobohanku, aku langsung saja meminum minuman yang bukan milikku."
"Aku tidak tahu jika minuman yang diberikan Jeany mengandung obat seperti itu."
Ivona kembali curiga. "Tunggu! minuman, obat dan Jeany?" pekik Ivona.
__ADS_1
"Iv, ini pasti konspirasi," tebak Benny. "Jeany pasti tidak suka kau menggantikannya ikut dalam kompetisi ini, karena itu ia ingin membuat kau gagal ikut dan dia bisa menggantikanmu," terang Benny.
"Sial! anak itu ingin bermain denganku rupanya!" ujar Ivona dalam hati.
"Pergilah, Iv. Jeany tidak boleh berbuat curang. Kau harus menghentikannya," suruh Benny.
"Kakak Ivona, cepat antar Ivona kembali ke tempat kompetisi."
Kakak Ivona? Menyebalkan, selalu saja menyebut seperti itu!
"Kau bisa sendiri bukan di sini?" tanya Ivona pada Benny.
Pria gendut itu mengangguk. "Aku akan menghubungi keluargaku."
Setelah merasa yakin jika Benny bisa ditinggal sendiri, Ivona langsung menarik tangan Alexander. "Ayo!"
Di tempat kompetisi, sebentar lagi acara akan dimulai. Panitia sudah memanggil satu per satu wakil dari setiap sekolah yang akan mengikuti kompetisi fisika ini. Jeany, Kelly dan Jessica berpura-pura ikut mendukung Ivona. Kelly meminta Jeany dan Jessica untuk menunggu di bangku supporter, sementara dirinya akan menemui Mr.Harry di ruang tunggu Ivona.
Sebelum Ivona dipanggil, Mr.Harry sebagai guru pembimbing ingin memberikan pesan dan dukungannya terlebih dahulu. Namun, saat ia mencari Ivona di ruang tunggu, ia tidak menemukan siapa pun. Mr. Harry bertanya pada petugas cleaning servis yang sedang melintas di depan ruang tunggu Ivona. "Maaf, apa kau melihat gadis yang ada dalam ruangan ini?"
Petugas cleaning servis itu nampak berpikir. "Aku tidak tahu, Tuan, tapi tadi aku dengar dari temanku ada yang pingsan di toilet, katanya ia adalah salah satu peserta yang akan ikut berkompetisi."
"Apa?" pekik Mr.Harry. "Oh ... maaf, terima kasih atas informasinya," ujar Mr.Harry pada petugas kebersihan itu.
Terkadang berita itu menyebar dengan simpang siur, tidak jelas kebenarannya. Seperti yang terjadi saat ini, padahal jelas-jelas yang pingsan di toilet adalah seorang pria, teman dari peserta kompetisi tapi yang tersebar justru lain.
"Ivona, bagaimana bisa ini terjadi. Kalau kau sakit, kenapa kau tidak bilang dari awal," gumam Mr.Harry.
Dalam kecemasannya, muncullah Kelly yang sudah memprediksi semuanya.
"Mr.Harry, ada apa? apa ada masalah?" tanya Kelly berpura-pura.
"Kelly, Ivona mendadak pingsan dan kita tidak memiliki wakil untuk kompetisi ini."
"Apa?" pekik Kelly. Seolah ia tidak tahu apa pun, padahal semua ini adalah rencananya. "Lalu, bagaimana sekarang, apakah tahun ini G-school akan absen karena tidak memiliki wakil?"
Mr.Harry tak bisa menjawab pertanyaan Kelly. Ia juga sedang berpikir apa solusi dari masalah ini. Tidak mungkin jika G-school tak mengirimkan wakilnya sementara ia sudah menjanjikan piala kemenangan untuk kepala sekolah.
"Kelly, bukankah tadi kau datang dengan Jeany? Dia yang selalu ikut dalam kompetisi tahunan ini bukan, bisakah kau panggil dia sekarang sebelum nama sekolah kita disebut?"
Kelly tersenyum bangga akan keberhasilan rencananya. "Tentu saja, Mr.Harry."
Sesuai rencana, Kelly segera memanggil Jeany untuk menghadap Mr.Harry.
"Ya, Mr.Harry, apakah Anda mencari saya?" tanya Jeany.
__ADS_1
"Jeany, syukurlah kau ada di saat yang tepat. Aku yakin Kelly sudah menjelaskan keadaan Ivona padamu, jadi sekarang aku harus meminta bantuanmu untuk mewakili sekolah kita. Apakah kau bersedia?"
Dengan senyum merekah, Jeany menyetujuinya. "Tentu, Mr.Harry, dengan senang hati."
"Terima kasih Jeany."
Di saat Jeany setuju, di saat itu pula nama G-school di sebut oleh panitia. Nama Ivona dipanggil sebagai wakil dari sekolah itu.
"Kita sambut wakil dari Great School, Ivona Carminda!" seru panita lomba.
"Masuklah!" suruh Mr.Harry.
Dengan bangga, Jeany menata penampilannya untuk memasuki panggung. Namun, saat ia akan melangkah Ivona menghalangi jalannya.
"Apa tadi kau tidak mendengar, yang disebut itu adalah Ivona Carminda bukan Jeany Lim. Dan itu adalah namaku!" Ivona sengaja menekankan setiap katanya.
"Ivona!"
Bukan hanya Jeany yang terkejut melihat kehadiran Ivona tapi juga Mr.Harry dan Kelly. Mereka semua menatap tidak percaya pada Ivona yang ada di hadapan mereka.
Sekali lagi terdengar panggilan dari panitia. "Kita sambut wakil dari Great School, Ivona Carminda!"
"Aku yang akan masuk, bukan kau!"
Jeany terperangah dengan sikap Ivona.
"Jangan ke mana-mana, urusan kita belum selesai!" ujar Ivona sebelum naik ke atas panggung. Ia dengan sengaja menabrak bahu Jeany.
Tak ada yang bisa Jeany dan Kelly lakukan selain menyaksikan bagaimana Ivona berhasil menjawab setiap pertanyaan dalam kompetisi itu dan keluar sebagai juara dengan nilai terbaik. Mengalahkan semua peserta dari seluruh sekolah menengah atas di Victoria.
Semua bersorak-sorai untuk kemenangan Ivona, tak terkecuali Mr.Harry yang merasa bangga akan pilihannya. Tidak salah ia melihat bakat dan kecerdasan Ivona.
"Terima kasih, Iv. Terima kasih kau sudah mempersembahkan piala kemenangan untuk G-school. Aku dan G-school sangat bangga padamu," ujar Mr.Harry.
Semua larut dalam suka cita kemenangan Ivona, kecuali Jeany dan Kelly. Jeany memilih untuk pergi dari tempat itu lebih dahulu karena tidak tahan melihat Ivona yang dielu-elukan oleh semua orang.
"Jeany, tunggu!" sergah Kelly.
"Untuk apa lagi, untuk melihat semua rencanamu gagal dan aku harus ikut bertepuk tangan atas kemenangan Ivona, begitu!"
"Jeany, tenanglah. Kita masih punya banyak kesempatan untuk membalas Ivona. Ini bukan akhir dari segalanya."
"Bukan akhir segalanya bagimu, tapi tidak bagiku. Ini akhir dari hidupku!" Jeany pergi meninggalkan Kelly dengan marah.
"Jeany!"
__ADS_1
Seruan Kelly tak digubris oleh Jeany. "Tenanglah Jeany, aku tidak akan membiarkan Ivona selalu menang!" Janji Kelly pada dirinya sendiri.