
Valia yang saat itu baru saja bangun tidur dikejutkan dengan kedatangan orang yang telah menolongnya dari kejaran polisi. Orang itu adalah dokter Austin, dokter yang dulu ia temui di sebuah acara sekolah. Dokter yang memujinya karena berbagai kemampuannya, terutama saat ia berpidato saat itu.
Dokter Austin membawanya ke tempat penelitiannya yang tersembunyi dan menjelaskan tugasnya selanjutnya.
"Kau harus merayunya agar pria serakah itu mau memberikan uangnya lebih banyak padaku. Aku butuh dana yang besar untuk penelitianku. Kau ingat janjimu, bukan?" Dokter itu mengungkit masa lalu.
"Kau berjanji akan melakukan apa pun untukku jika aku membantumu."
Valia tak ada pilihan selain menuruti perintah dokter Austin.
"Temui dia di vilanya, aku dengar ia ada di sana sekarang ini."
Valia dijemput oleh anak buah Greyson setelah dokter Austin menghubungi pria tua itu. Wanita muda itu dibawa ke vila di tengah hutan milik ahli komputasi tersebut.
Di sana, Valia kembali menjadi seorang wanita rendah yang harus melayani pria tua demi balas budi pada dokter Austin. Tak sedikit pun Valia menyukai bertemu dengan Greyson Walker. Ia selalu merasa jijik pada dirinya setelah menemui pria itu. Sama halnya seperti saat ini, selesai dengan pekerjaannya, Valia langsung masuk ke kamar mandi sembari menenteng bajunya.
Ia mengunci kamar mandi itu dari dalam karena tak sudi jika si tua bangka itu menyusulnya. Selesai ia membersihkan diri, ia mendengar suara ribut dari luar, Valia membuka pintu kamar mandi perlahan, dan melihat Greyson yang berada dalam ancaman. Seketika Valia mencari jalan keluar, untung saja kamar mandi ini memiliki jendela kaca yang besar. Ia memperhatikan ke bawah, tidak ada orang di sana, dan ia memilih terjun dari lantai dua ke semak-semak. Sakit. Tentu saja tubuhnya merasa sakit karena bukan hanya menghantam tanah tapi juga ranting dari tanaman yang tidak bisa ia lihat berhasil menggores kulitnya yang mulus.
Valia menahan rasa sakit itu, yang ada dalam otaknya sekarang adalah ia harus segera kabur. Ia tidak mau tertangkap dan mati sia-sia sebelum tujuannya tercapai. Secara sembunyi-sembunyi dan tertatih-tatih Valia berhasil kabur dari vila di tengah hutan milik Greyson.
__________________
Sehari setelah penculikan. Dokter Austin sudah ditangkap karena melakukan penelitian ilegal yang membahayakan nyawa manusia. Sang ahli komputasi yang serakah juga sudah ditangkap, ia akan diadili dengan sangkaan kasus pencurian dan mendanai penelitian ilegal. Ivona cukup lega mendengar berita itu. Satu masalah lagi telah ia selesaikan dalam kehidupannya dalam novel.
Namun, ada yang membuatnya bertanya-tanya. Saat ini, Ivona sedang duduk di balkon kamar Alexander. Sorot matanya hampa menatap jauh ke depan. Ivona sedang memikirkan alur dalam novel yang ia baca. Sudah banyak sekali plot yang berubah.
Alexander, pria itu harusnya tak tertulis dalam novel tapi justru menuliskan kisah baru dan membuatnya jatuh hati. Ivona juga memikirkan tentang akhir kisah ini, apakah akan sama dengan yang ada dalam novel meski ia sudah benyak merubah alur.
Ivona tak bisa berbagi semua ini pada siapa pun termasuk Alexander. Ia tidak bisa mengatakan jika dirinya berasal dari dunia nyata. Sampai detik ini ia belum tahu caranya kembali, dan ia juga tidak rela kembali karena Alexander.
"Nona Ivona," panggil Bibi Mina yang datang membawa nampan.
Ivona tersentak saat suara pelayan itu menariknya dari lamunan. "Iya," jawab Ivona. Ia segera masuk menemui Bibi Mina.
"Saya buatkan sup untukmu, Nona. Ini akan membuat tenagamu pulih kembali," ujar pelayan itu lembut.
"Letakkan saja di situ." Ivona menunjuk meja.
__ADS_1
"Habiskan ya Nona, karena kalau tidak dihabiskan saya akan kena marah Tuan Muda." Bibi Mina terlihat memelas.
Ivona hanya tersenyum tipis, tapi cukup untuk meyakinkan Bibi Mina dan membuatnya keluar dari kamar ini. Ivona duduk di sofa, memandangi semangkuk sup yang masih mengepulkan asapnya itu. Aroma sup itu juga menggugah selera, tapi entah kenapa tangannya malas untuk meraihnya.
Ivona masih memikirkan soal akhir kisahnya dalam dunia novel ini. Akankah ia akan selamanya di sini ataukah ia akan kembali. Ia bingung dan ragu jika harus memilih.
"Kau belum menyentuh supmu?" Suara Alexander yang baru saja masuk membuat Ivona mendongak menatap pria tampan itu.
Alexander berjalan menghampiri Ivona. Ia duduk tepat di samping gadis itu. "Kenapa belum kau makan, apa kau tidak suka?"
"Tidak ... tidak ...."
Dahi Alexander berkerut dalam. Jawaban Ivona membingungkan.
"Tidak, bukan begitu maksudku. Aku suka tapi supnya masih terlalu panas," bohongnya.
Alexander melihat asap yang mengepul di atas mangkok. Ia lalu meraih mangkok tersebut dan menyendoknya untuk Ivona.
"Buka mulutmu!" ujarnya lembut.
Alexander menyeruput sedikit dari kuah sup itu lalu kembali menyodorkannya pada Ivona. "Sudah tidak panas."
Karena Alexander sudah membuktikannya, Ivona akhirnya membuka mulut. Suapan demi suapan Alexander berikan hingga satu mangkok sup itu tandas oleh Ivona.
Di setiap suapan, Ivona tak berhenti menatap pria itu. Sikapnya yang selalu manis membuat Ivona tak dapat berpaling. Ia juga tidak rela jika harus meninggalkan pria ini begitu saja.
"Anak pintar." Alexander mengusap pucuk kepala Ivona sebelum meletakkan kembali mangkok itu ke atas meja.
"Kau mau tambah?" tawar Alexander.
Ivona menggeleng. "Sudah cukup."
Mereka terdiam beberapa saat. Alexander menatap Ivona dengan intens.
"Ada apa?" Ivona bingung dengan tatapan Alexander.
Tanpa kata, pria itu tiba-tiba menarik Ivona dalam pelukannya. Alexander mendekap gadis itu erat. Ivona yang masih tidak paham bertanya, "Kenapa, ada apa dengan mu?"
__ADS_1
Alexander tak menjawab, ia justru mengecup kepala kekasihnya.
"Alexander ...," lirih Ivona.
"Stttt ... jangan banyak bicara. Aku ingin menikmati semua ini," potong Alexander.
Ivona pun terdiam menuruti apa kata Alexander. Prianya itu begitu erat memeluk tubuhnya, kehangatan begitu terasa dalam rengkuhan lengan Alexander. Ivona benar-benar terbuai dengan sikap Alexander ini. Sama seperti yang Alexander katakan, Ivona pun memejamkan mata untuk menikmati pelukan yang entah sampai kapan bisa ia rasakan.
"Andai kau tau, kau membuatku tak ingin keluar dari dunia ini," batin Ivona. "Aku rela terperangkap dalam dunia khayal ini jika itu bersamamu."
Mereka saling menikmati kehangatan yang tercipta. Rasa cinta dan kasih sayang yang membuat mereka tak ingin melepaskan satu sama lain.
"Aku ingin menikah denganmu."
Mata Ivona sontak membuka lebar mendengar ucapan Alexander.
Menikah?
Apa Ivona tidak salah dengar?
Alexander ingin menikahinya?
"Bagaimana, apa kau mau menemaniku hingga tua. Aku ingin kita selalu seperti ini. Saling mendekap hingga maut memisahkan."
Siapa pun, tolong bangunkan Ivona. Ini pasti mimpi. Alexander mengajaknya hidup bersama!
"Aku mencintaimu Iv, di setiap kehidupan kau dilahirkan."
Ivona tak tahu harus menjawab apa karena sekarang tubuhnya justru membeku bagai es.
"Iv ...." Alexander mengurai rengkuhannya. Ia menatap manik indah sang kekasih. "Kau mau, 'kan?"
Ivona ingin sekali berteriak kalau ia mau menikah dengan pria di depannya ini. Siapa yang akan menolak pria serupa dewa seperti Alexander.
"Iv ...," panggil Alexander lagi.
Astaga ... kenapa di saat seperti ini sensor motoriknya bergerak lambat. Ivona bahkan tak bisa untuk sekadar menganggukkan kepala.
__ADS_1