IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.60 Hadiah Untuk Kakek


__ADS_3

"Sudahlah, Pa, tidak usah membuat masalah ini jadi besar. Lagi pula Kakek dan Kak Thomas benar, Ivona adalah putri kandung keluarga Iswara dan tidak ada yang bisa merubah hal itu," ucap Vaya untuk menghentikan perdebatan antara Thomas dan Tuan Iswara.


Vaya benar-benar hebat dalam berakting dan mengendalikan emosi. Tidak ada yang bisa melihat jika saat ini dalam hatinya tengah berkobar api amarah yang siap membakar siapa saja dengan kata-katanya, tapi tidak, Vaya memilih untuk mengubur dalam-dalam api amarah itu, dan jika saatnya nanti dia akan menghanguskan semua dengan kobaran kemarahan yang ia pendam.


Nyonya Iswara dan Tuan Iswara menatap Vaya dengan iba, betapa besar hati Vaya dalam menyikapi semua ini. "Sayang, kau memang putri yang luar biasa." Nyonya Iswara mengusap lembut lengan Vaya.


"Semua berkat bimbingan, Mama dan Papa." Vaya menatap Tuan dan Nyonya Iswara secara bergantian dengan senyum yang terlihat tulus.


Nyonya Iswara tidak tahan untuk tidak meraih Vaya dalam dekapannya dan mencium kepala putri kebanggaannya itu. "Terima kasih, Sayang. Kau telah membawa kedamaian dalam keluarga ini," ucap Nyonya Iswara yang bisa di dengar oleh semua yang ada di sana.


Thomas menatap jengah pada sikap Vaya, gadis itu membuatnya muak dengan aktingnya. Sementara Ivona hanya bisa memutar bola matanya dengan malas, ia sudah bosan melihat kepura-puraan Vaya.


Vaya melepaskan diri dari rengkuhan Nyonya Iswara, ia menatap kotak hadiah yang sedari tadi ia pegang. "Kakek, aku ada sesuatu untukmu," ucap Vaya, sembari mengulurkan hadiahnya.


Nampaknya Tuan Besar Iswara sengaja mengabaikan Vaya. Di saat yang bersamaan, Tuan Besar Iswara justru berkata, "Baiklah Ivona, ayo kita makan. Kau pasti sudah lapar bukan setelah seharian beraktifitas."


Kembali, Vaya harus menambah stok sabarnya. Ia tidak boleh kehilangan kendali atas dirinya saat menghadapi orang tua ini. Vaya hanya bisa menelan kekecewaannya karena tidak dianggap oleh Tuan Besar Iswara. Meski begitu, ia tetap bisa tersenyum, menatap Ivona yang mengangguk setuju dengan ajakan Kakek, dan melihat Tuan Besar Iswara menarik Ivona menuju ruang makan.


Tidak hanya sampai di situ, hatinya semakin memberontak untuk membalas semuanya, saat Kakek meminta Ivona untuk duduk di samping kursi utama.


"Duduklah di sini," ujarnya pada Ivona.

__ADS_1


"Terima kasih, Kek," jawab Ivona tersenyum.


Melihat hal ini, tatapan Vaya langsung dipenuhi rasa iri dan marah. Pasalnya kursi yang ditempati Ivona saat ini adalah kursi untuk cucu kesayangan Tuan Besar Iswara. Dulu, saat dirinya menjadi yang paling disayangi di keluarga Iswara, dirinya bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk duduk di kursi itu. Namun sekarang ia harus melihat Ivona duduk di sana, dan itu pun atas permintaan Kakek sendiri.


"Kau harus makan yang banyak Ivona, agar kau tetap sehat. Bukankah kegiatanmu di sekolah yang sekarang sangat padat?" ujar Kakek.


"Iya, Kek."


Ivona dan yang lainnya menunggu pelayan untuk menyajikan makan malam mereka. Tidak ingin membuang kesempatan, sekali lagi Vaya mencoba untuk memberikan hadiah pada kakek.


"Kek, ini hadiah untuk Kakek," ucap Vaya hati-hati, takut kalau akan membuat Tuan Besar Iswara itu kembali marah.


"Aku sendiri yang telah memilih hadiah ini untuk Kakek, semoga Kakek senang menerimanya," sambung Vaya, masih dengan nada hati-hati yang sama.


Kakek kembali menatap Vaya. Sebenarnya Kakek menyadari jika Vaya adalah anak yang berbakti dan baik. Akan tetapi, karena Tuan dan Nyonya Iswara menunjukkan sikap yang lebih menyayangi Vaya, dan mengabaikan Ivona, membuat Tuan Besar Iswara marah.


Melihat senyum kebahagiaan di wajah ayah mertuanya, membuat Nyonya Iswara kembali merasa berada di atas angin. "Apa Ayah suka?" tanya Nyonya Iswara.


"Aku yakin selera Vaya tidak pernah salah jika itu menyangkut ornamen perak kesukaan Ayah. Vaya sendiri yang memilihnya untuk Ayah," imbuhnya untuk menarik perhatian Tuan Besar Iswara.


Ya ... kali ini, harus diakui jika pilihan Vaya untuk memberi hadiah Tuan Besar Iswara sangatlah tepat. Tuan Besar Iswara tidak akan mungkin menolak hadiah ornamen perak kesukaanya.

__ADS_1


"Vaya sudah menunjukkan baktinya sebagai cucu dengan memberikan hadiah yang disukai Ayah, lalu hadiah apa yang dibelikan Ivona untuk Ayah?" tanya Nyonya Iswara dengan sengaja, karena ia tahu saat datang tadi Ivona tidak membawa apa pun.


"Bagaimanapun, Ivona adalah cucu kesayangan Ayah pasti dia sangat tahu apa yang Ayah sukai dan yang Ayah inginkan," sindir Nyonya Iswara.


Tuan Besar Iswara seketika beralih menatap Ivona.


"Maafkan aku, Kakek. Aku tidak membelikan apa pun untuk menyambut kedatangan Kakek," ucap Ivona menyesal.


Melihat ekspresi Ivona yang nampak sedih, Thomas seakan tidak bisa tinggal diam. "Bagaimana Ivona bisa membelikan hadiah untuk Kakek, apa lagi jika hadiah itu senilai dengan ornamen perak yang Vaya pesan dari luar negeri. Tentu saja Ivona tidak akan sanggup," sindir Thomas yang ditujukan untuk Nyonya Iswara.


Tuan Besar Iswara langsung menatap Thomas, tidak mengerti arti yang tersirat dalam kalimat sarkas Thomas.


"Iya, Kakek ... uang jajan Ivona tidaklah sebesar uang jajan yang diberikan kepada Vaya, sebab itu Ivona tidak bisa membelikan hadiah untuk Kakek, terlebih jika harus membeli ornamen perak kesukaan Kakek. Ivona tidak akan sanggup. Tapi itu bukan salah Ivona, yang tidak ingin menyiapkan hadiah untuk Kakek. Aku yakin, sebenarnya Ivona juga ingin membuat Kakek bahagia dengan memberi Kakek hadiah, tapi mau bagaimana lagi jika Nyonya keluarga ini tidak memberinya uang jajan yang cukup," jelas Thomas.


Tuan Besar Iswara cukup terkejut dengan apa yang Thomas katakan. Tatapannya langsung tertuju pada Ivona yang lebih memilih untuk menunduk. "Apa itu benar, Ivona?"


"Tentu saja benar, Kek. Aku tidak akan berani bicara dusta pada Kakek," sela Thomas mewakili Ivona.


"Apa itu benar?" Kini tatapan Kakek beralih pada Nyonya Iswara.


Nyonya Iswara tidak berani membuka suaranya, ia pun menunduk takut akan pertanyaan dan tatapan marah ayah mertuanya.

__ADS_1


"Apa itu benar. Apa semua yang dikatakan Thomas itu benar, jawab!" Tuan Besar Iswara menghentak meja dengan tangannya. Ia kembali murka mendengar sikap menantunya yang tidak berubah, masih saja bersikap tidak adil pada Ivona.


__ADS_2