
Seketika ucapan Thomas membuat suasana sekitar menjadi sunyi. Sebenarnya Tuan dan Nyonya Iswara merasa sangat bersalah pada Ivona, tapi mereka tidak bisa merubah kebiasaan mereka untuk tidak menyayangi Vaya. Bagaimanapun, Vaya adalah anak yang mereka asuh sejak bayi, akan sangat mustahil untuk mengabaikannya begitu saja. Sehingga tanpa mereka sadari sikap mereka justru menyakiti Ivona, putri kandung mereka sendiri.
Vaya merasa jika ucapan Thomas telah mempengaruhi Ayah dan Ibunya saat ini. Ia juga melihat jika ketiga kakaknya pun sudah berubah sikap terhadapnya. Dulu, tidak akan ada yang memikirkan Ivona, tapi sekarang mereka semua sangat perhatian pada Ivona.
Tidak, Vaya tidak akan membiarkan ini berlangsung terus-menerus. Ia adalah putri keluarga ini, yang berhak mendapat cinta dan perhatian dari seluruh anggota keluarga dari dulu sampai kapan pun. Ia tidak akan mengijinkan siapa pun merebut apa yang yang menjadi miliknya sejak dulu, sekali pun itu Ivona.
"Ivona," panggil Thomas yang melihat Ivona turun.
Tuan dan Nyonya Iswara menoleh sebentar melihat Ivona yang sudah berjalan ke arahnya. Ivona mengambil duduk di sebelah Thomas.
"Sudah berkumpul semua, bukan? ayo kita mulai makan," ajak Tuan Iswara.
Vaya melirik tidak suka pada Ivona yang duduk di seberangnya. Terlebih saat Tuan Iswara mencoba akrab dengan Ivona.
"Kenapa kau tidak pulang bersama Vaya, Iv?" tanya Tuan Iswara.
"Tidak ingin," jawab Ivona singkat dan malas, bahkan tak melihat sama sekali pada Tuan Iswara yang tengah mengajaknya berbicara.
"Kalian bisa pulang dan pergi bersama dengan satu mobil, bukankan itu menyenangkan bisa pergi dengan saudari kalian?" ujar Tuan Iswara masih berusaha mencairkan suasana.
"Kau tidak keberatan, 'kan, Sayang, jika Ivona bersamamu?" tanya Tuan Iswara pada Vaya.
__ADS_1
Vaya yang sedari tadi menahan marah pada Ivona, tersentak kaget saat tiba-tiba Tuan Iswara mengajukan pertanyaan padanya. "Ah ... i-itu, ya. Tidak masalah untukku," jawab Vaya terbata. Ia berusaha menyembunyikan rasa bencinya pada Ivona.
"Kau dengar, Vaya tidak keberatan jika kau pergi bersama dengannya ke sekolah." Tuan Iswara menatap Ivona.
"Kurasa tidak perlu," jawab Ivona masih tertunduk.
Tuan dan Nyonya Iswara menatap Ivona yang tertunduk. Semakin dilihat, semakin mereka merasa bersalah pada gadis itu. Ivona tumbuh dan berkembang tanpa bimbingan dan kasih sayang orang tua, menjadikan karakter gadis ini sangat jauh berbeda dengan Vaya.
Perasaan bersalah Nyonya Iswara tergambar jelas di wajahnya, hal itu tertangkap oleh Ivona yang diam-diam melirik wanita yang seharusnya memberikan cinta dan kasih sayang kepadanya itu. Menangkap hal itu tidak membuat Ivona merubah cara pandangnya pada wanita yang masih terlihat cantik meski sudah berumur itu, justru muncul kilatan mengejek di tatapan Ivona yang datar. Dalam hatinya ia tahu, jika rasa bersalah wanita itu palsu.
Suasana kembali menjadi dingin, saat kecanggungan mengisi kembali ruang makan itu. Ivona yang merespon singkat setiap pertanyaan Tuan Iswara membuat ayah kandung Ivona itu kesulitan. Mereka memang tidak terlalu akrab dengan Ivona, dan saat Tuan Iswara mencoba akrab dengan Ivona, putrinya itu justru terlihat malas menanggapi.
Demi membuat suasana menjadi hangat kembali, Tuan Iswara terus mencoba, ia bertanya kepada Ivona, "Apakah kau ingin menghadiri acara ulang tahun tetua dari keluarga Smith?"
Terlihat jelas sekarang bahwa rasa bersalah Nyonya Iswara tidak lebih besar dari rasa sayangnya kepada Vaya. Semua perasaan bersalah yang sebelumnya ia tampilkan, hanyalah palsu belaka menurut pandangan Ivona. Kini wanita itu membuktikannya sendiri.
Thomas yang mendengar dan merasakan arti dari ucapan ibunya pun turut bicara, "Ivona juga bagian dari keluarga ini, dia juga merupakan Nona Muda Iswara. Sudah sepantasnya Ivona ikut ke acara tersebut."
Meski begitu, Nyonya Iswara tetap tidak terima. Ia bersikeras melindungi Vaya. "Tidak, aku tidak setuju. Hanya Vaya yang dikenal sebagai Nona Muda Iswara. Bagaimana mungkin kita akan membawanya, lalu bagaimana juga kita akan memperkenalkannya pada semua orang," tolak Nyonya Iswara.
Penolakan Nyonya Iswara pada Ivona membuat Thomas ingin sekali menyuarakan isi hatinya, memberitahu ibunya jika Ivonalah putri yang baik bukan Vaya.
__ADS_1
"Bu, Ivona juga an____"
"Aku belum siap dengan hujatan orang, jadi mengertilah Thomas," potong Nyonya Iswara cepat.
"Bu, kita bisa menjelaskannya pelan-pelan. Aku yakin masyarakat akan mengerti."
"Aku bilang tidak, tetap tidak!" ujar Nyonya Iswara bersikeras.
Thomas mengembuskan napas kasar. "Kau tidak bisa melakukan ini pada Ivona. Ivona juga an____"
Ivona tertawa dingin, membuat Thomas tak melanjutkan kalimatnya. Nyonya Iswara juga menatap pada Ivona yang tertawa.
"Tidak usah berdebat, aku tidak tertarik sama sekali untuk pergi ke acara seperti itu," ucap Ivona dingin.
Meski ia bisa tertawa di depan keluarga ini, dalam hatinya ia begitu prihatin dengan si pemilik tubuh asli. Bagaimana bisa pemilik tubuh asli ini memiliki kesabaran yang luar biasa menghadapi penolakan keluarganya. Ia bahkan mampu bertahan selama ini dengan perlakuan menyakitkan yang dilakukan keluarganya sendiri. Sedangkan dirinya saja yang baru tinggal beberapa hari bersama keluarga ini merasa muak dan orang-orang ini.
"Kau lihat, Ivona tidak ingin pergi ke acara itu," ujar Nyonya Iswara.
"Lagi pula Roy juga akan hadir di sana, dan yang disukai Roy adalah Vaya bukan Ivona," sambungnya masih tetap melindungi Vaya.
Ivona sudah tidak tahan lagi mendengar setiap ucapan Nyonya Iswara yang begitu membela Vaya. Naf su makannya pun menghilang tak bersisa. Akan lebih baik jika ia pergi dari ruangan itu dan meninggalkan orang-orang memuakkan ini.
__ADS_1
"Aku tidak tertarik dengan acara itu maupun dengan Roy!" Ivona kemudian pergi meninggalkan ruang makan.
Melihat Ivona yang beranjak, Tuan Iswara bertanya, "Ke mana kau akan pergi?"