IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.82 (Masih) Berebut Ivona


__ADS_3

"Kalau begitu, selesaikan masalah Ivona secepatnya," ujar Marcus.


"Anda tidak perlu khawatir, Tuan Marcus. Kami akan menyelesaikan masalah ini sekarang juga, kami juga akan meminta maaf pada anak bernama Ivona."


Mendengar jawaban dari wakil direktur, membuat Marcus puas. "Oh, ya ... kau juga harus merahasiakan masalah identitas Ivona. Aku tidak ingin ada yang tahu identitas pelaku kekacauan yang terjadi."


"Semua keinginan Anda akan kami penuhi, Tuan Marcus. Tidak akan ada yang tahu tentang siapa pelaku kekacauan yang sebenarnya, kami akan menjaga dengan baik rahasia tentang anak bernama Ivona."


Setelah mendengar pernyataan dari wakil direktur, Marcus merasa lega. Kemudian ia mengakhiri panggilan vidio call tersebut.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menutup teleponnya. Semoga kita bisa bekerja sama di lain kesempatan," pamit Marcus.


"Tentu, Tuan," jawab wakil direktur sebelum layar ponselnya tak lagi menampakkan gambar Marcus karena panggilan yang terputus.


"Wallton," panggil wakil direktur itu pada sekretarisnya.


"Ya, Tuan."


"Buat pengumuman kalau masalah kemarin itu adalah karena BUG. Serta kedepannya tidak boleh memuat topik apa pun yang berhubungan dengan gadis bernama Ivona," ujarnya pada sang sekretaris.


"Baik, Tuan." Sekretaris itu mengangguk paham.


Wakil direktur kemudian menatap seluruh peserta rapat yang tadi sempat ia abaikan karena perbincangannya dengan Marcus. "Dan kalian semua yang hadir di sini, yang tadi ikut mendengarkan pembicaraanku dengan Tuan Marcus, jangan sampai pembicaraan tadi tersebar, terlebih soal anak yang tadi disebut oleh Tuan Marcus. Kalian paham?"


"Ya, Tuan," jawab mereka semua serempak.


"Aku akhiri rapat kali ini sampai di sini, kembali bertugas dan normalkan kembali sistem. Kalian semua boleh keluar kecuali Sam."


Semua yang tadi mengikuti rapat langsung keluar, seperti perintah wakil direktur. Hanya Sam yang masih tinggal di ruangan itu berdua dengan pemimpinnya.


"Aku ingin kau mencari kontak gadis bernama Ivona sekarang juga."


"Baik, Tuan." Sam langsung mengambil komputernya, lalu mencari data tentang gadis bernama Ivona yang menjadi tranding topik tadi. Tidak butuh waktu yang sangat lama untuk Sam menyelesaikan perintah atasannya.


"Ini, Tuan. Ini adalah nomor gadis bernama Ivona yang tadi menjadi tranding topik."


"Hubungi dia sekarang juga, aku ingin bicara dengannya."


Sam mengambil telepon lalu menekan nomor milik Ivona.


Ivona baru saja akan keluar dari kantor Alexander, baru sampai di loby kantor saat ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar. Ia melihat nomor tanpa nama yang tertera di layar ponselnya. Ivona mencurigai jika panggilan itu bukanlah dari orang yang ia kenal.

__ADS_1


"Tunggu," sergah Ivona agar Alexander berhenti.


"Kenapa?" tanya pria itu.


"Aku ingin ke toilet sebentar," ujar Ivona.


"Baiklah, aku akan menunggumu di sini."


"Tidak, kau tunggu aku di mobil saja, aku akan menyusulmu ke sana."


Alexander menatap Ivona curiga, dan hal itu bisa ditangkap oleh Ivona. Demi menghilangkan kecurigaan Alexander, Ivona yang berdiri tepat di samping Alexander langsung berjinjit agar bibirnya bisa menjangkau telinga pria itu. "Mendadak aku ingin buang air kecil, kau pasti tidak akan suka jika aku mengompol di mobil," bisiknya pada Alexander.


Pria tampan itu langsung tersenyum, mendengar bisikan pengakuan Ivona. "Baiklah, aku tunggu kau di mobil. Jangan lama-lama," pesannya sebelum Ivona pergi.


Ivona mengerlingkan matanya dan memperlihatkan jarinya yang membentuk tanda 'ok'. Baru ia berlari menuju toilet.


Alexander menatap gadis itu sampai menghilang dari pandangannya, kemudian berlalu ke tempat di mana mobilnya di parkir.


Setelah sampai di toilet, Ivona langsung mengangkat panggilan tanpa nama itu.


"Halo," sapa Ivona dingin.


"Ada tujuan apa kau meneleponku?" Ivona masih bersikap dingin, tentu ia harus waspada pada orang-orang seperti Sam.


"Pimpinan kami ingin berbicara dengan Anda, Nona."


Ivona diam, tapi ia menunggu Sam memberikan teleponnya pada atasannya.


"Halo, Ivona. Aku adalah Dom, wakil direktur di institut komputer nasional," ucap Dom memperkenalkan diri.


"Sebelumnya, salam kenal dariku," ujar Dom selanjutnya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Ivona dengan gayanya yang tidak suka bertele-tele.


"Aku hanya ingin menyampaikan permintaan maaf pada mu atas berita yang menjadi tranding topic, yang mana berita itu telah lmencatut namamu. Aku tidak menyangka jika karena berita itu akan muncul masalah besar, tapi kau ti_____"


"Katakan saja apa yang kau inginkan?" potong Ivona cepat. Ivona bisa menduga, orang ini pasti mengetahui tentang dirinya dari Marcus, dan ia juga yakin tidak mungkin orang sekelas wakil direktur perusahaan besar seperti Dom menghubunginya hanya untuk sekadar minta maaf.


Di ujung telepon sana, Dom tertawa dengan pertanyaan Ivona, dan mengakui kecerdasan Ivona yang mampu menangkap maksudnya. "Kau memang anak yang cerdas, aku suka dengan anak muda berbakat seperti dirimu."


"Jangan bertele-tele," sela Ivona lagi.

__ADS_1


"Baiklah, aku ingin kau bergabung dengan institut komputer nasional. Kau bisa mewujudkan mimpimu menjadi seorang ahli bersama dengan institut kami, dan yang terpenting adalah kau bisa menggunakan kepandaianmu untuk negaramu."


Sudah Ivona duga, pasti ini yang akan terjadi jika identitas dan keahliannya diketahui orang.


"Aku akan memikirkannya nanti," jawab Ivona. "Jika sudah tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, aku akan menutup teleponnya," ujar Ivona.


"Baiklah, kau pikirkan baik-baik tawaranku tadi. Aku yakin kau tidak akan kecewa jika bergabung dengan kami di tim nasional."


"Selamat sore," ucap Ivona sebelum mematikan panggilan itu.


Ivona segara memasukkan ponselnya ke dalam tas miliknya, dan bergegas menyusul Alexander yang menunggu di mobil.


Di kantor komputer nasional, wakil direktur itu tersenyum-senyum sendiri setelah berbicara pada Ivona. Ia mulai tertarik dengan gadis muda itu, caranya berbicara dan kemampuan yang dimiliki Ivona adalah poin menarik yang membuat wakil direktur semakin yakin untuk mengajak Ivona bergabung ke dalam timnya.


Wakil direktur belum beranjak dari duduknya, ketika ada panggilan lagi untuk dirinya.


"Halo, Tuan Greyson," sapanya pada seorang peneliti senior di negara itu.


"Halo, aku ingin tahu apa yang terjadi hari ini, siapa pelaku yang menyebabkannya. Apa kau sudah menyelidikinya?" todong Greyson.


Wakil direktur itu kembali gugup menanggapi pertanyaan Greyson, yang merupakan seniornya di bidang komputasi.


"I-iya, Tuan. Saya memang sudah menyelidikinya dan sudah menemukan pelakunya," jawab wakil direktur itu jujur. Ia tidak berani menyembunyikan informasi pada Greyson.


"Siapa orang yang sudah berani membuat kekacauan di tempat kita?" tanya Greyson dengan nada arogan.


"Dia adalah anak yang menjadi tranding topik hari ini, seorang anak SMA dengan bakat luar biasa, Tuan. Dia adalah an_____"


"Siapa dia, apa dia seorang hacker baru. Berasal dari negara mana orang itu?" potong Greyson sebelum penjelasan wakil direktur selesai.


"Dia adalah warga kita, Tuan, tapi saat ini dia bekerja sama dengan Tuan Marcus."


"Marcus, Marcus kepala institut di negara tetangga, maksudmu?"


"Anda benar, Tuan."


"Bagaimana bisa Marcus merekrut orang dari negara kita?"


"Saya juga tidak tahu, Tuan, tapi anak ini memang memiliki kemampuan yang luar biasa, hingga patut untuk direkrut," jelas wakil direktur.


Di tempatnya, Greyson menahan geram akan penjelasan wakil direktur. Ia tidak menyangka ada orang dengan kemampuan luar biasa di bidang komputasi di negaranya dan dia kalah cepat mengetahui hal itu, dan membuat Marcus —yang merupakan saingannya—merebut orang berbakat di wilayah itu.

__ADS_1


__ADS_2