IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.96 Menghindar


__ADS_3

Ivona berjalan mengendap-endap menuruni tangga Villa Alexander. Layaknya pencuri, ia selalu melihat keamanan dari sisi kanan dan kiri, depan dan belakang. Ia benar-benar tidak ingin ketahuan oleh siapa pun terutama Alexander.


Sejak tadi malam, saat mereka baru saja pulang dari restoran Jepang. Ivona jadi merasa canggung untuk berhadapan dengan pria itu. Berdekatan dengan Alexander sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Pria rupawan serupa dewa itu membuatnya jadi salah tingkah saat harus beradu pandang.


Ivona terus berjalan sembari mengatur langkahnya agar tak terdengar, matanya selalu waspada memperhatikan sekitar. Namun, setelah berhati-hati tetap saja ada yang menangkap basah dirinya.


"Aaww," pekik Ivona saat ia menabrak Bibi Mina.


"Nona mau pergi ke mana?" selidik Bibi Mina saat melihat Ivona sudah berpakaian seragam rapi di hari yang masih terlalu pagi.


"Sstttt." Ivona meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya agar Bibi Mina tidak berbicara keras.


Ivona menoleh ke atas melihat kamar Alexander. "Aku akan ke sekolah, tolong katakan pada Tuan Alexander kalau malam ini aku tidak akan pulang."


Bibi Mina mengernyit heran. "Memangnya, Nona Ivona mau ke mana?"


"Aku ada urusan mendadak. Sudah ya, Bi ... aku berangkat dulu." Ivona segera berlari meninggalkan Villa Alexander.


Matahari bahkan belum menampakkan sinarnya, tapi Ivona sudah pergi dari Villa di pinggiran Victoria itu. Ivona menghentikan taksi untuk membawanya ke sekolah. Di dalam angkutan umum itu, Ivona memikirkan di mana nanti malam ia akan tidur. Ia ingin menghindar dari Alexander untuk sementara waktu dan tidak ingin pulang ke rumah keluarga Iswara, lalu ke mana ia akan pulang nanti.


Ah ... Ivona memang suka mencari masalah sendiri. Kenapa ia harus mempedulikan perasaan aneh yang mulai muncul akhir-akhir ini. Alexander membuatnya merasakan hal yang tak biasa bagi seorang gadis sepertinya.


"Nona, ini sudah sampai," ujar supir taksi yang membuat Ivona tersadar.


"A-apa?" Ivona menoleh keluar jendela. "Ah ... ya." Ivona gugup sendiri hanya karena suara supir taksi.


Astaga Ivona, enyahkan nama Alexander dari pikiranmu jika kamu masih ingin terlihat waras.


Ivona bergegas turun setelah menyerahkan sejumlah uang pada supir taksi. "Terima kasih."


Ia berjalan menuju kelasnya sendirian, dalam otaknya masih dipenuhi pertanyaan ke mana ia akan pulang nanti malam. Sekolah masih sangat sepi, Ivona adalah siswa pertama yang datang.


Ada seorang petugas cleaning servis yang menatapnya aneh saat Ivona berjalan menyusuri koridor untuk sampai ke kelas G. Mungkin karena ia datang ke sekolah begitu awal. Ivona langsung menuju kelasnya, menunggu sendirian di sana.


Langit semakin terang, semakin banyak juga siswa yang datang, tapi ia tidak memperhatikan siapa saja yang datang setelahnya. Tahu-tahu kelas sudah penuh dan pelajaran pun dimulai.


Ivona menjalani seharian ini dengan konsentrasi yang terpecah. Alexander benar-benar mampu mengacaukan hati dan otaknya. Sampai jam pulang sekolah ia belum menemukan tempat di mana ia akan pulang.


"Hai, Iv. Boleh aku pulang bersamamu?" Beny mendadak muncul dari arah belakang Ivona saat ia baru saja keluar kelas.

__ADS_1


"Terserah kau saja," jawab Ivona malas.


Beny tersenyum senang mendengar persetujuan Ivona. "Kau naik apa, apa kau dijemput kakakmu lagi?" Beny menoleh pada Ivona yang berjalan di sampingnya.


"Aku tidak tahu."


Beny mengerutkan dahinya, bingung akan jawaban Ivona. "Kalau kau tidak dijemput, bagaimana jika aku mengantarmu." Sedikit ragu, tapi Beny berusaha memberanikan diri.


Ivona berhenti, lalu menoleh menatap Beny. "Aku tidak tahu mau pulang ke mana, bagaimana bisa kau akan mengantarku?"


"Maksudmu, kau tidak punya tempat untuk pulang?" Beny sedikit terkejut.


Ivona mengangguk.


"A-apa kau mau menginap di rumahku?" tawar Beny dengan takut. Iya, Beny takut Ivona salah paham dengan niatnya.


Ivona menatap tajam Beny.


"Ma-maafkan aku, Iv. Aku hanya ingin membantumu, aku tidak ada maksud lain," terang Beny sebelum Ivona marah.


"Apa kau serius?"


"Ya?"


"Te-tentu sa-saja jika kau setuju." Beny sampai tergagap menjawab pertanyaan Ivona.


Sudut bibir Ivona melengkung ke atas. "Baiklah, ayo kita ke rumahmu," ujar Ivona cepat. Gadis itu langsung berjalan lebih dulu meninggalkan Beny di belakang.


"Hei ... cepatlah!" seru Ivona yang menoleh pada Beny yang masih terpaku di tempat.


"I-iya." Beny masih tidak percaya jika Ivona akan menginap di rumahnya malam ini. Pria gendut itu berusaha berlari mengejar Ivona dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


Di belakang Beny, ada William yang sedari tadi memperhatikan Interaksi antara Ivona dan pria dnegan julukan monster gendut itu. Ada rasa iri dalam hati William, si monster gendut pria yang tidak punya teman itu justru bisa menjadi teman dari Ivona.


"Iv ... bisakah kau pelan sedikit, aku tidak bisa mengikuti langkahmu," seru Beny saat Ivona berjalan dengan cepat dan meninggalkannya.


Mendengar seruan Beny, Ivona berhenti, lalu menoleh ke belakang di mana Beny tertinggal. "Bergeraklah agar kau lebih sehat," ujar Ivona dengan berseru juga.


Masih saja meninggalkan Beny, Ivona kembali berjalan menuju lobi sekolah. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Tommy berdiri menunggunya tepat di tempat yang kemarin.

__ADS_1


"Iv ...." Tommy berjalan menghampiri Ivona. "Maafkan aku," ujarnya setelah berdiri tepat di depan Ivona.


"Kau mau memaafkan aku, 'kan?"


Ivona menatap Tommy yang merasa bersalah. Mungkin ini saatnya ia harus bersikap lebih lunak pada kakak keduanya ini. Seperti kata Alexander kemarin Tommy hanya ingin melindunginya saja.


"Iv ...," lirih Tommy.


Akhirnya Ivona mengangguk.


Tommy begitu bahagia, Ivona telah memaafkannya. Secara spontan pria itu langsung memeluk Ivona. "Terima kasih, Iv."


"Aku berjanji, aku hanya ingin kakak yang baik untukmu," lirih Tommy masih memeluk Ivona.


Sikap Tommy yang dirasa Ivona berlebihan membuat gadis itu mendorong tubuh Tommy pelan. "Jangan seperti ini, aku tidak ingin jadi bahan gosip."


Tommy hanya bisa nyengir, ia sungguh tidak kuasa menahan kebahagiaannya. "Maafkan aku."


"Kau mau pulang?" tanya Tommy canggung.


Ivona kembali mengangguk.


"Aku antar ya, aku tahu di mana Villa Alexander. Aku bisa mengantar ____"


"Ti-tidak," potong Ivona cepat. "Aku tidak ingin menginap di Villa Alexander malam ini."


"Kenapa?"


"Setelah kupikir-pikir, aku merasa tidak enak hati jika harus selalu merepotkannya," bohong Ivona.


Tommy mengerti sekarang. "Apa kau mau pulang?"


Ivona menggeleng.


"Kenapa?"


"Tidak ada yang menyukaiku di sana."


Seketika raut Tommy berubah marah. Ia sudah mendengar semua dari Thomas. "Iv, jika bersama ku, apa kau mau pulang. Aku jamin, kali ini tidak akan ada yang berani berlaku buruk pada mu."

__ADS_1


Ivona menatap Tommy ragu. Ia malas sekali bertemu orang-orang yang tidak pernah menganggapnya ada.


"Iv ...." Tommy berusaha meyakinkan melalui sorot matanya.


__ADS_2