
Akhirnya hari kelulusan itu tiba. Acara perayaan yang mewah seperti yang dijanjikan oleh sekolah digelar juga. Semua siswa khususnya kelas G, menyambutnya dengan suka cita. Tahun ini adalah tahun yang tak terduga bagi sejarah G-school. Ada hal yang membuat G-school gempar, kasus kekerasan yang dilakukan oleh siswa mereka hingga diseret ke ranah hukum adalah hal yang sebelumnya belum pernah terjadi. Begitu pun dengan peraih nilai tertinggi tahun ini, yang diraih oleh Ivona—si anak pindahan—yang awal kepindahannya dikabarkan sebagai anak dengan kecerdasan di bawah rata-rata, namun mampu membuat semua orang terperangah dengan kecerdasannya yang tak terlihat.
Bukan hanya pihak sekolah saja tapi keluarga Iswara pun dibuat tercengang dengan nilai yang diraih Ivona. Bahkan Vaya yang dulu mereka bangga-banggakan sebagai anak yang pintar pun belum pernah meraih nilai seperti yang Ivona dapatkan saat ini. semua nilai Ivona berada dalam katagori sempurna. Atas hal itu, Ivona berkesempatan untuk memberikan pidato singkat mewakili seluruh teman-temannya.
"Selamat malam semua," sapa Ivona mengawali pidatonya.
"Salam hormat saya sampaikan kepada Mr.Albert selaku kepala sekolah Great Grammar School, sekolah yang kita semua banggakan. Salam hormat juga saya sampaikan kepada kepada seluruh guru yang telah mendedikasikan ilmunya untuk mencerdaskan seluruh anak didiknya. Tidak lupa saya sampaikan salam hormat pula kepada seluruh orang tua yang telah memberikan dukungan dan cintanya kepada kita semua penerus masa depan.
Di sini saya ingin sedikit bercerita tentang sebuah perjuangan untuk seseorang bisa sampai di titik yang ia inginkan. Saya bukanlah anak yang terlahir dengan kecerdasan luar biasa, tapi saya adalah anak yang berusaha untuk menjadi luar biasa.
Saya yakin semua anak terlahir istimewa dengan kelebihannya masing-masing. Untuk itu, kita hanya perlu mencari tahu di mana kelebihan kita dan kita kembangkan untuk menjadi nilai lebih dalam diri kita. Kita tepiskan dulu segala kekurangan yang hanya akan membuat kita merasa rendah diri. Kita fokus saja pada kelebihan kita hingga hal itu membuat kita sampai pada titik yang kita inginkan ...." Setiap kata-kata Ivona mempu menyihir para hadirin.
Berdirinya Ivona di atas panggung itu membuat keluarga Iswara bangga, terutama Kakek. Mereka semua bertepuk tangan ketika Ivona menyelesaikan pidatonya dan turun dari panggung. Setiap orang menyapa Ivona, mengucapkan selamat atas keberhasilannya dalam prestasi belajarnya.
Acara pun berlanjut dengan acara hiburan dari para siswa G-school. Mereka semua hanyut dalam persembahan yang memukau mata mereka. Hanya Ivona yang merasakan keanehan dalam dirinya. Serasa ada yang hilang dalam momen kali ini.
Alexander. Pria itu adalah bagian yang seakan hilang dalam kebahagiaan Ivona kali ini. Sejak Ivona diantar pulang ke rumah keluarga Iswara, Alexander sama sekali tak terlihat dan tak pernah pula menghubunginya.
"Selamat untuk mu, Iv," ujar William kala Ivona berniat meninggalkan pesta.
"Terima kasih." Hanya jawaban singkat itu yang Ivona ucapan, setelahnya gadis itu memilih untuk pergi meninggalkan William.
Satu kesempatan lagi telah William sia-siakan. Dulu, ia gagal mengungkapkan perasaannya, kali ini pun sama saja. Melihat sikap Ivona membuat William semakin ragu untuk mengatakan pada Ivona tentang apa yang ia rasakan pada gadis itu. Sikap Ivona yang terlihat biasa-biasa saja membuatnya takut untuk kembali berjuang.
Ivona memilih keluar dari hall diadakannya acara. Ia ingin menyendiri. Ivona mengeluarkan ponselnya, ia mencari kontak Alexander. Menatap nama dalam layar pipih itu, tapi ragu untuk menekan ikon hijau bergambar telepon.
Ivona memejamkan matanya sembari menarik napas dalam. Cukup lama, hingga sebuah suara yang ia harapkan membuatnya membuka matanya lebar.
__ADS_1
"Apa kau menungguku?"
Ivona membuka mata seketika. Berbalik melihat sumber suara yang begitu jelas di telinganya. Ia terkesiap melihat sosok yang telah menghilang beberapa waktu dari hidupnya.
"Apa kau merindukanku?" ucapnya lagi.
Lidah Ivona mendadak kelu. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika itu juga. Nyawanya melayang entah ke mana, karena tubuhnya tak mampu lagi bergerak. Semua semakin parah ketika pria itu memeluk Ivona sembari berbisik, "Aku merindukanmu."
Tak mampu bergerak, tak mampu berkata-kata. Ivona hanya terdiam dalam rengkuhan yang sudah lama tidak ia rasakan. Ivona masih belum percaya jika ini semua adalah nyata.
Tidak adanya respon dari Ivona membuat Alexander mengurai pelukannya. "Iv, kau masih hidup, bukan?" candanya untuk membuat Ivona tersadar.
"K-kau?" lirih Ivona.
Alexander mengangguk. "Ya, ini aku."
"Kembali?"
"Kau masih tidak percaya?" Alexander melihat keanehan pada reaksi Ivona saat melihatnya. "Baiklah, aku buktikan." Sekonyong-konyong Alexander mencubit pipi Ivona, hingga gadis itu memekik sakit.
"Apa yang kau lakukan, hah!" sentak Ivona karena Alexander benar-benar mencubitnya.
"Aku hanya ingin menyadarkanmu," jawab Alexander lugas. Ia tersenyum melihat Ivona yang mengusap-usap pipinya yang merah.
Untuk sesaat mereka diam, tapi pandangan mereka tidak lepas satu sama lain.
"Aku datang ke mari untuk melihatmu berpidato di acara kelulusan. Aku senang kau menjadi juara di G-school. Aku bangga padamu." Alexander mengacak rambut Ivona.
__ADS_1
Ivona yang tadinya merajuk menjadi luluh karena sikap manis Alexander. Ia pun meraih tangan Alexander yang masih ada di atas kepalanya.
"Alex, kau ke mana selama ini?" tanya Ivona saat menurunkan tangan Alexander.
Alexander tertawa. "Alex, sejak kapan kau memanggilku begitu?" goda Alexander.
"Tidak usah dijawab!" delik Ivona. Ia berpaling dari Alexander, dan akan pergi dari pria itu. Namun Alexander bergerak lebih cepat. Ia mencekal tangan Ivona dan menarik gadis itu kembali dalam pelukannya.
"Jangan buru-buru pergi, aku masih merindukanmu," bisik Alexander tepat di telinga. Ivona.
"Aku suka kau memanggilku begitu, tapi aku lebih suka kau memanggilku 'Sayang'."
Ivon langsung mendorong tubuh Alexander, dan direspon pria itu dengan tawa. Menggoda Ivona selalu menjadi mood booster baginya.
"Kenapa, ada yang salah?"
"Kau lupa berapa umurmu?" cibir Ivona.
Alexander kembali menarik Ivona, kali ini lengannya melingkari pinggang ramping gadis itu. "Apa kau punya masalah dengan berapa umurku?"
Ivona menggeleng. Tentu ia tak punya masalah dengan umur Alexander yang berbeda jauh darinya.
"Berapa pun umurku, aku akan selalu berusaha memperlakukanmu dengan baik." Kalimat yang baru saja terucap dari bibir Alexander membuat Ivona terus menatap pria itu. Pandangan mereka saling mengunci seolah tak ingin lepas satu sama lain.
"Tuan Alexander," ucap seorang wanita yang baru saja tiba.
Ivona langsung melepas tangan Alexander yang melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
"Oh ... maaf, aku tidak bermaksud menggangu kalian," ujar wanita itu.
"Siapa dia?" Ivona ingin tahu, siapa wanita yang memanggil Alexander ini. Setahunya Alexander tak pernah bersama wanita mana pun. Lalu wanita ini?