
Satu minggu sudah Ivona tinggal di kediaman keluarga Ryder. Hubungannya dengan Helena dan Evan semakin dekat, tapi tidak dengan hubungannya dengan Aldrich. Kejadian di kamar mandi kala itu membuat mereka justru merasa canggung untuk saling berinteraksi. Lebih tepatnya Ivona yang merasa canggung, bukan Aldrich. Gadis itu sebisa mungkin menghindar dari Aldrich dalam situasi apa pun untuk meminimalisir ingatannya akan malam tak terduga itu.
Berangkat ke kantor dan pulang kantor, Ivona lebih memilih untuk diantar supir tidak ingin satu mobil dengan Aldrich. Jarang bertegur sapa meski mereka tinggal di kamar yang sama. Anehnya, tanpa diminta Aldrich justru memilih tidur di sofa. Mungkin pria itu sadar diri jika hubungan mereka belum sedekat itu untuk tidur satu ranjang.
Namun malam ini, Ivona tak bisa lagi menghindar saat Helena memintanya untuk jadi pendamping Aldrich menghadiri suatu undangan pesta dari kolega bisnisnya. Helena sendiri yang mendandani Ivona, mulai dari pemilihan gaun hingga make up, semua Helena yang atur.
"You look so beautiful, Honey," puji Helena setelah Ivona sudah selesai berdandan.
"Kau pasti akan membuat semua mulut orang yang hadir di pesta ternganga melihat kecantikanmu." Helena kembali memuji Ivona dengan berlebihan.
"Mommy," teriak Evan yang baru saja masuk ke kamar Aldrich. "Wow, Mommy, you like a Princess."
Helena mengangguk setuju, sementara Ivona geleng-geleng kepala. Anak kecil dan neneknya ini sama-sama pandai memuji orang lain.
"Boleh aku memelukmu?" ujar Evan. Anak itu memang semakin dekat dengan Ivona.
Tanpa menjawab Ivona langsung merentangkan tangannya, dan tak lagi menunggu Evan segera mendekap Ivona.
"Sudah ... sudah, nanti Mommy-mu terlambat ke pesta," tukas Helena.
Evan pun melepaskan Ivona dan mengantarnya turun menemui Aldrich yang menunggu di bawah. Belum sampai ke pesta ucapan Helena sudah menjadi kenyataan. Bukan orang lain, melainkan putranya sendiri yang ternganga melihat kecantikan Ivona. Bak tersihir akan paras ayu dan laku anggun Ivona yang tengah menuruni tangga, tatapan Aldrich tak beralih walau sedetik pun. Pria itu menatap Ivona tanpa kedip.
"Daddy," panggil Evan ketika sampai di depan Aldrich, tapi pria itu tak acuh dengan bocah yang memanggilnya itu. Sebab fokus Aldrich masih pada kecantikan Ivona yang luar biasa.
"Daddy!" teriak Evan hingga membuat Aldrich berjingkat.
"Hei, kenapa kau berteriak?" Aldrich yang kaget sedikit marah, sementara Ivona hanya tersenyum dengan tingkah Evan.
"Aku memanggilmu dari tadi tapi kau tak mendengarkannya." Evan menunduk melihat kemarahan Aldrich.
"Ada apa?" tanya Aldrich melembut saat melihat Evan yang tertunduk.
Suara Aldrich menjadi pertanda bahwa pria itu tidak benar-benar marah. Hal itu membuat Evan tersenyum kembali. Anak kecil itu meraih tangan Aldrich kemudian tangan satunya meraih tangan Ivona dan menyatukannya.
"Jaga Mommy baik-baik, jangan sampai ada yang menculiknya," ujar Evan.
Aldrich dan Ivona sama-sama mengernyit akan apa yang Evan katakan. Melihat kebingungan keduanya, Evan meminta Aldrich menunduk, ia ingin membisikkan sesuatu. Aldrich menurut saja, ia merendahkan tubuhnya agar bisa setara dengan tinggi Evan. Ia memasang telinga baik-baik untuk mendengar apa yang anak kecil itu ingin sampaikan.
"Apa Daddy tidak melihat kalau Mommy terlihat seperti seorang putri? Karena itu jangan biarkan ada pangeran lain yang menculiknya. Kau harus menjaga Mommy baik-baik, karena aku tidak ingin Mommy yang lain selain Mommy Ivona," bisik Evan.
__ADS_1
Meski terdengar nyeleneh tapi apa yang Evan bilang benar juga. Ivona memang cantik malam ini. Terbukti jika Aldrich sendiri terpukau akan penampilan Ivona, jadi tidak menutup kemungkinan juga akan ada pria yang berusaha untuk mendekatinya. Seperti kata Evan, ia harus menjaga Ivona dari pria mana pun yang berusaha melirik Ivona.
"Ok," jawab Aldrich kembali menegakkan badannya.
"Ok, hati-hati di jalan." Evan melambaikan tangannya saat Ivona dan Aldrich berangkat.
Mereka hanya berangkat berdua, karena Helena ingin memberikan kesempatan putranya itu untuk semakin dekat dengan Ivona. Di dalam mobil Ivona terus terdiam, ia tidak bisa berpura-pura akrab pada Aldrich. Hingga sampai ke tempat acara pun Ivona tetap membisu. Namun, ia mampu berakting dengan baik. Saat Aldrich mulai membuka pintu untuknya dan membimbingnya untuk masuk ke tempat acara, Ivona selalu mengukir senyum di bibirnya.
Kala banyak mata mulai menatapnya, ia mampu memerankan dengan apik perannya sebagai pasangan Aldrich Ryder. Persis seperti apa yang Helena katakan, banyak mata menatapnya dengan kekaguman. Banyak juga yang mulai membicarakannya yang sembuh dari koma. Bukan rahasia tentang kabar dirinya yang terbaring koma karena kecelakaan dan krisis perusahaannya. Kini untuk pertama kalinya ia tampil bersama dengan Aldrich Ryder, pengusaha muda yang masyur dalam dunia bisnis.
Tak sedikit yang mulai menggunjing tentang akan adanya pernikahan aliansi antara keluarga Howard dengan keluarga Ryder. Meski begitu, Ivona tak pernah ambil pusing dengan berbagai gosip di dunia bisnis. Ia tetap melangkah dengan yakin seolah tak tahu apa pun tentang cibiran-cibiran orang di belakangnya.
Ia dengan luwes menemani Aldrich menyapa setipa kolega yang ia temui. Ini bukan dunia baru bagi Ivona, sebab itu sudah banyak orang yang ia kenal di antara mereka. Hanya ada beberapa yang munkin ia lewatkan saat ia terbaring koma.
Tahu wanita yang digandenganya haus, Aldrich langsung membawa Ivona ke bar station. Ia memesan satu minuman non alkohol untuk Ivona.
"Minumlah." Aldrich menyodorkan minuman itu pada Ivona. "Tunggu di sini, aku akan menemui yang lain dulu," ujarnya sebelum meninggalkan Ivona sendiri di bar station.
Ivona mengambil duduk tepat di depan bartender. Ia melihat bagaimana aksi bartender meracik minuman sembari menikmati minuman yang tadi diberikan Aldrich. Kenyamanannya mulai terganggu ketika seorang pria yang ia kenal mulai duduk di sampingnya dan menyapanya.
"Halo, Nona Ivona. Lama sekali kita tidak bertemu. Kau masih terlihat sama cantiknya meski baru bangun dari koma. Ah ... tidak, kurasa kau bertambah cantik sekarang," ujar pria yang membuat Ivona tidak suka karena rayuannya.
Ivona memutar bola matanya malas mendengar setiap bualan pria ini.
"Kalau saja dulu kau menerimaku, kau tidak akan pernah terbaring koma. Kita bahkan sudah menikmati kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan." Ia kembali tertawa.
"Aku mendengar orang membicarakanmu dengan Aldrich Ryder. Apa benar kau dan Aldrich menjalin hubungan?"
Jangankan menjawab, menggubris saja Ivona enggan.
"Kalau kau sekarang bersama dengan Aldrich Ryder, lalu kenapa dulu kau dan ayahmu menolakku. Bukankah sama-sama menjualmu demi mempertahankan kekayaan ayahmu?"
Ivona ingin menampar mulut pria ini, tapi ia tidak ingin membuat keribuatan di acara orang lain. Oleh karena itu ia abaikan saja kata-kata Axton Whesley yang kurang ajar. Yah, pria ini adalah Axton Whesley. Pria yang begitu menginginkan Ivona hingga menjebak Felix Howard.
"Aku juga bisa memberimu harta yang berlimpah jika saja kau menerimaku. Kenapa harus menjual dirimu pada Aldrich Ryder."
Tak ingin lagi mendengar segala bualan pria menjengkelkan ini, Ivona meletakkan gelasnya ke atas meja dan berdiri dari bangkunya. Lebih baik jika ia pergi dan tak melihat wajah pria ini.
Baru saja Ivona berdiri, tangan pria itu berani mencekalnya. "Tunggu, kau mau ke mana?"
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu!" Ivona menatap tajam Axton Whesley.
"Kenapa kau marah, aku hanya bicara soal masa lalu. Dan aku masih bersedia menerimamu jika kau ingin bersamaku."
"Jangan pernah bermimpi!" Ivona menyentak tangan Axton Whesley agar terlepas dari tangannya.
Axton ikut berdiri dan akan menahan Ivona lagi tapi aldrich segera datang. Pria itu langsung berdiri di antara Ivona dan Whesley.
"Hai, Bung, kenapa kau suka mengganggu milik orang lain, hah?" ujar Aldrich memegang tangan Whesley yang akan kembali menahan Ivona.
Whesley menatap geram pada Aldrich yang nenganggunya.
"Jangan sampai aku mematahkan tanganmu Tuan Whesley!" ancam Aldrich. Sama seperti Ivona yang menghempaskan tangan Whesley, Aldrich pun melakukan hal serupa.
"Hei, kau. Jangan jadi pahlawan karena kau bukanlah siapa-siapa dari Ivona."
Mendengar ucapan Whesley membuat seorang Aldrich Ryder tertantang. Ia seolah harus membuktikan sesuatu pada pria ini tentang status hubungannya dengan Ivona.
Dengan seringai di bibirnya, Aldrich Ryder menarik tangan Ivona menuju panggung. Ia abaikan Whesley yang menatapnya seperti pengecut karena pergi begitu saja.
"Hey, kita mau ke mana?" lirih Ivona tapi masih bisa terdengar oleh Aldrich.
"Diamlah, kau akan lihat semuanya."
Aldrich langsung naik ke panggung dan merebut mikrofon secara paksa dari seorang MC pria yang tengah memandu acara. Di atas panggung dan disaksikan banyak mata yang memandangnya. Dengan lantang Aldrich berkata, "Selamat malam semuanya, maafkan aku jika telah berlaku tidak sopan di tengah-tengah acara ini. Aku hanya ingin meminta waktu kalian sedikit saja," ujarnya dengan tangan kiri yang tak lepas dari menggandeng Ivona dan tangan kanan memegang mikrofon.
"Perkenalkan, namaku adalah Aldrich Ryder. Mungkin di atara kalian sudah banyak yang mengenalku. Aku ingin memperkenalkan seseorang yang sangat Istimewa dalam hidupku." Aldrich menoleh pada Ivona yang berdiri tepat di sisinya.
Ivona justru bingung dengan apa yang akan Aldrich lakukan di atas penggung ini.
"Dia adalah Ivona, dan aku begitu mencintainya. Saat ini kami sedang menjalin hubungan, kami sedang dalam proses penjajakan, tapi sebentar lagi aku akan mengirimkan undangan pernikahanku pada kalian."
Semua mata yang tertuju pada Aldrich semakin tercengang. Apa yang sebelumnya mereka perbincangkan akan menjadi kenyataan.
"Jadi kalian tahu bukan artinya? Ivona adalah milikku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun berusaha mencuri perhatian darinya, terutama kau, Whesley!" Aldrich menunjuk Axton Whesley yang masih berdiri di dekat meja bar.
Aldrich menarik Ivona untuk lebih dekat. tangan yang tadi menggandeng tangan Ivona kini melingkar di pinggang ramping wanita yang begitu memesona itu. Tanpa aba-aba sebelumnya pria itu mencium Ivona di hadapan semua orang yang hadir di pesta.
Tidak hanya tamu undangan yang kaget setengah mati melihat kelakuan Aldrich Ryder, karena Ivona jauh lebih kaget. Gadis itu mendadak mematung. Matanya membelalak lebar kala ia merasakan bibirnya menyatu dengan bibir Aldrich Ryder. Tubuhnya tak mampu bergerak walau sejengkal.
__ADS_1
Ivona apa yang kau lakukan? ayo sadarlah, kenapa kau diam saja!