IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.84 Bahan Pergunjingan


__ADS_3

Terus berjalan dan bersikap tak acuh pada mereka yang suka bergosip tentang dirinya adalah langkah bijak yang Ivona pilih. Meladeni mereka sama halnya dengan bersikap bodoh, membuang-buang waktu dan tenaga. Meski tahu selalu jadi bahan pergunjingan, Ivona masih tetap bisa sabar, ia akan menunggu sampai seseorang itu melewati batasan mereka, jika itu terjadi jangan tanya apa yang bisa Ivona perbuat. Pastinya hal yang tidak pernah di duga oleh orang yang berani menyenggolnya.


Langkahnya terus melebar, menyusuri lorong lorong panjang demi segera sampai ke kelas G. Hal yang tidak ia sangka ketika ia baru saja menapakkan kakinya di kelas unggulan itu. Ivona


mendengar suara Beny yang marah-marah membela dirinya.


"Hei, apa kalian sudah lebih baik dari Ivona hingga bisa menjelek-jelekkannya seperti tadi, hah!" hardik Beny pada murid perempuan yang tengah bergosip tentang Ivona.


"Memangnya apa urusanmu jika kami menggunjing tentang anak haram itu. Apa kau mau jadi pahlawan kepagian untuknya?" jawab seorang siswi, kemudian diikuti tawa oleh teman-teman penggosip lainnya.


"Kau salah, dia bukan pahlawan bagi Ivona si anak haram, tapi monster gendut ini adalah anjing penjilat milik anak haram itu," timpal siswi lainnya. Tawa mereka semakin pecah, mendengar ejekan yang terlontar untuk Beny.


"Hei, monster ... untuk apa kau membela si anak haram itu, apakah demi mendapatkan cintanya ... upsss," ujar siswi yang lainnya lagi, dan mereka kembali tertawa.


"Oh ... jadi monster gendut ini, jatuh cinta pada anak haram itu. Uh ... kasian sekali, kau pikir anak haram yang kau bela itu mau menerima cinta dari seorang monster seperti mu!" ejek orang yang pertama mengolok Ivona.


"Bahkan anak haram saja tidak sudi menerima monster gendut sepertimu, jadi apa yang kau harapkan, hah!"


"Dasar ja lang, mulut kalian benar-benar keterlaluan!" sentak Beny.


Salah satu dari siswi itu maju, mendekatkan tubuhnya dengan Beny. Matanya menatap tajam pada pria gendut yang baru saja mengatai dirinya dan teman-temannya. "Kau bilang apa tadi?" serunya tepat di depan muka Beny.


Beny sempat mundur beberapa langkah, tubuhnya sedikit gemetar, saat teman perempuannya semakin dekat dengannya. "A-aku bilang kalian semua ja lang!" jawab Beny terbata. Sejujurnya ia takut menghadapi amukan dari para gadis ini, tapi ia harus bisa memberanikan diri demi Ivona.


Gadis yang berdiri tepat di depan Beny itu menoleh pada teman-temannya sembari menyeringai. "Kalian dengar, monster gendut ini menyebut kita sebagai ja lang, kira-kira hukuman apa yang pantas kita berikan untuk monster ini agar sadar diri."


"Bukankah dia seekor anjing penjilat, suruh saja dia menjilat debu di sepatu kita," seloroh satu siswi, dengan menunjukkan sepatu yang menjadi alasnya.

__ADS_1


Teman lainnya pun tertawa. "Itu ide yang bagus, mumpung tadi pagi aku belum sempat mengelapnya," imbuh siswi lainnya.


"Kau dengar, Monster?" ujar wanita yang berdiri tepat di hadapan Beny.


Beny menahan rasa takutnya, ia berusaha membalas tatapan tajam gadis di depannya. "Ka-kau pikir aku takut, aku tidak sudi melakukan perintah ja lang seperti kalian!" balas Beny.


"Lihatlah, Monster gendut kita sekarang sudah mulai berani. Pasti anak haram itu bukan, yang mengajarimu!"


"Berhenti kalian semua menyebut Ivona anak haram, dia bukan anak haram seperti yang kalian gosipkan!" hardik Beny sekali lagi.


Entah apa yang dipikirkan oleh siswi kelas itu, mereka tidak sedikit pun takut dengan suara keras Beny. Mungkin karena sebelumnya Beny adalah korban perundungan, makanya mereka tidak ada takut sama sekali.


"Memang apa yang bisa kau lakukan jika kami tidak mau berhenti menyebut anak pindahan itu anak haram, hah!"


Beny terdiam, selain memikirkan jawaban yang tepat untuk membalas para gadis penggosip ini, ia juga memikirkan ketakutannya jika para gadis ini mendadak menyerangnya secara bersama-sama.


"Beny mungkin tidak bisa melakukan sesuatu pada kalian, tapi aku bisa melakukannya." Suara Ivona membuat semua siswi yang tengah fokus pada Beny, langsung memutar tubuhnya. Menatap Ivona yang terpaku di ambang pintu.


"Yes, i'am," jawab Ivona. "By the way, aku mendengar semua yang kalian ucapkan tentang ku," sambung Ivona.


Mereka semua semakin kaget, tidak menyangka Ivona bisa mendengar semua yang mereka pergunjingkan tentang gadis itu. Itu berarti, Ivona sudah sampai sedari tadi.


"Kenapa kalian begitu kaget, ayo katakan lagi. Aku ingin dengar sekali lagi, bagaimana kalian tadi mengolokku," tantang Ivona.


Beberapa dari mereka ada yang merasa ketakutan. Mereka takut Ivona akan melakukan hal di luar nalar, seperti apa yang dulu gadis itu lakukan pada teman mereka—Yossua.


Ivona berjalan mendekati mereka, dan beberapa dari mereka membawa langkahnya mundur, sebab tak ingin bernasib sama dengan Yossua.

__ADS_1


"A-apa yang akan kau lakukan?" tanya salah seorang dari siswi yang ketakutan.


Ivona hanya tersenyum miring dengan terus berjalan menghampiri mereka. Belum juga sampai langkah Ivona pada gadis-gadis yang telah menyinggungnya, bel tanda masuk sudah berbunyi. Suara itu membuat semua siswa langsung bergegas ke meja mereka masing-masing.


Dari beberapa siswi itu ada yang merasa lega karena diselamatkan oleh keadaan, bel sekolah membuatnya tak harus merasakan kegilaan Ivona. Namun, ada juga dari mereka yang masih saja menyindir Ivona.


"Anak haram selalu cocok jika berteman dengan anjing penjilat," sindir salah satu siswi itu dari tempat duduknya.


"Tentu saja, siapa juga yang mau berteman dengan seorang anak yang dihasilkan dari hubungan gelap jika bukan seekor anjing. Cih ... mereka sama-sama rendah," timpal teman semeja siswi itu.


"Setidaknya, anak haram ini bisa berguna bagi orang lain, dan tidak suka merendahkan teman sendiri. Tidak seperti anak yang katanya dari keluarga terhormat tapi kelakuan tak ubahnya seperti sampah masyarakat," balas Ivona.


Mendengar balasan Ivona membuat siswi yang tadi menyindir Ivona langsung bangkit. "Apa kau bilang?" sentak siswi itu.


Ivona juga ikut berdiri. "Aku bilang, kalian tidak lebih dari sekadar sampah masyarakat!" Ivona sengaja menekankan kata sampah untuk membalas mereka.


"Dasar anak haram, kau mau cari ribut denganku, hah!" teriak siswi itu.


"Aku tidak keberatan kalau harus menyumpal mulut busukmu itu dengan sampah," jawab Ivona.


Di saat mereka sedang beradu mulut, tiba-tiba wali kelas masuk dan memarahi mereka yang begitu ribut. "Diam!" sentak Mr.Patrick.


"Apa yang kalian ributkan, apa kalian tidak bisa bersikap baik walau sehari saja. Terutama kau!" Mr.Patrick menunjuk pada Ivona.


"Bisakah kau tidak membuat keributan di sekolah ini, terutama di kelas ini?" ujar Mr.Patrick.


Mendengar tuduhan Mr.Patrick membuat Ivona semakin marah. Kelakuan teman-temannya saja membuat ia muak, ditambah dengan guru yang selalu menyudutkannya, tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Aku tidak bisa!" jawab Ivona.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menindas ku dan menginjak-injak harga diriku!" tegas Ivona pada wali kelas. Sikap yang baru saja ditunjukkan Ivona terhadap wali kelas, dianggap lebih kurang ajar dari William. 


"Kau ...!" geram Mr.Patrick.


__ADS_2