IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.106 Diusir


__ADS_3

Wanita itu masih berdiri di ambang pintu dengan sorot curiga pada Alexander dan Ivona.


"Mom, Kapan kau datang?" tanya Alexander.


Ivona menoleh pada pria itu, kemudian beralih menatap wanita yang dipanggil Ibu oleh Alexander. Otaknya dengan cepat mengingat wajah wanita ini. Tidak salah lagi, wanita ini adalah wanita yang dulu ia temui saat pertama kali Alexander membawanya pulang ke mansion megah nan mewah.


"Kau bisa jelaskan semuanya, Alex?"


"Mom, semua tidak seperti yang kau pikirkan. Aku_____"


"Ada hubungan apa antara kau dan gadis ini?" potong wanita itu cepat.


"Kami hanya ______" Ah ... Alexander bingung harus menjawab apa. Ia sendiri belum memberi nama pada hubungan antara dirinya dan Ivona.


Melihat Alexander yang kesulitan menjawab, Ivona berinisiatif membantu. "Maafkan saya jika telah membuat Anda berpikir keliru, sebenarnya saya dan Tuan Al____"


"Aku tidak sedang mengajakmu bicara!" sentak wanita tersebut.


Seketika Ivona terdiam. Rupanya, niatnya untuk membantu Alexander menjawab adalah sebuah kesalahan. Sorot mata wanita ini tidak berubah dari pertama kali Ivona melihatnya, masih sama dinginnya.


"Mom!" balas Alexander menyentak ibunya. "Kau tidak perlu ikut campur ada hubungan apa aku dengan Ivona, karena aku bukan anak kecil lagi yang harus melapor padamu tentang setiap hal yang kulakukan."


Wanita itu menatap marah pada Alexander pun dengan Ivona. Sorot tidak suka tergambar jelas di wajahnya.


"Ayo, Iv!" Alexander langsung menarik Ivona untuk pergi, untung dengan cepat Ivona bisa menyambar tas berisi laptop miliknya.


Alexander melewati ibunya begitu saja, sedangkan Ivona hanya bisa menundukkan kepala sebagai tanda permintaan maaf karena merasa tidak sopan telah mengabaikan orang tua. "Maaf," lirih Ivona ketika lewat dihadapan ibu dari Alexander.


Wanita itu terus menatap Ivona. Kejadian yang sama terulang kembali. Alexander mengabaikannya demi gadis ini. Tadinya ia tidak percaya ketika Mina—pelayan setianya— melaporkan padanya tentang berita besar, jika Alexander telah membawa seorang gadis tinggal di Vila miliknya. Padahal selama ini, putra sulungnya itu selalu menolak dijodohkan, ia bahkan sudah mengirim puluhan wanita untuk menarik hati Alexander, tapi semua gagal. Dari puluhan wanita itu, tidak ada satu pun yang berhasil memikat putranya.


Sejak dari pesta keluarga Smith, Nyonya Alberic semakin penasaran dengan wanita yang sedang dekat dengan putranya itu. Karena di sana, untuk pertama kalinya Alexander terlihat bahagia dengan seorang gadis. Hal yang mematahkan prasangka-prasangka dirinya tentang orientasi s*ksual putranya.


Alexander terus membawa Ivona keluar. "Masuklah," suruh Alexander.


Ivona yang tidak mengerti menatap Alexander dengan dahi berkerut.


"Biarkan supir yang mengantarmu, hari semakin gelap, akan lebih aman jika kau diantar sampai ke rumah keluargamu," ujar Alexander menjawab pertanyaan Ivona.


"Bagaimana dengan Ibumu?"

__ADS_1


"Itu akan jadi urusanku, pergi dan selesaikan urusanmu!" Alexander mendorong tubuh Ivona untuk masuk ke dalam mobil.


"Cepat jalan!" titahnya pada supir.


Ivona membuka kaca jendelanya, lalu menatap Alexander dengan perasaan yang sulit ia terjemahkan. "Aku pasti akan kembali," ujar Ivona spontan, sembari melambaikan tangannya pada Alexander.


Pria itu tersenyum menatap kepergian Ivona dan membalas lambaian tangan gadis itu.


Di dalam mobil, Ivona langsung mengeluarkan ponselnya. Berita besar tentang Vaya sudah menyebar ke seluruh penjuru Victoria. Ia pun melihat komentar-komentar para netizen yang merasa kecewa dengan Vaya.


[Ternyata Vaya adalah anak yang dibesarkan karena kesalahan.]


[Tidak kusangka jika Vaya adalah seorang anak pungut.]


[Anak pungut saja banyak tingkah!]


[ Selama ini ternyata kita mengidolakan ular berbisa. Sudah dirawat dan dibesarkan, sudah besar malah jadi penghancur keluarga.]


"Kurasa ini cukup untuk membuatmu tersadar!" gumam Ivona, kemudian menutup ponselnya.


Tidak terasa, ia sudah sampai di kediaman besar Iswara. Supir yang mengantarkannya pun langsung kembali ke tempat Alexander. Ivona menatap gerbang tinggi rumah keluarganya itu. Terakhir ke tempat ini, ia justru kembali dengan air mata.


Ivona menarik napas dalam. Ia berusaha melupakan semuanya, fokusnya sekarang adalah kakeknya. Ivona mulai melangkah pelan, hingga ia tiba di ruang tamu mansion itu.


"Dasar anak tidak tahu diuntung!" Sebuah tamparan melayang ke pipi Vaya.


"Ampun, Pa. Aku tidak tahu menahu soal rekaman itu, aku yakin ada seseorang yang berniat buruk padaku dan merekayasa semua berita bohong itu. Aku juga tidak pernah berhubungan lagi dengan Ayah kandungku." Vaya berlutut memohon ampun.


"Ma, Mama percaya Vaya, 'kan? Bukan Vaya pelakunya, Ma. Semua rekaman itu palsu!"


Nyonya Iswara memilih untuk berpaling. Jujur ia tidak tega melihat Vaya diperlakukan kasar oleh suaminya, tapi ia tidak berdaya karena perbuatan Vaya sendiri.


"Ma, please ... percaya sama Vaya, Ma." Vaya mengiba, bulir bening tak surut dari kedua matanya.


"Dengar ini ... dengar ini baik-baik!" seru Tuan Iswara.


"Halo, kau ke mana saja. Aku meneleponmu dari tadi," cerocos Vaya dengan tidak sabar.


"Maafkan aku, Vaya, aku sedang sibuk."

__ADS_1


"Ah ... sudahlah, aku tidak ingin mendengar alasanmu. Aku ingin kau membantuku!" sentak Vaya.


"Bantuan?" tanya orang diseberang telepon.


"Ya ... bantuan, aku ingin memberikan pelajaran bagi keluarga Iswara!" jawab Vaya tegas.


"Apa?" tanya orang di ujung telepon tak percaya.


"Aku sudah bosan melihat Ivona selalu dielu-elukan, Ayah. Aku ingin menghancurkannya sekarang juga!"


"Apa yang ingin kau lakukan Vaya?"


"Keluarkan semua bukti bahwa Ivona pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Biarkan saja semua tahu jika Ivona adalah gadis gila."


"Beritakan juga kalau masuknya Ivona ke rumah sakit jiwa itu karena keluarganya sendiri."


"Vaya, kalau kau menyinggung keluarga angkatmu itu tidak akan baik untukmu, Nak."


"Ah ... aku tidak peduli. Lakukan saja apa yang aku suruh! Sewa seorang yang hebat untuk melakukannya, jangan sampai terjadi kekacauan seperti dulu itu!"


"Vaya, apa kau sudah memikirkan baik-baik semuanya. Bukankah Tuan Besar Iswara sedang sakit, bagaimana jika ia terguncang dengan berita yang akan kau sebarkan ini. Katamu, dulu ia pernah marah saat tahu Ivona masuk ke rumah sakit jiwa, apa lagi sekarang nama besar kelurganya akan dipertanyakan banyak orang."


"Aku tidak peduli dengan kakek tua itu, syukur-syukur dia bisa segera mati karena berita ini."


Tuan Iswara langsung mematikan rekaman itu. "Kau dengar, kau berusaha menghancurkan keluarga yang telah memberimu hidup selama ini!"


"Pa, bukan aku pelakunya. Bisa saja 'kan semua suara itu direkayasa agar terdengar seperti suaraku. Aku tidak akan pernah mungkin melakukannya. Aku sangat menyayangi keluarga ini." Vaya terus saja menyangkal.


"Ma, tolong Vaya. Katakan pada Papa jika semua ini salah paham. Bukan Vaya pelakunya." Vaya beringsut, kini ia berlutut di kaki Nyonya Iswara. "Ma ...." Vaya terus memasang wajah memelas meminta pertolongan dari Nyonya Iswara.


Tidak tahan melihat Vaya yang begitu menyedihkan, Nyonya Iswara memilih untuk pergi meninggalkan Vaya dan suaminya.


"Mama ...."


"Keluar kau dari rumahku!" usir Tuan Iswara.


"Tidak, Pa ... kumohon." Vaya masih berusaha agar tidak diusir.


"Pergi atau aku panggil keamanan untuk menyeretmu keluar!" bentak Tuan Iswara.

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain, Vaya pun berdiri dan meninggalkan ruang tamu. Ia sempat berpapasan dengan Ivona yang melihat semua kejadian tadi. Vaya mendelik tajam pada Ivona, tapi ia tidak bisa berbuat apa pun selain menahan amarahnya pada gadis itu.


Ivona tersenyum menyeringai melihat kemarahan Vaya.


__ADS_2