IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.37 Perundungan 1


__ADS_3

Merasa tak ada yang ingin mengajaknya bergabung, Ivona tetap memilih duduk di tempat biasanya. Ia berjalan melewati Mr.Patrick dan duduk di dekat William.


"Apa kau tidak akan bergabung dengan temanmu untuk berbagi buku?" tanya Mr.Patrick saat melihat Ivona duduk di meja semula.


William yang melihat Ivona kebingungan mencari teman untuk berbagi buku ingin meminjamkan bukunya pada Ivona. Ia tahu tidak akan ada yang mau berbagi buku dengan murid baru ini, karena mereka begitu membenci Ivona.


Namun, belum juga niatnya tersampaikan, Ivona sudah menjawab, "Tidak apa jika tidak ada buku, mendengarkan penjelasan Pak Guru saja sudah cukup bagi saya."


Mr.Patrick memandang remeh pada sikap Ivona, ia biarkan saja murid barunya itu sesuai keinginannya. Toh, dia sudah memperingatkan.


"Kau bisa bergabung dengan ku jika kau mau," tawar seorang pria gemuk yang duduk di sebelah Ivona dengan lirih tapi masih terdengar oleh Ivona.


Ivona menoleh, memperhatikan pria gemuk yang langsung menunduk setelah mengajaknya berbicara seolah ketakutan. Ada yang aneh dengan sikap pria ini, ia seperti takut untuk mengajak Ivona bergabung dengannya tapi ia punya niatan yang baik untuk menolong Ivona.


Ivona menggeser bangkunya agar lebih dekat dengan pria gemuk yang mengajaknya bergabung. "Terima kasih," ucap Ivona pada pria itu.


"Aku, Ivona," ucap Ivona memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya.


Pria gemuk yang sedari tadi menunduk, mencoba mengangkat wajahnya. Ia menatap Ivona dengan haru, untuk pertama kalinya ada yang bersikap ramah terhadapnya di kelas ini. Meski masih merasa sedikit takut, pria itu menyambut uluran tangan Ivona. "A-aku Beny, Beny Clarkson," ucapnya.


Ivona tersenyum sebagai tanda terima kasih karena ada yang mau menawarinya bergabung, dan bagi Beny, hal ini membuatnya merasa dihargai sebagai sesama manusia di sekolah ini. Sebelumnya teman-temannya tidak pernah memperlakukannya dengan baik, dan Ivona menunjukkan hal yang berbeda.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ada Kelly yang menatap marah pada Beny. Tadinya ia berharap bisa melihat Ivona dipermalukan, sebab tak ada satu pun dari semua siswa di kelas itu yang ingin mengajaknya berbagi buku. Namun, saat ini raut wajahnya menjadi muram ketika melihat Beny tiba-tiba menawari gadis itu untuk bergabung. Tatapan tajam terarah pada pria gemuk yang berada di sebelah Ivona. Kelly merasa jika Beny telah ikut campur dalam urusannya. Monster gemuk itu berani mengabaikan perintahnya yang semalam ia kirim di grup kelas.


Kemarin malam Kelly telah berbicara di grup kelas, memperingatkan semua orang di kelas untuk tidak bersikap baik pada Ivona, tidak disangka jika aka ada orang yang akan ikut campur urusannya. Dan yang lebih memuakkan orang itu adalah monster gendut, si pecundang kelas G.


Pelajaran pun dimulai, Mr.Patrick mulai menerangkan setiap materi dalam buku. Tak ada kegaduhan lagi hingga jam pelajaran selesai. Terdengar bunyi bel, tanda akhir dari jam pelajaran Mr.Patrick. Semua siswa berhamburan ke luar kelas, tapi tidak dengan Ivona. Ia memilih untuk tinggal saja di kelas. Ia sedang tidak ingin melakukan sesuatu. Nampaknya, niatnya itu harus ia urungkan saat seorang siswi mendatanginya.


"Apa kau yang bernama Ivona?" tanya seorang siswi yang baru saja masuk ke kelas G.


Ivona mendongak demi melihat siapa yang mengajaknya berbicara, lalu mengangguk.


"Ada pesan untukmu, tasmu sudah di antar ke pos security dan kau harus segera mengambilnya," jelas sisiwi itu, lalu berpamitan untuk pergi.


Ivona nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Ia pergi ke tempat yang tadi diberitahuan oleh siswi yang tak dikenalnya. Ternyata benar, tasnya sudah ada di pos security. Ivona melihat isi tas itu, ada buku pelajaran juga seragam sekolahnya.


Perkataan William sontak membuat Ivona mengehentikan langkahnya, dan memberi perhatian pada pria yang tadi dihukum bersamanya itu.


"Aku pernah melihat monster itu menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya," sambungnya. "Meski aku tidak tahu apa yang ia masukkan ke tubuhnya, tapi sebaiknya kau menjauhinya," ujar William seolah memperingati Ivona.


Ivona menatap dingin pada peringatan William. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum tipis menanggapi. Ia pun berlalu, tak ingin lebih tahu kelanjutan cerita tentang Beny, yang bukan urusan. Ivona terus berjalan menyusuri koridor untuk bisa sampai ke kelas G. Ia sengaja mengambil jalan yang sepi untuk sampai ke kelas G, meski hasilnya jarak yang ia tempuh lebih jauh, tapi ia lebih tenang dan nyaman tanpa tatapan menghakimi dari mata setiap orang yang memandangnya.


Ketika sampai di ujung lorong yang sepi, Ivona mendengar suara erangan kesakitan dari seseorang. Merasa penasaran, diam-diam Ivona mencari tahu. Ia terkejut saat mendapati Kelly sedang menindas Beny. Tak ingin gegabah, Ivona langsung bersembunyi di tempat yang tidak terlihat untuk mengawasi aksi Kelly dan teman-temannya. 

__ADS_1


Selain Kelly dan temannya yang bernama Jesicca, ada juga dua orang pria yang sedang menendang Beny. Pria gemuk itu terlihat sudah penuh dengan keringat dingin menahan sakit, dan tubuhnya gemetaran karena menjadi sasaran kebrutalan oleh Kelly dan teman-temannya.


"Bagaimana, apa kau masih ingin menantang kami?" teriak Kelly tepat di depan muka Beny diiringi tawa mengejek dari teman lainnya.


"Sudahlah, untuk apa kau mengajak monster ini berbicara. Dia tidak akan tahu bahasa kita, dia hanya bisa mengerti jika kita menghukumnya," ujar seorang pria yang tadi menendang Beny dengan cukup keras.


"Benar, monster ini tidak pantas berada dalam kelas kita. Akan lebih baik kita menyingkirkannya, lagi pula dia juga tidak berguna. Monster pecundang!" Satu pria lainnya memukul kepala Beny, sebagai penghinaan pada pria gemuk itu.


"Jangan!" teriak Jessica teman baik Kelly. "Kalau dia disingkirkan secepat ini, kita tidak akan lagi memiliki mainan besar seperti dirinya. Di mana kita bisa menemukan monster besar seperti ini untuk jadi pelampiasan kita," ucapnya mencemooh.


Tidak ada yang bisa Beny lakukan selain pasrah diperlakukan tidak manusiawi oleh Kelly dan teman-temannya. Ia tidak punya keberanian menolak, apa lagi untuk melawan mereka yang selalu merundungnya. Ini bahkan bukan pertama kalinya ia diperlakukan buruk oleh teman-teman sekelasnya.


Cacian yang merujuk pada penampilan fisiknya sering kali jadi bahan candaan teman-temannya. Mereka bahkan menjulukinya Monster. Hal yang dulu terasa menyakitkan saat mendengarnya dan mulai jadi terbiasa karena sering kali mereka memanggilnya demikian.


Beny, si pria malang itu hanya bisa tertunduk menahan sakit di perutnya karena ditendang oleh teman pria Kelly, dan sakit hati yang teramat sangat karena perlakuan mereka padanya selama ini.


"Bagaimana jika kau berlutut di depan kami dan mengakui kesalahanmu," usul Jessica. Gadis itu meminta persetujuan teman-temannya dengan menatapnya satu per satu.


"Kami akan mengampunimu jika kau melakukannya," imbuh Jessica dengan tawa merendahkan.


"Kalian setuju bukan untuk melepaskan monster ini jika ia mau berlulut memohon pada kita semua dan mengakui kesalahannya." Tawa Jessica membahana.

__ADS_1


"Kurasa itu tidak buruk, asal dia mau mengakui kesalahannya karena telah membantu dan bersikap baik pada anak pindahan itu sembari berlutut memohon ampun. Aku akan melepaskannya," ujar Kelly sok berkuasa.


Semua mengangguk setuju, dan mereka semua segera mendesak Beny melakukannya. Berlutut pada mereka dan mengakui kesalahan yang sebenarnya bukan hal yang patut disalahkan.


__ADS_2