
Jeany menatap nanar pada Kevin yang masih setia menunggunya. Ia melihat keseriusan pria itu akan ucapannya. Dalam batinnya kini sedang bergolak tentang saran Ivona dan ego dirinya.
Ucapan Ivona tidak salah, ia memang menyadari jika nilai dan prestasinya turun akhir-akhir ini. Dia juga menyadari semua penurunannya itu sejak ia bersama dengan Kevin. Kebahagian yang dijanjikan Kevin membuatnya terlena, dan melupakan tugas belajar yang selalu jadi beban untuknya. Kini, ketika Ivona menggeser posisinya, ia baru tersadar jika ia telah kehilangan apa yang dulu ia banggakan karena egonya sendiri.
"Sayang, kamu baik-baik saja, 'kan? kamu tidak akan meninggalkan aku, bukan?" ujar Kevin.
Jeany melepas tangan Kevin. Ia berdiri, dengan langkah gontai, Jeany berjalan menuruni tangga. Ia ingin sendiri, seperti kata Ivona ia harus introspeksi diri. Kevin tak bisa berbuat apa pun selain melihat kepergian Jeany.
Ia belum sampai ke kelas, tapi seorang siswa memanggilnya. "Jeany, kau dipanggil ke ruangan Mr.Patrick sekarang juga."
Kendati ada tanya dalam hatinya, Jeany tetap melangkah menuju ruang wali kelasnya itu. Rupanya, di sana sudah ada Mr.Harry dan seorang wanita yang tidak ia ketahui. Ada Kelly juga di sana, yang lebih membuatnya terkejut adalah kedatangan Ibunya—Nyonya Barbara Lim.
"Oh ... Jeany, masuklah," ujar Mr.Patrick saat Jeany membuka pintu ruangan wali kelas itu.
Jeany menunduk takut saat melangkah masuk ke ruangan wali kelasnya itu, tapi ia tetap duduk di sebelah ibunya.
"Kita tunggu Ivona dulu," ujar Mr.Harry.
"Ivona?" batin Jeany. Apakah hal ini berhubungan dengan kejadian yang baru saja ia lakukan pada Ivona. Mendadak ia teringat dengan ucapan Kelly sebelumnya tentang Yosua, Vaya dan Roy. Ia tidak mau bernasib sama seperti mereka dan berakhir di penjara. Ide gila tadi bukan berasal darinya, tapi dari Kevin, kekasih toxic-nya.
Tidak lama setelah Jeany masuk, Ivona pun datang. "Permisi?"
"Ivona, masuklah." Mr.Harry yang mempersilakan.
Ivona masuk dan duduk dengan tenang di depan Mr.Harry.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul kita akan mulai pembahasan soal tindakan melanggar peraturan yang telah dilakukan oleh Kelly dan juga Jeany. Kami sudah memintai keterangan dari Kelly soal obat pencuci perut yang telah dimasukkan oleh Kelly ke dalam jus yang diberikan kepada Ivona sebelum ia mengikuti kompetisi fisika. Namun, ketika itu bukan Ivona yang meminum jus itu, tapi justru Benny yang meminumnya, hingga kini Benny harus dirawat di rumah sakit. Atas alasan itulah Nyonya Clarkson berada di sini," jelas Mr.Harry.
"Benar, aku tidak terima putraku menjadi korban kenakalan kalian. Apa kalian pikir bermain-main dengan nyawa itu sebuah lelucon, aku ingin sekolah ini menegakkan keadilan untuk Benny, putraku," ujar Nyonya Clarkson.
"Memangnya apa yang telah dilakukan oleh Jeany?" sahut Nyonya Barbara—ibu Jeany.
__ADS_1
Jeany menatap takut pada ibunya, firasatnya sangat buruk.
"Jadi begini Nyonya Barbara, Jeany lah yang telah memberikan jus itu pada Ivona, meskipun yang memberikan obat itu adalah Kelly. Semua mereka lakukan untuk menggagalkan Ivona agar tidak bisa mengikuti kompetisi," jelas Mr.Harry lagi.
Sontak Nyonya Barbara menatap tajam putrinya. "Apa yang kau lakukan, setelah menjadi anak bodoh kini kau belajar menjadi seorang kriminal? Mau jadi apa kau, hah!"
"Bu, Jeany bisa menjelaskan semuanya." Air mata Jeany sudah berderai, antara takut dan malu pada ibunya.
"Jadi apa keputusan sekolah untuk dua anak ini?" desak Nyonya Clarkson.
"Setelah mempertimbangkan dari berbagai aspek, sekolah akan menjatuhkan sanksi pada Jeany dan Kelly dengan membuat surat pernyataan atas kesalahan mereka dan skorsing selama satu minggu," jawab Mr.Patrick.
"Apa cuma itu hukumannya, kenapa tidak keluarkan saja mereka dari sekolah, dan aku akan bawa kasus ini ke polisi. Bagaimanapun, ini soal nyawa anakku. Mereka harus diberi pelajaran agar jera!" ujar Nyonya Clarkson tidak terima.
"Tidak Nyonya, jangan lakukan itu, aku mohon aku masih ingin bersekolah, aku bisa menerima hukuman apa pun tapi jangan laporkan aku ke polisi." Kelly menangis, ia memohon ampun atas kesalahannya.
Jeany justru menatap ibunya, ia terlalu takut pada wanita itu dari pada hukuman yang akan ia terima dari sekolah. Jeany yakin kali ini, ibunya pasti akan memukulnya hingga remuk.
"Maafkan aku Nyonya, aku tahu putriku bersalah tapi tolong berilah kesempatan untuknya. Jangan hancurkan masa depannya dengan membawa kasus ini ke polisi." Nyonya Barbara ikut bicara.
"Benar, Nyonya, kedua anak ini masih bisa diberikan pelajaran agar tidak mengulangi perbuatan mereka, tolong berilah kesempatan untuk mereka berdua," timpal Mr.Patrick.
Nyonya Clarkson tetap tidak terima. Ia mendesak sekolah agar memberikan hukuman yang lebih berat dan setimpal dengan perbuatan mereka yang bisa menghilangkan nyawa Benny, putranya. Saat perdebatan itulah, Ivona akhirnya turut angkat bicara.
"Maafkan saya sebelumnya, bolehkah saya ikut memberikan saran?"
Semua terdiam dan kontan menatap Ivona.
"Ivona, kau mau menyampaikan apa?" tanya Mr.Harry.
"Saya rasa, kita harus memberi kesempatan kedua untuk kelly dan Jeany. Saya tahu mereka salah, bahkan kesalahannya cukup fatal untuk anak seusia kami, tapi tidak ada salahnya memberi mereka kesempatan untuk bisa berubah. Mereka pasti akan jadi lebih baik jika kita memberikannya kesempatan. Benny sudah baik-baik saja. Lagi pula sebentar lagi kami akan lulus sekolah, biarkan mereka mendapatkan masa depan yang baik dan pengalaman hidup untuk jadi lebih baik," ujar Ivona.
__ADS_1
Semua nampak mempertimbangkan usul Ivona. Akhirnya keputusan pun diambil dengan memberikan mereka sanksi skorsing dan membuat surat permintaan maaf, serta janji tidak akan lagi mengulangi perbuatan tercela itu.
Setelah semua setuju dengan keputusan yang diambil, Jeany keluar mengikuti ibunya. Ia sangat menyesal telah mempermalukan ibunya dalam hal ini. "Bu ...," panggil Jeany. "Maafkan, aku."
Nyonya Barbara berhenti. Ia menoleh pada Jeany yang memanggilnya. "Kau tahu Jeany, kenapa aku sangat keras padamu. Aku hanya ingin kau mendapatkan nasib yang lebih baik dari pada aku. Aku ingin kau menjadi anak yang bisa aku banggakan dengan kecerdasanmu, tapi nampaknya aku salah mendidikmu hingga kau merasa semua yang aku lakukan adalah beban bagimu. Maafkan Ibu yang telah berbuat kasar padamu." Setelah mengucapkan kalimat itu, Nyonya Barbara meninggalkan Jeany begitu saja.
Gadis itu mulai mencerna maksud dari ibunya. Selama ini, Jeany menutup mata akan tujuan ibunya, ia hanya melihat kekerasan yang dilakukan ibunya pada dirinya jika mendapatkan nilai yang buruk. Mungkin tujuan Nyonya Barbara memanglah baik untuk masa depan Jeany, tapi ketegasan yang menjadi kekerasan yang ia lakukan justru menjadi beban mental bagi anak seusia Jeany. Hingga ketika Jeany merasa nyaman dengan kebebasan yang ia kenal melalui Kevin, gadis itu jadi hilang kendali. Mulai mengabaikan tanggung jawabnya dulu, yaitu belajar. Dan tujuan baik Nyonya Barbara tenggelam hingga tak mampu Jeany lihat, yang ada di mata gadis itu hanya kekerasan, bukan tujuan baik bagi masa depannya.
"Aku janji, aku akan berubah, Bu. Aku tahu sekarang apa tujuanmu," batin Jeany yang memutuskan untuk kembali mengintrospeksi dirinya sendiri.
Setelah Jeany dan ibunya, Kelly dan juga Nyonya Clarkson menyusul keluar. Terakhir adalah Ivona. Gadis itu keluar setelah yang lainnya pergi.
"Iv," panggil William.
"Kau, sedang apa kau di sini?" tanya Ivona.
"Aku menunggumu dari tadi. Aku ingin bicara padamu."
Ivona mengernyit. Sebenarnya apa yang ingin William katakan sampai pria itu rela menunggunya di depan ruang guru. Tadi, saat William ingin mengajak Ivona bicara, tiba-tiba ada yang memberitahukan jika Ivona dipanggil wali kelas mereka dan disuruh segera datang, sehingga ia tidak sempat memenuhi keinginan William untuk bicara berdua. Tidak disangka jika pria itu justru mengikutinya dan bersedia menunggu sampai urusan Ivona selesai.
"Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?"
"Bisakah kita cari tempat yang lain?"
Ivona belum menjawab tapi bel sekolah justru terdengar lebih dulu. "Kurasa kita harus masuk kelas," ujar Ivona, kemudian pergi meninggalkan William.
William kecewa karena waktu menunggunya sia-sia, ia belum sempat berbicara pada Ivona. William pikir nanti saja saat pulang sekolah, ia akan meminta waktu Ivona sebentar. Namun, nasib baik belum berpihak pada William karena saat pulang sekolah Ivona justru buru-buru keluar kelas.
Ivona berlari menuruni tangga dengan ransel di punggungnya. Ia tidak sabar untuk sampai di rumah dan bertemu dengan kakek Iswara. Ketika sampai di parkiran, Ivona dihadang oleh dua pria berjas hitam.
"Selamat sore, Nona Ivona. Bisakah Anda ikut dengan kami?" ujar salah satu dari pria berjas itu.
__ADS_1
Ivona menatap waspada pada mereka yang tak ia kenal. "Kalian siapa?"
"Nona akan tahu jika Nona ikut dengan kami."