
Wanita itu terus berkutat dengan pikirannya sendiri. Mencari segala kemungkinan tentang status gadis yang saat ini terbaring lelap di atas ranjang Alexander Alberic. Apakah gadis ini adik Alexander yang akan ia berikan pelajaran tambahan, ataukah dia 'gadisnya' Alexander.
Akan tetapi, dari berita yang beredar, Alexander Alberic adalah pria yang tak tersentuh wanita. Akankah sekarang pria itu sudah berubah, kalau memang demikian berarti akan besar kemungkinan untuknya bisa menggoda pria tampan itu. Wanita itu tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana jika nanti ia berhasil merayu seorang Alexander Alberic. Ah ... pasti akan sangat menyenangkan bisa menjadi wanitanya Alexander, seorang yang begitu tersohor di Victoria.
Ivona menggeliat, tidurnya semalam benar-benar pulas. Sejak ia tinggal di Vila Alexander dan mulai tidur di kamar pria itu, kwalitas tidur Ivona benar-benar terjaga. Insomnia yang dulu ia idap, sudah hilang entah kemana berkat aroma terapi wangi khas Alexander. Candu yang akan selalu membuatnya ketagihan untuk membuatnya terlelap.
Ivona baru saja membuka mata, saat ia menangkap bayangan seseorang yang berdiri menjulang di sisi ranjang Alexander. Ia mengerjapkan matanya untuk melihat lebih jelas sosok itu.
"Seorang wanita?" batinnya, saat kornea matanya menangkap jelas bayangan seseorang tersebut.
Ivona terbangun, menatap sosok cantik namun aneh yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Siapa dia?
Wanita dengan dandanan yang tak biasa. Ivona yakin wanita ini pasti menumpahkan satu kotak bedak ke wajahnya, lalu menggunakan satu batang lipstik untuk memoles bibirnya. Sungguh, warnanya begitu merah seolah bukan lipstik yang ia pakai tapi darah ayam yang baru ia makan hidup-hidup. Terlihat mengerikan bagi Ivona.
Lalu, apa lagi ini?
Pakaian yang ia kenakan. Oh ... Tuhan, dia sedang apa di sini dengan pakaian ini.
Blouse warna merah dengan dua kancing atas yang terbuka serta rok yang begitu ketat dan pendek. Siapa sebenarnya wanita ini?
Melihat pergerakan Ivona, membuat wanita itu sadar dari segala khayalannya. Ia segera mengatur mimik wajahnya yang tadi sempat seperti orang gila.
"Kau sudah bangun?" Wanita itu menatap Ivona dengan tatapan tidak suka.
"Kau siapa?" tanya Ivona balik.
Wanita itu tersenyum sinis. "Aku adalah guru les yang dipanggil oleh Tuan Alexander untuk memberikan pelajaran tambahan pada adiknya," jawabnya sedikit sombong.
__ADS_1
"Oh ...." Dari sini Ivona paham.
"Apakah kau yang akan menerima pelajaran tambahan dari ku?" tanya wanita itu sinis.
Ivona ragu, tapi siapa lagi yang diakui sebagai adik dari Alexander kalau bukan dirinya. Akhirnya Ivona mengangguk saja.
Wanita itu menatap penampilan Ivona yang baru saja bangun tidur, nampak jelas raut tidak suka dan meremehkan dari wanita itu pada Ivona.
Menyadari dirinya menjadi objek hinaan dalam batin wanita itu, Ivona pun berkata, "Kalau begitu sebaiknya kau turun terlebih dulu dan menungguku di bawah. Lagi pula apa yang kau lakukan di kamar ini, bukankah itu terlalu lancang bagi seorang tamu untuk memasuki kamar tuan rumah tanpa ijin."
Ivona dengan sengaja menyindir wanita itu, menyadarkan sikap tidak sopannya saat bertamu.
Sindiran Ivona sukses membuat wanita itu menyadari ketidaksopanannya, dan memandang Ivona dengan kesal saat meninggalkan kamar Alexander.
Setelah meminta wanita itu pergi, Ivona kembali ke kamarnya dan bersiap untuk menerima pelajaran tambahan dari wanita aneh itu. Ivona turun, dari atas tangga ia memperhatikan kembali wanita yang akan menjadi guru lesnya tersebut, meski Ivona tidak yakin apakah wanita ini benar-benar seorang guru les, karena kalau dilihat dari penampilannya, wanita ini lebih mirip seorang ja*ang dari pada seorang guru les privat.
Wanita itu terus memutar pandangannya, mencoba mencari tahu keberadaan Alexander. Nampaknya ia harus sedikit bersabar saat tidak menemukan pria yang ia cari. Pasti akan ada kesempatan untuk bisa bertemu Alexander selama ia bisa berada di rumah itu. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia sudah terpilih untuk bisa masuk ke dalam rumah Alexander, jadi ia tidak akan melewatkan kesempatan untuk memikat pria itu.
Para pelayan di Villa yang lalu lalang memperhatikan wanita itu juga tidak suka dengannya, karena menganggap sikap wanita itu berlebihan dan tidak sopan.
Ivona turun dan melewati wanita itu begitu saja karena ia segera menuju meja makan.
"Selamat pagi, Nona," sapa Bibi Mina.
"Selamat pagi, Bi," jawab Ivona yang langsung duduk di bangku biasa ia sarapan. "Di mana Alexander?"
"Tuan Muda sudah berangkat ke kantor, Nona."
__ADS_1
"Oh ...." Ivona segera mengambil sarapannya dan menikmatinya sendirian.
Ia tidak berniat menawari apa lagi harus mengajak wanita itu. Melihat sikapnya saja Ivona sudah malas. Ivona sengaja memakan sarapannya dengan lambat, ia ingin wanita itu menunggunya lebih lama. Membuat wanita itu kesal adalah tujuannya, supaya ia tidak betah menjadi guru lesnya.
"Maaf, apakah kau lama menunggu," ucap Ivona menemui wanita itu setelah menyelesaikan sarapannya yang tak sebentar.
Saat ini wanita itu sedang berada di ruang tengah, ruangan yang bersebelahan dengan ruang makan. "Apa saja yang kau lakukan, kenapa bisa lama sekali," ujar wanita itu.
"Maaf, aku tadi harus sarapan dulu. Kau tahu bukan sarapan akan menambah konsentrasiku."
Wanita itu menatap Ivona sinis. "Apa kau sudah siap sekarang, anak manja?"
"Aku akan lebih ketat dalam les privat ini, semoga kau bisa bekerja sama," sambung wanita itu dengan raut meremehkan. Wanita itu menganggap Ivona pastilah anak yang bodoh seperti anak manja orang kaya pada umumnya yang membutuhkan bimbingan les darinya.
Mendengar sebutan dan sorot meremehkan dari wanita itu, membuat Ivona ingin segera menendang pergi wanita itu. Ia sama sekali tidak butuh guru les apa lagi macam wanita menyebalkan itu.
"Itu buku yang harus kau pelajari." Wanita itu membuka sebuah buku dan melemparkan pada Ivona.
Ivona masih menahan semua sikap menjengkelkan guru lesnya ini.
"Kau harus mengerjakan semuanya jika kau ingin jadi anak yang pintar," ujarnya dengan nada mencemooh.
"Tapi kurasa, anak sepertimu pasti memiliki kapasitas otak yang kecil hingga tidak akan mampu menerima banyak pelajaran yang akan aku berikan," ejeknya.
Wanita itu dengan jelas memperlihatkan senyum miringnya. Secara terang-terangan ia sudah membuat mental anak didiknya down sebelum memulai kegiatan belajar mereka, tapi mungkin itu berlaku pada anak lain. Tidak untuk Ivona.
Wanita ini belum tahu saja, seperti apa anak yang akan menjadi muridnya kali ini. Kalau wanita ini tahu Ivona mantan pasien rumah sakit jiwa, ia pasti akan menolak tawaran untuk menjadi guru les privatnya seberapa pun bayarannya.
__ADS_1
Ivona tidak sabar memberikan guru les privat ini pelajaran berharga dalam hidupnya.