
Ivona menoleh, sudah terlambat jika ia harus bersembunyi. Tak ingin memberikan lawannya kesempatan menyerang, Ivona lebih dulu melepaskan tembakan. Pria itu seketika tumbang, tapi masalah baru muncul. Tembakan Ivona tadi memicu datangnya para penjaga lain.
"Oh ... sial!" Ivona buru-buru bersembunyi sebelum mereka semua berkumpul untuk menangkapnya.
Terdengar derap langkah menaiki tangga untuk melihat apa yang terjadi. "Ada yang menembak Tan," teriak seseorang yang pertama kali tiba dan melihat rekannya sudah tergeletak.
"Cari pelakunya!" serunya pada seluruh teman yang mengikutinya. Mereka menyebar mencari Ivona yang bersembunyi di salah satu kamar. Ivona bersembunyi di balik pintu, senjata ditangannya selalu dalam mode siaga.
Dua orang masuk ke kamar di mana Ivona bersembunyi. Demi cepat mengakhiri pertarungan ini, Ivona langsung menembak dua penjaga yang sedang mencari Ivona dan tidak melihat jika yang mereka cari ada di balik pintu.
"Dor .. dor ... dor ... dor ...." Dua orang sekaligus langsung tumbang, bersamaan dengan peluru yang sudah habis. Ivona membuang senjata itu dan mengambil senjata baru milik dua penjaga yang sudah tak bernyawa.
Tak berselang lama, rekan dari dua penjaga yang tewas mulai berdatangan kembali, kali ini Ivona lebih siap karena ia sudah memiliki senjata cadangan. Ivona tak memberikan kesempatan mereka menembak lebih dulu, karena Ivona langsung memberondong mereka dengan tembakan yang bertubi-tubi.
Ivona segera berlari untuk turun ke lantai dua, rupanya di sana masih saja ada yang menghadangnya, Masih memanfaatkan peluru dalam senjata yang ia pegang, Ivona terus menembaki lawannya. Desing peluru yang menggema di ruangan itu justru memancing anak buah Greyson semakin banyak yang tahu jika Ivona berusaha melarikan diri.
"Tawanan, kabur," seru orang di lantai atas.
Dari lantai atas derap langkah menuruni tangga tak main-main jumlahnya. Kalau didengar dari suaranya pastilah ini bukan satu dua orang tapi lebih dari lima orang.
Ivon mendongak. "Sial, kalau begini terus bisa-bisa aku tertangkap lagi." Ivona segera berlari turun. Satu lantai lagi ia akan bisa keluar dari tempat ini.
Ivona sangat berhati-hati, ia secara sembunyi-sembunyi berusaha untuk melumpuhkan penjaga pintu. Dibalik dinding, Ivona akan melepaskan lagi tembakannya pada dua orang yang siaga menjaga pintu keluar.
Saat Ivona menarik pelatuk senjata itu, tidak ada peluru yang melesat mengenai sasaran. Ia pun mengecek magasin, ternyata kosong. Ia beralih ke senjata satunya. Sama saja. Ia telah kehabisan peluru.
__ADS_1
Satu-satunya cara keluar adalah menantang mereka dengan tangan kosong. Ivona masih memegang senjata kosong di tangannya, Ia fokus pada senjata di tangan lawan. Setelah yakin benar pada sasarannya, Ivona melempar senjata kosong itu tepat mengenai tangan lawan yang memegang senjata.
Karena kaget senjata di tangan lawannya langsung terlepas dan jatuh. Di saat itulah Ivona sudah mengambil ancang-ancang untuk segera melancarkan serangan. Sasaran utamanya adalah penjaga yang masih bersenjata. Ivona memanfaatkan ketidaksiapan penjaga itu dengan langsung menendang senjata laras panjang yang dipegang oleh sang penjaga, kemudian tanpa henti langsung menyerang penjaga yang tadi senjatanya sudah terjatuh. Pertarungan tangan kosong pun di mulai.
Ivona harus segera keluar karena para penjaga yang ada di lantai atas mulai turun. Ketika sedang menoleh ke atas melihat penjaga yang berderap turun, saat itulah lawannya berhasil memukul rahang Ivona, dan menendang perut gadis itu hingga terjatuh.
Untung saja otak Ivona bekerja cepat. Ia ingat dengan botol shampo yang tadi ia kantongi. Segera, Ivona menyemprotkan cairan shampo itu ke wajah kedua penjaga itu dan berhasil membuat mereka teriak kesakitan karena pedih.
Ivona memanfaatkan momen itu untuk segera keluar. Tetapi, jalan keluar tak semudah itu ditempuh. Pintunya terkunci.
"Aarghhh ... berengsek!"
Ivona kembali pada dua penjaga itu. "Di mana kuncinya, hah?" Ivona mencengkeram leher salah satu dari mereka.
Derap langkah yang menuruni tangga semakin mendekat, Ivona tak punya waktu lagi. Ia lepaskan penjaga itu dan berusaha untuk mengambil senjata laras panjang milik sang penjaga.
"Sudah kepalang tanggung, aku habisi saja kalian semua." Dari lantai bawah, Ivona langsung memberondong para penjaga yang masih berlarian turun mengejarnya.
Para penjaga itu tak menyerah begitu saja, mereka pun melawan dengan memberikan serangan balasan dengan menembaki Ivona. Demi menyelamatkan diri Ivona berlindung dibalik dinding.
Sial bagi Ivona karena sudah tidak ada lagi tempat bersembunyi apa lagi lari. Satu-satunya jalan lari hanyalah pintu yang terkunci. Ivona mengecek peluru yang tersisa. Ia sedang memperhitungkan kemungkinan berhasil kabur, yang jelas peluru yang ia miliki tak akan sanggup untuk melumpuhkan semua penjaga Greyson Walker.
Akhirnya Ivona mengadu nasib, ia memilih untuk menembakkan peluru yang tersisa ke arah pintu, dengan harapan ia bisa kabur. Peluru Ivona sudah habis saat para penjaga tadi sudah sampai dan siap untuk menangkap Ivona.
Karena sudah sulit dan tak memiliki senjata, Ivona hanya bisa mengandalkan kemampuan bela dirinya. Ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk melawan, tapi ketika sebuah senjata di arahkan ke kepalanya secara tiba-tiba, sehebat apa pun seni bela dirinya pasti akan memilih untuk menyerah. Ivona mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
__ADS_1
Dari atas tangga terlihat si pria botak bersama Greyson Walker turun dengan angkuh.
"Dasar ja lang kecil, kau berusaha kabur, hah?" terdengar nada suara marah-marah dari si tua bangka.
"Kau tidak akan pernah bisa kabur dari tempat ini."
"Selamanya kau akan bekerja untukku!"
Ivona menatap marah pada Greyson.
"tangkap dia!" seru Greyson. Pria itu berbalik, dan kembali menaiki anak tangga.
Penjaga yang tadi mengepung Ivona dengan mudah membaut Ivona menurut. Dengan senjata yang terus terarah ke kepalanya, Ivona berjalan mengikuti langkah Greyson. Ia kembali menjadi tahanan.
________________
Di institut komputer, Sam yang tengah membuka komputernya menerima pesan asing masuk untuknya. Dia membukanya dan berusaha menafsirkannya. Butuh waktu yang tak sebentar untuk bisa menangkap maksud yang dikirimkan Ivona. Sam berteriak heboh, saat bisa membaca pesan yang dikirimkan itu. Ia segera menghubungi Marcus, memberitahu pesan yang dikirimkan Ivona. Tetapi Marcus sudah tahu lebih dulu rupanya. Sam langsung mengubungi polisi untuk mengantarnya menjemput Ivona.
Pihak polisi meneruskan informasi pada kedua kakak Ivona yang sebelumnya telah membuat laporan kehilangan anggota keluarga. Tommy langsung mengabarkannya pada Alexander.
Pria itu bergegas untuk langsung menyelamatkan Ivona. Ia tak sabar untuk segera tahu keadaan kekasihnya.
"Tunggu aku Ivona, aku akan menyelamatkanmu," ujar Alexander sembari mempersiapkan senjatanya. Ia membawa anak buahnya menuju lokasi yang dikirimkan oleh Tommy.
"Tunggu aku, Iv."
__ADS_1