
"Iv ...," teriak Aldrich yang terbangun dari tidurnya. Napasnya terengah, seolah ia baru saja melalui sebuah kejadian yang menguras energi.
Aldrich bangun, ia duduk bersandar di head board. Ia usap wajahnya secara kasar. Otaknya ia paksa bekerja keras di waktu yang tak seharusnya. Aldrich mencoba mencerna kejadian dalam mimpi yang selalu menganggu tidurnya lebih dari setahun belakangan.
Mimpi yang sama dengan orang yang sama. Mimpi aneh yang belum ia ketahui apa makna dari semuanya. Dalam kegelapan di kamarnya, Aldrich menoleh pada laci di samping tempat tidur. Ia menyalakan lampu di atas nakas lalu mengambil selembar potret yang ia simpan sejak setahun lalu.
"Kenapa kau selalu menggangguku," lirihnya kala menatap gambar dalam potret yang ia pegang.
"Kau menyiksa malam-malamku dan membuatku tak menginginkan wanita mana pun di dunia ini."
"Kau sudah kembali, kenapa kau masih saja mengusikku."
Aldrich mengembuskan napas kasar, ia meremas potret itu dan membuangnya. Menyibak selimut yang menutupi tubuh atasnya yang polos. Mencuci muka dan segera mengenakan kaus dan jaket kulit.
Setengah berlari Aldrich menuruni tangga rumahnya menuju garasi. Ia menyambar helm dan mengeluarkan Ducati Panigale V4 Superleggera. Kuda besi berwarna merah itu melesat cepat di jalanan lengang Victoria.
Aldrich menuju sebuah club malam yang masih buka demi menyediakan kesenangan bagi para pemburu kenikmatan malam. Ia langsung memesan minuman yang dalam waktu singkat telah diracik oleh bartender. Segelas minuman berwarna kuning kecoklatan tersaji di meja, yang langsung ia minum dalam sekali tenggak.
Waktu sudah lewat tengah malam, tapi orang-orang di sini masih betah menari-nari mengikuti hentakan musik yang memekakkan telinga. Aldrich menatap ramainya orang yang tengah meliuk-liukkan tubuhnya di lantai disko.
Semua pemandangan itu tak ada satu pun yang menarik perhatiannya, termasuk wanita yang tiba-tiba datang mengelus punggungnya dari belakang.
"Hai ... apa kau ingin menari?"
Aldrich bergeming, dan wanita bergaun merah itu memutar tubuhnya agar Aldrich bisa melihatnya dengan jelas.
"Aku bisa menemanimu menari jika kau mau," tawarnya dengan nada sensual.
Pria itu menatap dengan teliti wanita yang tengah berdiri menantang di hadapannya. Wajahnya masuk kategori lumayan, rambutnya hitam pendek, tubuhnya yang semampai dibalut gaun merah tanpa lengan yang mengekspose bagian dadanya. Paha mulusnya pun terpampang indah di depan pria dewasa itu.
__ADS_1
Anehnya, tak sedikit pun jiwa kelelakian Aldrich terusik. Wanita ini bukan apa-apa, tak mampu membuat Aldrich terkesan atau bahkan tergetar untuk menjamahnya. Bahkan saat wanita itu semakin berani mengusap dada Aldrich dan menawarkan dirinya.
"Atau kau mau menari di tempat yang lain, Sayang?" godanya, khas seorang ja lang.
Aldrich tersenyum tipis melihat polah dari wanita di depannya. Membuat wanita penghibur itu memiliki harapan yang besar akan menaklukkan pria tampan seperti Aldrich.
"Biasanya aku memasang tarif mahal untuk satu malam, tapi untukmu aku bisa memotongnya jadi setengah. Wajah tampanmu membuatku terpesona dan aku juga menginginkanmu, kau boleh pilih hotel mana pun yang kau suka dan aku akan setuju," rayunya tanpa basa-basi. Wanita itu semakin berani, setelah punggung dan dada, kini ia mengelus paha Aldrich.
Senyum miring Aldrich tersungging, dengan tatapan tajam tertuju pada wanita itu. Ia mengambil tangan wanita itu dari atas pahanya dan mengangkatnya ke atas. Membuat wanita itu diliputi rasa bahagia karena sebentar lagi ia pasti akan mendapatkan mangsa tampan ini.
Aldrich terus menatap tangan dengan jari-jari lentik itu, semakin membuat sang wanita melayang. Pasti pria di hadapannya sedang mengagumi kecantikannya yang luar biasa. Namun tanpa diduga, Aldrich langsung menekan tangan wanita itu dengan kuat hingga memekik kesakitan.
Bartender dan beberapa orang yang berada di dekat mereka langsung terperangah melihat apa yang Aldrich lakukan pada wanita itu. Wanita itu semakin meraung kala sakit yang dirasa semakin menjalar. Ia bahkan menangis dengan perlakukan pria yang sebelumnya ia kagumi karena ketampanannya, tapi rupanya pria ini tak ubahnya seperti psikopat gila.
Aldrich tersenyum puas melihat kesakitan yang tergambar di wajah wanita itu. Ia hempaskan tangan yang telah ia patahkan sebelumnya. Membuat wanita itu semakin meraung kesakitan. Tanpa hati pria itu mengeluarkan lembaran dolar dari saku jaketnya dan menaruhnya di atas meja bar dengan menggebrak.
"Aku tidak suka ada tangan yang menyentuh tubuhku tanpa ijinku. Itu hukuman bagi orang yang lancang sepertimu!" Aldrich berdiri. "Gunakan uang ini untuk ke rumah sakit," ujarnya lantas pergi.
Aldrich meninggalkan kelab malam itu dengan ekspres datar tanpa rasa bersalah. Ia kembali memacu kuda besinya. Kali ini tanpa tujuan. Ia hanya ingin melupakan wajah dalam potret itu.
Tuas gas semakin ditarik, berharap angin membawa bayangan itu menghilang dari pikirannya. Tetapi semua tak segampang keinginannya, ingatannya justru kembali pada masa silam. Saat pertama kali ia bermimpi aneh.
Dalam mimpinya, ia menyelamatkan seseorang berpakaian pengantin yang jatuh ke dalam kolam. Ia terus saja memanggil wanita itu.
"Ivona ... bertahanlah, aku akan menyelamatkanmu!" Itu yang ia ucapkan dalam mimpi.
Ia tidak tahu siapa itu Ivona. Hingga asistennya mengatakan ada seseorang bernama Ivona yang akan menawarkan kerja sama dengan Zeuz corp. Namun, saat itu ia tak ingin bertemu dengan siapa pun sebab ia masih terganggu dengan mimpi aneh itu.
"Baiklah, jika Tuan tidak ingin bertemu dengan Nona Ivona, saya akan mengatakannya agar dia tidak lagi menunggu." Asisten Aldrich itu pergi menemui Ivona dan mengatakan tuannya sedang tidak ingin bertemu siapa pun.
__ADS_1
Waktu berlalu begitu saja, dan nama Ivona terus terbayang dalam pikirannya.
"Siapa tadi yang ingin bertemu denganku?" tanya Aldrich kala itu.
"Nona Ivona, Tuan."
"Ivona?" Sebuah nama yang sama dengan nama dalam mimpinya. Apakah orang ini juga orang yang sama, ataukah hanya sekadar nama saja yang sama.
Asisten Aldrich yang bernama David mengangguk.
"Panggil dia, aku akan menemuinya."
"Maaf, Tuan, Nona Ivona sudah pergi sejak Anda menolak bertemu dengannya tadi."
Aldrich mendelik marah. "Apa dia tidak bisa menunggu?" serunya pada sang asisten.
"Maafkan saya, Tuan, Nona Ivona sudah satu jam menunggu Anda dan Anda masih tidak bersedia menemuinya," jelas David tentang ucapan Aldrich sebelumnya.
"Bodoh! kenapa kau tidak mengatakan dari tadi jika namanya adalah Ivona, hah!" sentak Aldrich marah.
"Maafkan kebodohan saya, Tuan." Seharusnya bukan salah David karena sebelumnya ia sudah menyebutkan nama Ivona tapi salah Aldrich sendiri yang tak fokus. Ah ... sudahlah, bos selalu benar.
Aldrich menggeram marah. Harusnya ia menemui wanita bernama Ivona itu untuk memastikan.
"Aku ingin melihat wanita bernama Ivona itu!"
"Baiklah, Tuan." David selalu bisa berpikir cepat. Kecerdasannya selalu mampu diandalkan untuk menghadapi bosnya yang serta merta itu.
Dengan cepat David mencari profil Ivona di aplikasi pencarian dan membawanya pada Aldrich. "Ini Nona Ivona, Tuan."
__ADS_1
Melihat gambar Ivona yang terpampang di internet, Aldrich langsung syok. Apa ini kebetulan?
Kenapa wanita dalam internet yang bernama Ivona ini persis dengan Ivona dalam mimpinya?