IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.87 Gen Keluarga Iswara


__ADS_3

Vaya tidak sabar untuk langsung bertanya pada Tommy akan kedatangannya dari luar negeri, dengan bantuan Smith, Vaya menghubungi kakak laki-lakinya itu. Ia mengirimkan pesan pada Tommy.


[Kak, apa benar hari ini Kak Tommy mau pulang?]


[Aku jemput ke bandara, ya?]


Selesai mengirim pesan, raut sumringah terpancar jelas di wajah Vaya. Rasanya seperti tidak sabar untuk bisa menyambut kakaknya itu pulang dari luar negeri. Seperti sebelum-sebelumnya, ia selalu menjemput siapa pun Kakaknya yang pulang dari luar negeri, tentu saja Vaya punya maksud dan tujuan tersendiri. Penilaian orang lain terhadap dirinya sebagai putri paling disayang di keluarga Iswara adalah motivasi terbesar bagi Vaya. Segala bentuk pujian yang dilayangkan kepadanya sudah seperti zat adiktif bagi Vaya, selalu ia damba dan inginkan untuk membuatnya terbang ke awang-awang. Vaya sampai tersenyum-senyum sendiri membayangkan kepulangan Tommy hari ini.


Di dalam pesawat, Tommy yang menerima pesan dari Vaya hanya mendesah kasar. Seolah tidak tertarik dan malas menerima pesan dari adik yang dulu pernah begitu ia sayangi dan lindungi. Tommy hanya sekedar membaca tanpa ada niat untuk membalas pesan Vaya.


Kalau dulu, Tommy akan mengabulkan semua keinginan Vaya demi menyenangkan gadis itu, sekarang tidak lagi. Sejak ia terlahir kembali dan tahu sikap Vaya yang sebenarnya, membuat ia muak dan serasa enggan untuk peduli pada adiknya itu. Tommy justru teringat dengan Ivona, adik yang dulu ia sia-siakan tapi justru menjadi yang paling peduli padanya dan pada keluarganya.


Ia pun mengirimkan pesan pada Ivona.


[Iv ... kau ada di mana?]


[Hari ini aku pulang dari luar negeri, aku ingin bertemu denganmu. Aku juga membawa hadiah untukmu.]


Tulis Tommy, dalam pesannya.


Beberapa saat Tommy menunggu, tapi Ivona tak kunjung membalas pesannya. Hanya sebatas dibaca.

__ADS_1


Di dalam kelas, Ivona yang menerima pesan singkat dari Tommy merasa sangat aneh karena dalam ingatan Ivona, Tommy dan Thomas tidak bersikap baik pada Ivona si pemilik tubuh. Bahkan dua Kakak Ivona itu begitu membenci Ivona dalam kisah novel.


Ivona ingat dengan jelas plot yang menggambarkan kisah Tommy di ujung kisah. Di akhir cerita, dikatakan kisah Tommy yang dipenuhi rasa penyesalan terhadap Ivona di akhir-akhir hidupnya. Nasib Tommy termasuk paling mengenaskan di antara kisah kedua saudara laki-lakinya. Akhir karir yang hancur karena skandal, kenyataan akan vonis dokter tentang penyakit yang ia derita, hingga kehilangan kepercayaan dan kasih sayang dari para penggemar dan keluarganya, menjadi akhir tragis dari riwayat hidup Tommy di dalam novel. Di saat itu juga, Vaya sebagai adik tersayangnya memilih untuk melenggang pergi, tanpa mau peduli dengan nasib Tommy, sang kakak yang dulu selalu memprioritaskan dirinya.


Lalu sekarang, Tommy dan Thomas menunjukkan sikap yang bertolak belakang dari alur cerita yang tertulis dalam novel. Hal itu yang membuat Ivona menjadi ragu akan sikap kedua pria yang menjadi kakaknya dalam cerita.


Hingga pesawat Tommy landing, Ivona belum juga membalas pesan darinya. Adiknya itu seakan tidak peduli dengan apa pun yang Tommy lakukan, sikap Ivona itu membuatnya sedikit tidak senang.


Meski begitu, Tommy juga menyadari sikapnya dulu pada Ivona, yang membenci dan tak acuh pada gadis itu. Namun sekarang, setelah ia tahu akhir dari hidupnya, ia berusaha untuk merubah semuanya. Merubah sikapnya pada adik perempuan satu-satunya. Menjadikan Ivona kembali diterima dalam keluarga Iswara adalah tujuannya kembali.


Tommy memutuskan untuk menelepon Alexander dan memberitahu kalau dirinya sudah pulang dari luar negeri, setelah berpikir tentang Ivona yang tidak membalas pesannya.


"Halo," sapa Tommy ketika Alexander mengangkat panggilannya.


"Jangan terlalu sadis padaku, aku takut kau nanti tak bisa jauh-jauh dari aku," kelakar Tommy.


Di ujung sana, Alexander mendengkus kesal. "Katakan apa mau mu, atau matikan saja teleponnya," ketus Alexander. Pria itu seolah tak berubah jika berbicara dengannya.


Tommy justru tertawa menanggapi sikap dingin sahabatnya itu. "Bagaimana aku akan mematikan teleponnya sementara aku belum menanyakan kabarmu, kawan."


"Aku tidak butuh perhatian darimu!"

__ADS_1


Tommy semakin mengeraskan tawanya. "Baiklah-baiklah, aku tidak akan lagi menggodamu." Tommy berhenti tertawa dan mulai serius. "Aku ingin memberimu kabar, saat ini aku sudah kembali dari luar negeri, karena itu aku akan menjemput Ivona kembali untuk tinggal bersama ku."


"Terima kasih atas bantuanmu selama ini, terima kasih sudah menjaga adikku dengan baik. Kau memang teman yang selalu bisa diandalkan," sambung Tommy.


Di ujung telepon, Alexander merasa tersentak. Temannya itu mau mengambil kembali adiknya dari dirinya?


Mendadak menyeruak rasa tidak rela saat membayangkan Ivona harus pergi dari rumahnya. Ia sudah begitu nyaman tinggal bersama gadis itu. Kedekatan mereka akhir-akhir ini yang menjadi alasan Alexander tak ingin Ivona pergi dari rumahnya. Sejak Ivona tinggal bersamanya, ia merasa rumahnya seperti hidup, dan untuk itu Ia bahkan rela memberikan kamarnya agar bisa membuat gadis itu tertidur nyaman dan merasa betah tinggal di rumahnya.


Gadis kecil itu, telah menjadi warna tersendiri dalam dunianya yang serasa hitam dan putih. Dingin dan hampa. Namun, sejak kehadiran Ivona membuat ia merasa ada warna lain yang mulai melukis indah cerita hidupnya. Membuat dunianya yang dingin menjadi hangat dengan kesenangan menggoda gadis itu, membuat rasa hampa dalam ruang hatinya menjadi terisi dengan senyum dari Ivona.


"Alexander, apa kau masih mendengarkan aku?" panggil Tommy, tapi Alexander tak menjawab. Pria itu masih enggan menerima kenyataan yang ia dengar.


"Alexander Alberic, CEO Alberic grop. Apa kau sudah mulai tuli, hah!" sentak Tommy karena tidak sabar menunggu suara Alexander.


"Alexander ...," teriak Tommy, lagi. Bukannya mendapat jawaban, pria dingin di seberang sana malah mematikan panggilannya.


Hal tersebut membuat Tommy mengumpat temannya itu.


Tommy pun memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Ia melanjutkan langkahnya untuk keluar dari bandara. Melihat banyaknya fans yang sudah antri menunggu dirinya di pintu keluar, membuat mood Tommy yang tadi sempat buruk karena Alexander, sedikit terobati. Bukan hal yang mengagetkan melihat dirinya disambut para penggemarnya dengan antusias.


Pesona dirinya masih sangat ampuh untuk memikat para remaja putri dan juga kaum ibu-ibu untuk menjadi pemujanya. Wajah tampan nan rupawan yang ia dapat dari garis sang ayah membuatnya merasa terberkati terlahir menjadi seorang Iswara.

__ADS_1


Gen keluarga itu, selalu memberikan yang terbaik untuk mencetak rupa yang di damba oleh banyak orang. Bukan hanya dirinya, tapi kedua saudara laki-lakinya dan juga adik perempuannya memiliki paras yang menawan, sama seperti dirinya. Salah satu hal yang tidak ia sesali terlahir dari keluarga itu.


__ADS_2