IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.69 Penerus Keluarga Iswara


__ADS_3

Pertanyaan Kakek Iswara membuat Alexander mengaku, "Iya, Ivona memang tinggal di rumahku."


Kakek dan juga semuanya bertambah kaget saat mendengar pengakuan Alexander.


"Bagaimana bisa Ivona tinggal di rumahmu?" tanya Kakek.


"Awalnya karena Tommy meminta bantuanku untuk menjaga adiknya, tapi selanjutnya aku justru ingin melindunginya," jawab Alexander.


"Tommy?" gumam Vaya. Apakah sekarang Kakaknya itu juga sudah berpihak pada Ivona setelah Thomas?


Kenapa ia sampai tidak tahu jika Tommy pun telah berpaling darinya dan berdiri dipihak Ivona sekarang. Ia bahkan meminta bantuan Alexander untuk menjaga gadis gila itu. Setelah ini siapa lagi yang akan meninggalkannya demi Ivona, si anak sialan!


"Tommy, putraku?" tanya Tuan Iswara.


Alexander mengangguk. "Anda benar, Tommy putra Anda."


"Apa hubunganmu dengan Tommy dan bagaimana bisa ia menitipkan Ivona padamu?" tanya Tuan Iswara lagi.


"Kami berteman, dan saat itu Tommy yang tidak bisa menjaga adiknya meminta bantuanku agar aku mengijinkan Ivona tinggal di rumahku. Dia bilang, Ivona selalu pergi dari rumah. Tommy merasa Ivona akan lebih aman jika tinggal bersama ku dari pada harus tidur di jalanan," jelas Alexander.


"Benarkah Tommy yang memintamu?" tanya Kakek Iswara.


"Seperti yang Anda dengar, aku berkata sejujurnya," jawab Alexander.


Ada sedikit perasaan lega di hati Kakek Iswara. Setidaknya Tommy—cucunya—masih memikirkan adiknya, Ivona. Tadinya ia berpikir tidak ada seorang pun yang berpihak pada Ivona selain dirinya, hingga ia merasa seperti menanggung beban sendirian, dan tidak rela jika harus mati dengan cepat dan meninggalkan Ivona dalam ketidakadilan.

__ADS_1


"Apakah, Ivona merepotkan mu?" tanya Kakek.


"Ivona anak yang baik dan pintar, tidak sedikit pun ia merepotkanku, dia juga sangat suka tinggal di rumahku, dan tidak pernah lagi keluar rumah sembarangan," jawab Alexander.


Penuturan Alexander membuat Kakek bisa sedikit tersenyum setelah sebelumnya hanya emosi yang menguasai pikirannya. "Terima kasih, terima kasih telah membantu menjaga Ivona, tapi ...."


Alexander mengernyit saat Kakek Iswara menjeda kalimatnya. "Tapi, apa?" tanya Alexander.


"Tapi, aku tidak tenang jika Ivona tinggal serumah dengan mu," jawab Kakek Iswara.


"Kenapa?" tanya Alexander sedikit terkejut.


"Bagaimanapun, Ivona adalah putri keluarga ini. Sangat tidak pantas jika ia tinggal di rumah seorang pria tanpa ikatan apa pun," jelas Kakek.


Alexander sedikit heran dengan pemikiran Kakek Iswara. Bukankah di jaman ini, di negaranya, orang tidak terlalu mempedulikan status. Lagi pula, ia dan Ivona juga tidak melakukan hal yang melanggar hukum. Ia hanya berniat memberikan Ivona tempat tinggal, dan membantu gadis itu dari perlakuan buruk keluarganya.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" tanya Alexander.


"Kau tidak bisa melakukannya, Ivona adalah putri kami, tentu kami yang lebih berhak atas Ivona dari pada kau," jawab Nyonya Iswara.


Kakek Iswara memperhatikan Alexander dengan serius, ia merasa ada baiknya juga jika Ivona bersama Alexander. Setidaknya akan ada yang melindungi Ivona jika dirinya sudah meninggal.


"Tunggu, setelah aku pikir-pikir, Ivona memang lebih baik tinggal bersama Alexander. Selain Alexander bisa menjaganya, mungkin akan lebih baik untuk memulihkan kondisi mental Ivona," ucap Kakek. Bukankah tadi Alexander mengatakan jika Ivona suka tinggal bersama pria itu dan tidak lagi keluar rumah dengan sembarangan. Itu berarti kondisi kejiwaan Ivona menjadi lebih baik saat tinggal bersama Alexander.


"Ayah, ayah tidak bisa membiarkan Ivona tinggal bersama pria asing. Bagaimanpun Ivona itu seorang gadis, yang tidak pantas tinggal di rumah seorang pria yang bukan saudaranya. Ayah harus meminta Ivona untuk kembali ke rumah ini," bujuk Nyonya Iswara.

__ADS_1


"Kita tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Ivona di rumah ini, jadi tidak ada salahnya jika Ivona tinggal di rumah Alexander asalkan dia bisa bahagia," tukas Kakek Iswara.


Alexander tersenyum menang, karena Kakek Iswara mendukungnya. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengajukan permintaan lagi pada Kakek Iswara. "Selain syarat yang aku sebutkan sebelumnya, aku juga ada permintaan yang lain," ujar Alexander.


"Apa itu?" tanya Kakek Iswara.


"Aku harap Anda sebagi yang tertua di keluarga ini, membuat keputusan untuk menjadikan Ivona satu-satunya penerus keluarga Iswara selain dari ketiga kakaknya," jawab Alexander.


"Apa maksudmu?" sahut Nyonya Iswara cepat.


Alexander menatap wajah cemas Nyonya Iswara. "Maksudku sangat jelas bukan, aku ingin Ivona dijadikan satu-satunya penerus keluarga Iswara bersama ketiga kakaknya, dan Vaya tidak termasuk di dalamnya," jawab Alexander dengan seringai tipis di bibirnya.


Raut Tuan dan Nyonya Iswara mendadak pucat pasi mendengar permintaan Alexander. Nyonya Iswara langsung panik dan segera menarik-narik tangan Tuan Iswara agar membujuk Alex. "Kau tidak boleh tinggal diam Suamiku, kau harus segera bertindak. Kita tidak bisa membiarkan Vaya tersisih dari keluarga Iswara dan tidak punya masa depan. Bujuklah Tuan Muda Alexander agar membatalkan permintaannya, atau setidaknya memasukkan Vaya dalam daftar ahli waris," bisik Nyonya Iswara pada suaminya.


"Tunggu dulu, Tuan Muda, Vaya memiliki banyak hal yang selalu membanggakan keluarga ini, bahkan bakat Vaya telah menaikkan kehormatan keluarga ini, jadi, bagaimana mungkin dia tidak diijinkan untuk menjadi penerus keluarga Iswara?" ujar Tuan Iswara.


"Apa yang dikatakan suamiku benar, berkat Vaya dengan kemampuan bermain pianonya dan prestasinya di sekolah, membuat keluarga Iswara lebih disegani dan hal itu menambah keuntungan juga bagi nama baik keluarga Iswara, jadi sangat tidak adil jika Vaya tidak masuk dalam daftar ahli waris keluarga ini," timpal Nyonya Iswara.


"Tapi Vaya tidak memiliki garis keturunan keluarga Iswara, tidak ada darah Iswara dalam dirinya. Bukankah dia anak yang tidak sengaja hadir dalam hidup kalian dan menggantikan semua posisi Ivona," jelas Alexander.


Vaya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, kini harus berani bicara. Ia tidak mau jika posisinya terancam oleh Ivona berkat bantuan Alexander. Ia yang selama ini membuat bangga keluarga Iswara, tentu ia tidak akan rela jika harus tersingkir dari posisi penerus keluarga Iswara. Sejak dulu hingga nanti, hanya dia yang pantas menjadi penerus kelurga Iswara bersama ketiga kakaknya, bukan Ivona.


"Tuan Alexander?" sela Vaya.


Semua mata menatap pada Vaya.

__ADS_1


"Apakah Tuan Muda Alexander juga merasa kalau aku sudah merebut apa yang menjadi milik Ivona selama ini?" tanya Vaya dengan raut sendu.


Tuan dan Nyonya Iswara sampai tidak tega melihat Vaya yang begitu sedih mendengar permintaan Alexander.


__ADS_2