IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.51 Bertukar Kamar


__ADS_3

Teman Alexander yang masih berada di seberang telepon terus berusaha membujuk Alexander agar mau datang ke kelab bersama gadis sekolah yang diceritakan Alexander sebelumnya.


"Ayolah kawan, aku jamin kau tidak akan menyesal memenuhi undanganku. Aku juga yang akan menjamin gadismu itu tidak akan membuat ulah di acaraku," desaknya pada Alexander.


"Tidak, aku tidak bisa," tolak Alexander.


"Oh Tuhan, bagaimana aku bisa membujukmu agar mau datang ke acaraku?" pekik orang di seberang sana frustasi.


"Haruskah aku memberikan separuh saham perusahaanku untuk menyuapmu?" kelakar orang yang hanya terdengar suaranya itu.


Alexander terkekeh dengan candaan yang dibuat oleh temannya.


"Bagaimana, apa kau setuju jika aku melakukannya?"


"Sudahlah, jangan memaksaku karena itu akan membuatmu miskin," balas Alexander, mencoba berkelakar juga, bahkan nada bicara Alexander terdengar santai.


Hal itu bisa ditangkap oleh kawan Alexander di seberang sana. Ia tidak menyangka jika temannya yang selalu memasang wajah layaknya es balok ini bisa juga berbicara sesantai ini, bahkan bisa juga berkelakar seperti orang-orang pada umumnya. Semua pasti ada hubungannya dengan gadis yang sedang bersama Alexander saat ini.


"Baiklah aku tidak akan memaksamu lagi, kau tahu kenapa?" tanya orang yang di sebarang menyerah.


Namun, Alexander tidak menanggapi, yang akhirnya membuat orang di sana menjawab pertanyaannya sendiri. "Tentu saja karena aku belum siap untuk jadi miskin." Orang di sana tertawa dengan kalimatnya sendiri. Sementara Alexander hanya tersenyum tipis menanggapi.


"By the way, kau berubah kawan." Suara orang di sana membuat Alexander kembali fokus pada topik yang menurutnya akan serius ini.


"Aku yakin semua karena gadismu," sambung orang di sana.


Alexander yang mendengar hal ini, menoleh ke arah Ivona. Tatapannya lurus, garis bibirnya pun tertarik ke atas, menandakan ia tidak memungkiri ucapan temannya.


Ivona yang menyadari jika saat ini telah ditatap oleh Alexander, jadi salah tingkah sendiri. Matanya membulat, dagunya terangkat, mencoba bertanya ada apa, tapi bukan jawaban yang ia dapat karena Alexander hanya menyunggingkan senyum seraya mengangkat kedua bahunya.


Seperti ucapannya tadi, Alexander tidak memenuhi undangan temannya. Ia memilih untuk membawa Ivona pulang ke Vila miliknya. Hari sudah gelap saat mereka sampai di Vila yang berada dipinggiran Victoria.


"Terima kasih," ucap Ivona sebelum turun dari mobil. "Terima kasih sudah mengantarku hari ini," jelas Ivona agar tidak menimbulkan tanya bagi Alexander.


Alexander membalasnya dengan senyum tanpa kata. Ivona turun terlebih dahulu baru disusul oleh Alexander, karena pria itu harus memasukkan mobilnya ke garasi terlebih dahulu.

__ADS_1


Ivona memilih untuk langsung ke kamarnya, rasanya ia letih menjalani waktu satu harinya di G-school dengan berbagai peristiwa tidak terduga.


"Selamat malam, Nona," sapa Bibi Mina, pelayanan yang sempat berpapasan dengannya sebelum menaiki tangga menuju kamarnya.


"Selamat malam, Bi," jawab Ivona ramah.


"Apa Anda menginginkan sesuatu untuk menu makan malam Anda, Nona?" tanya Bibi Mina.


"Tidak, apa pun yang Bibi buat aku pasti akan memakannya," jawab Ivona.


"Baiklah, saya akan segera menyiapkan makan malam untuk Nona dan Tuan Muda."


"Jangan memanggilku Nona, panggil saja aku Ivona. Itu akan lebih baik," pinta Ivona.


"Maaf saya tidak berani lancang, Nona," tolak Bibi Mina.


"Ya sudah terserah Bibi saja." Ivona pun mengakhiri kalimatnya dan pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua vila ini.


Alexander yang baru saja masuk melihat interaksi yang ramah antara Ivona dan Bibi pelayan yang sudah setia pada keluarganya itu. Ada hal terpikir oleh Alexander melihat sikap Ivona yang ramah pada seorang pelayan.


"Gadis yang berbeda," ucapnya dalam hati.


Tubuhnya terasa lelah mengingat banyaknya hal yang ia lakukan, otaknya pun butuh istirahat setelah seharian bekerja. Ivona memilih untuk tidur lebih cepat dengan merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran Queen, yang memiliki kenyamanan lebih dari ranjangnya di kediaman Iswara.


Matanya mulai terpejam, dan perlahan terasa berat hingga kesadaran itu menghilang.


Baru saja memasuki tidurnya, Ivona kembali memimpikan sesuatu yang dia mimpikan sebelumnya. Napasnya terengah, mencoba mengingat mimpi yang sama.


Ia terduduk dalam remangnya cahaya, mengatur napas untuk kembali menenangkan jiwanya. Mencoba mengusir tanya tentang arti mimpi yang tak nyata. Ivona sempat meneguk air dalam gelas di atas nakas. Kemudian kembali mencoba menjemput mimpi, yang kali ini ia harapkan mimpi yang indah penuh arti. Namun, setelah mencoba beberapa saat, matanya tak juga terpejam. Pikirannya tak mampu beristirahat, bayangan akan mimpi itu terus menguasai otaknya.


Beberapa menit kemudian, dia berjalan ke kamar Alexander dan mengetuk pintu. Tak lama pintu dibuka oleh pemilik kamar, pria itu terlihat baru bangun juga. Semua bisa Ivona lihat dari rambut Alexander yang acak-acakan dan mata sayu seperti menahan kantuk.


"Ada apa?" tanya Alexander sembari menutup mulutnya yang menguap.


Ivona terdiam mengamati Alexander yang masih terlihat tampan meski baru bangun tidur. Alexander mengusap matanya agar terbuka lebar, ia baru menyadari jika yang berdiri di depan kamarnya saat ini adalah Ivona.

__ADS_1


"Kau, ada apa tengah malam ke sini?" tanya Alexander yang kini sudah mendapatkan penuh kesadarannya.


"Ehm ...." Ivona ragu untuk mengatakannya, norma kesopanan yang ia junjung melarangnya untuk mengatakan hal yang terbesit di otaknya.


"Apa?" tanya Alexander yang terus melihat Ivona yang kini tengah menyembunyikan bibirnya.


"Apa kau tidak bisa tidur?" tebak Alexander.


Ivona mengangguk cepat, senang rasanya isi kepalanya bisa terbaca oleh Alexander saat ini.


"Dan kau ingin aku menemanimu?" sambung Alexander.


Mata Ivona terbelalak, bagaimana mungkin pria ini dengan tepat membaca pikirannya.


Alexander tersenyum menggoda. "Kau tidak perlu kaget seperti itu, masuklah!"


Ivona tidak bisa melihat semerah apa pipinya sekarang karena malu, dan apa juga pendapat Alexander tentang dirinya yang ingin ditemani. Pasti saat ini, Alexander berpikir kalau dirinya adalah gadis murahan.


Ah ... tapi, mau bagaimana lagi. Ia benar-benar tidak bisa kembali tidur setelah mimpi tadi.


Ivona berjalan perlahan memasuki kamar Alexander. Aroma maskulin langsung menguar memenuhi rongga hidungnya. Ivona sempat terhenti sebelum mencapai ranjang, dan menoleh pada Alexander. Gadis itu menatap Alexander ragu.


"Tidurlah, kau tidak perlu ragu," ucap Alexander, dan sekali lagi ucapan pria ini tepat seperti yang ada dalam otak Ivona.


"Kau boleh tidur di sini, dan aku akan tidur di kamarmu. Itu akan membuatmu tenang."


Oh ... Ya Tuhan, bagaimana bisa pria ini sangat memahi pikiran dan keinginanya. Alexander seperti belahan dari jiwanya yang tahu benar isi hatinya.


Alexander benar-benar meninggalkan kamarnya dan pergi ke kamar Ivona. Mereka bertukar kamar malam ini. Ivona membawa langkahnya menjumpai ranjang besar milik Alexander. Ia mendudukkan dirinya di sana, menyapukan pandangannya ke sekitar, melihat dekorasi tempat tidur pria yang telah berbaik hati meminjamkan kamar untuknya.


Warna hitam, abu-abu dan putih mendominasi kamar dengan aroma maskulin yang sangat kental ini. Ada dinding kaca yang terhubung ke balkon kamar, sebuah sofa dengan ukuran big size terletak di sudut kamar menghadap layar besar yang tergantung di dinding.


Ada jalan yang seperti lorong, yang Ivona yakini adalah walk in closet, tempat di mana pria itu menyimpan berbagai koleksinya, seperti pakaian, sepatu, dan aksesoris.


Semua benda di kamar ini tertata dengan rapi, tidak ada satu benda pun yang terletak dengan posisi yang tidak seharusnya. Semua pas dan tepat dalam pandangan. Hal ini juga yang membuat Ivona berpikir jika Alexander pastilah seseorang dengan OCD (Obssesive Compulsive Disorder).

__ADS_1


Ivona mulai merebahkan dirinya di ranjang tempat Alexander sebelumnya tertidur. Ia menghirup kuat-kuat aroma maskulin yang menyebar di seluruh ruangan ini. Entah mengapa, aroma maskulin pemilik kamar ini membuatnya merasa tenang. Tidak lama kemudian Ivona mengerjapkan matanya mulai merasa mengantuk. Ia baru saja akan memejamkan matanya sesaat sebelum ponselnya berdering.


Ivona melihat siapa yang telah menelponnya dini hari seperti ini?


__ADS_2