IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.92 Tak Dianggap


__ADS_3

"Kak Tommy, apa aku boleh ikut?" sela Vaya di antara perdebatan Tommy dan Thomas.


Kedua pria itu kontan menoleh pada Vaya, dan menjawab serempak, "Tidak boleh!"


Mata Vaya terbelalak lebar dengan jawaban tegas kedua kakaknya. Bisa-bisanya mereka berdua kompak menolak mengajak Vaya serta.


Ivona ingin tertawa menyaksikan kekompakan Tommy dan Thomas saat menolak Vaya, tapi urung ia lakukan. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan dan memalingkan wajahnya dari tiga orang di dekatnya, agar tak terlihat reaksinya atas kekonyolan tingkah Tommy dan Thomas.


"Aku juga adik kalian, kenapa aku tidak diijinkan ikut?" tanya Vaya, lagi.


Tommy dan Thomas menatap Vaya malas secara bersamanya, tapi tak mengharukan tentang pertanyaan gadis itu.


"Sudahlah, Tom. Kalau begitu biarkan aku saja yang pergi dengan Ivona, kau lain kali saja," ujar Thomas hendak menarik tangan Ivona, tapi lebih dulu dihalangi oleh Tommy dengan menarik bahu adik laki-lakinya itu.


Thomas langsung memekik hebat saat Tommy menarik kuat bahu Thomas. "Aaawwww."


Tommy merasa heran dengan sikap Thomas, tidak biasanya adiknya itu akan merasa kesakitan hanya karena di tarik bahunya oleh Tommy, sebab ini bukan pertama kalinya mereka bermain hal seperti itu ketika bercanda. Kaget, karena teriakan kesakitan Thomas, Tommy pun berusaha memastikan apakah adiknya ini hanya bercanda atau memang sungguh merasakan sakit.


"Apa yang terjadi padamu?"


"Tidak apa-apa, hanya sedikit ada luka di bahu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku.":


Ivona menyadari ada yang aneh di badan Thomas. Ivona merasa tidak mungkin tidak apa-apa jika hanya disentuh saja Thomas merasa kesakitan.

__ADS_1


"Sudahlah, lupakan soal aku. Ayo Iv, kau pergi dengan ku saja," ajak Thomas.


Thomas akan kembali menarik Ivona, tapi kali ini Ivona justru membuka suara. "Katakan bagaimana kau mendapatkan luka itu?"


Thomas cukup kaget saat Ivona yang menanyakannya. "Ka-kau menanyakan hal itu padaku, Iv?" saking tidak percayanya, Thomas sampai tergagap.


"Sudah katakan saja," desak Tommy.


Thomas menatap Ivona sebentar, mencari raut tanya di wajah adik kesayangannya itu. "Sebenarnya, ini karena kesalahanku sendiri. Apa kau ingat saat aku mengusirmu?" tanya Thomas pada Ivona.


Ivona mencoba mengingat, kapan Thomas mengusir dirinya.


"Ah ... lupakan saja jika tidak ingat, toh kejadian itu sudah sangat lama. Ibu yang memukulku di hari aku mengusirmu dari rumah," jelas Thomas.


Ivona masih belum ingat kapan kejadian itu, adakah bagian dari novel yang Ivona lupa. Tidak mungkin ia melupakan sesuatu yang terjadi, apalagi kejadian itu menyangkut dirinya. Ivona kembali mencoba memutar memorinya, mencari bagian di mana saat ia diusir dari rumah.


Mendadak, pandangan Tommy menjadi dingin saat mengetahui hal ini. Ia tidak menyangka jika ibunya akan berlaku kasar pada Thomas.


"Tunggu, Thom," sergah Tommy. "Kau istirahat saja dulu di rumah. Kali ini biarkan aku saja yang mengajak Ivona. Lain kali baru kau yang mengajak Ivona. Bagaimana, apa kau setuju?"


Tadinya Thomas ragu, tapi saat Ivona juga ikut meyakinkan ia hanya bisa pasrah. "Tommy, benar. Kau tidak perlu ikut, kau bisa istirahat dulu di rumah," imbuh Ivona.


"Baiklah," jawab Thomas yang sebenarnya tidak rela.

__ADS_1


Saat Tommy mau membawa Ivona pergi dari tempat mereka berkumpul, tiba-tiba terdengar suara Vaya berteriak, "Kalian pergi saja lebih dulu, aku tidak bisa ikut dengan kalian karena aku ingin mengerjakan tugasku yang sudah menumpuk."


Vaya menoleh ke kanan dan kirinya, memperhatikan para siswa yang sedari tadi melihat apa yang sedang dilakukan oleh kelurga Iswara. Vaya sengaja bicara dengan keras agar tidak malu di hadapan teman-teman sekolah, jika kenyataannya ia tidak diajak sama sekali.


"Selamat bersenang-senang," seru Vaya.


Tommy tidak mengacuhkan Vaya, menganggap sikap Vaya dan ucapannya hanyalah angin lalu. Ia langsung memilih pergi dari hadapan Vaya.


Vaya yang sadar akan dirinya yang tidak diacuhkan, merasa begitu sakit hati. Kehadiran Tommy yang ia harap bisa menjadi obat akan sikap Thomas yang sudah berubah padanya, justru menjadi penambah luka. Sikap terus terang Tommy yang sebelumnya menolak dirinya bagaikan cuka yang disiram ke atas luka yang sebelumnya dibuat Thomas.


Vaya sangat marah pada kedua kakaknya itu, tapi apalah daya. Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima semuanya dengan pasrah.


Setelah kepergian Tommy dan Ivona, Thomas pun menyusul pergi. Hanya tinggal dirinya seorang di loby sekolah ditemani tatapan-tatapan curiga dari teman-temannya.


Saat Vaya ingin berlari dan bersembunyi dari kenyataan ini, ia melihat William keluar. Mendadak ada angin segar berembus menyejukkan hatinya ketika langkah William mendatanginya. Pria yang menaruh hati padanya itu pasti akan menghiburnya.


Semakin dekat langkah William, semakin besar harapan Vaya pada pria yang tadi menolongnya. Pria yang rela mendobrak pintu toilet hingga menggendongnya ke ruang kesehatan demi dirinya. Sejujurnya, sikap William sangat manis pada Vaya, selain itu perasaan William sangat besar pada Vaya, tapi anehnya Vaya justru memilih Roy.


"Will ...," panggil Vaya saat William ternyata hanya melewatinya begitu saja. Vaya mengira William akan menghibur dirinya setelah kejadian yang baru saja, tapi nyatanya tidak.


Vaya harus kembali kecewa pada seseorang. Dia sudah berharap lebih, tapi kenyataannya justru berbanding terbalik dengan harapannya. Emosi Vaya seakan ingin meledak saat William benar-benar tidak peduli padanya, bahkan menoleh untuk panggilannya tadi pun tidak.


Kenapa dengan William, apa yang terjadi dengannya. Bukankah tadi pria itu masih begitu peduli padanya, tapi sekarang pria itu seperti tidak mengenalinya. Apakah ini juga karena Ivona?

__ADS_1


Segala pikiran buruk selalu Vaya arahkan pada Ivona—gadis itu selalu jadi kambing hitam atas kekesalannya.


"William," seru Vaya lagi. Tak ada tanggapan apa lagi sahutan dari William. Pria itu terus melenggang pergi tanpa sedikit pun peduli pada Vaya.


__ADS_2