
Mr. Patrick ingin sekali memarahi Ivona atas kelancangannya menjawab kata-katanya. Namun, mendadak ia ingat tentang status Ivona. Meski raut kesal dan marah tergambar jelas di wajah wali kelas itu, ia tidak bisa berbuat apa pun selain menahan diri. Tentu saja ia tidak ingin berurusan dengan keluarga Iswara, terutama Thomas. Masih jelas di ingatannya bagaimana Tuan Muda itu pernah mengancamnya—jika terjadi sesuatu dengan adiknya—tidak akan melepaskan siapa pun yang berani mengusik adiknya.
Mr.Patrick terus menatap Ivona tidak suka, tapi tidak berani berbuat apa pun. Tidak tahan dengan situasi ini, Mr.Patrick hanya bisa memperlihatkan raut kesalnya pada Ivona, lalu pergi dengan wajah yang dingin, menahan amarah.
Di antara para siswa ada yang merasa heran dengan sikap wali kelas mereka hari ini. Tidak biasanya Mr.Patrick akan mendiamkan Ivona, ia pasti akan menghukum Ivona seperti waktu itu. Lalu, kenapa hari ini wali kelas mereka seolah tiada berdaya menghadapi Ivona.
Setelah Mr.Patrick keluar, masuklah Mr.Dennis yang akan mengisi jam pelajaran pertama. Kelas yang tadi sempat riuh, langsung tenang saat guru itu masuk. Kegiatan belajar mengajar pun berlangsung aman dan damai, tidak ada keributan sama sekali, hingga bel berbunyi mengakhiri jam pelajaran pertama.
"Bolehkah aku meminjam catatanmu?" tanya William yang duduk di samping Ivona.
Ivona menatap William sekilas, lalu mengangguk.
"Jika nanti ada yang tidak aku pahami, apa kau mau mengajariku?" Entah apa maksud William, tidak biasanya pria ini sok akrab dengannya.
Lagi-lagi, Ivona hanya menjawabnya dengan anggukan. Ivona mengambil buku catatannya dan memberikannya pada William. Setelah itu ia kembali menekuri buku lain yang ada di hadapannya. Baru sebentar, Ivona mengabaikan William dan memberi kesempatan pada pria yang katanya ingin menyalin buku catatannya itu, tapi William sudah memanggilnya kembali.
"Tolong jelaskan padaku di bagian ini." William menunjuk bagian dari tulisan Ivona yang tidak ia mengerti.
Ivona meraih bukunya kembali, kemudian membacanya sekilas sebelum memberikan penjelasan pada William. "Jadi, ini begini ...."
Jarak antara William dan Ivona yang sedikit renggang, membuat William kesusahan untuk menerima penjelasan. "Bisakah kau menggeser bangkumu, aku tidak kelihatan," ujar William.
__ADS_1
Ivona menatap William curiga saat mendengar permintaan pria itu, tapi setelah melihat jarak bangku di antara mereka, akhirnya Ivona menurut juga. Gadis itu menggeser bangkunya untuk bisa lebih dekat dengan William. Ivona kembali menjelaskan maksud dari catatannya, dan William memperhatikan dengan serius penjelasan Ivona. Sesekali mencuri pandang pada gadis itu. Gadis yang selalu bersikap dingin padanya dan tak tertebak. Gadis yang selalu membuat dirinya penasaran akan kehidupannya.
"Kau paham?" tanya Ivona usai menjelaskan.
William sedikit tersentak saat tiba-tiba Ivona mengajaknya berbicara. "Ah ... ya, aku paham," jawab William sekenanya.
Ivona kembali menyerahkan buku catatannya pada William agar pria itu segera menyalinnya, tapi nampaknya pria itu sengaja menahan Ivona agar ia bisa terus menatap Ivona dari jarak yang dekat seperti saat ini. "Tunggu, kau belum menjelaskan bagian yang ini." William menunjuk bagian lain agar Ivona menjelaskan padanya.
Ivona pun urung balik menggeser bangkunya. Ia kembali menjelaskan pada William tentang pelajaran yang tadi ia catat. Melihat interaksi antara William dan Ivona, membuat seisi kelas tercengang.
"Kenapa William bisa seakrab itu dengan Ivona?" bisik seseorang setelah melihat ke arah William dan Ivona.
"Iya, bagaimana bisa William seakrab itu dengan Ivona. Bukankah yang disukai William itu adalah Vaya," bisik lainnya lagi.
"Bisa jadi, lihatlah kedekatan mereka, bukankah William dan Vaya tidak pernah sedekat itu?"
"Kau benar, mungkin William sudah tidak lagi tertarik pada Vaya dan beralih pada Ivona."
"Lagi pula akan sulit mendapatkan Vaya dengan standarnya yang tinggi itu, kalau Ivona, aku yakin gadis itu tidak punya standar apa pun." Siswi itu menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan agar tawanya tidak keluar.
"Kau bisa saja." Mereka lanjut tertawa.
__ADS_1
Dari sekian banyak orang selalu saja ada yang tidak menyukai Ivona. Siswi yang sebelumnya beradu mulut dengan Ivona kembali menyindir gadis itu. "Aku tidak percaya dengan sekolah kita tercinta ini, bagaimana bisa menerima murid yang dihasilkan dari hubungan terlarang," teriaknya dengan sengaja.
"Yang lebih tidak aku percayai, jika keluarga itu adalah keluarga terpandang tapi ternyata memiliki kelakuan busuk hingga melahirkan anak haram," imbuhnya untuk memprovokasi.
Ivona yang mendengarnya tetap berusaha tenang, ia terus saja melanjutkan penjelasannya pada William.
"Kalau aku jadi si anak haram itu, lebih baik aku mengurung diri di kamar. Aku pasti akan sangat malu menghadapi dunia dengan statusku yang menjadi anak tidak resmi." Siswi itu terus saja berkoar menyindir Ivona.
Bukan hanya Ivona, William pun paham pada siapa sindiran itu ditujukan, tapi William memilih untuk tidak peduli. Ia berpura-pura tidak mendengar dan memilih fokus pada gadis di sampingnya. Jujur saja, William ingin mengatakan sesuatu yang bisa menguatkan Ivona agar tidak termakan dengan sindiran dan hasutan yang akan merugikan dirinya sendiri.
William tahu benar, kasus seperti ini sangat berdampak buruk bagi korban perundungan verbal. Korban yang termakan sindiran bisa jadi memilih jalan buruk untuk menyikapinya, dan William tidak ingin itu terjadi pada Ivona.
"Itu jika aku yang menjadi anak haram, sayangnya aku adalah anak yang lahir dari pernikahan yang sah, tapi kalau orang lain pasti ia sudah tidak punya malu lagi. Bagaimana mau punya malu, orang tuanya saja tidak malu saat menjalin hubungan gelap sampai melahirkan anak haram," ujar siswi itu lagi, yang semakin keterlaluan pastinya.
"Iv ... kau tidak perlu mendengarkan ucapan orang-orang seperti dia. Kau juga tidak usah mengambil hati, lupakan saja apa yang mereka katakan." William menunjukkan perhatiannya setelah tadi berusaha menahan.
Ivona berhenti menjelaskan dan menatap William dengan sorot mata yang tidak bisa William artikan.
"Maaf jika aku membuatmu tersinggung, aku hanya ingin memberikan dukunganku padamu," jelas William.
Ivona belum menjawab, ia masih terus menatap pria itu. Tiba-tiba, seorang murid perempuan berlari dari luar dan langsung menghampiri bangku William. Napasnya tersengal, saat ia berusaha mengatakan tujuannya. "Will ... kau harus segera ke toilet wanita. Vaya tengah mengurung diri di sana dan tidak mau keluar. Kami sudah berusaha membujuknya, tapi tidak berhasil. Kau harus segera ke sana dan membujuk Vaya," jelasnya dengan susah payah.
__ADS_1
William yang bingung dengan maksud siswi ini justru menatap Ivona. Seolah ingin meminta persetujuan akan permintaan siswi yang masih berdiri mengatur napas itu.
"Ayo, Will ... kau tidak bisa lagi membuang waktu. Segeralah bujuk Vaya agar ia keluar dari bilik toilet," pinta siswi itu sekali lagi.