IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.152 Siapa Kau?


__ADS_3

"Baiklah, hubungi dia. Gunakan kerja sama yang ia tawarkan sebagai alasan. Aku ingin bertemu dia," titah Aldrich pada David.


Namun sejak saat itu, Aldrich tak pernah bertemu Ivona karena sepulang dari kantor Aldrich, Ivona mengalami kecelakaan. Semakin hari mimpi itu semakin menghantui. Wajah Ivona semakin jelas dalam mimpi.


Ia pun memutuskan untuk mengetahui lebih lanjut perihal Ivona. Dengan bantuan asistennya, dan juga sekretaris Ivona sendiri yang menceritakan kisah Ivona. Dari mereka berdua lah Aldrich mendapatkan informasi lengkap soal Ivona. Mulai dari Ivona kecil hingga wanita itu terbaring tak sadarkan diri karena kecelakaan.


Anehnya lagi, setelah tahu semua informasi itu Aldrich menemui ayah Ivona—Felix Howard—dan menawarkan kerja sama untuk menyelamatkan perusahaan mereka yang hampir bangkrut, juga bersedia membiayai biaya pengobatan Ivona sampai sembuh. Untuk semua itu, tiba-tiba tercetus dari mulut Aldrich meminta Ivona sebagai imbalan. Hal yang kemudian membuatnya berpikir, untuk apa ia meminta Ivona. Sampai saat ini, saat ia melihat Ivona sudah sehat kembali, ia belum menemukan jawaban atas ucapan spontannya waktu itu.


Bahkan saat kemarin ia bertemu Ivona untuk pertama kalinya, ia hanya bisa menatap heran. Wajah gadis itu benar-benar serupa dengan wajah Ivona di dalam mimpi, tapi ia juga belum tahu arti mimpi itu. Kenapa setelah wanita itu kembali, ia tetap memimpikan hal yang sama. Adakah yang salah dalam semua ini?


Aldrich terus memacu adrenalinnya dengan menambah kecepatan kuda merah itu. Ia menghabiskan malamnya dengan berkendara tanpa tujuan. Ketika subuh tiba, ia baru menyadari jika perjalanannya sudah jauh dari pusat kota Victoria. Roda motor yang berputar membawanya ke sebuah pantai di Philip Island.


Aldrich turun dari kuda besi itu. Ia menatap ke arah munculnya matahari. Meski pikirannya tak berhenti memikirkan soal Ivona tapi nyatanya tubuhnya merasakan lelah dan butuh istirahat. Tanpa pikir panjang, Aldrich merebahkan tubuhnya di hamparan pasir. Matanya mencoba terpejam. Perlahan, embusan angin pantai membuatnya terbawa ke alam lena.


Tak lama mata itu terpejam, mimpi yang aneh kembali mendatanginya. Seketika Aldrich tersadar dengan kepala menengadah. Matanya langsung bisa menangkap indahnya langit di saat matahari terbit.


Ia mencoba mengatur napasnya dan kembali memutar ingatan tentang mimpi yang baru ia alami. Pemerannya masih sama, Ivona dan pria yang serupa dengannya, tapi ia tidak yakin jika itu dirinya.


Mimpi kali ini berbeda. Bukan lagi menyelamatkan Ivona yang mengenakan gaun pengantin. Tetapi sebuah adegan di pinggir laut yang sama persis dengan tempatnya saat ini berada. Seorang pria yang serupa dengannya menyatakan cinta pada wanita bernama Ivona.


Kalimat pria itu sangat jelas ia dengar, bahkan masih melekat di ingatannya.


"Aku mencintaimu, Ivona ... aku mencintaimu." Kata itu yang terus pria itu ucapkan sembari terus memeluk tubuh wanita bernama Ivona.


Aldrich telah dibuat frustasi dengan mimpi-mimpi itu. Pikirannya telah kacau oleh mimpi dengan gadis bernama Ivona. Sampai kapan mimpi itu menghilang dari dunianya dan membuat ia kembali normal. Wanita bernama Ivona itu bahkan sudah membuatnya tak normal sejak ia hadir dalam mimpinya.

__ADS_1


"Ivonaaaaaa ...." Aldrich berteriak sekuat-kuatnya untuk melepaskan beban bernama Ivona. Bukan hanya sekali, Aldrich mengulangnya sampai tiga kali agar wanita itu enyah dari otaknya.


Tak bisa, bayangan Ivona terus saja berkeliaran memenuhi ingatannya. Ia merasakan lelah yang teramat sangat tapi ia tak bisa lari dari bayangan Ivona. Tangan Aldrich mengepal menggenggam pasir. Setelah berpikir ulang, ia tak akan mampu menghindar dari mimpi dan juga wanita bernama Ivona. Ia harus hadapi semuanya.


Aldrich pun bangkit dan kembali memacu motornya. Bukan rumah yang menjadi tujuannya, tapi kantor HT yang ia inginkan.


Semua orang menunduk hormat dan menyapa Aldrich yang melewati mereka. Ada yang berbeda dari penampilan Aldrich kali ini, dan hal itu menimbulkan pergunjingan di antara karyawan wanita yang menjadi pengagumnya.


Aldrich tak ambil peduli. Ia terus saja berlalu menuju ruangannya sendiri. Saat keluar dari lift eksekutif, ia berpapasan dengan Ivona dan Ren yang akan keluar.


Mata mereka bersirobok, dan membuat getaran aneh dalam jantungnya kembali muncul. Persis ketika ia pertama kali melihat Ivona kemarin.


"Kau." Tunjuk Aldrich pada Ivona.


"Ikut ke ruanganku sekarang!" titahnya tak terduga.


"Aku?" Ivona menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja kau, aku hanya menunjukmu!"


"Untuk apa?"


Aldrich langsung mendelik.


"Sudah, Nona, ikut saja." Ren menyenggol Ivona.

__ADS_1


Aldrich kembali melangkah, kali ini diikuti Ivona di belakangnya. Mereka duduk berhadapan tapi Aldrich tak bicara sepatah kata pun. Pria itu hanya diam sembari mengamati Ivona, seolah tanpa kedip.


Ivona sendiri merasa heran dengan apa yang dilakukan pria ini. Atas tujuan apa pria yang telah merebut posisinya ini memanggilnya ke ruangannya, kemudian tak ada penjelasan dan tak ada yang dibicarakan. Waktunya sudah habis terbuang untuk meladeni pria aneh yang mungkin sudah masuk katagori tidak waras ini.


"Maaf, sebenarnya apa maksud dan tujuan Anda memanggil saya kemari?" Ivona akhirnya buka suara. Ia tidak tahan dengan aksi bungkam sang pemilik baru perusahaan.


Aldrich tak bicara, ia masih sama. Setia dengan posisinya yang menatap lekat Ivona.


Ivona mengembuskan napas kasar menanggapi pria tak wajar ini. "Baiklah, jika tidak ada lagi yang Anda inginkan saya akan pergi. Masih banyak urusan saya di kantor ini," ujarnya langsung berdiri.


"Duduk!"


Ivona yang sudah menghadap ke pintu, kembali membalikkan badannya. Ia menatap pria yang masih duduk dengan posisi tak berubah satu inchi pun.


"Duduk!" titah Aldrich sekali lagi.


Mau tak mau, Ivona kembali duduk. "Baiklah, katakan apa yang Anda inginkan," ujar Ivona tak sabar untuk segera pergi dari ruangan ini.


Bukannya menjawab, Aldrich kembali terdiam dan kembali menatap Ivona dengan tatapan yang sulit diartikan.


Ivona sudah merasa hilang kesabaran menghadapi pria aneh ini. Sekali lagi ia mencoba untuk pergi dari situasi tak mengenakkan ini..


"Saya akan segera pergi jika Anda terus saja seperti ini," ancam Ivona.


Namun Aldrich tetap diam.

__ADS_1


Pria satu ini benar-benar telah menyulut emosi Ivona. Wanita itu akan kembali berdiri, ketika Aldrich tiba-tiba membuka suara.


"Siapa kau?"


__ADS_2