
"Tunggu ... aku ingin meminta bantuanmu," ujar Caroline. Ia merasa merasa Ivona bisa membantunya.
Ivona yang baru beranjak kembali menghentikan langkahnya.
"Bantu aku keluar dari tempat ini," ucap Caroline dengan mimik memohon.
Ivona melihat sekitarnya, masih ada paparazi yang mengincar selebritas ini untuk dijadikan santapan publik, lalu kembali melihat Caroline yang terlihat benar-benar membutuhkan bantuan.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ivona menyetujui permintaan Caroline.
"Alihkan perhatian mereka agar aku bisa keluar dengan aman," ucap Caroline cepat.
Tanpa banyak berpikir, Ivona mengerti maksud Caroline. Mereka pun merencanakan trik untuk mengelabui para paparazi itu dan membuat Caroline keluar dengan aman. Caroline membisikkan sesuatu pada Ivona, gadis itu mengangguk paham dengan rencana sang selebritis.
Ivona meninggalkan Caroline lebih dulu. Selang beberapa menit, Caroline menyusul Ivona masuk ke dalam toilet. Di salah satu bilik toilet, Ivona melepas pakaiannya, dan meminjamkannya pada Caroline.
"Kau tunggu saja di sini, aku sudah meminta asistenku untuk menyuruh pelayan mengantarkan baju gantimu. Ok." Caroline menautkan ibu jari dan telunjuknya.
Ivona hanya mengangguk sebagai jawaban.
Diam-diam, Caroline keluar dari toilet dengan mengenakan baju milik Ivona. Ia menata rambutnya sama persis seperti Ivona untuk menipu para pencari berita yang sedari tadi memata-matainya. Sementara Ivona masih menunggu seorang pelayan datang membawakan baju ganti untuknya. Di dalam bilik toilet, Ivona menatap nyalang pada baju milik Caroline, baju tipis nan sexy itu tergantung di dinding toilet.
__ADS_1
Ia tak akan pernah bisa membayangkan jika dirinya yang memakai baju kurang bahan itu. Lebih baik dia terkurung selamanya di dalam toilet dari pada harus mengenakan pakaian terbuka milik Caroline ini. Setelah sabar menunggu, akhirnya suara ketukan pintu pun terdengar.
"Nona, saya adalah pelayan yang diperintahkan asisten Nona Wilson untuk mengantarkan pesanan Anda," ucap pelayan di luar pintu.
Ivona membuka sedikit pintunya, dan mengambil paper bag dari tangan pelayan. Ia melihat baju seperti apa yang Caroline siapkan. Untunglah, hanya celana jeans dan sweater dengan bahu terbuka. Ivona segera mengenakannya dan keluar dari sana.
Ivona yakin, Caroline sudah berhasil keluar tanpa mengundang sedikit pun rasa curiga dari para pencari warta itu. Ivona pun memutuskan keluar dari toilet. Ia berjalan sendirian menyusuri koridor yang sepi dan gelap. Baginya tidak masalah, kegelapan bukanlah hal yang ia takuti.
Langkahnya memelan saat melihat ada tiga hingga empat pria yang sedang berdiri bersandar di dinding lorong yang gelap tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, tapi ia terus melangkah. Saat Ivona akan melewati mereka, mereka semua kompak menahan langkah Ivona. Mau tidak mau Ivona berhenti untuk meladeni mereka meski sebenarnya enggan berurusan dengan para pria ini.
"Tuan Muda, nampaknya gadis ini lumayan juga," ujar salah satu di antara empat orang itu. Mereka semua menatap Ivona dengan tatapan yang menjijikkan, memperhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki Ivona. Seolah tak satu inchi pun terlewat dari pandangan mereka.
"Tuan Muda Frederick pasti Anda akan senang jika bisa mendapatkan gadis ini," timpal yang satunya dengan senyum merendahkan.
Ivona memperhatikan ke empat pria yang menghadangnya. Di lihat dari gaya dan tampilannya, pastilah orang yang dipanggil Tuan Muda Frederick itu adalah anak orang kaya. Di antara semuanya, hanya dia yang berwajah lumayan dibandingkan dengan ketiga temannya.
Pria yang disebut Tuan Muda Frederick itu menatap Ivona dengan serius. Ia sunggingkan senyum di bibirnya, menyetujui keinginan teman-temannya.
Ivona mengangkat sebelah alisnya, menandakan keingintahuannya tentang maksud para pemuda di hadapannya ini. Namun, berbeda artinya bagi para pria yang menghalangi jalannya. Ekspresi ingin tahu Ivona menjadi daya tarik bagi para pemuda kurang kerjaan ini. Bagi mereka, ekspresi bingung dan penuh tanya Ivona justru terlihat menggoda dan menantang bagi mereka.
"Kemarilah!" panggil salah satu dari mereka dengan melambaikan tangan pada Ivona.
__ADS_1
Perlahan Ivona maju, membawa langkahnya mendekat pada pria-pria yang terlihat memiliki niat jahat ini. Mereka menatap Ivona lebih lekat, saat jarak di antara mereka semakin terkikis. Salah satu di antara mereka tersenyum menyeringai, yang lainnya menatap seperti seorang predator.
Ivona berhenti tepat di hadapan pria yang di panggil Tuan Muda Frederick tadi. Ia masih diam, menunggu apa yang pemuda-pemuda ini inginkan darinya.
Tuan Muda Frederick itu mengeluarkan rokok dari saku jaketnya. Ia nampak memberi kode pada anak buahnya untuk menyalakan api. Kali ini, mereka ingin membuat permainan lebih menarik dengan meminta Ivona yang menyulut rokok milik Tuan Muda mereka.
"Nyalakan pemantiknya." Seorang pemuda menyerahkan pemantik pada Ivona dan menyuruhnya untuk menyulut rokok di jari Tuan Muda Frederick.
Ivona yang terlihat polos, menatap pemuda itu dan mengambil pemantik itu tanpa protes. Ia menyalakannya, lalu menyulut rokok di tangan Tuan Muda Frederick. Sikap patuh Ivona, membuat mereka semakin tertarik untuk memanfaatkan gadis ini. Wajah polos nan patuh, pasti akan jadi mainan yang menarik bagi mereka.
Setelah menyalakan rokok Tuan Muda, Ivona menundukkan pandangannya, muncul kilatan dingin di matanya. Sebentar kemudian ia mendongak, melihat asap yang mengepul dari rokok yang Tuan Muda itu hisap. Ia tersenyum menyeringai, senyum yang begitu menakutkan, "Lihatlah ini, bukankah asap ini sama persis seperti asap dupa di pemakaman, dan akan lebih menarik jika itu adalah pemakaman kalian?”
Seketika raut mereka langsung berubah murka. Tuan muda Frederick yang mendengar Ivona berbicara seperti itu langsung merasa tidak senang. "Gadis kurang ajar, beri dia pelajaran!" titahnya pada ketiga anak buahnya.
Sesuai perintah Tuan Muda, mereka mulai menyerang Ivona. Tanpa sedikit pun rasa takut, Ivona melawan mereka satu per satu. Seorang dari mereka mengulurkan tangannya, ingin membekap mulut Ivona. Namun, dengan gerakan lebih cepat, Ivona menarik kerah baju pria itu dan menariknya keras hingga terbanting.
Pria bertubuh besar itu tak berdaya melihat kemampuan Ivona. Di luar dugaan mereka, gadis kecil yang sempat mereka remehkan itu ternyata mampu membungkam mulut mereka dengan kemampuannya. Mereka dibuat tak percaya akan apa yang mereka lihat.
Menyaksikan anak buahnya kalah dari seorang gadis, Tuan Muda Frederick itu menjadi bertambah marah. Ia tak ingin menjadi pecundang yang kalah dari seorang gadis. "Apa yang kalian lakukan, ayo serang gadis ini, dan habisi dia sekarang juga!" titahnya penuh amarah.
Tak ingin mendapat murka dari sang Tuan Muda, meski sudah jatuh pun mereka kembali bangkit dan kembali menyerang Ivona. Masih sama seperti sebelumnya, Ivona tak ingin menyerah pada pria-pria berandalan ini.
__ADS_1