IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.111 Akhir Dari Roy


__ADS_3

Mata Ivona terbelalak, ia tidak mungkin bisa menghindar lagi karena jarak dirinya dan Roy begitu dekat. Matanya terpejam ketika pisau itu mulai terarah ke perutnya.


Sedetik kemudian matanya membuka, saat ia tidak merasakan sakit apa pun, tapi justru mendengar suara benda terjatuh. Dari suaranya, Ivona yakin itu adalah pisau milik Roy.


Seseorang telah menarik tubuh Roy ke belakang dan menghempaskannya begitu saja. Pisau di tangan pria itu terlepas dan terpelanting jauh— suara itulah yang tadi didengar Ivona. Tanpa ampun, Alexander menghajar Roy habis-habisan.


Pemuda itu tak berdaya, karena Alexander tak memberinya kesempatan untuk membalas barang sekali pun.


Pria itu baru berhenti ketika polisi yang baru saja masuk memerintahkan Alexander.


"Berhenti, Tuan Alexander!"


Emosi Alexander masih meninggi, hasrat untuk menghabisi pria itu juga masih sangat besar. Rasanya ia ingin membunuh Roy saat ini juga, tapi akalnya juga masih bekerja, yang membuatnya patuh pada perintah aparat.


Polisi segera meringkus Roy. Sementara Alexander menghampiri Ivona yang terlihat menyedihkan. Pria itu langsung mendekap Ivona. "Maafkan aku," lirih Alexander. "Harusnya aku tidak datang terlambat."


Ivona ingin tetap membuka mata, tapi rasanya ia sudah tidak kuat. Benturan di dinding membuat kepalanya berdenyut nyeri, darah dari lengannya juga masih saja mengalir. Tenaganya sudah sangat terkuras, Ivona benar-benar tidak tahan untuk tidak menutup mata dalam hilangnya kesadaran.


Alexander merasakan tubuh Ivona yang terkulai dalam dekapannya. "Iv," panggil Alexander.


Sebab panik pria itu langsung membopong tubuh Ivona pergi. Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Alexander tidak lagi peduli dengan urusan di tempat kejadian perkara. Ia serahkan semua pada pihak yang berwajib.


Beny dan Mr.Harry juga ada di sana, menyaksikan kejadian saat Roy digelandang oleh polisi. Guru pembimbing Ivona itu, tadi mengikuti mobil Alexander di belakang. Ia ingin memastikan apakah benar telah terjadi kasus penculikan terhadap Ivona. Nyatanya benar apa yang tadi dikatakan Beny. Meski sedikit terlambat karena harus menunggu hasil pemeriksaan CCTV, tapi Ivona masih bisa diselamatkan.


Mr.Harry pasti akan membawa kasus ini ke dewan sekolah. Ia akan memintakan keadilan untuk Ivona dengan seadil-adilnya.


___________________________________________


Sudah dua hari berlalu sejak hari penculikan itu. Kasus penculikan Ivona menjadi bahan gosip paling panas di G-school. Mereka tidak menyangka jika Roy dan Vaya bekerja sama untuk berbuat kejahatan. Beny yang dulu selalu jadi korban perundungan, kini dianggap seperti pahlawan karena dia lah orang pertama yang menjadi saksi penculikan itu. Semua orang memuji keberanian Beny.


Sedangkan Ivona, ia masih di rawat di rumah sakit karena kondisi tubuhnya kala itu. Namun, hari ini ia sudah diijinkan untuk pulang.


Ivona menatap Alexander yang sedang membereskan barang-barangnya selama dirawat di rumah sakit. Pria itu juga yang selalu menunggu dan menjaga Ivona selama dalam perawatan. Alexander bahkan tidak pulang dan memilih untuk tidur di ruang perawatan bersama Ivona.


"Kau tahu, kau terlihat seperti seorang kakak yang baik, yang peduli pada adiknya, yang sayang pada adiknya," ujar Ivona yang duduk di tepi ranjang. Alexander memang sengaja tak membiarkannya untuk turun dan membereskan barangnya sendiri.


Alexander menoleh, ia menatap Ivona yang terlihat juga masih menatapnya. "Sayangnya, aku tidak pernah ingin menjadi kakakmu."

__ADS_1


Dahi Ivona berkerut, ia tidak mengerti maksud Alexander. "Aku kan hanya mengumpamakan, kau seperti seorang kakak bagiku."


Alexander yang kembali menata barang-barang Ivona ke dalam tas menjawab, "Meski hanya umpama, aku tetap tidak ingin jadi kakak bagimu."


"Memangnya kenapa, apa ada yang salah jika aku jadi adikmu?"


"Tentu saja salah!"


"Apanya yang salah?"


Alexander memasukkan handuk yang menjadi barang terakhir milik Ivona ke dalam tas, kemudian menutup resleting tas itu. Ia berjalan menghampiri Ivona dan langsung mengungkung gadis itu dengan meletakkan kedua tangannya di kedua sisi Ivona. Alexander menatap lekat mata Ivona, yang membuat Ivona jadi salah tingkah.


"Salahnya adalah ...." Alexander berhenti, kini tatapan beralih pada bibir Ivona. Sadar akan hal itu, Ivona langsung menyembunyikan bibirnya dengan tatapan penuh tanya.


Alexander mendesah kasar. "Ah ... kau tidak paham dengan apa yang aku rasakan!" Kemudian meninggalkan Ivona dan mengambil tas milik Ivona.


"Ayo kita pulang!" ajaknya tanpa menoleh.


Jujur Ivona masih ambigu dengan jawaban Alexander. Apa maksud pria itu?


"Hei, apa kau masih ingin tinggal di sini?" seru Alexander dari ambang pintu karena Ivona tak mengikutinya.


Ivona sedikit bingung, ia menoleh ke kanan dan kirinya, terlihat mencari sesuatu.


"Kenapa kau masih berdiri di situ, masuklah!" seru Alexander yang sudah duduk di kursi kemudi.


Ivona menurut meski dalam hatinya masih bertanya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Alexander saat mobilnya sudah melaju.


"Apa tidak ada keluargaku yang tahu jika aku dirawat di rumah sakit?" Inilah yang menjadi pertanyaan Ivona sejak tadi. Kenapa tidak ada yang menjemputnya, bahkan saat dirawat pun tidak ada satu dari anggota keluarga Iswara yang datang melihat kondisinya.


Alexander tertawa, dan itu membuat Ivona bingung. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya?


"Kenapa, apa aku salah juga dengan bertanya seperti itu?"


Alexander masih tertawa. "Tidak, sangat wajar kau bertanya seperti itu."


"Lalu?"

__ADS_1


"Tidak ada yang tahu kalau kau pulang hari ini," jawab Alexander.


"Apa mereka juga tidak tahu aku ada di rumah sakit ini. Kenapa tidak ada yang datang sama sekali."


Alexander hanya menggedikkan bahunya sembari mengulum senyum.


Melihat jawaban Alexander membuat Ivona sedikit sedih. Tapi sudahlah, dari dulu memang ia tidak pernah diperhatikan, jadi untuk apa sedih untuk hal yang sudah sering ia terima. Ivona akhirnya harus menghibur dirinya sendiri.


"Oh ... ya, bagaimana dengan Roy dan Vaya?" tanya Ivona untuk mengalihkan pikirannya.


"Roy sudah ditahan oleh polisi karena kasus penculikan dan kekerasan berencana. Dia juga sudah dikeluarkan dari G-school, sementara Vaya ...." Alexander berhenti.


"Kenapa?" desak Ivona.


"Dia kabur." Alexander menoleh, melihat kekecewaan di wajah Ivona.


"Bagaimana dia bisa kabur?"


"Entahlah, saat kami sampai di sana Vaya sudah tidak ada. Polisi juga sudah menyisir seluruh rumah sakit tapi tidak menemukan Vaya."


Ivona sangat kecewa mendengarnya. Jujur, harusnya Vaya yang mendapatkan hukuman paling berat karena Ivona yakin, otak dari semua kejahatan ini adalah Vaya.


"Kau jangan khawatir, aku sudah berusaha mengerahkan anak buahku dan juga mendesak polisi agar segera menangkap putri gadungan itu. Berita bagus lainnya adalah, kepala rumah sakit jiwa itu juga sudah ditangkap oleh polisi. Dia dilaporkan oleh aktifis pegiat perlindungan anak dan wanita atas kejahatannya selama menjabat sebagai kepala rumah sakit. Dan keberadaan rumah sakit jiwa itu juga sedang ditinjau ulang apakah masih layak dipertahankan ataukah tidak. Mengingat letaknya yang jauh dari kota dan pemukiman yang membuat mudahnya terjadi kejahatan di tempat itu, serta kondisi bangunan yang sudah rapuh, akan menjadi bahan pertimbangan untuk dihancurkannya rumah sakit itu."


Mendengar berita itu, Ivona merasa sedikit lega. Setidaknya tidak akan ada lagi kasus seperti dirinya. Ivona mengalami sendiri berbagai penyiksaan yang dilakukan di sana tapi tidak mampu meminta tolong pada siapa pun.


Untuk sesaat mereka saling diam. Hingga Ivona tergelitik untuk bertanya tentang keberadaan Alexander saat itu di rumah sakit jiwa.


"Bagaimana bisa kau tiba-tiba datang menyelamatkan aku?" tanya Ivona merubah topik. Sudah lama ia ingin tahu tentang Alexander yang datang menolongnya.


Alexander menoleh sekilas. "Sore itu aku ingin menjemputmu karena aku ingin menjenguk kakekmu, tapi ketika sampai di parkiran aku justru mendengar dari teman gendutmu itu jika kau diculik."


"Oh .... " Ivona hanya manggut-manggut. Dari cerita itu Ivona sudah bisa tahu cerita selanjutnya.


Ivona mengalihkan pandangannya keluar jendela, ia menatap tepian jalan yang rimbun. Setelah berjalan sangat jauh Ivona baru tersadar.


"Kita mau ke mana, ini bukan jalan pulang, bukan?" pekik Ivona menoleh pada Alexander.


Pria itu terdiam, tapi Ivona bisa melihat jelas seringai di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2