
Beny berjalan mendekati Alexander, langkah ragunya ia paksakan untuk terus menemui pria yang katanya adalah kakak dari gadis penolongnya. Ia terus mengingat kata-kata Ivona tentang alasannya tidak bisa bertemu dengan kakaknya saat ini. Gadis itu bilang, Ivona memiliki rasa yang aneh pada kakaknya, rasa yang tidak bisa ia terjemahkan dalam kata, apa lagi menyebutnya. Ia membutuhkan waktu untuk sendiri, untuk kembali menganalisa perasaan terlarangnya pada sang kakak.
Meski hatinya berdenyut nyeri mendengarkan cerita Ivona, tapi demi bisa lebih dekat dengan gadis itu, Beny menahan semuanya. Ia yakin perasan itu akan segera hilang, karena ikatan saudara diantara keduanya.
Sementara bagi Ivona, ia terpaksa membuat cerita tidak masuk akal itu demi bisa bertemu dengan Caroline. Jika ada Alexander sudah dipastikan ia tidak akan bisa menemui sang artis, sebab itu ia memanfaatkan Beny agar membuat Alexander pergi dengan cerita palsunya.
Langkah Beny semakin dekat dengan Alexander, dari jarak ini Beny bisa melihat ketampanan yang luar biasa dari seorang Alexander Alberic. Pria dewasa yang memancarkan aura kharismatik, dan menawan itu sangat memesona mata yang memandangnya. Tidak salah jika Ivona bisa terperangkap dalam rasa yang tidak boleh ada, karena ia sendiri pun bisa merasakan magnet ketertarikan akan wajah rupawan laksana dewa tersebut.
"Ma-maaf, a-apa kau kakak Ivona?" tanya Beny tergagap saat berada tepat di depan Alexander. Aura magis yang menyihir siapa pun yang memandang pria itu membuat Beny turut larut dalam kegugupan.
Alexander membuka kacamatanya, menatap Beny yang tidak ia kenal.
Seketika otak serasa kosong, tersihir oleh dua manik indah di depannya. Beny meneguk salivanya berkali-kali, mengagumi keindahan yang terukir di wajah rupawan pria ini. Kakak Ivona ini benar-benar tampan, dilihat dari sisi mana pun. Bak tidak ada cela sedikit pun saat Tuhan menciptakan pria ini. Batin Beny menjerit iri. Membandingakn antara dirinya dan pria tampan dihadapannya.
"Kau siapa?" tanya Alexander.
"A-aku, aku adalah teman sekelas Ivona," jawab Beny gugup.
"Oh ...."
Beny terus menatap kagum pada Alexander, bahkan suaranya saja terdengar begitu merdu, ia yakin tidak akan ada kaum hawa yang mampu menolak pesona pria di hadapannya ini.
"A-ada pesan dari Ivona, dia sudah pergi dari tadi. Dia bilang dia tidak ingin bertemu denganmu untuk sementara waktu."
Dahi Alxander berkerut dalam, menyiratkan pertanyaan dari ucapan Beny.
"Di-dia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri," sambung Beny.
Alexander semakin tidak mengerti, untuk apa gadis itu butuh waktu untuk menenangkan diri. Memangnya apa yang terjadi?
"Apa dia sedang menghindariku?" tanya Alexander.
"Bu-bukan begitu, dia hanya butuh waktu sebentar untuk menata hatinya," jawab Beny semakin membuat Alexander bingung.
"Untuk apa?" tanya Alexander.
__ADS_1
Beny menunduk, ia ragu untuk bercertia tapi hatinya berkata ia harus jujur untuk membantu Ivona melepaskan rasa yang seharusnya tidak ada. "Ivona menyukaimu," ucap Beny cepat.
Alexander membuka matanya lebar tidak percaya dengan apa yang baru saja pria gendut ini katakan.
"Dia menyukaimu lebih dari saudara, karena itu dia ingin pergi sebentar untuk menata ulang perasaannya," jelas Beny.
Mendengar cerita Beny, Alexander tertawa pelan. Ia Ia mengigit tangkai kacamatanya, sembari menoleh ke sisi kanan, di mana ada pohon golden wattle di sana. Tanpa sengaja ia mendapati seseorang yang tengah mengintip dari pohon itu, orang itu langsung menyembunyikan diri saat dirinya menengok tepat ke arah dia bersembunyi.
Alxeander tahu sekarang, ini pasti permainan gadis itu. Nada bicara Alexander terdengar malas saat menjawab Beny, "Apa kau juga bisa membantuku?"
Beny tercekat, ia tidak tahu bantuan apa yang diinginkan kakak Ivona ini.
"Tolong katakan pada adikku, kalau aku hanyalah anak angkat," Terselip senyum tipis di bibir Alexander saat ia mengikuti permainan Ivona.
Beny langsung tercengang, kepalanya tidak bisa berpikir lagi. Harapannya hirap ditelan kenyataan tentang perasaan Ivona yang tidak salah kepada kakaknya.
Dibalik pohon golden wattle yang memiliki usia lebih dari dua puluh tahun itu, Ivona nampak gugup. Hampir saja ia ketahuan oleh Alexander saat mengintip pria itu dengan Beny.
Ia berharap Beny berhasil membuat Alexander pergi, agar ia juga bisa segera pergi untuk temu janji dengan Caroline Wilson. Ivona tidak lagi menghadap ke arah Beny dan Alexander tadi berbicara, ia memilih untuk tetap bersembunyi dibalik pohon besar ini sembari menunggu Beny kembali.
Tiba-tiba pandangannya terganggu dengan munculnya sepasang sepatu oxford berwarna hitam mengkilat. Sontak hal itu membuat Ivona mendongak demi melihat pria yang tengah berdiri tepat di hadapannya.
"Apa kau menungguku?" tanya Alexander dengan nada menggoda.
Ivona yang salah prediksi menjadi canggung dan bingung dalam satu waktu. Bukan Beny yang kembali padanya membawa berita, tapi pria ini yang justru mendatanginya, jika sudah begini ia yakin rencananya bisa gagal total.
"Ah ... i-itu, aku sedang menunggu teman," jawab Ivona gugup.
Alexander menyunggingkan senyumnya. "Apa pria gendut tadi yang kau tunggu, jika ya, aku sudah menyuruhnya pulang terlebih dahulu." Awalnya Alexander ingin meminta bantuan Beny agar menemui Ivona lagi dan mengatakan jawaban dari kebohongan Ivona, tapi setelah dipikir ulang akan lebih baik jika ia membuat kejutan pada gadis itu dengan mendatanginya, dan meminta Beny pulang terlebih dulu.
Ivona kaget, matanya hampir terbelalak mendengar pengakuan Alexander.
Pria dewasa yang kharismatik ini tiba-tiba membungkukkan tubuh mendekati wajah Ivona, "Apa benar apa yang dikatakan anak gendut tadi?" bisik Alexander di telinga Ivona.
Ivona semakin kaget dengan pertanyaan Alexander. Memangnya apa yang dikatakan Beny, tidak mungkin, 'kan, pria gendut itu menceritakan cerita yang tadi ia karang.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar menyukaiku?" lanjutnya dengan suara yang masih sama lirihnya.
Tubuh Ivona menegang seketika. Jantungnya berdetak lebih cepat karena aksi berbohongnya. "Oh ... itu ya, a-aku hanya bercanda dengan temanku, jangan dianggap serius." Ivona mencoba tertawa untuk meyakinkan jika dirinya memang benar-benar sedang bergurau.
Alexander menarik kembali kepalanya untuk lebih tegak. Jari-jari pria itu terulur untuk menyentuh dagu Ivona, dengan cepat Ivona menghindarinya.
Alexander justru terkekeh-kekeh melihat aksi Ivona yang menghindar. "Apa kau takut padaku?" tanya Alexander.
"U-untuk apa aku takut?"
Alexander semakin gemas melihat sikap malu-malu Ivona. Gadis itu mungkin bisa menipu orang lain, tapi tidak dengan dirinya. Bahkan saat ini Alexander bisa melihat rona merah di pipi Ivona.
"Ku kira kau akan takut jatuh cinta padaku," kelakar Alexander.
Ivona mendecih kesal mendengar gurauan dari pria ini.
Cih, aku bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu.
Alexander berhenti tertawa saat raut Ivona sudah bertambah kesal. "Ayo kita pulang," ajaknya.
Ivona kembali gugup, ia tidak bisa pulang sekarang karena ia telah berjanji pada Caroline, hari ini dia akan menunjukkan hasil karyanya.
"Ehm ... aku masih ada sedikit urusan, jadi aku akan pulang sendiri nanti," tolak Ivona.
"Urusan apa?"
"I-itu, hanya urusan yang sepele." Ivona menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari tersenyum. "Iya, bukan urusan penting," imbuhnya.
Melihat gerak-gerik Ivona yang aneh, Alexander pun berkata, "Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu."
"Apa?" pekik Ivona. "Tidak-tidak, aku bisa pergi sendiri. Aku tidak ingin merepotkan mu."
"Sudahlah tidak usah membantah, aku akan tetap mengantarmu kemana pun kamu pergi." Tanpa menunggu persetujuan dari Ivona, pria itu langsung menggandeng tangan Ivona dan menyeretnya ke mobil Roll Royce hitam miliknya.
Ivona yang hanya bisa pasrah segera membuka ponselnya, dan mengirimkan pesan pada Caroline untuk mengganti lokasi pertemuan mereka menjadi di toko buku dekat bar.
__ADS_1