
Setelah merasa lebih baik, Vaya kembali ke kelas. Ia kembali mengikuti pelajaran sampai jam pelajaran usai. Saat bel berbunyi ia tak lantas keluar, Vaya memeriksa ponselnya lebih dulu. Berharap Tommy sudah membalas pesannya, tapi, sampai jam pulang sekolah tak satu pun pesan dari Tommy ia dapatkan. Sedikit kesal, tapi Vaya mencoba menghibur dirinya sendiri.
Mungkin, Tommy masih sibuk dengan urusannya atau mungkin juga dengan para fans fanatiknya. Vaya tahu benar, kakaknya yang bekerja di industri hiburan itu memiliki penggemar yang tak sedikit. Begitulah Vaya mencoba menghilangkan kesal dalam hatinya.
Kalau Vaya begitu mengharap balasan dari Tommy, lain halnya dengan Ivona. Tidak sedikit pun Ivona memikirkan kepulangan Tommy, ia lebih memilih menyibukkan dirinya untuk memikirkan pekerjaan dari pada memikirkan kakaknya itu. Ivona mulai berkemas, memasukkan satu per satu buku yang tadi ia gunakan untuk belajar, saat memegang buku yang tadi dipinjam oleh William, gadis itu langsung teringat akan pria yang duduk di sampingnya itu. Ivona menoleh, melihat bangku kosong William. Ia baru sadar jika sedari tadi, sejak seorang siswi menariknya ke toilet untuk menolong Vaya, pria itu tidak lagi kembali ke kelas. Padahal, Vaya yang tadi ditolongnya sudah kembali dan bisa mengikuti pelajaran. Lantas, di mana pria itu sekarang?
Ivona baru saja ingin menebak keberadaan William saat suara Beny mengagetkannya. "Hei, kenapa belum pulang?" tanya Beny menyadarkan Ivona.
Ivona mendongak, menatap pria besar yang berdiri di depannya. Gadis itu tidak menjawab, tapi ia mengangkat bukunya dan memasukkannya ke dalam tas, ia rasa itu sudah cukup menjawab pertanyaan Beny.
"Vaya, kau tidak mau buru-buru pulang?" terdengar tanya dari seorang siswi bernama Rossie. Suaranya tidak begitu keras, tapi masih bisa terdengar dari bangku Ivona. "Bukankah kakakmu Tommy hari ini pulang dari luar negeri?" sambungnya.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Vaya pura-pura.
"Astaga, Vaya ... bagaimana mungkin aku tidak tahu tentang kepulangan idolaku. Apa kau lupa kalau aku adalah penggemar sejati kakakmu."
Vaya tersenyum malu, keluarganya memang selalu jadi idola, bukan hanya Thomas dan Tommy, ia pun punya banyak penggemar.
"Apa kau akan menjemputnya seperti biasa?" tanya Rossie lagi.
Vaya akan menjawab pertanyaan Rossie, tapi mendadak ekor matanya menangkap bayangan Ivona yang masih duduk di bangkunya. Vaya memutar tubuhnya, sengaja mengarah pada Ivona, dengan bangganya ia berkata, "Tentu saja, siapa lagi yang akan menjemput Kakakku ke bandara jika bukan aku ... adik tersayangnya." Vaya dengan sengaja memperjelas kata adik tersayang untuk menyindir Ivona. Tak ada tujuan lain selain pamer status sebagai adik tersayang.
Rossie tersenyum senang mendengar ucapan Vaya, mendekati adik dari idolanya pasti akan sangat menguntungkan baginya. Siapa tahu, ia bisa jadi lebih dekat dengan Tommy—sang idola—jika Vaya mengajaknya main ke rumah keluarga Iswara.
"Jadi, kenapa kau buang-buang waktu, ayo kita pulang. Nanti Kakakmu terlalu lama menunggu di bandara," ajak Rossie.
Vaya masih mengarahkan pandangannya pada Ivona, menunggu reaksi rivalnya itu, tapi sayang, Ivona tak sedikit pun menggubris ucapan Vaya, bahkan sekadar melihat pun tidak. Ivona lebih memilih untuk menekuri buku-buku di mejanya dan masukkannya ke dalam tas.
Vaya mendelik tajam melihat sikap tak acuh Ivona. Niatnya untuk membuat Ivona cemburu justru tak tersampaikan, tentu saja hal itu menjadi boomerang baginya, karena hasilnya ia sendiri yang harus menahan kesal, dengan kata lain ia gagal pamer.
"Vaya, ayo cepat," ajak Rossie.
Vaya menoleh pada Rossie. "Ah ... i-iya." Ia pun bangkit dan meninggalkan kelas dengan membawa segala rasa jengkelnya pada Ivona.
Ivona yang sudah tahu niat Vaya, tersenyum menyeringai menatap kepergian gadis tukang pamer itu. "Kau pikir enak diabaikan, aku bukan orang bodoh yang akan terpancing dengan ide konyol dan murahanmu itu!"
__ADS_1
Vaya mulai berjalan menyusuri koridor, di sepanjang lorong pintu keluar hingga ia tiba di loby sekolah, hampir rata-rata siswa membicarakan tentang kepulangan Tommy dari luar negeri. Mereka juga membicarakan rasa iri mereka pada Vaya, karena memiliki nasib yang sangat beruntung. Ia dilahirkan dari keluarga kaya dan terhormat, memiliki orang tua yang begitu menyayanginya, kakak-kakak yang tampan dan terkenal.
Oh ... sungguh beruntung hidup Vaya. Andai saja bisa bertukar tempat dengan Vaya dan menikmati kehidupannya yang penuh dengan keberuntungan, pastilah akan sangat membahagiakan.
Sekumpulan gadis di G-School, sedang mengobrol ria tentang Tommy, sang idola.
"Apa kau tahu kalau kakak Vaya akan pulang hari ini?"
"Tentu saja, beritanya saja sudah menjadi trending topik."
"Kak Tommy yang sekarang bertambah keren, ya?"
"Benar, aku juga merasa begitu, semakin tampan saja."
Mereka para siswi yang sedang membicarakan Tommy tertawa bersama-sama.
"Andai saja aku bisa jadi kekasih Kak Tommy, pasti aku akan selalu memasang foto kami berdua di media sosialku."
"Mimpi!"
"Eh ... tapi, yang paling beruntung itu adalah Vaya. Paling enak itu menjadi Vaya, dia bisa jadi adik tiga pria tampan."
"Punya kakak yang tampan," seloroh siswi lainnya bersamaan.
Mereka kembali tertawa bersama-sama.
Vaya tersenyum percaya diri mendengar pujian untuknya dan untuk Tommy. Vaya langsung berdehem dengan keras agar para gadis yang sedang membicarakan dirinya dan kakaknya itu menyadari keberadaannya di sana.
Suara dehem Vaya rupanya ampuh untuk membuat para gadis itu menoleh padanya. "Va-vaya?" ucap mereka hampir bersamaan.
"Apa kalian sedang membicarakan tentang aku dan Kakakku?" Vaya melipat tangannya di depan dada.
Para gadis itu saling tatap, ada sedikit rasa takut juga saat Vaya menanyai mereka.
"Kuharap kalian hanya membicarakan hal-hal baik tentang keluargaku," sambung Vaya.
__ADS_1
"Te-tentu, Vaya, kami pasti membicarakan hal baik tentang mu dan kakakmu. Kau tahu bukan, jika kami semua di sini adalah penggemar berat Kak Tommy, dan juga kau," ujar salah seorang siswi.
"Benar, Vaya, kami adalah penggemar setiamu dan Kakakmu," timpal yang lain.
Vaya tersenyum sombong. "Baguslah kalau begitu."
"Va-vaya, bolehkah kami meminta bantuanmu untuk mendapatkan tanda tangan Kak Tommy," pinta salah satu dari para siswi.
"Benar, Vaya, mau kah kau membantu kami. Kami sangat ingin mendapatkan tanda tangan Kak Tommy."
"Bagaimana, ya?" Vaya dengan gaya sombongnya, meletakkan jari telunjuknya di dagu, seolah sedang mempertimbangkan permintaan mereka.
"Ayolah, Vaya, tolong bantu kami," bujuk siswi itu.
"Aku yakin kau adalah teman yang baik, dan juga adik yang baik bagi kakakmu. Bantu kami, ya."
Vaya menatap mereka satu per satu, seolah menilai apakah mereka layak mendapatkan tanda tangan Tommy atau tidak.
"Maafkan aku, aku tidak bisa membantu kalian, Kakakku pasti sangat kelelahan setelah pulang dari luar negeri." Vaya memasang wajah bersalahnya.
"Maaf, ya," ujarnya kemudian pergi dari para gadis itu. Lain saat raut wajahnya dilihat oleh para gadis itu, lain lagi saat dirinya sudah berpaling, ia memasang raut sombongnya. Dalam hati ia bahkan menghina para gadis itu.
"Cih, penggemar sejati. Kalian bahkan tidak lebih dari sekedar sampah bagi kami!"
Vaya yang sudah keluar dari Loby, mendadak menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang sangat ia kenal turun dari mobil mewah. "Kak Tommy," gumam Vaya.
Pria yang sedang menjadi perbincangan para siswi di sekolahnya itu, kini berada tepat di depan matanya. Seolah tak percaya,Vaya mengedipkan matanya berkali-kali, Tommy benar-benar ada di sini, di G-school, di depan matanya.
Raut wajah Vaya semakin bahagia, bahkan bersemu merah karena merasa apa yang dilakukan Tommy kali ini benar-benar sukses meluluhkan hatinya. Rasa kesal yang sempat mendera, semua hilang tanpa tersisa berkat kejutan yang Tommy berikan.
Vaya tidak menyangka, jika alasan Tommy tidak membalas pesannya karena kakaknya itu ingin memberikan sebuah surprise. Mata Vaya sampai berkaca-kaca mengingat betapa manisnya perlakuan Tommy padanya.
Vaya berjalan menghampiri Tommy yang masih berdiri di samping mobil. Matanya tak lepas dari bingkisan yang dibawa oleh Tommy, ia semakin yakin jika Tommy adalah kakak terbaik. Setelah memberi kejutan dengan datang ke sekolahnya diam-diam, pria itu juga tak lupa membawa hadiah untuknya.
"Kak Tommy," seru Vaya saat langkahnya hampir sampai pada Tommy.
__ADS_1
Tommy melihat ke arah sumber suara. Dilihatnya Vaya dengan mata berbinar menghampirinya.
"Kak," sapa Vaya, ketika ia berada tepat di depan Tommy. Anehnya, bukan raut bahagia dan senang seperti yang Vaya khayalakan tadi, raut wajah Tommy justru terkesan tidak senang saat bertemu Vaya.