
Akhirnya Ivona mengikuti ajakan Tommy untuk pergi makan. Ia tidak menolak saat Tommy membawanya masuk ke dalam mobil pria itu. "Silakan masuk," ujar Tommy saat membuka pintu mobil untuk Ivona.
Bukan karena Ivona sudah lupa dengan perlakuan mereka, tapi menerima sikap baik mereka akan membuat Ivona tau apa tujuan mereka bersikap baik padanya, adakah niat tersembunyi ataukah mereka benar-benar tulus.
"Terima kasih," jawab Ivona datar.
Tommy tersenyum senang saat Ivona mengucapkan kalimat sederhana itu, 'terima kasih'. Tommy yakin dan tahu pasti jika adik perempuannya ini memiliki sifat yang baik, tapi karena perlakuan mereka sendiri di masa lalu membuat Ivona lebih berhati-hati.
Tidak mengapa, karena Tommy akan menunjukkan sikap yang berbeda pada Ivona mulai sekarang. Bukan sikap buruk layaknya yang ia lakukan dulu, yang membuat ia menyesal saat tahu bahwa di akhir-akhir hidupnya hanya Ivona yang mau mendekat padanya. Tommy merasa sangat bersalah dan berhutang budi pada Ivona, sebab itu ia tidak akan melakukan kesalahan untuk merubah masa depannya. Ia akan memperlakukan Ivona layaknya adik kandung, menyayangi dan menghargainya.
"Lagu, apa yang kau sukai?" tanya Tommy memecah keheningan di antara keduanya.
"Apa?" Ivona menoleh pada Tommy.
"Coba kau nyalakan audio itu, kurasa akan sangat menyenangkan mengisi perjalanan kita dengan sedikit nyanyian," ujar Tommy.
Ivona tak membantah, ia pun menyalakan audio yang diminta Tommy. Sedikit mendengar, tapi rupanya lagu itu kurang cocok dengan selera Tommy. "Coba kau ganti lagunya, aku tidak suka yang melo."
Ivona mengganti lagu itu, kali ini jatuh pada lagu dengan tempo cepat. "Nah itu, aku suka lagu yang bersemangat," ujar Tommy. "Apa kau juga suka?"
Ivona hanya diam, gadis itu tidak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan Tommy. Entahlah, Ivona hanya belum bisa dekat atau sekadar pura-pura dekat. Untunglah, Tommy memahami sikap Ivona yang memang mengalami gangguan sosial karena dampak trauma.
"Kau mau makan apa, Iv?" Tommy masih mencoba untuk lebih dekat dengan adiknya.
"Terserah kau saja," jawab Ivona singkat.
Tommy menoleh pada Ivona dan melempar senyum pada adiknya itu. Dalam hati ia mulai merasa senang, ada perubahan sikap Ivona meski perlahan. "Bagaimana kalau sushi, aku yakin kau akan menyukainya."
Ivona tetap diam, dan Tommy menganggap itu jawaban persetujuan. Tommy terus melajukan mobilnya menuju restoran jepang faforitnya. Tommy mengiringi perjalanan mereka dengan bersenandung, sesekali melirik Ivona dengan niat adiknya itu mau menyambung lagu dengannya, meski hal itu tidak kesampaian tapi Tommy cukup lega bisa merasakan kebersamaan dengan Ivona.
Suaranya terhenti, kala dering ponselnya berbunyi. Tangan kanannya masih memegang setir saat tangan kirinya sibuk meraih ponsel di saku jasnya. Tommy melihat siapa yang memanggilnya sebelum ia mengangkat panggilan itu.
"Halo," sapa Tommy pada orang di ujung telepon.
"Halo, kau di mana?" tanya Alexander, pria yang ternyata menelepon Tommy.
__ADS_1
Tommy menoleh ke arah Ivona sebelum memberikan jawaban pada Alexander. "Aku akan pergi ke restoran jepang," jawab Tommy tak ingin berbohong.
"Apa kau sendiri?"
"Tidak, aku akan pergi dengan adikku."
"Ok, aku akan menyusulmu ke sana."
"Baiklah." Tommy memutus sambungan teleponnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya. Ia tidak kuasa menolak keinginan Alexander, dan membiarkan saja pria itu menemuinya di tempat yang akan ia tuju. Bagaimanapun Tommy berhutang budi pada Alexander yang telah membantunya menjaga Ivona, sebab itu ia biarkan saja Alexander ikut makan bersama mereka.
Sampai saat ini, Ivona tidak tahu kalau Tommy yang meminta Alex menjaga dirinya. Rahasia itu masih ia simpan rapi bersama Alexander.
Tommy kembali melihat Ivona, ingin tahu apa yang dilakukan gadis itu. Nyatanya Ivona begitu tidak peduli dengan urusan orang lain, bahkan untuk sekadar bertanya siapa yang menelepon Tommy tadi.
"Bagaimana sekolahmu, Iv?" tanya Tommy, lagi. Sebisa mungkin ia ingin bersikap layaknya seorang kakak laki-laki pada adik perempuannya.
Ivona menatap sekejap pada Tommy kemudian memandang lurus ke depan. "Tidak ada yang istimewa," jawab Ivona masih dengan nada yang datar.
"Aku dengar kau terpilih untuk mewakili G-school di kompetisi fisika, tidakkah itu luar biasa?"
"Oh ...." Tommy manggut-manggut. Rupanya sulit juga menjadi dekat dengan Ivona. Adiknya ini selalu memutus percakapan yang seharusnya bisa panjang dan membuat perjalanan mereka penuh obrolan. Namun, Tommy bukan pria yang mudah menyerah, ia selalu punya cara untuk bisa melanjutkan pembicaraan.
"Bagaimana dengan anak laki-laki di G-school, adakah yang menarik perhatianmu?" Nada bicara Tommy terdengar sangat antusias.
"Tidak."
"Oh ... ya, apakah tidak ada pria keren di G-school?"
Ivona tidak menanggapi.
"Sayang sekali, mereka melewatkan gadis cantik seperti adikku ini. Harusnya mereka berusaha tampil lebih keren untuk bisa menarik perhatianmu." Tommy tersenyum sendiri dengan ucapannya.
"Kau jangan khawatir, kakakmu ini punya banyak kenalan pria-pria keren. Mulai dari aktor, model, penyanyi, hingga pengusaha, semua yang kau inginkan akan langsung tersedia di hadapanmu."
Tommy mengerling pada Ivona yang tengah menatapnya.
__ADS_1
"Semua pria yang aku rekomendasikan tentunya adalah pria-pria pilihan, karena adikku harus mendapatkan yang terbaik, benar 'kan?"
"Aku tidak tertarik dengan semua temanmu," ujar Ivona.
Tommy seketika terbahak-bahak mendengar jawaban Ivona.
"Kau, yakin?"
Ivona justru mendelik.
Tommy kembali tersenyum. "Kau akan menyesal jika tidak menyukai temanku. Dia pria yang sangat spesial, aku jamin tidak ada lagi pria seperti temanku itu di Victoria. Dia stok terakhir, limited edition."
Bibir Ivona justru mencibir, menganggap gurauan Tommy berlebih-lebihan.
"Kenapa, kau tidak percaya dengan ucapanku?"
Ivona memutar bola matanya malas, ia lebih memilih memalingkan wajahnya ke jendela menatap tepi jalan dari pada mendengar gurauan Tommy yang hiperbola.
"Kau pasti akan terpesona bahkan tidak akan bisa berpaling jika nanti aku memperkenalkanmu padanya. Aku berani bertaruh," ujar Tommy yang tidak mendapatkan tanggapan dari Ivona.
Tidak terasa jika perjalanan yang diisi dengan obrolan absurd dari Tommy—atau lebih tepatnya monolog yang dilakukan Tommy karena Ivona lebih banyak diam—bisa membunuh waktu yang mungkin akan terasa membosankan jika hanya sunyi yang berada di antara mereka. Tommy mengarahkan mobilnya untuk masuk di area parkir sebuah restoran jepang ternama di Victoria.
Sikap Tommy begitu manis pada Ivona, ia bahkan membukakan pintu mobil untuk adiknya itu, lalu menawarkan lengannya agar Ivona menggamitnya. Sayangnya, Ivona menolak dengan langsung melenggang pergi. Tidak ada perasaan tersinggung dari Tommy, ia hanya bisa tersenyum tipis menanggapi sikap adiknya.
Tommy segera menyusul Ivona masuk, dan bertanya pada resepsionis. "Aku sudah memesan satu ruangan atas nama Tommy."
"Baiklah, Tuan. Kami periksa terlebih dulu." Resepsionis itu memeriksa buku tamu yang sudah melakukan reservasi sebelumnya.
"Silahkan ikuti saya, Tuan," ucap seorang pelayan setelah diberitahukan oleh rekannya.
Dengan bimbingan dari pelayan itu Tommy dan Ivona menuju satu ruangan yang sudah dipesan lebih dulu oleh Tommy.
"Silahkan, Tuan," ujar pelayan itu saat membuka sebuah privat room di restoran tersebut.
Betapa terkejutnya Ivona saat melihat seseorang yang sangat ia kenal ada di dalam ruangan yang dipesan oleh Tommy. "Alexander?" gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Bagaimana bisa pria ini ada di tempat ini, tempat yang telah dipesan oleh kakaknya?