
Pagi harinya di G-school. Biasanya Ivona yang menjadi bahan pergunjingan, tapi kali ini Vaya yang menggantikan posisi itu. Semua siswa sedang membicarakan Vaya, si pengkhianat keluarga.
Hari ini Vaya berangkat ke sekolah dengan naik taksi, tidak lagi diantar oleh supir dengan mobil mewah seperti biasanya. Semalam ia pergi ke rumah Ayahnya untuk meminta perlindungan. Vaya terus tertunduk sepanjang jalan, tidak bisa lagi berjalan angkuh seperti biasanya. Semua fans yang dulu memujanya kini menghujatnya.
Tatapan-tatapan miring tertuju padanya. Cibiran dan hinaan, semua seolah bagai lagu yang terus mengalun di telinganya. Di sepanjang koridor menuju kelas G, tak satu pun siswa yang tak menggunjingnya.
"Aku menyesal telah mengidolakan seorang pengkhianat."
"kalau aku tahu dari dulu jika dia adalah seekor ular, harusnya aku bunuh dia sebelum dia berubah menjadi monster berbisa."
"Dasar menjijikkan, ia tidak malu telah menghancurkan keluarga yang telah membesarkannya."
"Kudengar ayahnya juga seorang pervert. Pantas saja, sama menjijikkannya dengan si ular!"
Vaya berusaha menulikan telinganya, ia abaikan semua cibiran yang tertuju padanya. Ia mempercepat langkahnya agar cepat sampai di kelasnya. Namun, rupanya ia salah, di kelas pun tak kalah mengerikan. Hampir seluruh kelas memandang rendah dirinya, menggunjingnya dengan berita yang menyudutkannya.
"Hai Vaya," sapa Kelly yang dulu merupakan penjilat dirinya. Bukan hanya Kelly, banyak sekali siswi yang mau berteman dengan Vaya karena popularitasnya. Mereka seolah hanya ingin mencari muka di depan Vaya untuk mendapatkan keuntungan mereka sendiri.
Vaya yang baru saja duduk langsung mendongak, menatap Kelly dan Jessica yang berdiri di depan mejanya. "Apa berita itu benar, bahwa kau sebenarnya adalah anak yang salah diambil sewaktu di rumah sakit dan kemudian dibesarkan sebagai putri dari keluarga Iswara?"
Vaya terdiam, mau menyangkal pun tidak bisa karena sekarang ia tidak memiliki dukungan dari anggota keluarga Iswara.
"Apa benar kau putri kandung dari kepala rumah sakit jiwa di mana Ivona dirawat?"
Vaya tetap diam. Ia justru tertunduk malu.
"Kudengar, ada anggota organisasi sosial yang menaungi wanita dan anak-anak akan menuntut ayahmu karena tindakannya dulu sewaktu menjadi kepala rumah sakit. Apa kau sudah tahu itu?"
Karena Vaya tidak menjawab, Jessica pun menyahut, "Kurasa dia tidak tahu, mana ada seorang pervert yang mengaku, terlebih pada putrinya sendiri. Apa kau pernah dengar seseorang mengaku, 'Hei putriku, ayahmu ini seorang pervert, loh.', apa pernah kau mendengar hal seperti itu?" Jessica tertawa, kemudian Kelly pun ikut tertawa, bahkan lebih keras dari Jessica. Teman-teman yang lain yang tadi ikut mendengar juga ikut meramaikan tawa Kelly dan Jessica.
"Diam kalian semua!" Vaya menggebrak meja karena tidak tahan lagi dengan cemoohan mereka. Tatapannya tajam, terarah pada semua orang yang tadi menertawakannya.
__ADS_1
"Kenapa, kau marah?" cibir Kelly.
Vaya mendelik tajam pada Kelly, tapi gadis itu tidak takut sama sekali dengan Vaya. Ia justru membalas tatapan Vaya dengan lebih dingin.
Vaya sadar, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melawan Kelly. Ia pun lebih memilih untuk meninggalkan kelas.
"Hei ... lihat, si ular marah!" teriak Jessica, tapi tak diacuhkan oleh Vaya.
Vaya berlari menjauh dari kelas. Tidak disangka ia berada di posisi ini saat ini. Dirundung oleh semua teman dengan kata-kata menyakitkan mereka. Vaya terus berlari dengan air mata yang telah menganak sungai di kedua pipinya. Hingga tanpa Vaya sadari ia menabrak William yang tengah berjalan ke kelas.
Vaya tidak peduli, ia bahkan tidak tahu siapa yang ia tabrak. Vaya hanya ingin terus berlari, menjauh dari orang-orang munafik yang selama ini berada di dekatnya. Vaya berhenti di gedung tua belakang sekolah, Ia memilih tempat yang sudah lama tidak terjamah oleh siswa itu. Vaya menjerit sekuat tenaga di sana, meluapkan kekesalan dan emosinya yang tertahan.
"Aaarggghhh ...."
"Dasar munafik!"
"Sialan!"
Dalam tangisnya, ponsel Vaya berdering. Vaya segera mengusap air matanya saat melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo," sapa Vaya.
"Halo, selamat pagi. Saya adalah Maria, manager The Gold Music."
"Ya ... kenapa?" tanya Vaya sedikit was-was.
"Sebelumnya kami memohon maaf atas berita yang akan kami sampaikan. Kami akan membatalkan kontrak tour piano Anda, Nona Vaya. Kami akan segera mengirimkan surat pembatalan kontrak ke rumah Anda secara resmi. Kami mohon maaf atas kerja sama kita yang belum dimulai, kami harap Anda paham dan memaklumi alasan kami." Tubuh Vaya luruh seketika. Sendi-sendi kakinya terlalu lemah untuk sekadar menopang bobot tubuhnya.
Vaya terduduk di lantai kotor itu. Kembali menangisi nasib karirnya yang telah hancur. Vaya kembali meraung. Ia tidak terima semua masa depannya berakhir dalam satu hari saja.
Hal aneh dirasakan Vaya ketika ada lengan yang membawa tubuh rapuhnya dalam sandaran yang kokoh. Vaya berusaha mendongak, dan ia semakin menangis kala wajah William yang terlihat olehnya. Dua kali sudah, pria yang ia abaikan ini justru menjadi penolongnya.
__ADS_1
Vaya bukan tidak tahu tentang perasaan William yang menaruh hati padanya. Vaya tahu, tapi ia sengaja membuat perasaan pria itu tergantung. Vaya justru menikmati dirinya menjadi pujaan setiap pria di sekolah tanpa harus menanggapi perasaan mereka. Salah satunya adalah William. Pria yang kini tengah mendekapnya dalam tenang.
Dalam dekapan William, Vaya terus menangis. Pria itu dengan sabar menyediakan sandaran untuk Vaya.
"Ini semua mimpi, 'kan, Will?" gumam Vaya.
"Aku tidak mungkin berada di posisi buruk ini. Aku adalah seorang bintang piano, tidak mungkin mereka membatalkan kontra kerja sama denganku. Benar, 'kan?" Vaya menyangkal kejadian yang baru saja ia alami.
"Aku masih tetap Vaya yang dulu, putri tunggal keluarga Iswara, idola semua gadis di Victoria. Aku adalah Vaya, si putri cerdas dan berbakat." Vaya terus berceloteh. Ia belum bisa menerima kenyataan yang terjadi dengannya.
William yang mendekap Vaya juga hanya bisa mengusap punggung gadis itu untuk menenangkan.
Vaya mendadak melepaskan diri dari pelukan William. Ia menatap serius pada pria itu. "Will, kau masih menyukaiku, bukan?"
"Apa?" William bingung dengan pertanyaan Vaya.
"Perasaanmu padaku masih sama, bukan. Kau masih mencintaiku seperti dulu, benar 'kan, Will?"
"I ... itu." William tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia takut pengakuannya justru menambah beban mental Vaya.
"Kenapa kau diam. Kau masih menyukaiku, bukan?" teriak Vaya, ketika tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari William.
"Katakan William, katakan jika kau masih mempunyai perasaan yang sama untukku!" Vaya mengguncang tubuh William.
Namun, pria itu tetap bergeming. Ia tidak bisa mengaku pada Vaya jika apa yang ia rasakan dulu kepada Vaya telah berubah. Ivona—si anak pindahan—telah menghapus nama Vaya dan menggantikannya dengan namanya.
Vaya tertawa getir, ketika tak mendapati satu kata pun keluar dari mulut William. Dari sana Vaya sudah bisa menduga jika William pun telah berpaling darinya.
"Kau ... berengsek!" umpat Vaya mendorong tubuh William. Kemudian pergi meninggalkan pria yang berniat baik padanya itu.
Vaya benar-benar terpuruk. Ia kehilangan segalanya dalam sekejap. Hal yang tak pernah ia duga sebelumnya, karena kecerobohan dan ego yang meninggi membuat ia menyesali segala yang telah hilang.
__ADS_1