IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.122 Kehilangan Kesempatan


__ADS_3

Ivona nampak tidak bersemangat. Telepon semalam membuatnya merasa kecewa sekaligus kesal. Ia kira, Alexander yang menghubunginya, tapi nyatanya itu dari Marcus yang menanyakan tentang kelulusan dirinya dan menawarkan tentang beasiswa anak berbakat di negara pria itu.


Ivona baru ingat, kalau nada panggil yang ia pasang khusus bukan hanya pada kontak Alexander tapi juga Marcus dan dokter Spencer. Baginya, hanya tiga orang itu yang memiliki hak untuk diprioritaskan panggilannya dari pada yang lainnya. Namun rupanya, kesamaan nada dering membuatnya sedikit menyesal. Sejak tadi malam, ia merubah nada dering untuk panggilan dari Alexander, agar tidak lagi membuatnya kecewa.


"Iv, kau tidak memakan sarapanmu?" tanya Kakek Iswara yang melihat Ivona hanya membolak-balik bubur oatmeal dalam mangkok.


"Ah ... iya." Terpaksa Ivona menyendok bubur itu dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Apa rencanamu setelah lulus?"


Ivona menatap Tuan Iswara yang bertanya padanya.


"Aku ingin melanjutkan ke universitas," jawab Ivona mencari aman.


"Apa kau sudah memiliki pandangan ke mana kau akan kuliah?"


"Sejujurnya belum karena aku masih mempertimbangkan tempat yang sesuai dengan ku."


"Mulai sekarang pikirkanlah, jika kau ingin melanjutkan ke luar negeri kami juga akan mendukungmu."


Ivona melihat perubahan sikap dari Tuan Iswara, ayah dari Ivona ini sudah banyak berubah. Ia selalu mengajak Ivona untuk berinteraksi meski masih sangat kaku. Berbeda dengan Nyonya Iswara, Ibu kandung Ivona itu masih belum bisa sepenuhnya membuka hati untuk Ivona. Tetapi, biarkanlah. Ivona tidak pernah ingin mengambil pusing. Toh, dia hanya jiwa yang mengisi tubuh Ivona dalam novel. Ia seperti seorang aktris yang harus berperan sebagai Ivona dalam cerita ini.


Ivona memang sempat terbawa perasaan saat dulu di rumah sakit. Sempat kecewa saat Nyonya Iswara masih begitu mengharapkan Vaya dan tidak bisa menerima Ivona, putri kandungnya sendiri. Semua itu karena ia juga seorang yang memiliki perasaan, terlebih jiwanya lah yang mengisi tubuh tokoh Ivona ini. Tentulah akan sangat mudah merasakan perasaan menjadi Ivona si pemilik tubuh, yang membuatnya larut dalam perannya menjadi Ivona.


"Benar kata ayahmu, Iv. Kau harus mulai memikirkannya dari sekarang. Kami janji akan memberikanmu yang terbaik," imbuh Kekek Iswara.


Ivona melihat satu per satu raut dari orang-orang yang duduk di meja makan bersamanya. Kakek dan Tuan Iswara terlihat tulus dengan ucapannya. Sementara Nyonya Iswara hanya berekspresi datar.


"Terima kasih, Kek. Nanti akan aku beri tahu ke mana aku ingin melanjutkan kuliah."


Setelah menyelesaikan sarapannya, Ivona segera pamit ke sekolah. Dengan diantar oleh paman Joseph, Ivona sampai di G-school di waktu yang masih pagi.


Ivona mengikuti kegiatan belajar mengajar itu dengan rasa malas. Meski tubuhnya berada di dalam kelas, tapi pikiran Ivona berkelana entah ke mana. Ia bahkan tak mendengar jika bel istirahat telah berbunyi.

__ADS_1


"Iv ... kau mau ke kantin?" ajak Benny.


Ivona menoleh bingung. Suasana kelas yang sebelumnya hening kini sudah berubah ramai. Guru yang tadi berdiri memberikan penjelasan rupanya sudah pergi. Ia seperti bangun dari mimpi. Bingung.


"Iv," panggil Beny lagi. "Jadi tidak kita ke kantin?"


"Ah, ya." Ivona langsung berdiri mengikuti Benny.


Ivona mendengar dari beberapa siswa yang ia temui di koridor, mereka sedang membicarakan persiapan ujian dan acara kelulusan. Dari yang Ivona dengar, acara kelulusan tahun ini akan berlangsung meriah.


"Kau dengar yang mereka katakan, Iv. Angkatan kita akan jadi angkatan dengan acara kelulusan yang paling meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," ujar Beny.


Ivona hanya tersenyum tipis. Ia tidak tertarik sama sekali dengan acara seperti itu.


"Oh ... ya, Iv. Kau akan kuliah di mana?" tanya Benny saat mereka sudah sampai di kantin dan berdiri dalam barisan mengantri makan siang mereka.


Ivona mengangkat kedua bahunya.


"Boleh aku bergabung?"


"Eh ... William, dukuk lah." Benny yang menjawab.


Tanpa ragu William duduk berseberangan dengan Ivona. Ia menatap Ivona yang terlihat tak acuh padanya. Gadis itu bahkan tak melihatnya sama sekali.


"Will, apa kau sudah mempersiapkan ujianmu?" tanya Benny.


"Ya, tentu saja," jawab William asal.


Benny terus saja bertanya pada William seputar persiapan ujian. Hanya kedua orang itu yang terlibat obrolan, tidak dengan Ivona. Gadis itu hanya diam, entah mendengarkan atau tidak yang pasti terlihat jelas jika Ivona tidak menunjukkan ketertarikan pada obrolan Benny dan William.


"Kau mau ke mana, Iv?" tanya Beny saat melihat Ivona berdiri.


"Aku sudah selesai," jawab Ivona kemudian pergi ke tempat penyimpanan peralatan makan.

__ADS_1


Benny dan William menatap aneh pada sikap Ivona itu.


"Will, kenapa kau tidak menghabiskan makananmu?" Benny melihat makanan dalam nampan saji milik William masih terlihat penuh. Hanya beberapa yang tadi William cicipi.


"Aku pergi dulu," pamit William terburu-buru. Pria itu sedikit berlari untuk mengembalikan wadah makanannya ke tempat yang sama dengan Ivona tadi. Ia segera berlari menyusul Ivona yang sudah lumayan jauh dari tempatnya sekarang.


William berusaha lebih cepat agar bisa menyusul Ivona. Saat berhasil, William langsung menarik Ivona pergi dan keluar dari gedung sekolah itu.


"Apa yang kau lakukan?" pekik Ivona yang sempat kaget dengan perilaku William.


"Aku ingin bicara dengan mu," jawab William yang terus membawa Ivona untuk keluar dari gedung.


Rupanya, William membawanya ke G-school garden. Tempat yang jarang Ivona kunjungi.


Ivona menyentak tangan William yang tadi menariknya. "Apa yang ingin kau bicarakan?"


William gugup, dan ini baru pertama kalinya ia rasakan. Bahkan saat dulu ia menyukai Vaya, rasanya tidak segugup ini.


"Aku beri kau waktu lima menit," ujar Ivona saat William tak kunjung bicara.


"I-iya." William terbata. Perasaannya saat ini campur aduk, tak bisa dijelaskan. "I-Iv, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku sudah lama menyimpan ini sendiri, dan sekarang aku ingin kau tahu perasaanku. Aku ... aku ...."


Ayolah William, jangan jadi pengecut. Katakan saja apa yang selama ini kau pendam. Katakan semua yang sudah lama tertunda. Kau tidak akan lagi punya kesempatan jika kau tidak mengatakannya hari ini. Sebentar lagi kalian akan lulus dari G-school.


Ivona masih menunggu apa yang ingin William katakan. "Kau, apa?" tanya Ivona karena William kembali tak bersuara.


"Aku ... aku ...." William kembali terdiam. Ia berusaha mengatur napasnya, dan memulai semuanya dari awal. "Iv, sebenarnya selama ini aku menyimpan perasaan yang berbeda padamu. Aku menyukaimu Ivo ... na."


"Halo, ada apa kau menghubungiku?" Di saat William menyebut nama Ivona, di saat itu juga Ivona menerima telepon dari seseorang. Gadis itu langsung mengangkat panggilan itu dan pergi dari hadapan William. Ivona bahkan tidak menggubris lagi ucapan William.


Kepergian Ivona membuat William merutuki dirinya sendiri yang bertele-tele. Kini ia kehilangan lagi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.


"Aarrrgghhh!" William menjambak rambutnya frustasi sembari menatap punggung Ivona yang semakin jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

__ADS_1


__ADS_2